Melihat Deretan Judul Buku yang Belum Rampung Dibaca dan Berharap Bisa Dituntaskan Tahun Ini

Membaca tulisan Bung Eko tentang 12 judul buku yang ia targetkan tuntas dibaca tahun ini membuat saya melirik kembali sejumlah buku yang selama ini mangkrak, terbengkalai begitu saja. Setelah berkeluarga, gairah membaca saya tak bisa dimungkiri memang menurun. Bukan karena tak ada waktu, tetapi lantaran pikiran terlalu terfokus pada cari duit atau rezeki.

Sungguh bukan apologi yang bisa dimaklumi. Dalam kondisi bagaimana pun, harusnya orang tetap semangat membaca karena kebutuhan ini termasuk primer. Di tengah arus globalisasi dan era serbacepat seperti sekarang, membaca buku tetap relevan dan sangat penting. Buku cetak atau e-book sama-sama dibutuhkan, tinggal disesuaikan dengan preferensi pribadi.

Kembali ke buku

Saya pribadi lebih menyukai buku cetak karena memegang dan menghadapi kertas dengan teks masih jauh lebih mengasyikan ketimbang mengakses buku dalam versi digital. Memang e-book lebih praktis dan ringan, bahkan mungkin weightless. Satu ponsel atau tablet bisa menyimpan ribuan bahkan jutaan judul. Namun untuk bisa membacanya kita butuh daya karena gawai harus menyala. Begitu daya gawai habis, habis pula kesempatan membaca buku-buku yang tersimpan di dalamnya pada saat kita jauh dari colokan listrik.

Jadi, inilah judul-judul buku yang sebagian besar sudah pernah dicicipi lembar-lembarnya tetapi belum ada yang tuntas dibaca. Kadang malah judul baru yang datang kemudian mendapat kesempatan dibaca sampai rampung. Padahal belakangan sudah jarang beli buku loh mengingat rak buku di rumah sudah terlalu penuh oleh buku-buku lama. Alasan lainnya, buku-buku yang terbit selama satu dekade terakhir menurut saya belum ada buku yang bagus nan memikat untuk dibeli, selain Originals karya psikolog muda Adam Grant.

1 – Spiritual Samurai

Spiritual Samurai (SS) ditulis oleh motivator dan pebisnis Ary Ginanjar Agustian yang sudah kondang dengan konsep ESQ. Kendati belakangan konsep itu dikritik dan dibatalkan, buku ini tetap layak ditambatkan. Sesuai judul buku, SS berkisah tentang bagaimana mensinergikan body, mind, and soul. Ary mengupas rahasia keberanian dan kekuatan para samurai.

Bagian yang sudah saya baca adalah fragmen masa kecil ketika Ary mendapat perilaku bullying dari teman sekelas sampai seragamnya robek, juga dirampas uangnya sewaktu SD saat naik bus umum bersama adiknya. Di sebuah kolam renang, Ary juga pernah ditengelamkan oleh anak seusinya tetapi ia tak berani melawan.

Itulah yang menggerakkan Ary untuk belajar ilmu bela diri yakni karate sebagai bekal menjaga diri. Ia berkeyakinan bahwa kondisi ideal yakni orang kuat dan berani membela kebenaran bisa diwujudkan dalm satu sosok. Keyakinan itu pula yang mengantarnya hingga ke Jepang untuk menguasai ilmu pedang battodo yang menjadi cikal bakal karate. Sungguh buku yang menarik karena mengangkat pula cerita tentang dua merek besar yakni Honda dan Sony.

2 – The Lowland

Jhumpa Lahiri memang penulis berbakat. Atau jangan-jangan berbakat adalah kata yang underrated terhadap kemampuannya dalam menjalin cerita. Setidaknya ia berbakat untuk mempertahankan saya agar betah mengikuti kisah Subhash dan Udayan yang menjadi tokoh sentral dalam novel ini. Kakak beradik ini kompak sejak kecil tetapi harus berbeda pandangan dalam menanggapi politik saat dewasa.

