Bersenang-senang di Semarang: Dari Bus Tingkat Hingga Candi yang Memikat

Ongo’!” Kami, khususnya saya, tertegun sesaat ketika mendengar si bungsu mengucapkan kata itu. Begitu sadar bahwa kami semua memperlihatkan ekspresi bingung, ia segera menjelaskan, “Itu lho, Yah, suara dari pintu pas kita masuk tadi begitu bunyinya.” Tak pelak kami semua tertawa sampai-sampai perut rasanya kram saking hebohnya tertawa.

Ternyata, suara itu sebenarnya berbunyi “welcome”, namun karena terlalu excited, si bungsu hanya menangkap bunyi sekilas, ya “ongooo’….” itu saja. Entah kenapa bisa begitu, hingga kini masih menjadi misteri, hahaha …. Yang jelas itu adalah sepenggal kenangan yang tersisa setelah menginap di RedDoorz Juli 2018 silam yang sepertinya sulit dilupakan.

Setelah sekian lama merencanakan berlibur panjang setelah kenaikan kelas si Sulung Rumi dengan berbagai pilihan, akhirnya jadilah kota Semarang yang kami pilih. Itu pun setelah negosiasi yang cukup alot dan melibatkan seluruh anggota keluarga (halaahhh, padahal cuma berempat doang). Musyawarah tentang rencana liburan bagi kami juga menjadi bentuk latihan mengeluarkan pendapat dan memberi kesempatan pada anak-anak untuk terlibat dalam berbagai kegiatan keluarga. Ciiyyeee, ceritanya sih menerapkan teori parenting sedikit demi sedikit gitu lho.

Awalnya, kota-kota yang menjadi pilihan antara lain Depok, Bogor, Yogyakarta, Semarang, Bandung, Jombang, Madiun, Malang, dan Surabaya (kayak jurusan bus antarkota antarprovinsi aja ya?). Pilihan itu berdasarkan pertimbangan keluarga atau sahabat yang akan kami temui sekaligus memiliki wahana wisata yang nanti bisa kami jelajahi di sana. Bagaimanapun kesempatan ke luar daerah akan menimbulkan efek atau hasrat untuk menyambung silaturahim yang sudah lumayan berjarak karena kami telah pindah tempat tinggal. Selain itu, kami juga ingin mengenang kembali jejak yang tertinggal. Bahasa sederhananya mungkin “napak tilas”, hehehe.

Anak-anak kami sebenarnya memiliki keinginan yang cukup sederhana ketika merencanakan liburan ketimbang orang tuanya, hehehe. Mereka sejak awal sudah meminta kami untuk memesan tiket kereta daripada moda transportasi lainnya. Rumi dan Bumi memang fans berat kereta dan sangat menikmati semua perjalanan yang dilakukan dengan kendaraan yang memanjang seperti ular itu. Keduanya seolah tak pernah sabar ketika rencana liburan itu sudah masuk dalam pembahasan transportasi menuju tempat liburan.

Poin yang tak kalah penting adalah membuat skedul ketika sampai di Semarang sebagai kota yang akhirnya menjadi pilihan kami saat itu. Setelah melihat peluang seberapa lama kami punya waktu untuk menikmati liburan bersama, kami hanya akan menghabiskan waktu selama tiga hari dua malam. Karena volume pekerjaan saat itu lumayan padat, liburan tak mungkin saya perpanjang. Sekarang saya agak menyesal juga sih. Seandainya bisa lebih lama, tentu binar bahagia duo Xi akan semakin membuncah.

Berhubung waktu liburan yang lumayan mepet, hal itu membuat kami harus segera mencari tempat untuk menginap sesampainya di Semarang. Ada beberapa pilihan yang saat itu sebenarnya bisa diambil. Beberapa kerabat menawarkan untuk menjadi tuan rumah dan menyediakan rumahnya sebagai tempat kami menginap. Secara ekonomi, tentu saja penawaran itu sangat menggiurkan karena lumayan bisa menghemat biaya.

Akan tetapi, dari beberapa kali pengalaman menginap, kami agak merasa kurang nyaman alias ewuh pakewuh ketika ingin melakukan beberapa kegiatan, khususnya jika hanya ingin bepergian bersama keluarga. Hal-hal semacam itulah yang membuat kami akhirnya memutuskan untuk mencari tempat menginap sendiri meski agak sedikit mengecewakan sahabat-sahabat kami dengan menolak tawaran tersebut secara lembut.

