Maaf, Aku Sudah (Sangat Sering) Sok Tahu!

Surat cinta dari Jawa Tengah

Ketika masalah yang mendera begitu luar biasa, rasanya manusiawi bila seseorang bagai terombang-ambing tanpa arah dan pegangan (sumber gambar:remake23.deviantart)

Ibu dan aku sama-sama mematung. Kami sama sekali bergeming melihat sepucuk surat yang tergolek di atas meja makan. Kala itu meja makan kami sedang sepi. Sejujurnya, meja makan di rumah kami memang tak pernah penuh oleh makanan. Saat kami duduk dalam hening, kira-kira waktu menjelang Ashar. Masing-masing dari kami belum terlihat akan mengeluarkan kata-kata. Hingga suasana pun akhirnya pecah ketika ibu berujar mantap, “Bismillah!”

Aku bergegas memeluk ibu sambil memandangi surat yang masih terhampar di atas meja bertaplak merah hati itu. Kebahagiaan pun segera membuncah dalam hati, “Semarang, aku datang!”

Surat itu adalah panggilan dari salah satu universitas negeri di Semarang, Jawa Tengah. Tentu hatiku diliputi kegembiraan setelah menerima kabar bahwa aku diterima di jurusan Sastra Inggris melalui program seleksi siswa berpotensi di universitas tersebut. Aku memang suka membaca dan ingin menjadi penulis atau editor saat dewasa. Maka surat itu sungguh ibarat panasea yang menyerap rasa sakit dan kepedihanku.

Pukulan berat
Ya, betul. Setahun sebelumnya, tepat memasuki tahun ketiga SMA, ayahku pamit untuk selamanya. Operasi ringan yang semestinya biasa saja ternyata mengantarkannya kepada Sang Pencipta. Kala itu, aku memang tak tahu banyak tentang apa yang ia derita. Sempat kudengar bahwa selain operasi ringan itu beliau juga menderita komplikasi penyakit akibat kebiasaannya merokok yang bisa dikategorikan cukup berat.

Apa pun penyebabnya, kepergian ayahku menyisakan kepedihan yang tiada terperi. Langit seolah runtuh menghantamku; dan bumi menelanku dalam gelap rongga misteri yang mahadalam. Hanya sunyi dan kekosongan yang kurasakan. Seua harapan pun pupus dan musnah tak bersisa selain kerlip kecil lilin doa. Jujur saja, aku dikuasai perasaan tak bahagia pada tingkat yang sangat berbahaya. Sempat terpikir untuk menggugat Tuhan atas nasib yang menderaku.

Kepergian ayahku tak pelak lagi merupakan sebuah pukulan menyakitkan dalam hidupku. Betapa tidak, dialah orang yang selalu mengobarkan mimpiku untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Masih jelas tergurat dalam memoriku tentang pesan beliau mengenai pendidikan, “Tuntutlah ilmu agar tidak menjadi orang bodoh.” Itulah yang kuingat. Bahwa mengecap pendidikan hendaknya bukan demi mendapat pekerjaan atau gaji tinggi, melainkan demi perbaikan cara berpikir dan pendewasaan diri. Sebuah konsep yang menurutku sangat aneh diucapkan oleh orang kampung seperti ayahku—yang hanya mengecap pendidikan hingga SMP. Namun baru kutahu tentang makna ucapannya itu beberapa puluh tahun kemudian.

Pada saat itulah kuputuskan untuk bertanya kepada seorang guru yang kuanggap mampu menjawab kegelisahanku. Dengan nada remaja yang limbung, aku bertanya, “Apakah yang membuat orang bahagia?” Dan dengan panjang lebar ia menjelaskan apa yang kuinginkan. Betul-betul jawaban yang kukehendaki. Intinya, dia mengingatkan bahwa kebahagiaan seseorang bisa diraih tatkala apa yang ia butuhkan terpenuhi. Misalnya, seorang guru akan bahagia bila muridnya rajin dan pandai serta mampu meneladani sifat-sifat positif sang guru. Orang tua akan gembira jika anak-anaknya penurut dan menjadi pribadi yang membanggakan mereka. Seorang penulis akan merasa senang tatkala ia mampu menghasilkan karya yang bermutu dan mampu menginspirasi banyak pembaca. Seorang istri akan bahagia bila suami dan anak-anaknya bertindak dan berprestasi sesuai keinginannnya. Dan daftar ini bisa sangat panjang bila diteruskan.

Tapi ada satu hal lain yang masih kuat membekas dalam ingatanku: bahwa kebahagiaan paling prima barangkali justru didapat dari kegiatan membantu atau meringankan orang lain. Menolong orang lain dalam kesulitan mereka adalah sebuah kualitas yang mampu mengantarkan kita kepada perasaan bahagia yang tidak bisa diukur. Karena dia mengajar bahasa Inggris, ada satu frasa yang kuingat betul: bahwa orang yang membantu orang lain akan merasakan sesuatu yang unik, something more than happiness. Sesuatu yang entah apa namanya, tapi jauh lebih dahsyat daripada kebahagiaan. Wow, aku tersihir dengan ucapannya yang terakhir itu! Aku masih ingat hingga kini dan tak akan pernah melupakan petuahnya itu.

Manusia-malaikat
Terus terang, surat panggilan itu menempatkanku dalam sebuah dilema. Di satu sisi, aku bahagia karena bisa diterima di universitas negeri. Sementara di sisi lain, aku tak yakin apakah bisa meneruskan atau bahkan memulai pendidikan itu dengan kondisi kami sepeninggal ayah sebagai tulang punggung keluarga.

Tuhan menolong lewat uluran tangan manusia (sumber gambar: unboundmedicine.com)

Syukurlah, Allah mengirim malaikat dalam wujud seorang guru. Sewaktu SMA aku aktif dalam kegiatan seni teater dan perpuisian. Aktivitas seni itu akhirnya mendekatkanku pada seorang guru yang mengampu atau membina kegiatan tersebut. Dia sangat baik dan sungguh memenuhi figur seorang ayah yang mumpuni dan penyayang. Dia sosok yang pemurah dan tidak pernah pelit menawarkan solusi atau nasihat bagi murid mana pun yang datang kepadanya. Saking dekatnya, aku kerap menginap dan makan di rumah guru tersebut.

