Jatuh Cinta pada BCC, Hidup Berwarna Semakin Pede

Dalam sebuah pertunjukan penting di puncak kariernya, Niccolo Paganini sempat dirundung kecemasan. Violis kenamaan asal Italia itu tak menyangka bahwa senar biolanya akan putus satu demi satu. Ketika satu helai senarnya putus, dia mencoba terus bermain walau tebersit kekhawatiran di hatinya. Ketika dua senar lagi putus dan hanya menyisakan satu senar terakhir, ia pun panik tapi tetap bermain dengan improvisasi sampai komposisinya tuntas.

Tak heran jika Paganini tercatat sebagai pemain biola yang berpengaruh pada abad ke-19 karena improvisasi yang fenomenal itu. Setelah insiden terputusnya tiga helai senar tersebut, ia konon membiasakan diri menulis komposisi yang bisa dimainkan hanya dengan satu helai senar untuk mengantisipasi kejadian tak diinginkan saat sedang manggung.

Hidup bisa terus berlanjut walau kita mengalami kehilangan. (Foto: cottonbro/Pexels.com)

Saya mengenang sepenggal fragmen dalam hidup Niccolo Paganini bukan tanpa alasan. Ketika memutuskan pindah ke Lamongan dan meninggalkan Bogor yang telah belasan tahun saya diami, saya merasa seolah telah kehilangan senar dawai sehingga sulit memainkan biola dalam komposisi yang kreatif. Di satu sisi saya gembira bisa hidup berdekatan dengan ibu, sesuai dengan permintaan beliau, tapi di sisi lain saya dihadapkan pada kebuntuan nasib yang membuat hati saya berkecamuk.

Betapa tidak, karena selama kami tinggal di kota besar seperti Bogor boleh dibilang apa saja serbaada. Bukan hanya jenis hiburan dan makanan yang berlimpah, tetapi cara mencari uang pun banyak ragamnya. Otak saya seketika mampet begitu pindah ke kampung halaman karena terbatasnya peluang. Mau melamar kerja, saya tak lagi muda. Mau berbisnis, tapi modal minimalis. Akhirnya kondisi serbamentok itu hanya melahirkan keluhan dan penyesalan.

Jatuh cinta pada BCC

Pandangan saya berubah ketika Bloggercrony Community (BCC) di Jakarta menawarkan kesempatan untuk meliput acara di Surabaya tahun 2018 silam. Bertajuk Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF), acara yang digelar oleh Bank Indonesia di Grand City Mall itu menjadi gerbang perkenalan saya dengan BCC. Selain dapat hiburan dengan meliput acara dan kopdar dengan BCC Squad, saya juga pulang dengan banyak hadiah termasuk buku literasi keuangan dari BI untuk menambah koleksi Saung Literasi yang saya kelola bersama istri. Tugas yang saya emban terbilang mudah, tapi masih ada uang saku pula.

buku literasi
Buku bergizi dari BI untuk Saung Literasi (Foto: dok. pribadi)

Dari situlah saya lantas masuk ke dalam grup WhatsApp BCC Nusantara yang mewadahi seluruh bloger terpilih dari wilayah selain Jabodetabek. Untuk bisa masuk grup WA ini kami memang disyaratkan pernah mengikuti setidaknya salah satu kegiatan yang dihelat oleh BCC, dan bagi saya itu surat adil sebagai bukti komitmen bloger pada komunitas yang baru.

Nah, komitmen inilah yang saya sukai dari BCC. Sejak mengenal BCC dan mengikuti berbagai kegiatan atau job yang mereka tawarkan, saya merasa klop dan jatuh cinta pada komunitas yang punya value dengan menjunjung positive attitude sebagaimana tercermin dari identitas grup WA bertagar #positivetude. Program-program yang digagas BCC mencerminkan semangat positif untuk belajar, membangun, dan saling meringankan.

Keseriusan BCC sebagai sebuah komunitas bukan hanya terbukti dengan sudah terdaftarnya secara resmi di Kementerian Hukum dan HAM dengan nama Komunitas Bloggercrony Indonesia, tetapi juga terejawentahkan dalam misi BCC yang terus diupayakan dalam kerangka Blogging-Networking-Empowering. Tiga value ini sudah saya rasakan sendiri, misalnya kesempatan belajar seputar penulisan dan blogging dari mentor profesional (lewat BloggerDay dari tahun ke tahun), bertambah teman dan jaringan (networking), dan mengalirnya pundi rezeki setelah saya jadi full-time blogger di Lamongan (empowering).

