Alasan bloger menolak job tentu bukan karena kebanyakan duit, apalagi tidak lagi butuh cuan. Setiap bloger punya pertimbangsan masing-masing mengapa ia mau atau tidak mau menerima suatu pekerjaan. Tak melulu soal jumlah fee, tapi ada hal-hal lain yang perlu kita ketahui dan hargai.
Saya tertarik menuliskan hal ini setelah bediskusi atau mungkin rasan-rasan di sebuah grup wasap berisi para bloger. Ya iyalah, masa anggotanya blantik sapi. Dari sana kian jelas bahwa alasan bloger menolak job tidak melulu karena kecilnya nominal fee atau karena bloger sudah kaya.
Dari satu alasan itu kemudian saya lengkapi dengan beberapa alasan lain yang sekiranya masuk akal dan memang terjadi di blogosphere. Apa saja kira-kira alasan bloger menolak job ya? Penasaran atau tidak, BBC-Mania harus terus membacanya.
1. Imbalan (fee) kecil
Bukan matre atau mata duitan, tapi duit itu penting apalagi sebagai imbalan atas pekerjaan yang kita tuntaskan. Saya pribadi pun menerima job ya salah satunya mengukur Angka sebagai kompensasinya. Kalau besar dan sesuai dengan kemampuan, Alhamdulillah.
Namun ada juga kalanya, nilai tak seberapa tapi saya suka topiknya, maka saya pun semangat menggarapnya. Intinya, nominal rupiah itu penting buat pancingan awal. Apalagi sekarang ada marketplace buat bloger yang menawarkan fee ratusan dolar, siapa yang enggak mau?
Sesulit apa pun, sepertinya bloger akan mencoba melamar dan mengupayakan penggarapan tugas sampai tuntas. Kalau enggak percaya, intip saja Intellifluence, lumayan loh satu tulisan diganjar $100 bahkan ada yang cukup placement saja angkanya mencapai $200. Mau?
2. Penyelenggara tak beres
Penyelenggara tak beres? Itu bisa jadi isu utama yang bikin gelisah. Dalam konteks lomba blog, misalnya, pernah ada pengumuman dan pemberian hadiah yang akhirnya tidak jelas. Ini semua gara-gara penyelenggara yang baru kali pertama bikin lomba. Bloger tertipu tanpa menelisik kredibilitas atau pamor mereka.
Begitu juga dengan job, akan sangat berbahaya jika kita sudah mengerjakan tugas (dengan meluangkan waktu dan sumber daya lainnya) tapi pekerjaan tak dibayar. Waktu terbuang percuma, penyelanggara entah ke mana.
Saya sendiri pernah mengalaminya. Dapat job menulis tentang layanan umrah. Fee tidak besar tapi saya suka tema dan semangat mengerjakannya. Begitu selesai, pemberi job (seorang bloger juga) mengelak dengan alasan pemberi pekerjaan utama tidak bertanggung jawab. Berabe deh!
Jadi cari tahu dulu bagaimana sepak terjang pemberi job atau penyelenggara lomba sebelum kita memutuskan untuk menerima kerjaan atau berpartisipasi dalam lomba.
3. Value produk
Alasan ketiga bloger menolak job adalah karena produknya bermasalah. Bermasalah di sini banyak cakupannya. Bisa karena produknya jelek, karena berkaitan dengan judi dan peetaruhan (betting), an yang paling sering adalah disinyalir bermuatan riba.
Saya pakai kata disinyalir sebab menentukan apakah sebuah produk mengandung riba atau tidak, nyatanya tidak selalu mudah. Ulama sepakat soal keharaman riba tapi berselisih pendapat mengenai keharaman semua produk perbankan.
Sebagian bloger menolak mentah-mentah tanpa syarat jika tawaran pekerjaan berkaitan dengan dunia bank atau perusahaan pembiayaan (multifinance). Di sini lain, ada pula bloger yang menerima job serupa asalkan tidak serta-merta mengajak pembaca berutang atau ambil pinjaman.