Gayung pun bersambut. Kami mendapatkan harga fantastis untuk menginap di hotel yang menjadi jaringan RedDoorz, sebuah aplikasi berburu tiket hotel yang akhirnya kini menjadi sahabat setia traveling kami. Banyak hal yang membuat kami akhirnya merasa nyaman liburan, bahkan RedDoorz itu sendiri seolah juga menjadi tujuan wisata bagi si duo jagoan kami. Uppsss ….

6 Jaminan Layanan RedDoorz

Kami mendapatkan hotel di lokasi yang sangat strategis, fasilitasnya terjamin cukup lengkap karena hotel mendapatkan quality control dari jaringan RedDoorz. RedDoorz menjamin enam layanan yang siap kita nikmati di seluruh jaringan hotel yang mereka naungi. Bukan hanya linen yang bersih, kamar mandi pun bersih dan rapi. Yang paling penting, perlengkapan mandi baru dan eksklusif–kan enggak seru kalau alat-alat mandi tersisa dari penghuni sebelumnya yang belum dibereskan. RedDoorz mah terjamin!

Tersedianya televisi yang tersambung ke jaringan TV kabel adalah keunggulan lain hotel di RedDoorz. Air mineral tersedia secara cuma-cuma dan diganti baru setiap hari tanpa harus diminta atau diingatkan kepada petugas hotel. Yang tak kalah penting, jaringan Wi-Fi gratis yang koneksinya kencang. Sewaktu di Semarang tahun lalu saya bebas mengakses Internet dan mengakses laman apa saja sesuai kebutuhan, termasuk mengunduh berkas kerja atau berkomunikasi dengan pemberi proyek secara remote.

Jadilah liburan itu bisa dikabarkan pada sahabat dan keluarga yang mengetahui rencana liburan kami ke kota itu. Malam hari sepulang berlelah traveling, kami bisa mengunggah foto-foto liburan sehingga bisa menjadi kenangan yang cukup indah.

Kota Semarang bagian atas yang cukup sejuk membuat kerinduan kami akan suasana pegunungan seperti di kota tempat tinggal kami sebelum pindah sedikit terobati. Hotel yang kami tempati juga semakin menambah keseruan karena segala hal yang terkait jarak seolah teratasi karena lokasinya sangat strategis. Entah sebuah kebetulan atau memang telah direncanakan, tempat wisata kuliner dadakan saat itu juga berlokasi selemparan batu dari hotel. Ada kalanya ketika lelah berkeliling kota, leyeh-leyeh di kamar hotel sambil menikmati kuliner yang dipesan lewat delivery service membuat wisata itu justru terasa di hotel, hahaha.

Tiga hari dua malam terasa begitu cepat dan terus terang membuat kami ketagihan untuk merencanakan liburan berikutnya, tentu dengan menginap kembali di jaringan RedDoorz hotel. Lelah sehabis pelesiran ke Umbul Sidomukti rasanya terbayar dengan istirahat nyaman di RedDoorz.

RedDoorz Bukan Sekadar Hotel

Pengalaman menyenangkan (temasuk ketika menginap di hotel jaringan RedDoorz) yang didapat dari liburan ke Semarang itu berkesan pada Bunda yang suatu kali menempuh perjalanan seorang diri ke Bogor untuk mengurus sesuatu terkait surat-surat penting. Berhubung perjalanan itu harus dilakukan seorang diri, tentu saya merasa agak khawatir karena sudah lama Bunda tidak melakukan hal seperti itu lagi,  khususnya setelah menikah dan memiliki dua orang anak. Berat rasanya melepas Bunda saat itu karena selain bukan pada masa liburan, juga karena proses yang akan dilakukan saat itu akan cukup menguras energi. Saya merasa harus mempersiapkan tempat baginya untuk bisa menginap & beristirahat agar tidak mengalami kelelahan akibat perjalanan tersebut.

Alhamdulillah, kemudahan dalam memesan tiket hotel dan pelayanan yang lumayan memuaskan membuat saya kembali memesankan tiket hotel yang tergabung dalam jaringan RedDoorz. Perjalanan singkat yang justru cukup menguras energi bisa teratasi karena Bunda bisa beristirahat dengan aman dan nyaman di hotel. Lagi-lagi kami terpaksa menolak halus tawaran saudara dan sahabat untuk menginap di rumah mereka. Kenyamanan hotel dan lokasinya yang strategis membuat mobilitas tinggi yang dilakukan saat itu menjadi hal yang mudah dilakukan dan sangat efektif.