Maka keharuan memenuhi ruangan ruang tamunya saat aku mengucapkan kata perpisahan sebelum berangkat ke Semarang esok harinya. Ketika kukatakan tentang keraguanku untuk menempuh jenjang perkuliahan, beliau menawarkan dirinya sebagai sosok yang bisa kuandalkan kapan pun. Dengan suara berat dan mantab, dia jelas mengatakan bahwa dia ikhlas dianggap sebagai ayahku sendiri—jika aku mau. Mataku mendadak panas dan akhirnya pecah menjadi tangis penuh sukacita. Kupeluk dirinya dan kuucapkan terima kasih atas semua dukungan dan bantuannya.

Singkat cerita, aku pun menerima sejumlah uang dari guru tersebut. Aku pamit dengan langkah mantab namun pedih. Mantab karena banyak orang yang mendukungku dengan bayangan masa depan yang lebih baik, tetapi pedih karena berat rasanya meninggalkan memori masa SMA yang penuh keceriaan bersama teman-teman dan terutama di bawah asuhan guru ‘malaikat’ itu.

Inilah MOMEN PENYADARAN pertama setelah ayahku tiada. Aku menyesal karena telah bersikap sok tahu dalam memandang takdir atau ketentuan Allah. Malu aku kepada-Nya. Malu karena ternyata telah disediakan jalan keluar untukku pasca kepergian ayah sang pahlawanku yang sangat mendadak.

Daerah yang jauh

Perjalanan jauh yang mendebarkan (sumber gambar: life-afterjune.blogspot.com,hannahkim80.blogspot.com,wisatajitu.blogspot.com)

Berbekal uang pinjaman dari tetangga, aku pun bertolak meninggalkan Jawa Timur ditemani kakak. Seingatku, itulah perjalanan ke luar propinsi yang sangat mendebarkan. Rasanya aku takut akan apa yang akan kuhadapi nanti di kota yang cukup jauh dari rumahku—sekitar 6 jam perjalanan dengan bus. Tapi ada pula rasa tak sabar sekaligus penasaran yang memenuhi ruang hati dan kepalaku. Aku bayangkan akan banyak pengalaman baru yang menyenangkan atau mencengangkan.

Aku tinggal selama dua minggu di Semarang untuk melakukan daftar ulang dan mengikuti program matrikulasi sebelum perkuliahan sesungguhnya dimulai. Dan benar, memang dua minggu itu betul-betul penuh kenangan: mengenal teman-teman baru dari berbagai kota di Indonesia, mengenal makanan dan suasana baru, dan tentu saja merasakan kebanggaan sebagai calon mahasiswa!

Hadiah rupiah
Sambil menunggu perkuliahan resmi dimulai sebulan lagi, aku pun kembali ke Lamongan untuk mengabarkan pengalamanku yang baru kepada sanak saudara dan teman-teman semasa SMA. Perjalanan selama 6 jam itu terasa singkat karena aku sudah tak sabar untuk berbagi cerita. Dalam kepulanganku yang pertama itulah, aku mendapat anugerah yang sangat indah. Ibu berkisah bahwa dia baru saja diundang ke Kantor Kabupaten untuk menerima sejumlah uang sebagai kompensasi atas prestasiku meraih nilai NEM tertinggi di sekolahku, walaupun bukan yang tertinggi se-Kapubaten. Waktu itu ada 5 atau 10 orang yang terpilih menerima penghargaan tersebut. Aku tak ingat betul. Ditemani pembina OSIS yang kini sudah almarhumah, ibu akhirnya berangkat ke Kantor Bupati untuk menerima bantuan dana itu. Jumlah uang yang diterimakan memang tidak besar sekali, namun sangat membantu untuk menutup utang kami yang kupergunakan sebagai bekal pergi ke Semarang beberapa minggu sebelumnya. Alhamdulillah.

Berkah menulis

Berlatih walau tertatih (sumber gambar: servitokss.com)

Untuk membantu mencukupi kebutuhanku selama berkuliah, aku terus mengasah keterampilan menulisku. Lumayanlah, waktu itu beberapa puisiku dimuat di sejumlah media, baik lokal maupun nasional. Sebagai imbalannya, aku pun diganjar honor—yang walaupun tak besar—tapi sangat membantu meringankan beban ibuku. Suatu kali ada pula esaiku dimuat di rubrik mahasiswa di surat kabar lokal. Honornya ternyata cukup besar. Sungguh menyenangkan. Sejak itu aku terus menyisihkan waktu untuk berlatih menulis dan menajamkan pena.

Usul seorang sahabat
Hingga suatu waktu, seorang teman menyarankan agar aku mengumpulkan semua puisiku yang terserak di beberapa rental komputer. Akhirnya, atas kemurahan dan kebaikan hatinya, kuhimpunlah semua sajak yang pernah kutulis ke dalam antologi tunggal berjudul “Notasi Telaga”. Judul ini kuambil dari puisi pertama yang dimuat di koran lokal. Puisi pendek untuk seorang guru yang sangat membekas. Naskah tersebut rampung kuketik menggunakan komputer teman yang menyarankanku. Lalu dengan mesin printer miliknya pula aku cetak semua puisi menjadi dua eksemplar. Satu kopi untuk koleksi pribadiku, dan satu eksemplar lagi untuk sahabatku itu karena ia juga suka membaca puisi.

Sahabat yang bernama Totok itu ternyata membawa “Notasi Telaga” ke kampus. Di luar dugaan, beberapa orang teman berminat untuk memiliki buku himpunan puisiku tersebut. Maka dengan senang hati aku mencetak isinya dengan mesin fotokopi dan sampulnya dengan printer berwarna. Lumayanlah untung yang kudapat waktu itu karena ongkos fotokopi jauh lebih murah dibanding biaya cetak langsung dari mesin printer.

Dari terbatas hingga meluas
Puncak kegembiraanku dalam menulis adalah ketika “Notasi Telaga” akhirnya berevolusi menjadi “Sujudku Meneteskan Rembulan”. Mengapa aku katakan ‘puncak’? karena “Notasi Telaga” yang tadinya dicetak terbatas akhirnya bisa dicetak massal dan dijual bebas di toko-toko besar seluruh Indonesia, termasuk toko buku Gramedia. Bukan karena namaku akan dikenal orang, tetapi lebih karena karyaku akan dibaca banyak orang dan barangkali ada satu atau dua buah sajak yang bisa menginspirasi orang lain. Semoga.

