Surabaya 7 September 2024: Kesuksesan Itu Begini, Bukan Begitu

Sabtu 7 September 2024 ternyata jadi momen yang mengesankan. Bukan karena pulang liputan Klaska Residence dapat voucher belanja, tapi juga melalui beberapa pengalaman menarik untuk menguatkan hidup. Waktu bertolak ke kawasan Jagir, Wonokromo untuk menyaksikan rekomendasi apartemen terbaik di Surabaya itu, saya kebetulan terpisah dari rombongan bloger Lamongan.

Entah bagaimana ceritanya, saya terlupa bahwa komuter Arjonegoro sebenarnya bisa membawa kami turun di Stasiun Wonokromo yang lebih dekat dengan lokasi liputan. Kami maksudnya saya dan Mas Nurudin, guru sekaligus bloger yang kini kian getol memproduksi konten digital menggunakan drone.

klaska residence rekomendasi apartemen di surabaya
Klaska Residence rekomendasi apartemen di Surabaya

Gagal sarapan nasi bungkus

Sesuai tiket pesanan, kami pun turun di Stasiun Pasar Turi sekitar pukul 7.30. Rencananya kami akan menumpang feeder Wira-Wiri dari Pasar Turi hingga Alun-Alun Contong, lalu naik Suroboyo Bus (SB) hingga halte Joyoboyo dan diakhiri dengan Gocar.

Apalagi saya belum sarapan karena berangkat dari rumah cukup pagi, sekitar jam 5 selepas Subuhan. Sayangnya kedai langganan tutup, saya cuma bisa menyeruput segelas kopi dan sepotong pisang goreng di kedai lain. Bloger berdarah Jember yang akrab dipanggil misterrudin ini menolak sarapan, hanya sesekali bertukar informasi.

Tadinya mau makan nasi, atau setidaknya mengudap ubi kukus yang pagi itu ndilalah ga ada. Namun karena mobil grand max Wira Wiri terpantau mendekati Pasar Turi di aplikasi, kami pun mempercepat langkah kembali ke dalam stasiun.

Batal naik Wira-Wiri

Tiba di dalam, porter berderet menunggu konsumen menggunakan jasa mereka. Kami berdiri di dekat Solaria, spot yang biasanya dilewati Wira Wiri. Ajaibnya, unit yang tadi melaju kencang memasuki Pasar Turi mendadak lenyap. Hingga nyaris 15 menit, terik matahari makin menyengat, dan saya putuskan mengajak Mas Nurudin untuk berjalan kaki menuju Halte Pirngadi.

Suroboyo Bus andalan datang juga

Jalan santai tak terasa dan kami pun sampai di halte untuk menanti SB jurusan Bungurasih. Taka lama berselang, satu unit SB datang dan kami segera menumpang. Di dalam SB, entah bagaimana mulanya, percakapan tentang kesuksesan mengemuka. Kalau tak salah ingat, gara-gara kegiatan Agustusan di kompleks masing-masing.

Semula saya berencana menginap di Surabaya karena pulang sore kadang malas lantaran sulit dapat seat di kereta. Namun demi mengikuti peringatan Maulid Nabi plus malam resepsi Agustusan, Sabtu itu saya putuskan langsung pulang tanpa menginap di rumah teman.

Untunglah percakapan organik ini mengisi waktu ekstra saat bus menyusuri kawasan Perak dan Pelindo. Beberapa bulan terakhir rute SB memang ditambah masuk ke Perak padahal dulu langsung ke Rajawali dan Jembatan Merah.

Pendidikan tinggi tapi rendah partisipasi

Nah, percakapan tentang Agustusan berkisar antara partisipasi warga dalam berbagai kegiatan di kompleks yang kami tempati saat ini. Cukup disayangkan karena tidak semua warga menganggap kegiatan silaturahmi di perumahan itu penting. Rapat sering sepi peserta, dan kerja bakti kerap diikuti orang itu-itu saja.

Jangankan hadir dalam rapat rutin, membayar iuran pun enggan dengan berbagai alasan padahal sudah disepakati bahwa punya rumah di situ berarti terikat kewajiban untuk minimal membayar iuran bulanan untuk mendukung kegiatan warga, terutama menggaji petugas keamanan.

Saya refleks teringat cerita kakak ipar yang tinggal di kompleks perumahan cukup elite di Gresik. Waktu dia dan suaminya diamanahi jadi ketua RT, tak sedikit warga yang mengkritik atau bahasa jawanya dicelatu. Kurang cocok inilah, itulah, ada saja yang dikoreksi.