Fasilitas wifi yang tersedia di hotel juga membuat komunikasi antara Bunda dengan dua krucilnya tidak terputus. Bunda bisa cerita kegiatannya hari itu sambil memonitor kegiatan Rumi dan Bumi di rumah. Fasilitas lengkap hotel juga membuat bunda merasa seperti di rumah sendiri sehingga kondisi fisik tetap fresh meski tinggi beraktivitas karena istirahat bisa dilakukan dengan nyaman.

Liburan Berikutnya: Bus Tingkat dong!

Percaya tak percaya, Rumi dan Bumi kembali memilih Semarang sebagai tujuan wisata liburan panjang sekolah mereka. Sebenarnya kami sebagai orang tua sempat protes (duh, kok terbalik ya?), tetapi alasan mereka memilih kota itu memang sulit dipatahkan. Eiittsss, ternyata kecil-kecil mereka sudah pintar berdiplomasi rupanya. Mereka beralasan wisata liburan masih perlu diperpanjang karena tempat wisata sebelumnya itu adalah menginap di RedDoorz hotel, hahaha.

Ya, tentu saja kami perlu kembali ke Semarang dengan waktu yang lebih leluasa agar liburan lebih terasa. Banyak hal yang masih belum kami lakukan. Prioritas utama adalah berkeliling kota dengan menaiki si Kenang (bus double decker khusus wisata keliling kota). Ini rencana penting karena tahun lalu kami gagal naik bus tingkat ini. Terbayang asyiknya menikmati Kota Atlas dari atas ketinggian bus keren ini.

Mengunjungi Candi Gedong Songo jadi target kedua wisata kami tahun ini. Meskipun pernah tinggal di Semarang, entah mengapa saya malah belum pernah sekali pun ke Candi Hindu ini. Kabarnya sekarang banyak spot kekinian yang Instagrammable buat dikunjungi turis domestik dan internasional. Momen sunrise juga layak kami nantikan. Sekalian menambah pengetahuan sejarah buat duo krucil kami, ya kan!

Candi memikat ini bakal makin berkesan dengan foto-foto keren yang akan kami abadikan untuk media sosial nanti, hehe.

Next stop: Kampoeng Kopi Banaran. Sebagai pencinta kopi, tak mungkin saya dan istri melewatkan tempat ini. Kami bisa mencicipi nikmat kopi yang khas produksi Banaran, sementara anak-anak bisa menjajal aneka permainan outdoor mulai dari mobil ATV, renang, berkuda, sampai flying fox. Cocok banget deh buat wisata keluarga karena ada restonya juga. Lima tahun lalu kami ke sana, tapi belum sempat memborong kopinya. Pengin rasanya berlama-lama di kebun kopi sambil melepas pandangan ke Rawapening yang tersohor itu.

Tak lupa kami bakal singgah lagi ke Umbul Sidomukti di Ungaran. Mereka belum puas berenang di kolam yang mirip di atas awan. Seumpama para dewa yang mandi di kayangan hehe. Dalam kunjungan tahun lalu kami belum sempat mencicipi sate kelinci di sini, dan tentu saja aaneka kuliner lain yang sangat khas. Kalau masih ingin berkuda, bisa juga sewa kuda di sini. Lengkap deh, flying fox juga ada.

Untuk kuliner tradisional, kami merencanakan akan mencoba tahu gimbal, mangut belut Bu Nasimah, tahu serasi, sate sapi Pak Kempleng, dan serabi Ngampin. Wah, lumayan banyak juga ya list yang mesti kami tuntaskan.

Teman- teman yang ingin bertemu alias kopi darat bisa bertemu di tempat-tempat itu atau jika jadwalnya bentrok, kejadian pada liburan kami ke Semarang sebelumnya yang tidak bisa bertemu sahabat di tempat wisata tidak perlu terjadi lagi. Mereka bisa mampir di hotel tempat kami menginap untuk sekedar melepas rindu dan bertegur sapa. Dijamin lokasinya membuat mereka tidak akan menarik napas panjang dan berpikir panjang karena mudah dijangkau.

Napak tilas ke kampus tempat saya dulu menuntut ilmu juga direncanakan akan menjadi bagian dari perjalanan wisata ini. Banyak cerita tentang penggalan hidup saya ketika kuliah di sana yang bisa saya bagi bersama keluarga. Membeli oleh-oleh sebagai cinderamata setelahnya juga akan menjadi bagian dari list yang akan kami lakukan bersama.

