Asyiknya Menguliti Orang di Medsos

Waktu Dinda Hauw menjadi tren perbincangan di Twitter beberapa waktu lalu, saya malah teringat pada laundry langganan yang bernama sama, Hauw Laundry. Londri ini dikelola seorang anak muda yang pernah mengincar rumah di kompleks tempat saya tinggal sekarang. Sayangnya pengajuan KPR-nya ditolak dan ia kemudian beli rumah di kompleks sebelah. Good for him, kompleks kami malah kena banjir April lalu.

Kisah Dinda Hauw memang ditanggapi dengan beragam tapi jelas sangat masif. Maklumlah dia seorang selebriti sehingga berita apa pun akan direspons sangat luas dan bahkan berlebihan. Selama beberapa hari atau malah berpekan-pekan beritanya terus menghiasi linimasa Twitter dan IG. Tangkap layar berita dari dua kanal tersebut menghebohkan dunia maya.

Kehebohan itu sebenarnya lumrah karena lagi-lagi dia bukan orang biasa alias figur publik. Saya memaklumi satire yang diunggah dalam konteks hiburan, tapi yang membuat saya miris adalah betapa ada akun-akun yang lama-lama kebablasan dalam mengomentari fenomena Dinda Hauw yang konon dikabarkan tak bisa memasak nasi bahkan mi instan sekalipun. Ya, kan tidak semua wanita seperti Li Ziqi.

Menguliti orang di medsos apakah pansos?

Memang kenapa kalau tak bisa masak?

Dalam kultur tertentu seorang wanita menikah yang tak bisa memasak boleh jadi dianggap memalukan. Saya sendiri senang pada istri yang suka memasak. Namun meledek seseorang yang tak bisa masak, lalu mengaitkan dengan sentimen orang kaya sangatlah tidak patut.

Memang kenapa kalau Dinda Hauw tak bisa masak? Apakah merugikan warganet? Kalau suaminya bisa menerima, apakah hak kita menghakiminya? Memang status itu cenderung dramatis saat diunggah di story IG, tapi tetaplah perbincangan yang membawa privilese orang kaya sudah tak relevan. Seolah orang kaya adalah antagonis dalam kehidupan dan oleh karena itu harus dilihat secara dikotomis sebagai musuh orang biasa atau orang miskin.

Itu ungkapan generalisasi yang keliru sebab meniadakan peran dan kepedulian orang kaya lainnya. Lebih tidak relevan lagi ketika ada akun yang mencibir tentang pernikahan mereka seolah tak akan berumur lama. Halo, betulkah kita bisa berperan dan bahkan ‘mendoakan’ pasutri sejauh itu? Kenapakah tidak kita doakan mereka langgeng dan saling menguatkan dalam kebahagiaan dengan atau tanpa Hauw bisa masak? Kalaupun akhirnya dia belajar dan pintar masak, tentu itu bonus buat Rey.

Suami tak bertanggung jawab

Kisah lain di Twitter adalah tentang seorang wanita muda yang habis bercerai dengan rasa sakit. Suaminya disinyalir tidak bertanggung jawab karena lebih mengutamakan pelesiran ketimbang keluarganya. Cuitan itu segera menuai komentar yang sangat berlimpah. Bisa diduga, cowok dan cewek yang berkomentar menyalahkan mantan suami dengan bahasa yang ganas.

Mendukung Mbak yang mencuit itu sah-sah saja, tetapi menyerang mantan suaminya yang diduga menelantarkan si mbak adalah perkara lain. Saya pribadi hanya bisa bersimpati dan mendoakan yang baik untuk dia dan putra kecilnya. Betapa pun kisah yang dia ceritakan di Twitter itu benar adanya, saya pikir bukan hak kita menjelek-jelekkan mantan suami sebab kita sendiri tak tahu bagaimana ihwal sebenarnya kasus mereka.

Menguliti orang dengan garang

Banyak cerita tentang warganet yang menghabisi sosok seseorang di dunia maya. Entah benar atau salah, dukungan biasanya mengaalir pada kutub yang menyerang. Dua kisah di atas hanya satu dari sekian kasus betapa warganet, termasuk saya, begitu mudah dalam menguliti kehidupan seseorang seolah kita sendiri nirdosa.