Lewat BCC saya menemukan gairah baru ngeblog lewat komunitas yang solid. BCC terkenal di kalangan bloger sebagai salah satu komunitas yang punya aturan taktis dalam etika grup WhatsApp dan SOP yang jelas saat memberikan job bagi rekan bloger. Saya memilih ‘taktis’ sebab aturan dalam grup WA itu dibuat untuk menyaring dan memvalidasi informasi sehingga para anggotanya tidak mudah terjebak untuk mem- atau diprovokasi. Lagi-lagi di sinilah misi empowering ditegaskan yakni bahwa berita dan komen yang dibagikan bisa saling menguatkan bukan menakut-nakuti dan melemahkan misalnya dalam konteks maraknya hoaks di awal pandemi Covid-19.

Memuliakan bloger

Saya yakin semua bloger yang pernah bekerja bersama BCC akan mengamini bahwa komunitas ini selalu berusaha memuliakan sobat narablog. Bukan sekali dua kali saya mendengar rekan bloger mengatakan senangnya menerima job melalui BCC. Alasannya seragam: brief jelas, PIC tegas, dan fee lekas. Deskripsi untuk Scope of Work (SoW) atau cakupan tugas memang senantiasa disampaikan sejelas mungkin dan sepadan dengan kompensasi yang akan diterima bloger.

Untuk menegakkan SoW ini seorang PIC (penanggung jawab) akan ditugaskan agar proyek lancar sampai kelar. Di deretan PIC yang ditugaskan BCC, nama Mbak Yayat mungkin yang paling fenomenal. “Jangan main-main deh sama Mbak Yayat!” demikian biasanya seloroh sesama bloger saat bekerja di bawah supervisinya. Sebenarnya bukan killer atau terlalu ketat, tapi ia justru ingin memudahkan bloger agar bisa bekerja dengan taktis dan tedas. Ketika akhirnya berjumpa di Bandung pada BloggerDay ke-4 tahun 2019 silam, saya menyadari bahwa wanita lincah ini sebenarnya hangat sebagai seorang pribadi. Kalau kita taat pada brief, tak ada alasan untuk takut pada Mbak Yayat! 😁

Selain brief jelas dan PIC tegas, alasan ketiga job dari BCC menyenangkan adalah karena pembayaran relatif lebih cepat cair dibandingkan komunitas atau agency lain. Tak perlu malu saya akui bahwa fee yang cairnya lekas adalah idaman setiap pekerja lepas, termasuk saya yang memang memetik rezeki dari aktivitas blogging secara purna waktu. Maka seingat saya, nyaris belum pernah terjadi bloger menagih bayaran karena terlalu lama tak diberikan. Bagaimana dengan teman-teman?

Blogger Day 2022: belajar sampai tua!

Bloggercrony Community juga unik karena punya hajatan tahunan khusus bagi para bloger. Bertajuk BloggerDay, BCC ingin memberikan penghargaan juga peringatan betapa peran narablog masih sangat signifikan. Menurut Mbak Wawa selaku founder BCC, BloggerDay adalah inisiatif Mas Satto Raji yang ingin agar para bloger punya kesempatan berkumpul secara ajek untuk bertukar pikiran dan menambah pengetahuan. Dari tahun ke tahun, ketika pandemi belum terjadi, BloggerDay diadakan di sejumlah kota secara bergiliran. Jadi selain kopdar bersama 100 bloger terpilih dari seluruh Indonesia, peserta bisa sekalian berwisata dan mencicipi kuliner daerah.

Mbak Wawa mengumumkan pemenang The Most Blog Wanted Award.

Saya sendiri baru sempat menikmati kemeriahan BloggerDay ke-4 di Bandung yang terbukti membawa banyak untung. Adapun Blogger Day 2022 terpaksa dihelat lagi secara daring karena pandemi yang belum sepenuhnya usai. Jika tahun lalu bertema “Keluarga Jempolan”, tahun ini fokus pada #ScaleUpYourSkill yang segera saya sambut dengan pendaftaran agar bisa menikmati keseruan ulang tahun Bloggercrony Community yang ke-7 pada hari Minggu 27 Februari kemarin. Sebagaimana BloggerDay tahun-tahun sebelumnya, ulang tahun kali ini pun diwarnai keseruan dan meninggalkan kesan mendalam.

Memang menyedihkan karena BloggerDay 2022 masih dihelat secara daring mengingat pandemi tak kunjung usai. Namun itu tak mengurangi kemeriahan ultah ke-7 Bloggercrony Community. Selain banjir hadiah, kami juga tambah teman dan tentu saja mendapat wawasan menarik dari webinar yang disajikan.

Kami jadi mengenal awak yang berada di balik Bloggercrony Community termasuk mengapa komunitas ini dinamakan Bloggercrony. Bukan cuma pengurus, kami pun kian didekatkan pada berbagai program dan value komunitas yang disingkat BCC. Kata crony dipilih sebagai identitas sebab BCC ingin menjadi kroni atau sahabat dekat bagi bloger, yakni teman yang terus berbagi lewat kegiatan blogging, networking, dan empowering.