Bagaimana jika rasa lelah setelah melakukan berbagai perjalanan itu sudah menerpa? Ya, tentu saja kami akan kembali ke hotel yang nyaman itu untuk membersihkan diri dan beristirahat serta berleyeh-leyeh sambil menikmati kopi hangat dan camilan sambil nonton televisi. Wah, sudah tak sabar menanti liburan. Ups, jangan lupa segera pesan dan booking tiket hotel jaringan RedDoorz sekarang agar tidak kehabisan dan rencana liburan menjadi lebih seru. Urusan menginap untuk liburan yang akan datang atau rencana perjalanan mendadak bisa teratasi dengan menginap di hotel yang nyaman. Jaringan hotel RedDoorz menjadi jaminan bagi kami untuk menciptakan kenangan liburan yang indah dan berkesan.

Pokoknya kami berjanji akan bersenang-senang selama berlibur di Semarang. Bagaimana dengan BBC Mania? Apa resolusi traveling kalian tahun ini?

Advertisements

18 thoughts on “Bersenang-senang di Semarang: Dari Bus Tingkat Hingga Candi yang Memikat

  1. Kalau tidak aral melintang, Insya Allah dalam waktu dekat saya akan pergi ke Semarang, Mas. Alhamdulillah, baca artikel ini jadi dapat banyak insight tentang wisata kota Semarang. Seperti biasa, tutur kata Mas Rudi sungguh memikat hati pembaca, termasuk saya.

    Anyway, RedDoorz memang menjadi tujuan menginap yang pas, ya? Harganya terjangkau, namun fasilitasnya jempolan.

    Sukses untuk lombanya, Mas Rudi. Salam hormat dari kami untuk Mas Rudi sekeluarga.

    Like

    1. Alhamdulillah kalau ada manfaatnya, Bang. Semoga lancar ya pelesiran ke Semarang nanti. Banyak juga kok wisata lainnya. Kami pilih RedDoorz karena memang terjangkau, jadi pengeluaran bisa untuk pos yang lain seperti makan dan belanja oleh-oleh, hehe.

      Like

  2. Makanya next time ke Semarang jangan cuma 2 malam diagendakan yg betul supaya semua list terealisasi. Apalagi aku mau menepati janji sama rumi n bumi naik si kenang. Ditunggu ya

    Like

  3. Setelah mbaca ini, pengen deh aku ajak anak2 naik bis tingkat. Belum pernah soalnya. Sama ini…pengen ngajakin mereka ke museum ambarawa..kayaknya seru..

    Like

  4. Saya ke Candi Gedong Songo dua tahun lalu sambil bawa bayi. Memang nggak salah kalau Mas Rudi main ke sana, tempat itu memang bagus banget! Cuman waktu saya ke sana, tempat-tempat selfie macam kandang burung warna putih itu belum ada, hahahaha…

    Like

    1. Gimana Mbak medannya, asyik juga kan buat anak-anak? Kebayang deh sambil bawa bayi. Sebenarnya lebih ngincer sunrise gitu sih, kalau tempat selfie itu kan di tempat lain juga ada walau bentuknya beda-beda. Makasih rekomendasinya, Mbak. 😀

      Like

  5. sosis pisang tuh maksudnya isinya sosis daging tapi bentuknya pisang atau pisang beneran tapi dibungkus daun dan sebesar sosis sih? hahaha… aku salfok liat sosis pisang. Kok bentuknya mirip pisang kukus bungkus daun. Di dusunku namanya kecepan tungkus soalnya. eh tapi kok tulisannya sosis pisang? btw, ajarin dong cara nampilin foto model kotak-kotak seperti tampilan di atas. bagus deh. Pake aplikasi apa?

    Like

    1. Sosis ini sebenarnya pisang yang dilumat gitu Mbak, yang rasanya manis gurih tenyah. Cuma dibungkus daun pisang dalam bentuk gulungan mirip sosis biar gampang bawanya. Belakangan saya ketahui di Jawa Timur ternyata juga ada makanan ini dengan kemasan serupa, tapi nama berbeda.

      Untuk layout foto seperti di atas itu tanpa aplikasi, Mbak. Langsung bawaan dari WordPress. Kalau kita mengunggah beberapa foto sekaligus, WP akan mengaturnya dalam posisi sesuai urutan berbentuk kotak atau bulat. Mbak Ade pakai blogspot ya?

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s