Anehnya, mereka-mereka yang hobi melancarkan kritikan itu, yang tidak sedikit merupakan lulusan S2, melengos dan menolak jika diserahi amanah tertentu. Jadi, istilahnya banyak bacot atau sebatas konsep belaka. Ogah turun tangan dan tandang gawe.

Makna kesuksesan yang salah?

Sangat sering jadi pengurus RT atau di lingkup warga terkecil menjadi momok yang saling dihindari. Alasannya bermacam-macam, salah satunya karena kesibukan cari cuan. Kalau soal sibuk, saya yakin semua warga sibuk. Karena jelas tidak dibayar tapi bakal pasti di-paido alias dijulidin, siapa yang mau? Betul tidak?

Saya bilang kepada misterrudin, penuh dengan kesoktahuan:

“Inilah, Mas. Ada yang salah dalam pendidikan kita nih. Kesuksesan keburu ditafsirkan begitu sempit!”

Selama ini para guru cenderung menghargai anak-anak sukses adalah mereka yang pandai secara akademis dan mengikuti alur hidup yang linier setelah lulus hingga meraih jabatan tertentu yang bisa dilihat secara kasat mata di lingkungan sosial. Yang berangkat kerja berseragam, itulah yang disebut bekerja.

Salah satu karya Batik Bangsawan yang digeluti salah seorang sahabatku

Faktanya, dua sahabat saya malah menggeluti usaha yang berbeda dari jurusan kuliahnya. Seorang sarjana hukum kini sukses menekuni bisnis batik tulis di Gresik. Sahabat lainnya, eks wartawan media nasional, sekarang membuka usaha EO (event organizing) paska-PHK yang dialaminya awal tahun ini. Keduanya terbilang sukses dalam bidang yang sekarang digarap.

Keduanya memiliki keterampilan interpersonal dan semangat menggerakkan roda sosial yang selama ini jarang dilihat sebagai kecakapan penting sebagai dasar kesuksesan anak. Padahal jumlah anak yang sukses karena cakap akademis, ada berapa banyak sih?

Ditandai dengan punya ini itu sebagai status untuk dibanggakan dengan mengabaikan anak-anak lain yang berjuang menemukan passion sendiri-sendiri dan akhirnya menikmati dunia yang mereka pilih seperti kedua sahabat tadi.

Ilustrator sukses, juragan tanah

“Saya sendiri terus terang masih bingung ngarahin anak nanti harus ke mana,” kata Mas Nurudin tentang anak sulungnya. Secara akademis bagus, tapi tak mau diatur-atur untuk belajar.

Saya menimpali, “Kalau saya sih ngikuti kecenderungan anak, Mas. Tahu sendiri kan Bumi suka gambar, ya nanti saya dorong ke sana. Entah kuliah atau enggak, dia harus punya satu skill yang kuat.” Saya melongok dari balik jendela, tiba-tiba bus kami sudah sampai di Jalan Pandegiling.

Tekuni hobi sebagai ilustrator bikin sukses (Ivan Samkov/Pexels.com)

Tentang passion dan bakat anak, ternyata Mas Nurudin punya cerita menarik yakni seorang siswa yang dulu ia ajar di sekolah. Cewek ini punya bakat menggambar dan ditelateni secara otodidak. Setelah mondok di Tambakberas, dia lalu kuliah mengambil jurusan agama.

Selepas kuliah, gadis ini sekarang sukses besar sebagai ilustrator yang meraup ribuan dolar dari pekerjaan online secara remote. Banyak orderan dari luar negeri dikerjakan lewat fiverr.com dengan tingkat kepuasan yang cukup tinggi sehingga wajarlah dia diganjar limpahan dolar dari bermacam klien.

Suaminya yang lulusan Ponpes Langitan mendampinginya mengelola TPQ setiap sore hari, sambil bertani sebagai kesibukan harian. Sungguh pasutri yang bikin iri!

“Jadi kalau ada yang nawarin sawah atau tanah, dia bakalan beli itu, Mas!” timpal Mas Nurudin tentang muridnya itu.

Saya mengangguk sebagai tanda salut. “Bahkan Brio RS pun kemarin dibeli cash dari hasil nggambar!” sambungnya lagi tak mampu menyembunyikan ketakjuban.

Mendengar suami muridnya yang setiap hari mengajar mengaji di TPQ, saya tak bisa tidak spontan teringat pada kisah sahabat asal Madiun. Sepenggal kisah muridnya itu perlahan-lahan membuka memori saya tentang sahabat yang pernah berkunjung dan menginap di rumah dua tahun sebelum pandemi.