Sesi pertama webinar menghadirkan Kang Tuhu Nugraha dan Kang Away (Anwari Natari) yang mengulik seputar metaverse yang kian ramai diperbincangkan di seluruh dunia. Boleh dibilang ,metaverse membuka berbagai kemungkinan sebagai dunia tak terbatas, tetapi bisa berbahaya karena kita bisa menjadi sosok lain dan melakukan hal tanpa kendali lantaran berkedok avatar. Mas Tuhu menuturkan bahwa storytelling bisa menjadi peluang yang bisa dimanfaatkan bloger untuk menjadikan metaverse sebagai dunia yang lebih baik.

Kontrol diri dan mitigasi adalah kunci!

Sedangkan Kang Away menegaskan bahwa apa pun bentuknya, entah sms ataupun metaverse, selama kata-kata masih menjadi media ekspresi dan komunikasi, maka potensi kejahatan berbahasa bisa terjadi. Di sinilah pentingnya kontrol diri dan menerapkan kesopanan bahasa karena boleh jadi nanti akan terjadi tabrakan nilai di metaverse akibat perbedaan standar masing-masing pribadi.

Pada webinar kedua kami mendapat pencerahan dari Mas Eddy Prayitno yang dikenal dengan sapaan MT (Matahari Timoer) yang menyoroti pentingnya konsisten menulis konten yang organik. Agar tulisan luwes, usahakan agar tak jauh-jauh dari kamus untuk menerjemahkan perasaan. Peluang konten organik masih besar selama kita jujur, punya integritas, dan reputasi. Reputasi inilah yang akan mendatangkan rezeki, dalam pengertian seluas-luasnya.

“Perlu data dan cinta untuk memajukan Indonesia.”

Begitu pungkas Mas MT yang meminta agar bloger terus menulis dengan didasari riset dan cinta kasih saat melancarkan kritik sebagaimana ia yang terus mengkritik kebijakan pemerintah karena cinta pada Indonesia.

Riset memang penting, apalagi dalam lomba blog sebagaimana disampaikan Joe Chandra yang kini aktif memonetisasi konten baik dari affiliate, Adsense, dan tentu saja kompetisi. Sebagai bloger yang langganan jadi jawara, Joe membocorkan kiat untuk memenangi lomba blog. Pertama, coba temukan sudut pandang yang unik atau out of the box. Kedua, lakukan pendalaman produk melalui riset. Riset ini akan memudahkan memetakan materi dan mengakomodasi pesan brand termasuk warna yang dominan. Kiat berikutnya: teruslah berlatih tanpa takut mengalami kekalahan.

Pada sesi pamungkas Kak Tsurayya psikolog yang tinggal di Palembang mengingatkan kami untuk memiliki growth mindset. Dengan growth mindset kita akan sadar bahwa perubahan itu niscaya sehingga kita terdorong untuk memiliki survival skill dan terus meningkatkan kualitas diri.

Kak Tsurayya juga menegaskan pentingnya membangkitkan minat tanpa selalu membanggakan bakat. Minat yang kuat dibarengi semangat belajar akan membuka pintu peluang sedangkan bakat perlu waktu lebih lama untuk mendatangkan manfaat. Intinya jangan berhenti belajar dan meng-upgrade keterampilan.

BloggerDay 2022 sungguh jadi penggugah buat kami untuk berubah sesuai karakter dan tuntutan zaman. Setiap tahun BloggerDay menjadi momentum untuk memperkuat eksistensi bloger sebagai andil kecil untuk memajukan negeri. Yang bikin BloggerDay 2022 semakin meriah tentu saja karena dukungan sponsor salah satunya Cera Production yang memproduksi souvenir dan kaos BCC Squad guna mendukung perayaan virtual 7th Komunitas Bloggercrony Indonesia akhir Februari lalu. Kaosnya benar-benar keren, hitam polos menunjukkan misteri, kekuatan, dan ketegasan yang elegan. Serius jadi mupeng. 🙂

Sebagai perusahaan yang bergerak dalam production service (layanan produksi), Cera Production sangat pas dipinang sebagai mitra bagi kantor swasta maupun instansi yang ingin memiliki Premium Gift Set, souvenir kantor, seragam kerja dan kebutuhan cetak (percetakan) untuk menunjukkan keunggulan perusahaan. Bukan cuma seminar kit kantor, Cera Production juga piawai memproduksi pin, tumbler istimewa, tote bag keren, jam dinding, dan banyak lagi merchandise sesuai kebutuhan konsumen tentunya dengan kualitas terjamin.

Dengan pengalaman lebih dari 10 tahun, tak heran jika Cera telah dipercaya oleh lebih dari 350 kantor perusahaan dan instansi. Kalau teman-teman berencana membesarkan bisnis dengan menawarkan merchandise keren untuk pelanggan, maka Cera Production solusinya. Mau pesan atau tanya-tanya dulu? Jangan sungkan, cukup hubungi Cera di medsos mereka karena kini Cera tersebar di 13 kota di seluruh Indonesia. Keren atau keren?