Misalnya suatu perusahaan multifinance atau bank menghelat acara gathering dana membahas financial planning, atau tren hidup produktif secara financial, nah pada kasus begini mamsih bisa ditoleransi oleh sejumlah bloger.
Apa pun keputusan dan kecondongan kita, intinya jangan gegabah menghakimi pilihan narablog lain sebab ada wilayah yang masih bisa diperdebatkan yang tidak melulu hitam-putih. Belum lagi menyangkut sumber penghasilan bagi sebagian bloger yang memang sangat membutuhkannya sebab tak ada cadangan lainnya.
4. Waktu mepet
Waktu adalah aset utama yang sering tak dianggap penting. Yang dianggap sebagai aset biaanya adalah gawai, laptop, jaringan internet, dan skill. Padahal tanpa waktu, semua sumber daya yang kita anggap vital taka akan ada gunanya.
Ada kutipan menarik dalam film “Jupiter Ascending” yang dibintangi Mila Kunis dan Channing Tatum. Salah satu karakter bernama Kalique Abrasax–yang menguasai planet lain–mengatakan:
In your world, people are used to fighting for resources… like oil, or minerals, or land. But when you have access to the vastness of space, you realize there’s only one resource worth fighting over… even killing for: More time. Time is the single most precious commodity in the universe.
Kalique Abrasax
Eh kok malah melantur, intinya kalau pekerjaan harus diselesaikan dalam waktu singkat, bloger biasanya menolak. Beda soal kalau fee yang ditawarkan besar, kita akan pertimbangkan ulang karena angkanya sepadan.
5. SoW rumit
Fee besar, penyelenggara kredibel, produk oke, dan waktu tersedia–belum tentu semua bloger akan mau menerima tawaran job seperti itu. Lihat dulu bentuk pekerjaannya, kerumitan dan printilan sampai dianggap tuntas.
Semakin banyak tugas, apalagi pemberi job sangat cerewet, terlalu detail untuk nominal fee yang mepet, tentunya bloger akan berpikir ulang sebelu menerima tawaran.
Scope of Work (SoW) yang rumit misalnya kata kunci terlalu banyak, backlink berlebihan, elemen pembahasan berjibun, dan jumlah kata harus berlimpah. Belum lagi mesti dibagikan di IG feed, IGS, Facebook, dan Twitter. Bahkan di tetangga sekitar (daging kurban kali, wkwkwk).
Intinya, SoW rumit bisa menjadi alasan bloger menolak job kendati fee besar (apalagi kecil) dan tema menarik dengan skill cukup untuk mengerjakannya. It’s not always a yes!
6. Pembayaran lama
Alasan ini enggak bisa diremehkan, apalagi dipandang sebelah mata. Percuma fee besar (apalagi kecil) dan tema kita minati tapi kalau pembayaran lama (bahkan enggak jelas estimasinya), sebagian bloger mungkin akan menolaknya.
Saya bilang mungkin sebab boleh jadi ada bloger yang berkenan menerimanya lantaran dia punya cadangan penghasilan atau simpanan uang sampai fee dicairkan. Saya sendiri agak malas kalau term pembayaran tak jelas, apalagi sampai makan berbulan-bulan. Kecuali jika pemberi job bisa dipercaya dan saya sedang gabut.
7. Tidak menguasai topik
Alasan lain bloger menolak job adalah karena mereka merasa tak menguasai topik atau produk yang mesti diulas. Memang betul, kalau mengangkat hal yang tak kita kuasai, tulisan jadi kering dan kita merasa tak luwes menggarapnya.
Namun, sihir fee bisa jadi mengalahkan kesulitan itu. Kalau nominal fee ternyata besar, apalagi dalam wujud dolar, ya apa boleh buat, sangat mungkin bloger akan mengupayakannya. Bisaa mendadak semangat belajar dan mengumpulkan bahan, jia you!
8. Tidak sesuai niche
Ada lagi alasan bloger menolak job, yaitu karena produk atau topiknya tidak sesuai dengan niche blog yang ia kelola. Karena blognya berkisar pada parenting, misalnya, seorang bloger bisa menolak tawaran job tentang otomotif.