Novel ini mengambil latar tahun 1970an ketika tragedi politik terjadi di India yakni gerakan massa yang didukung oleh partai komunis di daerah Naxalbari. Udayan dan Subhash yang sebenarnya punya otak cemerlang dalam mempelajari sains ini kemudian berseberangan akibat sikap politik yang diambil dalam hidup mereka.

Jhumpa membagi novel ini dalam delapan keping cerita, dengan beberapa bagian lebih kecil lagi yang memudahkan proses pembacaan. Saya membeli novel ini di Tokopedia tahun lalu entah bulan apa. Sempat tersendat lalu baca lagi hingga keping ketiga saat ini. So far so good.

3 – Origin

Sebagai pencinta karya Dan Brown, tentu sayang jika tak mengoleksi novel terbarunya. Beberapa novelnya terdahulu sudah saya khatamkan, mulai dari Digital Fortress, The Lost Symbol, hingga Inferno. Novel ini saya beli tahun lalu langsung dari Amazon beserta beberapa novel lain karya Haruki Murakami. Begitu paket datang, justru Bunda Xi yang langsung melahapnya sementara saya masih sibuk mengerjakan urusan lain.

Menurut kesimpulannya, Origin Bagus, memikat khas Dan Brown. Hanya saja tema konspirasi dan misteri lama-lama jadi menjemukan karena tak lama berselang dari Inferno. Pengendalian populasi dunia yang terus meroket mendadak jadi tema yang monoton meskipun tetap jadi isu yang kontekstual. Namun saya tetap penasaran ingin membacanya sendiri sampai tuntas.

4 – Lords of the Rim

Buku ini memaparkan bagaimana awal mula orang-orang Tiongkok bisa menguasai dunia, mulai dari Asia Tenggara hingga Amerika. Sterling Seagrave yang menulis buku ini sebelumnya pernah menelurkan buku berjudul The Soong Dynasty yang disinyalir mengendalikan ekonomi di Amerika. Seagrave memang sering menulis tentang aspek-aspek rahasia dari sejarah politik negara-negara Timur Jauh pada abad ke-20.

Seagrave mengutip pendapat Ibnu Batuta yang berbunyi, “Di muka bumi ini tak ada yang lebih kaya dibanding orang-orang Cina.” Sementara pada sampul depan yang berwarna merah menyala terdapat kutipan dari Sun Tzu, “Be so subtle that you are invisible. Be so mysterious that you are intangible. Then you will control your rivals’ fate.” Menarik kan? Dari pembacaan beberapa bab awal, buku ini bisa dibaca melompat-lompat, jadi asyiklah.

5 – Trilogi Untuk Negeriku

BBC Mania tentulah bisa menebak karya siapa buku ini. Siapa yang tak kenal Bapak Bangsa yang kesederhanaan dan ke berusaha jalannya sangat masyhur di antero negeri. Mohammad Hatta memang sosok luar biasa. Satu dari segelintir tokoh yang layak jadi teladan Nusantara. Trilogi ini merupakan karya otobiografi alias ditulis sendiri oleh Bung Hatta, jadi dijamin gurih sebab bisa menyelami alam pikir beliau.

Buku keren yang diterbitkan Penerbit Kompas ini saya dapatkan secara cuma-cuma dari Mbak Arin bloger asal Bogor yang menghelat giveaway bertema Dilema sewaktu saya masih tinggal di Kota Hujan sekitar tiga tahun yang lalu. Tiga jilid buku ini menuturkan kehidupan beliau sejak kanak di Bukittinggi hingga periode puncak kematangan pemikiran dalam politik, serta tentu saja peran beliau sebagai proklamator. Semoga bisa dituntaskan baca dengan gayeng. Ingat Bukittinggi, ingat kopi kawa!

