10 Pelajaran Hidup dari Memasak (Bagian 2)

Pada tulisan sebelumnya telah saya sebutkan lima pelajaran pertama dari pengalaman memasak yang saya petik selama membantu istri di dapur. Berikut adalah lima pelajaran lain yang merupakan lanjutan dari tulisan terdahulu.

6. Keajaiban gula dan garam
Kenikmatan makanan biasanya identik dengan rasa gurih. Tak jarang orang mewakilkan rasa lezat suatu hidangan dengan rasa gurih. Maka tak heran ada satu restoran di Bogor yang mengusung kata ‘gurih’ sebagai nama dengan menambahkan kombinasi angka di belakang kata terpilih itu. Dalam konteks makanan riil, rasa gurih lazim kita dapatkan dari satu bahan yang sudah sangat masyhur dengan sebutan vetsin atau MSG. Namun seiring dengan perkembangan ilmu kesehatan dan teknologi pangan dan gizi, tidak sedikit orang yang telah meninggalkan pemakaian vetsin dalam masakan mereka. Tidak terkecuali istri saya. Dialah yang mengenalkan saya tentang bahaya vetsin terhadap kesehatan tubuh jika dikonsumsi berkelanjutan. Maka sejak kami menikah, istilah vetsin memang sudah lama kami pensiunkan. Tidak ada tempat buat MSG di dapur kami. Sebagai gantinya, istri saya menghadirkan sebuah kombinasi yang ajaib yakni antara gula dan garam. Saya awalnya tidak terlalu simpatik dan bahkan skeptis dengan pilihannya itu. Akan tetapi, lambat laun saya sendiri dapat merasakan sensai yang lebih menyegarkan dari perpaduan kedua bahan itu sebagai ganti kegurihan vetsin. Selain lebih sehat, rasanya jauh lebih asyik (rasa kok asyik..hehe).

Spirit dari penggabungan dua bahan ini adalah kreativitas. Saya mendapat pelajaran baru tentang menggagas suatu hal untuk mengganti sesuatu hal yang lain. Dalam hidup kita tentu kerap terjadi di mana kita seolah terhimpit pada satu kondisi atau situasi yang membuat langkah kita terhenti dan kita tak lagi memiliki pilihan lagi selain mengikuti pilihan orang lain atau selera umum, padahal boleh jadi pilihan itu justru tidak baik bagi kita. Saya sendiri kadang terjebak dalam definisi kesuksesan orang kebanyakan sehingga lupa bahwa saya bisa menyusun definisi sukses menurut saya sendiri. Ini hanya satu contoh. Sebenarnya banyak hal yang bisa kita akali dan kelola secara kreatif ketika kita merasa terpojok atau mentok. Kuncinya adalah latihan dan praktik terus-menerus. Ingatalah bahwa sifat kreatif itu akan membuat hidup kita lebih hidup dan dinamis. Juga menyehatkan! So, mari kita ciptakan ‘rasa gurih’ ala kita sendiri.

7. Memperlakukan udang
Suatu pagi istri saya membeli udang di warung tempat kami biasanya berbelanja sayuran, tidak jauh dari rumah. Sesampai di rumah, ternyata anak kami rewel sehingga udang tersebut tidak segera diolah. Walhasil, bau busuk pun segera memenuhi ruangan dan lalat pun mulai datang berduyun-duyun dengan suara bising menyebalkan. Akhirnya udang yang sudah terbeli itu pun dimasak juga. Namun sayang sungguh sayang, setelah matang dan siap disantap ternyata rasanya sangat tidak enak akibat telat memasak. Udang yang mahal pun ternyata bisa rusak rasanya gara-gara tidak segera diolah.

Kejadian ini menyiratkan satu hal penting bagi saya: jangan menunda pekerjaan atau tugas yang sudah menjadi kewajiban. Sesederhana atau sehebat apa pun suatu pekerjaan, ia hanya akan berujung pada kekecewaan mendalam bila tidak ditangani sesegera mungkin secara serius. Saya langsung teringat pada pesan Nabi tentang lima perkara yang harus kita manfaatkan sebelum kelima peluang itu kadaluarsa ditelan waktu. Betapa banyak orang yang menyiakan masa muda untuk kemudian menyesal dan mengutuk diri sendiri ketika tua. Betapa tak sedikit orang yang melewatkan begitu banyak waktu luang dan kemudian harus menangis penuh penyesalan saat kesempatan sudah musnah—sementara ajal sudah di depan mata! (Welah, serius amir bos…)