Sobat ini tadinya sekantor saat bekerja di Penerbit Yudhistira, Bogor. Kini dia dan keluarganya bermukim di Madiun dan mengelola sebuah usaha jual beli plastik dan bahan-bahan kue. Pagi mereka berjualan di pasar kecamatan, lalu sore mengajar mengaji di masjid desa.

Waktu menginap di rumah, pasutri ini mengisahkan pengalaman pahit yang pernah menimpa sobatnya di Jakarta. Dia kaya raya dengan usaha di mana-mana, beli apa pun secara tunai, termasuk kendaraan. Intinya, uang bukan masalah. Namun, dia agak jauh dari agama.  

Hingga pada suatu titik, entah karena ditipu rekan bisnis dan salah satunya manipulasi pacar, bisnisnya pun hancur. Hartanya amblas dan memulai dari nol. Momen titik nadir itu ia gunakan untuk menapaki jalan-jalan menuju musholla perumahan yang lama dia tinggalkan.

Dari situlah dia mulai merapat ke masjid kompleks untuk sesekali menjadi muazin dan berdekat-dekatan dengan Allah. Lambat laun ia pun menemukan kembali makna hidup yang selama ini hilang akibat dorongan berburu cuan cuan dan cuan.

Singkat cerita, saat main ke Jakarta sobat Madiun ini pun bertemu lagi dengan pengusaha yang bangkrut tersebut. Pengusaha itu berpesan kira-kira begini,

“Kalau kamu punya kesibukan mengajar ngaji, tekunilah. Tidak sembarang orang punya kesempatan untuk mengerjakannya.”

Di bawah pohon kers depan rumahku yang saat itu belum kebanjiran, di tepi tambak yang airnya berkecipak karena udara Desember yang semilir, saya tak bisa berkata-kata. Betapa mulia dan istimewa memang pengabdian sebagai guru mengaji.

Sobat asal Madiun ini akhirnya semakin mantap menjalani lakon yg selama ini dicita-citakan dan ternyata divalidasi oleh temannya pengusaha yg bangkrut: pagi dan siang bekerja di pasar, lalu sore hari mengasuh anak-anak ngaji di masjid.

SMA biasa, gaji belasan juta

Suatu malam, dalam rapat RT, Pak Khoirul menceritakan dua adik iparnya yang terbilang sukses di Jakarta. Satu bekerja di Pelindo dan satu lagi bekerja di PLN padahal keduanya dulu mengenyam pendidikan di SMA yang biasa banget. Bahkan mereka cenderung malas-malasan.

Akhirnya sekarang masing-masing mengantongi gaji setidaknya 15-25 juta per bulan setelah keduanya memilih jurusan Teknik informatika di Politeknik Surabaya. Itulah jurusan yang mereka sukai, bukan kedokteran atau jurusan mentereng lainnya yang diambil teman sekelas mereka. Boleh jadi waktu sekolah mereka enggak menonjol, tapi saat kuliah mereka menemukan dunia yang tepat dan diseriusi.

Anak-anak yang kini bekerja di PLN atau Pelindo, juga murid Mas Nurudin yang jago menggambar sembari mengajar ngaji, semuanya adalah bentuk kesuksesan sesuai passion dan kecenderungan anak. Sudah saatnya hal-hal akademis tidak melulu jadi ukuran sukses yang hanya akan menghambat potensi anak di bidang lain.

Kesempatan menginspirasi

Makanya ketika mendapat tawaran untuk mengajar anak-anak kelas 3 SMA sebagai persiapan masuk PTN tahun depan, saya langsung mengiyakan walaupun literasi bahasa Inggris sangat berat untuk diajarkan dan dikerjakan.

Melihat beban tes yang berat, saya jujur tak berani menuntut banyak pada mereka agar excel atau unggul dalam ujian materi. Apalagi jadwal belajar hanya dua kali dalam sebulan, cukup berat untuk menancapkan materi yang memadai.

Empat kali masuk kelas, rata-rata anak masih clueless, sebagian disoriented, belum solid ke arah mana mereka ingin melangkah. Melihat materi ujian yang sangat sulit, mereka kadang semakin gamang. Tak sedikit yang belum punya bayangan akan kuliah di kampus mana, atau mengambil jurusan apa.