Dari “Notasi Telaga” menuju “Sujudku Meneteskan Rembulan”

Semua berawal ketika aku tengah menunggu seorang dosen untuk konsultasi skripsi. Saat duduk santai di depan ruang dosen, aku berbincang dengan seorang adik kelas. Singkat kata akhirnya kutahu bahwa ayahnya mengelola sebuah penerbitan di Bandung. Awalnya dia menawariku untuk mengirimkan naskah novel ke penerbit yang ia maksudkan. Namun karena novelku masih berwujud bayi prematur, maka kuusulkan untuk mengirimkan kumpulan puisi. Dia setuju dan akhirnya coba kukirimkan ke penerbit itu.

Alhamdulillah, ternyata mereka bersedia menerbitkan buku itu dengan satu syarat, yaitu mengubah judul sesuai keinginan mereka. Aku sepakat. Proses pemilihan judul pun berlangsung selama sebulan dan akhirnya dipilihlah “Sujudku Meneteskan Rembulan” (SMR). SMR kemudian terbit pada awal tahun 2006 saat aku telah pindah kerja di Bogor. Walaupun royaltinya tidak besar, namun kenikmatan memiliki karya yang dibaca banyak orang sungguh tak ternilai harganya. Pernah aku iseng berselancar di internet dan mendapati SMR dibahas oleh seorang mahasiswa untuk tugas kuliahnya. Sungguh menyenangkan. Walaupun royaltinya tidak fantastis, tapi sangat lumayan untuk menopang saat aku betul-betul tak punya uang. Buku SMR tercatat terjual sekitar 2400 eksemplar dan salah satunya tercatat di http://www.worldcat.org dan books.google.co.id.

Tiga benda ajaib: dari imajinasi ke realisasi
Selama kuliah, aku sangat terobsesi untuk memiliki tiga benda. Aku menginginkannya karena ketiga benda tersebut akan sangat membantuku dalam kuliah maupun pekerjaanku. Tiga benda yang sangat kuinginkan adalah komputer, sepeda motor, dan ponsel atau telepon genggam. Saking inginnya aku mempunyai ketiga benda itu, aku sampai-sampai selalu menggambar ketiganya di atas kertas putih setiap aku selesai belajar. Aku tak tahu berapa lembar kertas yang telah memotret mimpiku untuk memiliki tiga benda ajaib itu. Yang jelas, aku sangat mendambakan mereka. Hidupku akan berwarna dan lebih mudah dengan kehadiran mereka.

Tiga benda yang ‘ajaib’ datangnya dan ajaib manfaatnya buatku


Namun ternyata tak mudah mendapatkan semua itu. Aku tak mungkin memintanya dari ibu yang tidak berlimpahan uang. Suatu kali aku memang pernah mencoba merayunya untuk membelikanku sebuah komputer bekas seharga 500 ribu rupiah. Dengan komputer itu aku bisa bebas menulis kapan saja (tanpa harus ke rental sampai dini hari) dan juga menyelesaikan skripsiku. Ibu bergeming karena ia memang tak punya uang untuk mengabulkan hajatku. Aku bahkan meminta tetanggaku yang seorang guru untuk membujuknya. Namun hasilnya tetap saja nihil. Aku pasrah.

Adapun dua benda lainnya—motor dan ponsel—aku tak berani memintanya kepada ibu. Selain karena motor harganya mahal, ponsel juga belum banyak kala itu. Walaupun di kampus sudah banyak temanku yang menenteng ke mana-mana. Aku mencoba bersabar dan menjalani hidup dengan detak rencana-Nya. Walau jujur saja, aku kadang merasa tak puas dengan kondisi kehidupan keluargaku. Mengapakah aku tak dilahirkan dalam keluarga berkecukupan sehingga semua yang kuinginkan bisa kuperoleh dengan mudah–sebagaimana yang dirasakan oleh teman-teman kuliahku?

Setahun sebelum lulus, aku diterima bekerja sebagai instruktur bahasa Inggris pada sebuah lembaga kursus yang cukup ternama. Namun ada hal yang mengganjal hatiku, yaitu ketiadaan motor yang menyulitkan karena aku harus mengeluarkan ongkos untuk mencapai tempatku mengajar. Gaji hanya habis untuk menutup ongkos perjalanan. Aku bayangkan bahwa dengan sepeda motor aku akan lebih leluasa bergerak, terutama untuk mencari peluang kerja lainnya.

Telepon genggam!
Lalu Allah pun menjawab permohonan (atau impian)-ku. Seorang kenalan di universitas negeri yang lain mengabarkan bahwa dia lolos seleksi untuk menerima bantuan dari sebuah perusahaan farmasi berskala nasional. Bantuan tersebut dimaksudkan untuk membantunya menyelesaikan tugas akhir. Masalahnya, dia tak punya rekening bank untuk menerima dana tersebut. Dia lalu meminjam rekeningku. Uang akhirnya ditransfer ke rekeningku dan kuserahkan lagi kepada dia yang berhak. Di luar dugaan, ternyata dia memberiku sejumlah uang sebagai ucapan terima kasih.

Uang tersebut lebih dari cukup untuk membeli sebuah ponsel bekas yang layak pakai. Jadilah akhirnya aku punya ponsel—lengkap dengan nomornya. Beberapa bulan sebelumnya teman sekamarku membelikanku sebuah nomor dari salah satu operator. Kami menggunakan ponsel miliknya yang sudah butut secara bergantian dengan dua nomor berbeda. Ponselnya memang sudah jadul dan hampir rusak. Alhamdulillah, aku kini bisa menjangkau lebih luas dengan sms dan telepon kapan saja dan di mana saja.

Komputer gratis!
Bagaimana dengan komputer? Allah membentangkan strategi yang lain dalam menghadirkannya dalam hidupku. Seorang dosen yang mengampu mata kuliah Writing memanggilku dan menawariku pekerjaan menerjemahkan sebuah buku. Tanpa ragu, aku pun mengiyakan. Dia bertanya apakah aku punya komputer untuk mengetik hasil terjemahan, lalu aku menjawab ‘tidak’. Karena tak mau aku boros jika harus mengetik di rental, maka ia menawariku untuk menggunakan komputer miliknya. Aku tentu saja menerima tawaran pinjaman itu. Esoknya aku berkunjung ke rumahnya dan komputer pun sampai di kamar kosku dengan menumpang mobil sang dosen. Setelah itu aku nebeng ke kampus dalam mobil yang sama. Kapan lagi mahasiswa diantar dosen? Haha.