Saya sendiri sudah melihat mutu pin buatan Cera yang memang cantik dan presisi. Jadi kalau tempat kamu bekerja pengin bikin aneka souvenir kantor atau seminar kit kantor yang beragam dan kualitas menawan, tahu kan harus ke mana?

pin cera production
Pin dan stiker keren dari Cera Production

Menutup blog post kali ini, saya ingin mengingat kembali kutipan dari buku “The Ignorant Maestro: How Great Leaders Inspire Unpredictable Brilliance” karangan Itay Talgam. Dalam buku tersebut Talgam meyakinkan bahwa semua konduktor di seluruh dunia menggunakan peranti musik yang sama. Alat ini tidak menghasilkan bunyi dan tidak pula membutuhkan kemasan mewah sebagai pembungkusnya. Namun di tangan konduktor tertentu tongkat pendek terbuat dari kayu bernama baton ini bisa sangat luar biasa.

Talgam yang merupakan konduktor kondang sekaligus konsultan bisnis berkebangsaan Israel itu lantas menyitir peribahasa kuno:

“Jika kamu melihat angka nol, maka kamu tidak akan melihat apa-apa. Namun jika kamu meneropong angka nol, niscaya kamu akan melihat ketidakterbatasan.”

Baton pun demikian bagi seorang konduktor. Ia hanyalah benda mati ibarat angka nol, yang tidak akan berguna dalam sebuah orkestra bahkan ketika tongkat itu dilambaikan dengan cara seelegan apa pun. Tongkat ini baru akan bekerja ketika seorang konduktor bisa mendorong para musisi untuk meneropong baton (yakni menangkap esensinya) dan melihat seluruh cakupan artistik dan pencapaian manusia yang terukir dalam komposisi musik tersebut.

Kita bisa melihat pandemi ini sebagai titik nadir, titik terendah yang mungkin akan menghambat kemajuan kita sebagai manusia modern. Faktanya, pandemi akibat virus Covid-19 justru telah membuka berbagai peluang, mulai dari cara orang mendulang cuan, menambah dan meningkatkan keterampilan, hingga tentu saja memperkuat inovasi dalam dunia kedokteran.

Nol dan ketidakterbatasan

Dalam konteks itulah kita menangkap sebuah titik terang. Boleh jadi kita kembali ke titik nol ketika pandemi menyerang dunia. Namun dari nol itulah kita bisa membangun banyak penafsiran atas berbagai kejadian dalam hidup—baik yang enak atau tak enak—sebagai dinamika yang justru memperkaya sudut pandang kita nyaris tanpa batas sebagaimana makna infinity yang tersirat dari peribahasa yang dikutip Itay Talgam.

Dengan spirit itu pula saya yakin perhelatan #7thBloggercrony turut dibingkai. Jika kita perhatikan dengan saksama, logo BloggerDay2022 diwarnai oleh tujuh bulatan yang bisa diterjemahkan sebagai ketidakterbatasan atau keluwesan. Mestinya demikian juga kita memandang berbagai kesulitan dalam hidup, bukan sebagai keterbatasan yang mengungkung, melainkan peluang untuk belajar dan memajukan diri.

Saya bukan Niccolo Paganini, melainkan Khomarudin Isnaini. Jangankan menggesek biola, menabuh rebana pun saya fals. Namun hidup bermakna bukan sebab kesempurnaan serbabisa, juga bukan lantaran kepunyaan segala benda. Hidup berwarna karena kita menerima diri kita apa adanya tanpa kehilangan semangat untuk mengoptimalkan potensi dengan terus belajar dan memahami hidup ini.

Jadi tak penting siapa namamu dan apa kebisaanmu, BBC-Mania. Jika kamu bloger, pastikan memantapkan diri dengan merawat kegembiraan dengan sehelai senar sekali pun dan berjejaring salah satunya melalui Bloggercrony Community (BCC) yang membuat saya semakin pede menjalani hidup sebagai bloger dengan atau tanpa popularitas.

3 Comments

  1. Di antara beberapa komunitas yg aku ikutin, BCC sih yg aku paling suka. Krn sepertinya aktif aja membernya. Ga pasif kayak di beberapa komunitas lain. Kan ga enak Yaa join sesuatu, tapi kok membernya diem2an 😁.

    Walo sampe skr aku hanya pengen join dengan maksud menyalurkan tulisan juga membaca tulisan teman2 yg lain, tapi itu aja udah bikin happy. Belum sempet ikutan acara2 BCC, semoga suatu saat bisa , kalo ga bentrok Ama kerjaan 😊

    Liked by 1 person

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s