8. Nyala api
Pikiran saya yang sok tahu tentu saja percaya bahwa setiap memasak apa pun nyala api harus besar. Logikanya, kalau api memancar kuat, maka makanan yang dimasak akan lebih cepat matang dan merata tingkat kematangannya. Sotoy banget deh!! Ternyata setiap jenis makanan, atau setiap teknik memasak (mengukus, menggoreng, tumis, sangrai, dll.) membutuhkan kadar nyala api yang relatif alias tidak seragam. Masakan jenis tertentu mungkin perlu di-‘hajar’ dengan nyala api yang besar untuk mencapai tingkat kematangan dan tekstur sempurna, sementara jenis masakan yang lain justru cukup ditenagai oleh api dengan nyala sekadarnya. Menggoreng kerupuk udang misalnya, tidak bisa serampangan dengan api yang berkobar-kobar, sebab hal itu hanya akan membuat kerupuk kerdil dan tidak mengembang cantik.

Lagi-lagi saya belajar sesuatu. Ini seolah pelambangan bahwa setiap hal dalam kehidupan membutuhkan sentuhan dan pendekatan yang berbeda-beda, terutama dalam menghadapi suatu masalah—harus dipertimbangkan dan disesuaikan dengan karakter hal yang dihadapi. Tidak baik rasanya bila kita selalu ngoyo dalam hidup (baca: nyala api terlalu besar) sehingga membutakan mata terhadap realitas yang melingkupi kita. Tidak bagus pula kiranya bila kita kelewat pesimistis (baca: nyala api terlalu kecil) yang justru berpotensi mematikan mimpi-mimpi yang sebenarnya sangat bermanfaat, baik bagi diri kita maupun orang lain.

Pada akhirnya, kita sendirilah yang bisa menentukan kapan harus bersikap ekspresif atau intuitif; kapan mesti optimis, percaya diri atau bahkan overconfidence. Hidup tidak bisa hanya dijalani dengan sikap ganas membabi buta; dan tak pula bisa ditempuh dengan kekerdilan pikiran dan ciut semangat. Semua itu bisa dipelajari lewat pengalaman hidup, baik pengalaman sendiri maupun orang lain.

9. Rahasia di balik durasi
Sebagaimana penggunaan api yang tidak selalu butuh nyala yang besar, begitu juga dengan durasi atau lama waktu memasak suatu bahan. Terutama dalam kasus sayuran. Sayuran yang dimasak terlalu lama dikhawatirkan akan kehilangan kandungan gizi yang penting bagi tubuh. Saya rasa semua orang telah paham akan hal ini. Jika suatu jenis sayur Anda paksa rebus dalam durasi yang mahalama, niscaya kesiaan semata yang akan Anda dapat. Sayur bukannya berguna bagi tubuh, melainkan sekadar masuk ke mulut dan lewat begitu saja tanpa meninggalkan anasir gizi atau vitamin bagi tubuh. Mubazir dong Bo…sayur hancur, gas pun jadi tak hemat!

Sederhana saja pesan yang saya dapat dari peristiwa ini: bahwa segala sesuatu yang sudah lama (misalnya orang tua, tradisi, norma, kebiasaan) tidak selalu lebih bagus dari yang tidak lama (anak muda, nilai-nilai baru, dsb.). Tidak ada jaminan bahwa orang-orang yang jauh lebih lama hidupnya di dunia termasuk orang-orang yang berkualitas. Tidak pula ada garansi bahwa orang-orang muda (yang belum lama mendiami dunia) memiliki sikap yang buruk sehingga harus diremehkan. Begitu pula sebaliknya. Lama atau tidak lama hanya soal peristilahan waktu, sebab yang jauh lebih penting adalah kesanggupan dan kesediaan seseorang untuk memberi makna dan mengakui kebodohannya untuk kemudian belajar menjadi lebih baik. Ada satu contoh kejadian menarik mengenai hal ini, sebagaimana dikisahkan oleh seorang sobat Thia di sini. Silakan mengelus dada (jangan mengelus dompet..udah tahu duit ga bakal nambah, hehe).

10. Tidak sembarang garnis
Anda pernah nonton acara Master Chef Indonesia? Haha…ini acara favorit keluarga kami! Beragam orang dari berbagai latar belakang disatukan dalam satu medan tempur bernama Master Chef. Berbagai teknik, inovasi, invention, pengetahuan serta keterampilan memasak diadu dan diuji di sini. Sungguh sangat menarik dan mengagumkan (bagi saya yang ga jago memasak—tapi jago makan!) Namun saya tidak akan membahas sosok Sarwan yang lugu tetapi ulet ataupun Agus yang selalu berbatik ria. Salah satu momen yang menegangkan adalah detik-detik akhir menjelang berakhirnya jatah waktu memasak.