Ketika proyek menerjemahkan buku itu selesai, aku menghadap sang dosen. Aku ungkapkan niatku untuk meminjam komputernya selama beberapa waktu guna mengetik skripsiku. Jawaban yang kudengar sungguh laksana petir di siang bolong, “Kamu jangan pinjam lagi. Ambil saja komputer itu buat kamu!” Aku tak tahu harus bilang apa selain takbir dan rasa syukur di dalam hati. Ruangan dosen itu mendadak penuh cahaya, seperti pendar pelangi sehabis hujan menyapa bumi. Hatiku melayang dalam buaian kegembiraan.

Motor biru!
Di tengah proses pengerjaan skripsi, beberapa hari setelah mendapatkan komputer gratis, aku menerima pesan singkat dari kakakku di kampung. Aku tak terlalu bersemangat membacanya. Isinya seolah menampar wajahku. Aku seakan tak percaya pada apa yang kubaca. Entah derai air mata atau pekik gembira yang harus kutunjukkan. Kakakku mengatakan bahwa di rumah sudah ada satu unit sepeda motor yang siap kupakai. Kukucak mataku tanda tak percaya. Aku menerima pesan pendek itu saat jeda mengajar suatu sore. Ternyata dia telah mengambil motor baru tersebut dari leasing dengan uang muka darinya. Yang menyenangkan lagi, cicilan bulanan akan kami tanggung berdua. Waktu itu kakakku sudah diterima bekerja dan belum punya anak sehingga belum banyak tanggungan. Aku sangat bersyukur atas karunia ini.

Tiga ‘benda ajaib’ itu akhirnya kurangkul dalam daftar kepemilikanku. Menemaniku siang malam di saat susah dan gembira. Ini menjadi momen di mana aku DISADARKAN LAGI akan keindahan rencana Tuhan. Ini ibarat sebuah tamparan keras yang membuatku semakin malu karena telah sok tahu atas kuasa Allah. Maafkan aku ya Rabb. Ternyata semua yang kubutuhkan kau turunkan kepadaku dengan cara yang sangat menawan dan tak terduga.

Saat ‘berserakan’ di kampus, dalam rangka mengumpulkan bahan untuk keperluan skripsi, aku bertemu dengan seorang kakak kelas yang juga putri pembantu dekan fakultas. Aku kenal dekat karena beberapa kali kami mengambil mata kuliah yang sama. Secara pribadi pun hubungan kami baik. Dalam kesempatan itu ia menawarkan kesempatan menjadi penerjemah di suatu lembaga swadaya masyarakat. Dia harus mengundurkan diri karena suatu sebab. Aku pun mau mencoba dan akhirnya dipertemukan dengan manajer yang menangani proyek tersebut.

weneighbors.org

Bagiku pekerjaan ini adalah berkah karena aku jadi punya tambahan penghasilan untuk membayar uang cicilan bulanan sepeda motor. Uang dari menerjemahkan ini bahkan jauh lebih besar daripada gajiku mnegajar di dua tempat sekaligus. Aku lalu menjalani masa percobaan selama tiga bulan. Alhamdulillah, aku lulus dan kontrakku diperpanjang. Tugasku adalah menerjemahkan surat yang ditulis oleh anak-anak asuh di Jawa Tengah untuk orang tua asuh mereka di luar negeri. Ada yang dari Amerika, Jepang, Cina, Jerman, dan sebagainya. Sungguh menyenangkan menerjemahkan surat-surat anak-anak yang penuh keceriaan dan kepolosan. Takjub juga aku dengan semangat filantropis orang-orang asing untuk anak-anak Indonesia.

Dengan adanya motor, aku jadi bisa bekerja di tiga tempat yang berbeda. Sambil merampungkan skripsi, aku mengajar dan menerjemahkan. Pagi hingga sore aku menjadi penerjemah lepas untuk proyek orang tua asuh itu, sore hingga malam aku mengajar di lembaga kursus utama, dan setelah itu aku masih mengajar di lembaga lain dengan kelas yang lebih kecil. Sungguh melelahkan tetapi menyenangkan. Bekerja dan membantu orang lain adalah kombinasi kenikmatan yang tak terdandingi.

Episode Bogor: menyunting dan mempersunting
Karena lama-lama badan terlalu letih, aku pun melepaskan dua pekerjaan dan mempertahankan pekerjaan utama yakni mengajar di lembaga kursus dari sore hingga malam. Sesekali juga aku masih mendapat kelas khusus dari pagi sampai siang. Belum lagi mengajar privat untuk manajer atau murid sekolah lain yang tidak mengambil kursus di lembaga tersebut.

Dari buku lahirlah cinta 😀 (sumber gambar:amotherworld.com,turnbacktogod.com


Awal tahun 2006 seorang teman menginformasikan adanya lowongan pekerjaan sebagai editor buku sekolah di Bogor. Aku langsung mengirimkan aplikasi. Tak lama kemudian aku pun dipanggil untuk mengikuti tes dan wawancara sekaligus. Seminggu kemudian perusahaan penerbitan tersebut meneleponku. Aku diterima dengan imbalan gaji yang tentu saja lebih besar daripada upahku mengajar. Alhamdulillah. Setelah menyelesaikan semua tanggung jawab mengajar, aku pun pindah ke Bogor dan tenggelam dalam lautan penyuntingan buku.

Sakit dan keputusasaan
Di perusahaan inilah Allah mempertemukanku dengan calon istriku. Perlu kuceritakan bahwa sejak masih tinggal di Semarang aku tak yakin bisa memperoleh seorang istri. Mengapa? Karena selain wajahku yang pas-pasan, aku juga sempat diopname sehari di RS beberapa bulan sebelum wisuda sarjana. Suatu pagi aku merintih kesakitan pada bagian pinggang. Entah apa yang terjadi, rasa sakit menguasai diriku. Aku sampai menggeliat di lantai akibat kesakitan. Aku seperti setengah sadar dan meronta dalam deraan rasa sakit luar biasa.