Pada praktiknya, sponsored post bisa dikaitkan dengan niche blog kita. Misalnya blog bertema traveling sangat mungkin membahas kesehatan, yakni kiat sehat saat bepergian dalam waktu lama sehingga butuh asupan produk multivitamin atau proteksi asuransi perjalanan.
Namun, semuanya kembali kepada bloger terkait. Menerima atau menolak karena perbedaan niche tidak bisa diganggu gugat apalagi dinilai sebagai tindakan aji mumpung demi cuan.
9. Ngeblog buat fun
Alasan terakhir ini mungkin tak banyak ada, menurut dugaan saya. Kebanyakan bloger suka menulis dan suka duit. Sebanyak apa pun penghasilan dari bidang lain (atau mungkin dari pasangan), dapat duit sendiri dari blogging nyatanya gurih juga.
Memang ada sedikit bloger yang ngeblog sekadar having fun, menyalurkan hobi menulis atau menuangkan pengalaman dalam bentuk diary digital. Maka menerima job bukan opsi ideal, toh sumber dana masih lancar tanpa perlu pusing menulis di blog dan membagikannya di medsos.
Adakah alasan lain kenapa bloger menolak job, BBC-Mania? Barangkali punya pengalaman sendiri, termasuk manakah kamu gaes?

aku pernah bbrp kali nolak tawaran job. (atau lebih tepatnya, mlz ngerjain) . Soale yg jd koord rempoooongggg ga ada obat 🙂 Wis ga worth it blasss prosoku. Btw, belakangan ini juga ahensi yg disukai sejuta umat lagi banyaaaakk pendingan. Ngedraft sejak jaman majapahit, ehhh sampai yahmene ya ono kabar approval, boro2 kabar fee cair. Wesss embuhlahh 🙂
LikeLike
Benerrrr iniii… urusan fee ga melulu nomor 1, tapi bisa jadi bahan pertimbangan. Paling enak sih nulis karena temanya cocok dengan hati dan kepribadian eeeaa… meskipun misalnya fee-nya ga seberapa. Kalau terlalu rumit SOW-nya, penyelenggara hhmm…. DL meffet, bye ajalah. Nulis buat nyalurin hobi, iyes banget. Justru artikel organik yang bikin semangat ngeblog. Pembaca antusias sampai DM atau email, berati sangat mengena dan bermanfaat, di situlah yang namanya sharing is caring.
LikeLike
Makasih sharingnya. Masih ada mas, lah aku nulis hanya sekedar fun dan bisa buat obat stres terutama bikin2 puisi
LikeLike
Aku yg nomor 9 mas 😄😄. Udah banyak banget tawaran job aku tolak, Krn dengan alasan, aku tidak akan memonetisasi blog ku ☺️. Itu murni hanya utk menulis ttg semua pengalaman pribadi traveling dan kuliner di destinasi liburanku.
Jadi bener2 hanya utk nyalurin hobi nulis dan supaya aku ga lupa Ama semua pengalaman saat trip ke Negara2 yg aku visit.
Alasan lain kenapa aku ga mau monetisasi, Krn aku takut ga bisa fair saat menulisnya. Kalo skr, aku bebas nulis segala minus point yg aku temuin saat traveling. Misalnya hotel A minusnya ada di sisi kebersihan, makanan dan kamar mandi.
Sesuatu yg aku susah tulis secara blak blakan kalo itu sponsor post
Alasan lain, Krn aku ga yakin income yg aku dpt dari sponsor post, bisa menyamai income ku sebulan 😁. Jadi ga tertarik utk susah payah dj sana. Biarlah blog hanya utk saranaku ngelepasin jenuh dan nyalurin hobi 😄. Even utk pasang ads aja aku ga tertarik.
LikeLike
Biasanya nolak karena feenya kecil dengan SOW yang ribet. Ternyata ini jadi penyebab yang umum yah
LikeLike
Salah satunya, Mas. Ya tiap orang punya pilihan.
LikeLike
Nice blog
LikeLiked by 1 person