Bersimpati dan mengingatkan sangat diperbolehkan, tapi menyerang membabi buta dan menyalahkan seolah kita tahu segalanya bisa jadi bumerang yang berbahaya. Bagaimana pun, kita hanyalah penton, onlookers, pengamat yang tidak pernah tahu hakikat sebenarnya. Semua yang tampak boleh jadi tak seperti yang kita sangka, maka waspadalah.

Dahulu saat belajar teori sastra, ada istilah aesthetic distance. Fenomena ini seolah mengafirmasi gejala di medsos. Jarak estetis adalah kondisi di mana kita melihat dan menilai sebuah karya seolah kita bukan bagian di dalamnya. Barangkali sebagian warganet yang gemar menghujat, bahkan untuk masalah yang tak benar mereka kuasai, merasa tidak pernah menjadi bagian dalam kehidupan yang dinamis–termasuk kehidupannya sendiri yang bergelimang dosa dan aib. Sehingga bullying jadi tak terasa atau malah dibenarkan.

7 Comments

  1. mas, aku jadi teringat kisah Layangan Putus. Para emak2 memboikot channel yutub yang diduga milik lelaki yang menelantarkan keluarganya. Semua menghakimi, bahkan di sebuah komunitas menulis, dikuliti satu persatu. Mengasihani yang diduga menderita, bak detektif mereka mencari tahu hingga akar-akarnya. Eh kok aku juga tahu? ya khan viral wkwk :P. Padahal yang nampak di media bukan berarti kebenaran. Toh, gak ada tuh empati solidaritas membantu si Ibu yang diduga ditelantarkan, minimal galang dana buat pendidikan anaknya kek kalo kasian, apa kek.

    Hingga akhirnya aku sadar, seperti kata guruku, apa yang ada pikiran kita hingga keluar lewat lisan mulut atau jari, salah duanya adalah dari apa yang dia baca, bagaimana pergaulannya dan siapa yang difollow di medsosnya. Eh itu salah tiga ya.

    Sehingga, filter pikiran dengan membersihkan siapa yang layak di follow. Jika akun suka kompor, lebih baik dipikirkan kembali untuk mengikuti. Sehingga, akupun mulai bersih2 akun yang kuikuti. Dan bersikap ora urus jika gak ada dampaknya buat ada tidaknya nasi di dapurku *eh. Padahal aku aja nasi suka beli
    *ya ampun nasi aja malas masak
    *apalagi masak mie instan wkwkk 😀
    *enakan beli di warung
    *gak cuci piring pula
    *ini nyata
    #####kaboooor

    Liked by 1 person

    1. Ya ampun, malam-malam bahas masak nasi. Jadi pengin makan nasi Padang hehe. Memang berat jari ini, kalau enggak dikendalikan bisa bawa petaka. Pernah kubaca juga bahwa hape sekecil dan seringan ini berpotensi membawa dosa besar buat kita. Ya termasuk menghakimi orang yang sebenarnya bukan domain kita toh.

      Like

  2. Saya termasuk yg kepo soal dinda hauw, karena meski dia publik figur, saya gak tau dia siapa 😀

    Dan saya termasuk yg pernah dikuliti karena selalu bilang “gak bisa masak” ke cowok2 yg pdkt, hehehe. Padahal maksud hati ingin berkata jujur biar diterima apa adanya. Apa daya malah dapat celotehan panjang 😀

    Dan sekarang lagi mengingat-ingat, apa pernah menguliti orang di medsos ya? Sejauh ini sih cuma nyimak kasus, biar tau doang.

    Liked by 1 person

  3. Memang Twitter di era milenial ini semakin hari semakin sering beredar cuitan yang berisi hujatan, gosip, permusuhan, dan sejenisnya. Saya nggak kenal Dinda Hauw dan nggak sempat tau beritanya tapi berita ini sejenis kasus Nia Ramadhani yang viral di Twitter juga gara-gara tidak bisa masak telur dan takut nyemplungin telur ke minyak, aslinya ya tidak ingin ikut nge-ghibah tapi karena konten ini viral jadi yang orang tidak kepo jadi tau sampai akar-akarnya karena banyak berseliweran di timeline. Hmm, saya beralih ke Quora sajalah akhirnya hahaha. (loh)

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s