Waktu itu aku tengah menginap di lembaga tempat aku mengajar. Temanku yang juga OB segera menelepon taksi atau ambulans untuk membawaku ke RS, tetapi sepagi itu belum ada taksi yang masuk ke perumahan. Ambulans pun tak ada yang siap. Dalam rintihan yang menyakitkan, aku dibopong menuju klinik yang tak jauh dari tempatku menginap. Mereka tak berani mengambil tindakan apa pun karena aku tengah didera rasa sakit yang amat dahsyat.

Beruntunglah, pagi itu ada seorang ibu yang mengenaliku. Dia tengah mengantarkan anaknya yang diserang diare. Akhirnya dia melarikan aku ke RS dengan mobilnya. Ibu yang kulupa namanya itu adalah salah satu anggota himpunan wanita pengusaha di Jawa Tengah. Beberapa bulan sebelumnya aku menjadi juru bahasa (interpreter) untuk membantu menyalurkan bantuan kredit dari Kanada bagi sejumlah anggotanya di Jawa Tengah. Tak dinyana ia masih mengenalku.

Menurut dokter, ada yang salah dengan ginjalku. Aku terpekur sedih dan dirundung nestapa. Walhasil, aku hampir harus selalu buang air kecil begitu sering sampai kini. Ini sangat mengganggu aktivitasku bila bekerja di kantor. Kadang bila kambuh, rasanya sangat panas dan tertekan pada bagian pinggang kiri. Pada saat seperti itu, pikiranku jadi kalut dan aku tak bisa berkonsentrasi. Rasanya lemah dan tak bersemangat. Anehnya, rasa sakit berangsur hilang ketika aku mengajar anak-anak didikku. Hal inilah yang membuatku berpikir bahwa aku akan sulit mendapatkan jodoh. Aku khawatir akan menjadi beban istriku kelak—jika memang ada yang mau kupersunting.

Biarlah aku hidup dalam ‘neraka’ bernama kesendirian. Selamanya aku akan terjebak dalam lembaga tempat aku mengajar dengan gaji yang tidak memadai. Aku akan melakoni hidup yang redup tanpa siraman cahaya cinta siapa pun selain Tuhanku. Sakit ini adalah petaka mutlak bagiku. Semua mimpi yang pernah terbayang dulu musnahlah sudah. Karier dan kehidupanku sudah tamat bahkan sebelum coba kumulai. Mengapa Tuhan begini tidak adil terhadapku?–begitu pikirku karena melihat banyak temanku bisa menapaki beragam profesi dan menjalani alternatif kehidupan yang lebih menantang.

Lagi-lagi aku protes kepada Tuhan mengapa aku harus menderita sakit semacam ini. Namun aku ternyata terjebak dalam kesempitan berpikir dan cara pandang yang keliru. Aku sudah sok tahu. Sebab peristiwa demi peristiwa membuka pintu menuju jalan yang cerah.

Kembali mengajar
Di kantor yang baru itu aku sempat mengajar teman-teman sekantor. Namun karena kesibukan masing-masing, program itu tak bertahan lama. Padahal pada saat yang sama dorongan untuk kembali mengajar mulai meletup-letup. Allah membuka jalan lain. Seorang kolega editor menawariku untuk menggunakan rumahnya sebagai tempat mengajar. Aku langsung mengiyakan. Rumahnya ada di kampung. Maka segera kami susun brosur dan sebarkan. Dari awal kami niatkan les bahasa Inggris itu cuma-cuma atau gratis. Itu karena rata-rata orang tua mereka berpenghasilan pas-pasan bahkan rendah. Ada yang bekerja sebagai pegawai pabrik, tukang ojek dan buruh tani.

Sekian puluh anak pun lantas mendaftar sebagai murid. Rumah teman yang sudah sempit itu akhirnya penuh. Maka aku putuskan membagi ke dalam tiga kelas: 2 kelas SD dan 1 kelas SMP. Semuanya ada 30-an murid—yang pada akhirnya hanya tinggal 5 orang siswa SD yang setia. Dengan bantuan teman itulah aku bisa menyalurkan hobiku mengajar. Aku akhirnya menikahinya dan kini kami telah dikaruniai dua orang putra. Allah membuka hatinya untuk mau menerimaku sebagai pendamping hidupnya. Entah apakah aku berkah atau petaka baginya. 😀 Yang jelas, ini merupakan MOMEN PENYADARAN ketiga buatku bahwa kekhawatiranku sebelumnya ternyata sekadar godaan setan yang menyesatkan–sampai-sampai aku seolah lupa bahwa aku punya Tuhan yang bisa mengabulkan apa saja ketika Dia berkehendak, tak peduli semustahil apa pun hal itu bagi pemikiran manusia. Kini selain seorang istri yang hebat, aku bahkan telah mendapat bonus berupa dua orang anak laki-laki.

Ruang tamu yang sempit menjadi semakin sumpek. Maaf ya anak-anak! 😀


Mengajar di sebuah perumahan yang menyatu dengan kampung sungguh berjuta rasanya. Mulai dari murid yang tak punya motivasi, murid yang sangat bersemangat dan pandai, hingga orang tua yang tidak mampu memotivasi anaknya. Rupa-rupa pengalaman yang kudahapi selama kurang lebih 3 tahun mengajar di kampung itu. Karena gratis, maka orang tua tak jarang memberi hadiah kepada kami berupa hal-hal yang unik. Suatu kali ada murid yang datang membawa rengginang mentah dan jagung siap bakar. Kali lain ada yang berkunjung dengan menenteng bungkusan berisi bawang merah dan satu sisir pisang. Ada pula yang mengirimi kami makanan matang, entah itu pisang goreng, cireng atau makanan lain. Bahkan ada yang membelikanku sepotong baju. Di akhir momen ketika kami pamit dari tempat itu untuk pindah ke tempat lain, aku menerima kado berupa sepasang sandal yang ternyata hasil patungan ibu-ibu mereka. Suggguh terharu dan senang. Terharu karena mereka begitu perhatian terhadapku. Senang karena sandalku memang sudah jebol dan sudah lama harus pensiun. Alhamdulillah. Aku jadi makin suka mengajar karena kegiatan ini menempati posisi tersendiri dalam hidupku, seperti yang pernah kuceritakan di sini.

Rezeki tak terduga
Saat sibuk mengajar, aku akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja dan bekerja penuh sebagai editor dan penerjemah lepas. Alasan utama adalah karena masalah kesehatan. Setelah anak pertama kami lahir, istriku pun mengikuti jejakku untuk berhenti bekerja. Aku memilih menjadi penerjemah dan editor lepas yang bekerja penuh di rumah. Karena kami tidak memiliki pembantu, maka aku juga bisa sekalian membantu istriku mengasuh anak pertama kami.