Pada saat itu biasanya para mentor atau chef senior akan menyemangati dengan mengingatkan agar tidak lupa menggarnis hidangan. Ya, dengan membubuhkan garnis, hidangan akan tampak lebih menggoda bagi siapa pun yang melihatnya kali pertama. Kehadiran garnis akan membuat sajian tampil memukau dengan aura lezati (istilah apa pula ini..). Walaupun rasa belum tentu lezat, garnis dapat mempercantik makanan dan mengundang orang untuk mendekati dan kemudian mencicipinya. Orang jadi tergugah dengan tampilan yang ‘menantang’.

Meskipun tidak selengkap dan seindah garnis di acara kuliner televisi, kami juga senantiasa berusaha menghadirkan makanan dengan tampilan yang menarik agar selera kami tergugah. Walau sekadar dengan irisan tomat, beberapa batang daun kemangi, atau bahkan cabe Jawa yang gendut, kami selalu mencoba menggarnis makanan. Nah, dari hal yang barangkali sepele ini sebenarnya tersimpan pelajaran berharga bagi saya. Bahwasannya orang mesti menampilkan dirinya dengan baik dan menawan di depan orang lain agar mereka tidak enggan mendekat dan berteman. Dari pertemanan itu tumbuhlah kebersamaan dan bisa jadi benih-benih rezeki. Menjaga penampilan fisik itu penting walaupun memang bukan segalanya—sebab yang esensial tetaplah hati nurani dan ketulusan.

Akan tetapi, bukan berarti tampilan fisik bisa begitu saja diabaikan. Tampil menarik atau menawan tidak identik dengan harus tampil cantik atau tampan, melainkan lebih pada kebersihan raga dan busana demi menghormati dan memuliakan orang lain. Bukankah Muhammad saw. telah mengajarkan bahwa kebersihan sebagian dari iman? Ingatlah bahwa kesan pertama penting untuk diperhatikan. Kalau penampilan fisik saja sudah tidak menarik, acak-acakan dan semrawut, bagaimana mungkin orang lain akan mendekat? Dalam konteks rumah tangga, seorang suami boleh jadi akan enggan mendekati istrinya jika ia mendapati istrinya kumal, bau apek, malas dandan di rumah, suka ngupil dan suka kentut pula (ada ga yang lebih parah?:) Dan begitu juga sebaliknya. So, para sobat, jangan lupa menggarnis diri Anda agar tampil menawan. Wabil khusus bagi para istri, biar para suami selalu tergoda untuk ‘menyantap’ Anda! Buat para suami, jangan pula tampil semrawut dengan bersarung sepanjang hari. Alih-alih gemes, istri Anda malah takut Anda dekati. Hehe..[we]

Advertisements

8 thoughts on “10 Pelajaran Hidup dari Memasak (Bagian 2)

    • Mbak Isna, iya begitulah adanya. Sekarang waktuku kan banyak di rumah. Jadi amat menikmati kegiatan memasak di dapur. Walaupun memang masih belum enak masakannya, hehe..Kok ternyata banyak dpt inspirasi saat memasak. Jadi kutulis aja. Siiip dah, makasih banget atas kunjungannya. Jangan lupa komen postingan-postingan yang lain ya…Salam sukses selalu!

      Like

  1. Cooolllll
    Nice post gan… Analogi bumbu dapur dan bumbu khidupan yg pass.
    Endingnya seruuwwww hahahhaha
    Eniho smoga thn 2012 lbh baik dr thn 2011…
    Amiiinnnn

    Like

    • Makasih atas apresiasinya, Zoothera. Yang kutulis ini sesuai yang kualami dan rasakan saat praktik memasak. Aku malah kepikiran bisa nambah poinnya shg bs dibentuk dalam wujud buku, hehe.. Ngayal.com ahai…btw, Happy nu year, semoga tahun 2012 memberikan banyak kejutan indah dan keberkahan untuk Zoothera sekeluarga…:p

      Like

  2. […] 1. Masak bersama Sebagai orang yang doyan makan, kami juga gemar memasak. Tentu saja masakan yang kami kuasai teknik dan penyajiannya. Memasak bersama bisa menjadi sarana markotop untuk mengasah kerja sama dan saling memahami. Team work dan insting dindalkan. Apalagi sekarang kami mengelola bisnis pembuatan wingko yang menuntut kami mengerjakannya bersama-sama. Dari kegiatan masak bersama istri, saya bahkan mendapat 10 pelajaran berharga tentang kehidupan. Pernah saya ceritakan di sini dan ini. […]

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s