Bahkan Sebesar Biji Sawi Pun

Suatu malam saya berkunjung ke rumah salah seorang teman. Entah berawal dari mana tiba-tiba perbincangan mengarah pada sebuah kisah yang sangat membekas di hati saya. Teman saya tersebut bercerita bahwa ia mempunyai seorang teman yang bekerja di sebuah BUMN yang cukup bergengsi. Karena ini bukan sinetron yang bertele-tele, maka singkat kata, si pegawai tersebut dapat meraih jabatan yang lumayan ‘basah’ dalam waktu yang relatif cepat. Maka tak heran jika hartanya kemudian menumpuk dan terus bertambah. Mobil bukan lagi barang yang istimewa bagi dirinya. Semua orang pun salut pada hasil kerjanya dan tak sedikit yang merasa iri akan kesuksesannya.

Hidup terpuruk

listsoplenty.com
Namun kejayaan setiap orang tidaklah bersifat abadi. Ibarat sebuah perjalanan, pasti ada pemberhentian. Sekokoh dan serimbun apa pun sebuah pohon, suatu saat akar-akarnya akan menua, daun-daunnya berguguran, dan akhirnya batang mengering dan mati. Demikian juga dengan tokoh utama dalam kisah ini. Tidak lama setelah semua kemewahan dicapainya, ia didera sebuah penyakit yang lambat-laun menggerogoti kekayaannya. Setelah hartanya habis tak bersisa—bahkan termasuk rumahnya—sakit yang ia derita tidak juga sembuh dan justru semakin parah. Dan berbeda dengan akhir cerita sinetron televisi kita, sad ending-lah yang terjadi: ia akhirnya menutup mata untuk selamanya—padahal belum lama ia mengecap kenikmatan yang telah ia kumpulkan itu.

Ternyata pegawai tersebut banyak memakan harta yang bukan haknya. Atau dengan kata lain, ia kerap menggelapkan uang demi kepentingannya sendiri. Bahasa kerennya sekarang mungkin: markup! Dan demi kemewahan haram itu, ia harus membayar dengan semuanya, bahkan nyawanya sendiri. Allah meminta pertanggungjawaban secara langsung begitu setimpal bahkan lebih dari apa yang sudah ia perbuat selama ini. Ini memang kisah sederhana dan mungkin sudah pernah kita dengar sebelumnya. Dan bagi Anda barangkali sekadar cerita tak bermakna. Tapi entah mengapa saya pribadi seolah dikucuri air hikmah serampung mendengar ‘dongeng’ ini.

Siapkan dari sekarang!
Cerita pendek ini segera mengingatkan kepada saya,—siapa tahu juga bagi Anda yang membaca tulisan ini—, tentang pentingnya bersikap jujur dan mengemban amanah. Mari kita ingat, jangan-jangan ada fasilitas atau benda kantor (kalau kita pernah atau bahkan sedang jadi karyawan) yang kita pergunakan bukan untuk pekerjaan, melainkan demi kepentingan pribadi atau keluarga kita tanpa seizin pemilik perusahaan. Mungkin ada waktu di mana kita harusnya masih bekerja, namun justru kita manfaatkan untuk mengobrol atau berselancar di dunia maya—kendatipun kita menggunakan ponsel dan pulsa kita sendiri, karena pada hakikatnya kita tengah berada dalam jam kerja yang sudah kita sepakati untuk pelayanan kepada employer.

Seusai mendengar cerita teman tersebut, hati saya gemetar tak keruan; seperti ditampar, atau jika meminjam salah satu lirik puisi Rendra, ibarat sambal tomat pada mata! Hanya saja rasa pedas kisah ini menohok mata batin saya sejadi-jadinya. Saya seperti dihantam dengan milyaran ton kesalahan masa silam (yes, literally) karena saya spontan teringat dulu waktu masih jadi karyawan pernah menggunakan fasilitas internet untuk kepentingan sendiri dan juga mengobrol pada saat jam kerja (terkutuklah akyu). Satu kalimat yang tergores kuat di benak saya: memang berat menjunjung amanah dan kejujuran, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. Kisah pendek ini barangkali juga akan membuat kita miris melihat kondisi negeri kita yang seolah lekat dengan label negeri koruptor. Dan semua itu berawal dari sikap tidak amanah dan tidak jujur.

http://www.colly.tv
Kalaupun para koruptor bisa lolos dari jeratan hukum atau kecaman publik, pasti Allah punya rencana detail untuk mereka. Terserah Allah bentuknya apa. Dan hanya karena kita bukan termasuk koruptor, jangan senang dulu, sobat. Sebab sekecil apa pun perbuatan akan bermuara pada pertanggunggjawaban di depan Allah kelak dengan sangat akurat dan adil. Semua hal: jumlah kekayaan kita, untuk apa kita belanjakan, juga kendaraan kita dan pemakaiannya—bahkan termasuk jumlah pakaian kita, pulsa yang kita habiskan setiap bulan, setiap pesan singkat yang kita kirimkan, setiap kata yang kita ucapkan, setiap nafas yang kita embuskan, dan setiap letupan tawa atau bulir air mata yang terhempas ke bumi. Untuk apakah semua itu? Mampukah kita menyampaikan pertanggungjawaban dengan fair? Sebaiknya kita mampu. Dan tak ada salahnya kita pikirkan sejak sekarang.

Advertisements

5 thoughts on “Bahkan Sebesar Biji Sawi Pun

    • Betul, Lily. Saya sendiri sangat terinspirasi oleh cerita teman saya tersebut, kendati sampai sekarang sangat berat dan susah untuk bisa memberi penghargaan sekaligus berhati-hati dalam mengemban amanah, terutama anugerah Tuhan bernama ‘waktu’. Salam :-p

      Like

  1. itulah perlunya kita mengenal diri kita sendiri, karna kalo ndak kita kenali siapa kita, selalu kita menganggap bahwa harta yang bukan pantas tuk kita miliki selalu kita upayakan untuk memilikinya sehingga segala cara kita jalankan untuk memuaskan hal tersebut.

    Like

    • Betul Mas. kita memang harus mengenal diri sendiri agar bisa mengenal Tuhan. Dan terus belajar tentunya…terima sudah berkunjung dan meninggalkan jejak 🙂

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s