Seperti yang sudah kusinggung, banyak sekali hal-hal tak terduga yang kami dapatkan. Kami memang tidak mendapatkan bayaran dari anak-anak yang kami ajar, tetapi Allah menurunkan pertolongannya dalam bentuk proyek terjemahan atau order penyuntingan. Selalu ada rezeki yang kami peroleh tanpa henti. Suatu kali kami sepi order, tiba-tiba ada telepon dari Pusbuk (Pusat Perbukuan) Jakarta. Naskah buku puisiku yang pernah kukirim untuk diikutkan sayembara ternyata mendapatkan bantuan sosial berupa sejumlah uang yang lumayan jumlahnya. Naskah itu tidak menang, tetapi memutar kran rezeki untuk kami. Rezeki menjelang lebaran.

Pernah pula terjadi hal yang sangat unik–untuk tidak menyebut aneh. Awalnya, kami menarik dana dari ATM tabungan istri. Tabungan terdebet, namun uang tidak keluar. Resi pun tak tercetak. Maka istriku segera membuat laporan tentang masalah tersebut. Dua minggu kemudian uang sebanyak 1 juta dikembalikan ke rekening istriku. Namun ada masalah lain yang tersisa: ada aliran dana sebesar 2 juta rupiah ke rekening itu. Sementara kami tak tahu dari mana asal transferan uang tersebut. Mana mungkin dari Gayus bila hanya sejumlah itu? Terus terang itu jumlah yang sangat lumayan bagi kami. Aku sendiri tidak merasa telah mengerjakan pekerjaan penerjemahan atau penyuntingan dengan honor senilai itu. Maka kami berdua segera mengunjungi salah satu kantor bank terkait yang terdekat. Di luar dugaan, pihak bank mengatakan bahwa itu memang uang kami. Kami bersikukuh bahwa kami tidak merasa berhak memiliki uang 2 juta tersebut dan bermaksud mengembalikannya kepada bank. Setelah dicek dua kali di hari yang berbeda, mereka tetap ngotot bahwa mereka tidak merasa kehilangan uang 2 juta tersebut. Artinya, uang itu halal–menurut mereka. Kami pakai saja uang itu untuk hal-hal yang bermanfaat. Semoga itu kiriman Tuhan :).

Bukan setelah, tetapi sembari
Ketika kami sudah pindah, tantangannya tentu lain. Kini kami tinggal di kota yang semuanya serba mahal. Ketika lama tak ada job penyuntingan atau terjemahan, tiba-tiba seorang teman menawariku menjadi editor dan proofreader untuk tesis temannya yang tengah belajar di Swedia. Rezeki selalu datang pada saat kami membutuhkannya, bukan pada saat kami menginginkannya. Kami yakini hal itu. Ini sebuah proyek yang lumayan membantu ekonomi keluarga kami.

Kuncinya adalah membuka mata hati saat dilanda musibah


Kali lain ibu mertua menderita sakit parah dan harus dirawat di RS. Kala itu sedang sepi order. Kami sampai harus menjual laptop kesayangan kami demi pengobatan beliau. Namun sebelum laptop itu kami jual, beberapa bulan sebelumnya Allah telah menyiapkan gantinya. Aku memenangkan sebuah lomba menulis review buku dan berhak mendapat satu unit netbook. Akhirnya, biarlah laptop kami melayang tapi aku masih bisa bekerja dengan menggunakan netbook hasil hadiah kontes. Walaupun dengan layar yang mini, kinerjanya masih cukup mumpuni untuk komputasi ringan seperti menerjemahkan, menyunting dan menjalankan piranti lunak yang kubutuhkan.

Email dari negeri seberang
Ketika pekerjaan menerjemahkan buku atau penyuntingan sepi, muncullah suatu keajaiban lain. Suatu siang aku menerima sebuah email dari seseorang yang belum kukenal. Namanya asing dan pesan dalam emailnya pun cukup singkat: hanya satu kalimat pendek. Tapi tentu bukan panjang pendeknya email yang membuatku gembira. Melainkan isi email tersebut. Si pengirim email—yang belakangan kuketahui berasal dari negeri jiran—memintaku untuk menerjemahkan lirik lagu yang ia tulis.

Pada awalnya, kupikir tugasku adalah menerjemahkan sejumlah lirik lagu untuk dibukukan dalam sebuah buku. Di pasaran sudah ada buku sejenis di mana lirik lagu dalam bahasa asing disandingkan dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Barangkali seperti itulah gambaran pekerjaanku nanti. Ternyata dugaanku salah. Pengirim email tersebut bukanlah atas nama penerbit. Dia adalah seorang individu yang memang berprofesi sebagai penulis lirik. Ia menulis lirik dalam bahasa Inggris dan ingin agar lirik itu diterjemahkan, diaransemen serta dinyanyikan oleh orang Indonesia.

Semata-mata anugerah
Aku sendiri menyadari bahwa kemampuanku berbahasa Inggris tidaklah mengagumkan. Sekadar bisa dan tahu saja—belum pada taraf menguasai atau bahkan mahir. Namun Allah ingin agar aku memetik rezeki melalui kuntum bunga yang ditanam orang ini. Ia ternyata mendapatkan rekomendasi dari penerbit yang pernah menggunakan jasaku. Apa pun alasan Allah memperkenalkan orang itu kepadaku, aku mencoba berbaik sangka dan mencoba bisa mensyukurinya.

Sejauh ini kerja sama kami telah memasuki lirik lagu kedua, dan semoga disusul lirik-lirik berikutnya. Satu lirik ia kirimkan ketika ibu mertua kami meninggal dunia dan kami telah habis-habisan dalam biaya. Allah menggantinya langsung pada saat yang bersamaan. Lirik kedua ia kirimkan ketika anak kami sakit, dan tentu saja honornya bisa kami pakai untuk biaya berobat dan memeriksakan calon anak kedua kami. Semua yang kami terima dari Allah boleh jadi adalah pemberian untuk anak-anak kami melalui kami. Kami yang ditugaskan mengelolanya. Jadi kami tidak mau merasa GR bahwa semua kemudahan itu ditujukan untuk kami berdua.