6 – Thy Neighbor’s Wife

Sejujurnya saya tertarik pada buku ini karena ditawarkan dengan harga sangat murah di Tokopedia, marketplace andalan untuk berburu buku bekas. Buku setebal nyaris 500 halaman ini cukup saya tebus tak sampai 20 ribu rupiah. Kondisinya masih mulus, dengan jilidan yang kokoh. Begitu tahu buku ini ditulis oleh Gay Talese jurnalis The New York Times yang menyoroti perkembangan isu seks di kalangan Amerika sejak PD II usai hingga tahun 70-an, saya pun memasukkan judul ini ke dalam keranjang belanja bersama beberapa judul lain agar irit ongkos kirim. Saya penasaran mengapa Amerika punya budaya seks yang demikian terbuka, dan Gay Talese setidaknya menceritakan bahwa dahulu kebebasan seksual tidaklah seperti saat ini di sana. Buku ini dibaca pelan-pelan saja sambil menambah kosakata bahasa Inggris.

7 – The Valkyries

Paulo Coelho terkenal berkat novel larisnya berjudul The Alchemist. Itu memang karya yang fenomenal: sarat pesan dan relate kepada kehidupan banyak orang, terutama di era serbagesit saat ini. Namun dalam The Valkyries Coelho menuturkan perjalanannya selama 40 hari bersama istrinya di Mojave Desert California guna menemukan makna hidup: tentang kecenderungan manusia yang menghancurkan apa yang mereka cintai. Buku ini saya dapat dari giveaway di Instagram, yakni akun penjual buku impor di Semarang. Buku tipis yang layak dibaca berkali-kali.

8 – Selimut Debu

Entah kenapa buku bergizi ini tidak saya tuntaskan pembacaannya. Saya baru ingat belum menuntaskannya setelah mengecek lagi deretan judul di rak buku. Padahal buku Agustinus Wibowo ini sudah saya milik sejak 2012 yang saya dapat dari seorang bloger, entah siapa lupa namanya. Mungkin Pakde Cholik yang saat ini sudah tidak aktif mengeblog. Pembaca yang sudah mengkhatamkan buku-buku karya Agustinus tentu menyadari pesona narasi kece kisah perjalanan ditambah foto-foto cakep bidikannya. Mendebarkan dan mencerahkan, layak dibaca ulang!

9 – The Prodigal Tongue

Sebagai penikmat materi apa saja tentang bahasa, buku karya Mark Abley asal Kanada ini sayang jika saya lewatkan. Seperti buku-buku lainnya, saya memperoleh buku bagus ini dari Tokopedia dengan harga yang cincailah. Asyiknya lagi, buku ini bisa dibaca dari bagian mana saja, tetap menarik. Bagaimana masa depan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional? Bagaimana rumitnya pengerjaan kamus Oxford yang legendaris itu? Abley membocorkannya dalam buku ini.

10 – Pengakuan Algojo 1965

Buku terakhir yang belum tuntas saya baca adalah himpunan cerita hasil investigasi majalah Tempo perihal pembantaian tahun 1965. Buku ini sangat layak dikoleksi oleh para penikmat sejarah, apalagi sejarah bangsa kita sendiri. Saya beruntung mendapatkannya di marketplace Blibli dotcom saat punya saldo di sana. Mengerikan memang membaca buku ini karena berisi tragedi keji sesama warga pribumi. Dari separuh bagian buku yang saya baca, setidaknya banyak hal yang memang tak bisa kita pandang secara hitam putih.

Meskipun buku-buku yang saya targetkan untuk dibaca tuntas ini tersaji dalam kertas dengan cetakan tinta hitam dan putih, saya yakin akan banyak cerita dan pengalaman yang bisa saya dedah dengan nalar dan hati yang sinergis. Tak mungkin mengandalkan ketepatan logika belaka tanpa melibatkan ketajaman hati.

Sepuluh buku tengah menanti, karya Jhumpa Lahiri yang pertama dieksekusi. Bagaimana dengan BBC Mania, adakah target baca atau daftar buku yang tengah ingin dirampungkan? Bagi dong ceritanya.