Setiap kali berjumpa, saya usahakan untuk mengobrol dari hati ke hati agar mereka menemukan keajaiban yang akan mereka syukuri dengan memilih apa yang benar-benar dinikmati. Bukan semata-mata buat mendulang rezeki, tapi berdaya lewat kontribusi nyata.

Tak beda dengan sobatku yg pengusaha batik walaupun dia sarjana hukum, dan sobat eks jurnalis yg membangun EO tadi. Semua ini juga kesuksesan karena menyediakan lapangan pekerjaan, apalagi ada unsur pelestarian budaya.

Dalam setiap pertemuan selalu saya selingi dengan penguatan semangat dan pemberdayaan potensi mereka nanti saat lulus. Entah kuliah atau tidak, mereka harus mau belajar. Dan lebih-lebih memberi manfaat di mana pun mereka berada. Jadi generasi ‘anfaa yang menebar rahmat enggak melulu berdasarkan kecakapan akademis.

Hidup lancar atau enggak, mimpi terwujud atau kandas, mereka enggak boleh menyerah apalagi menyalahkan diri sendiri hanya karena insecure oleh pencapain orang lain. Balik lagi tadi konsep kesuksesan kayak apa yang mereka yakini, dan itu bisa dimulai dari kita orang-orang terdekatnya. Baik guru maupun orangtua.

Mengaji dalam segala situasi, solusi masalah hidup modern

Di akhir sesi setiap kelas (yang berbeda), saya memberikan hadiah berupa buku dan mushaf. Di luar dugaan, mushaf mungil untuk hafalan justru sangat digandrungi dan itu bikin saya terharu. Saya memang pesankan agar mereka tak jauh-jauh dari Quran, sebisa mungkin membacanya minimal selepas shalat Magrib dan Subuh.

Tantangan ke depan cukup berat, terutama dalam hal pergaulan. Bekal agama akan membentengi diri mereka, sekaligus luwes beradaptasi lewat pendidikan karakter atau pekerti berbasis spiritual.

Menolong anak korban Perang Yugoslavia

Pendidikan Eropa maupun Jepang pun sudah lama memprioritaskan pembangunan karakter sebelum anak-anak siap menerima pelajaran akademis yang sesak.

Ada cerita menarik tentang hal ini sebagaimana dialami dan diceritakan langsung oleh Pak Herman Rektor UISI (Universitas Internasional Semen Indonesia). Saat mengenyam beasiswa di Jerman, ia pernah dipanggil oleh kepala TK tempat anaknya belajar.

Beliau tentu saja kaget mendapat panggilan itu, apalagi saat Ibu Kepala TK (yang seorang profesor) menyambutnya dengan pertanyaan lugas, sebagaimana ditirukan Pak Herman:

“Di rumah anaknya diajari apa, Pak?”

Hatinya pun seketika kalut. “Wah, mesti anakku nakal nih!” katanya membatin karena mendadak dipanggil dan ditanya begitu.

Setelah duduk beberapa menit dan bercakap seperlunya, Bu Kepala TK mengulangi, “Memang anaknya diajari apa, Pak, di rumah?” kali ini nadanya terdengar semakin serius.

“Memangnya kenapa putri saya, Bu? Mohon maaf kalau dia bikin ulah ya,” Pak Herman coba menurunkan ketegangan. Bu Kepala TK lantas menjawab,

“Minggu lalu anak Bapak lari dari lantai 3 ke lantai 2. Dia banting tasnya lalu menuruni tangga untuk menolong anak korban Perang Yugoslavia!”

Pak Herman terperanjat.

“Diajari apa di rumah, Pak?” tanya Bu Kepala TK kali ini jelas bernada pujian.

Pak herman bersyukur anaknya tidak membuat masalah, justru mendapatkan apresiasi positif tentang pendidikan karakter—dalam hal ini kepedulian pada sesama manusia tanpa memandang ras atau agama.

Pak Herman melanjutkan bahwa sekolah dasar di Jerman, hingga kelas 3, tidak menuntut anak belajar mata pelajaran. Sebaliknya, mereka diajari tentang konsep pemilikan, hak dan kewajiban, serta memosisikan diri di tengah teman-temannya yang beragam. Bagaimana menjaga barang miliknya dan menghargai kawan-kawan, itulah yang digarap.

Bahkan di Finlandia, anak-anak diberikan mata pelajaran memasak dan beres-beres rumah, baik untuk pelajar cowok maupun cewek. Ini bagus untuk pendidikan karakter anak, terutama untuk membangun kesadaran bahwa mereka punya andil dalam keluarga, tanpa memandang jenis kelamin. Sama seperti konsep Islam yang dianjurkan Nabi.