Bayi datang, motor pun melayang
Dari sekelumit kisah ini, rasanya aku harus setuju dengan apa yang kubaca dari sebuah buku. Dalam buku itu penulis mencoba menafsirkan makna salah satu ayat surat Al-Insyirah yakni Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Dari sini jelas bahwa kemudahan/jalan keluar sebenarnya sudah tersedia pada saat suatu masalah/kesulitan menghadang kita. Kemudahan tidak hadir sesudah, tetapi menyertai, yang artinya datang bersamaan. Kita kerap tidak bisa melihat sisi cerah suatu masalah lantara kita terlalu berkutat pada masalahnya.

Aku punya satu contoh menarik dan menggigit mengenai hal ini. Menjelang kelahiran anak kami yang kedua, kami tentu gembira dan tak sabar menanti kehadirannya. Dokter dan bidan memprediksi bahwa anak kedua kami kemungkinan bisa lahir normal tanpa melalui bedah Caesar seperti kakaknya beberapa tahun silam. Si bidan yang langganan memeriksa istriku juga kebetulan baru saja menangani proses persalinan normal bagi ibu yang anaknya pernah dilahirkan secara Caesar. Dua pasien pula. Hal ini membuat kami semakin lega dan optimis. Maka demi menghemat uang, kami hanya sesekali memeriksakan kandungan ke dokter dan lebih sering ke bidan itu yang kebetulan teman kami sendiri.

Namun kita tidak pernah bisa mendikte Allah. Bayi yang diprediksi lahir tanggal 20 Agustus 2012 atau sehari setelah lebaran itu ternyata lahir dua minggu lebih awal. Tepat tanggal 6 Agustus pukul 5 sore istriku mengalami pecah ketuban. Hujan deras tengah mengguyur Bogor kala itu. saat kucoba menelepon taksi, ternyata tak ada yang standby. Untunglah, seorang teman yang memiliki mobil bersedia datang untuk mengantarkan istriku ke bidan atas permintaanku melalui telepon. Sesampainya di tempat bidan, ternyata bayi kami tidak mendorong keluar. Walhasil, bukaan berhenti pada tahap 1. Bidan memintaku untuk menunggu sampai pukul 7 malam atau sehabis isya. Bila sampai waktu yang ditentukan bukaan tidak mengalami kemajuan, maka istriku terpaksa harus dirujuk ke dokter untuk dioperasi Caesar.

Singkat cerita, kami akhirnya membawa istriku ke RS Bersalin terdekat yang telah kami sepakati bersama. Mengingat air ketuban dikhawatirkan habis, maka dokter lantas memintaku untuk menandatangani persetujuan untuk operasi Caesar tanpa penjajakan upaya persalinan normal. Operasi lancar dan baik istri dan anakku sehat. Alhamdulillah. Masalahnya adalah aku tidak menyiapkan uang sebanyak yang dibutuhkan untuk menutup biaya operasi. Pusingkah aku? Ya, tentu saja. Akhirnya terpikirlah untuk menjual motor kesayangan kami (yang baru kami miliki selama kurang dari 2 tahun) guna memperoleh biaya tambahan operasi.

Dua hari setelah pulang dari RS Bersalin, ada seseorang yang mencoba menawar motorku. Sayangnya, harga belum cocok sehingga kuputuskan untuk mencari pembeli lain. Malam hari setelah shalat Tarawih, aku dan Rumi anak pertamaku menuju ke sebuah mini market terdekat untuk membeli popok. Saat keluar dari mini market tersebut, mataku tercekat. Aku tak bisa menemukan motorku. Kulepaskan pandangan ke segala arah kalau-kalau aku lupa memarkir motor itu. Tidak! Ternyata motor itu telah raib diambil orang. Hilang, ya, hilang. Degh! Langit Ramadan yang masih dihiasi purnama itu mendadak gelap seperti monster yang akan melahapku. Aku pun memeluk anakku sambil beristighfar berkali-kali. Kutahan air mataku agar tak jatuh walaupun anakku belum paham apa yang terjadi. Ya Allah, apa lagi yang Kau mau? Pagi tadi kau kirim orang untuk menawar, dan kutolak karena harga belum sepakat. Dan malam harinya kau biarkan orang lain untuk mencuri motor kami. Misteri apa lagi ya Rabb?. Begitulah gumamku perih sambil membopong anakku menuju pangkalan ojek yang lumayan jauh.

Mataku berkaca-kaca saat membonceng ojek menuju rumah. Kubayangkan wajah istriku yang tengah menimang Bumi anak kedua kami. Apakah yang akan ia lakukan saat mengetahui bahwa kami tak punya motor lagi? Kira-kira apa reaksinya ketika tahu bahwa dua minggu lagi kami harus melakukan kontrol ke dokter dengan menggunakan angkot dan ojek? Dan yang paling penting: bagaimanakah sikap Rumi ketika ia akhirnya tahu bahwa ia tak bisa lagi jalan-jalan ke masjid tempat ia biasa bermain dengan riang? Ia bahkan lebih menikmati naik motor daripada menumpang mobil. Seribu pertanyaan dan rasa penasaran–juga kepedihan–berkecamuk mengiris-iris otak dan hatiku. Aku mencoba pasrah dan siap menghadapi apa saja yang akan datang kemudian. Kuatkan kami ya Allah.

Sepasang orang ‘gila’ datang bertamu
Manusia adalah makhluk yang sok tahu dan kadang cepat menyimpulkan sesuatu. Jika Anda tidak setuju, baiklah, baiklah aku khususkan pada diriku saja. Hilangnya motor kesayangan kami membuatku berada di ambang ‘kehancuran’–yaitu posisi tak berdaya, antara lain karena harus menggunakan angkot dan ojek yang berarti harus merogoh kocek lebih dalam bila harus ke mana-mana. Tentu saja sangat boros. Itulah hitung-hitungan manusia. Selalu terbatas belaka. Dan cenderung menghakimi keputusan Tuhan dengan cepat dan semena-mena.

Harapanku kusandarkan pada dua kontes yang ikuti. Hadiahnya lumayan bila digabungkan. Mungkin inilah yang akan mengganti motorku di bulan Ramadan ini, pikirku. Ramadan lalu aku mendapat hadiah netbook dari kontes lain. Ternyata nihil. Aku kandas dan tak berjaya. Semakin ciut dan limbunglah diriku. Aku merasa lunglai dan tak berdaya. Lebai? Ya, tentu saja. Bukankah demikian adatnya ketika manusia mendapat ujian? Seolah dunia akan kiamat dan riwayat bumi segera tamat.