Jadi inget loh dulu ada seorang kakek yang menangis (karena tak tega) saat melihat anaknya mencuci popok bayi yang baru lahir. Sungguh kurang elok, kan ayahnya justru menunjukkan wujud sayang dengan membersihkan popok, untuk membangun kedekatan dengan anak dan terutama mendukung istrinya yang mungkin mengalami post partum depression. Bahaya loh kalau ditinggalin! Lagian, anak itu lahir karena hasil perbuatan dia!

Masihkah pendidikan formal efektif?

Melihat biaya pendidikan di Indonesia yang semakin tidak masuk akal, apalagi buat kalangan menengah yang mendang-mending, sudah saatnya orangtua memilihkan jalan yang lebih tepat buat anak tercinta. Tidak melulu harus sesuai tren atau gejala sosial, tapi sesuai dengan minat anak dan terutama dengan bekal agama yang kuat. Soal rezeki, yakinlah itu sepenuhnya urusan Allah.

Kalau mau dipondokkan, itu bagus. Atau mau dititipkan di sekolah agama terdekat, itu juga baik. Orangtua hanya berikhtiar untuk memberikan fondasi sehingga ke mana perjalanan akan membawa mereka, mereka tidak akan gamang menghadapi godaan atau tantangan. Tentunya akan sangat baik jika dibekali skill wirausaha atau bahasa asing yg memadai.

Kenapa agama penting banget? Karena dari sini anak-anak mendapatkan asupan bergizi berupa pendidikan karakter. Lewat tauhid yang kokoh dan kisah-kisah nabi juga ulama salaf, anak-anak akan punya pijakan mantap di mana pun mereka hidup. Bisa beradaptasi dengan lingkungan sesuai kebutuhan.

Sudah banyak kisah anak pondok, baik salaf maupun modern, yang akhirnya mendapatkan kesempatan beasiswa atau pekerjaan di luar negeri walau tanpa kuliah. Misalnya kakak kelas Rumi yang mendapat tawaran beasiswa ke Jepang padahal dari pondok salaf.

“Sepertinya ada yang salah ya Mas dalam pendidikan kita. Itu anak-anak sepertinya malah bingung karena banyak yang sebenarnya enggak mereka butuhkan,” ujar Mas Nurudin lagi selagi kami menunggu kereta pulang.

Akhirnya kereta Arjonegoro berhenti. Penumpang berebut masuk, khawatir tak dapat seat. Saya bersyukur masih bisa duduk dengan nyaman, hanya saja terpisah gerbong dari Mas Nurudin. Karena baterai ponsel habis sementara konektor charger rusak, maka selama perjalanan tak bisa scroll medsos atau hiburan lain. Untunglah bawa buku Black Rainbow yang hari itu jadi properti foto dan berujung pada voucher belanja. Alhamdulilah….

Black Rainbow pembawa hoki

Selepas Isya, kereta tiba di Stasiun Lamongan. Turun dari kereta, Mbak Mun mengulurkan uang sebagai pengganti voucher hadiah. Ternyata betulan, yeay! Saya lantas bergegas menyeberang dan bertemu lagi dengan Mas Nurudin yang sedang menunggu istrinya menjemput.

Tak lama berselang, istrinya datang dan dia pulang. Sambil nunggu Bunda Xi, saya mencomot Roti O yang tadi dia belikan. Oh puji Tuhan, nikmat betul rasanya. Diselingi tegukan air segar.

Jemputan datang, kami lewat GOR di Jl. Mastrip. Beli nasi jagung Rp6 ribuan karena di rumah tak ada makanan. Langsung meluncur pulang karena pengin banget ikut peringatan Maulid sekaligus resepsi Agustusan. Si bungsu dapat hadiah lomba azan.

Habis makan nasi bungkus, berangkat ke masjid, bur-buru sholat Isya sewaktu mahallul qiyam. Namun sayang sungguh disayang, jumlah hadirin cukup minim, terutama bapak-bapak. Hanya beberapa wajah yang kukenal, kebanyakan panitia. Mana yang lainnya?

Lagi-lagi tak begitu menghargai momen silaturahmi perumahan seperti yang saya bahas di awal tulisan. Bisa saja aku suuzan, tapi masak sih mereka sibuk terus-menerus tanpa berusaha meluangkan waktu padahal undangan jauh-jauh hari disebar?

Tinggalkan jejak