Dua hari setelah motorku digondol maling, atau dua hari sebelum lebaran, seorang sahabat berkirim pesan singkat. Ia ingin berkunjung bersama istrinya karena kami sudah lama tak bersua. Aku tentu saja menyambut baik rencananya. Karena kami sudah sangat dekat seperti saudara, aku pun berbagi kabar buruk seputar motor yang raib, dengan harapan kami didoakan agar mendapatkan gantinya.

Mereka pun tiba sesuai rencana yang disepakati. Mereka mengendarai motor karena jarak tempuh kota tempatnya tinggal menuju Bogor hanya 1-2 jam saja. Sungguh menyenangkan berjumpa sahabat yang lama tak berjumpa. Banyak cerita mengalir dan tentu saja diwarnai canda tawa khas setiap kami bertemu. Suasana begitu renyah dan penuh keceriaan.

Hingga tibalah saat berpisah. Kira-kira jam 2 siang mereka hendak pamit. Dan sebelum mohon diri, wajah mereka mendadak berubah serius. Akhirnya kuketahui bahwa mereka hendak menitipkan motor. Aku tentu saja mengiyakan karena keberadaan motor mereka tentu saja akan sangat membantuku. Paling tidak akan memudahkan kami untuk melakukan kontrol ke dokter sehabis lebaran. Mengingat mereka akan mudik ke Jawa, wajarlah bila motor dititipkan di rumah kami agar bisa kami manfaatkan selama mereka berlibur. Namun dugaan kami salah. Sebab saat menyerahkan kunci dan STNK, sahabatku itu ternyata mengeluarkan selembar amplop. Saat dibuka amplop itu berisi BPKB motornya. Aku semakin tak mengerti. Lazimnya, orang yang memakai motor orang lain cukup menguasai kunci dan STNK motor terkait–ditambah dengan SIM si peminjam. Lalu mengapakah menyertakan BPKB segala? Apalagi dengan ucapan, “Pajak STNK setiap bulan 10. Nanti kirim saja berkasnya setiap bulan Oktober, biar aku bantu pengurusannya.”

Tak bisa tidak, walaupun kami belum paham betul apa maksud tindakan si sahabat itu, mata kami berdua diliputi air mata tipis. Tapi tentu saja tidak kami biarkan mengalir berbulir-bulir. Sengaja kami tahan karena kami masih belum yakin atas apa yang sebenarnya terjadi. Jangan sampai kami dilanda GR, kan ga asyik!? Tengsin bo!:D

Tunggangan baru, alhamdulillah….

Aku pun menanggapinya dengan santai bahwa aku akan mengembalikan motornya segera setelah ia balik dari Jawa. Ia dan istrinya hanya tertawa lepas. “Pokoknya kami nitip motor ini ke kamu.” Itu saja. Apa pun implikasi kata ‘nitip’ di sini–didukung dengan penyerahan BPKB–kami akan mempergunakan motor itu dengan baik dan untuk tujuan yang positif agar menjadi pahala jariyah untuk mereka. Walaupun mereka tidak pernah tersurat menyatakan ‘memberikan’ motor itu, namun penyerahan BPKB bisa dimaknai adanya penyerahan hak milik. Lagi pula, adakah hal dalam hidup kita yang betul-betul kita miliki?

Anak yang kita lahirkan dan besarkan jelas-jelas merupakan titipan Tuhan. Harta dan nyawa juga pinjaman dari Sang Pencipta. Bila Anda mengklaim memiliki sesuatu, cobalah renungkan sejauh mana makna ‘memiliki’ itu bagi Anda? Menurut hematku, kita hanya mempunyai hak untuk memanfaatkan semua sumber daya dari Tuhan–tidak pernah benar-benar menguasai atau bahkan memilikinya. Uang yang kita peroleh dari gaji bulanan agar segera kita habiskan untuk keperluan rutin bulanan. Kalaupun uang itu berlebih dan akhirnya kita simpan dalam rekening tabungan atau kita belikan barang untuk investasi, bukankah kita hanya menyimpannya? Lalu apakah hakikat memiliki sesuatu di dunia ini?

Apa pun istilah dan jangkauan makna kata ‘memiliki’, kami sangat mensyukuri hadirnya motor baru di rumah kami. Kami akhirnya bisa melakukan kontrol dengan nyaman dan lancar. Aku bisa meluncur ke masjid kapan saja–atau membawa Rumi berkeliling saat ia rungsing dan rewel. Yang jelas, kehadiran motor baru dalam keluarga kami adalah sindiran tegas bagiku agar tidak merasa sok tahu terhadap peristiwa yang menimpaku. Ya, inilah momen kesekian dalam hidupku yang membuatku TERSADAR kembali akan rahasia Tuhan yang sering tak terjangkau oleh pikiran manusia.

Maafkan aku ya Allah karena sudah sering sok tahu akan rencana dan ketentuan-Mu akibat kebodohanku. Ampuni aku.

Lalu mengapa aku menyebut kedua sahabatku itu ‘gila’? Selidik punya selidik, ternyata mereka mempunyai dua buah motor. Satu buah diberikan kepada adik si cowok, yakni motor yang masih diangsur cicilannya setiap bulan. Dan satu buah lagi dihibahkan kepadaku, yakni motor yang baru lunas kreditnya Februari tahun ini. Kedua sahabatku itu sama-sama berprofesi sebagai guru dan setiap hari membutuhkan kendaraan untuk membawa mereka menuju tempat mengajar yang berlainan–yang jaraknya tidak dekat. Memang tanpa motor pun mereka masih bisa menempuh perjalanan dengan angkutan umum. Namun bukankah ‘gila’ memberikan sesuatu yang masih sangat mereka butuhkan kepada orang lain? Bila dilepas untuk adiknya, aku bisa maklum. Namun kepada kami? Kami tak tahu. Aku berkali-kali menolak pemberian mereka bahwa aku merasa tak berhak menerimanya. Namun mereka tetap saja memaksa karena mereka memang tengah berikhtiar mendapatkan sesuatu dengan cara mengenolkan harta/kepemilikan mereka. Apa pun alasannya, aku pikir itu adalah tindakan ‘gila’.

Namun kata ‘gila’ di sini rasanya perlu kububuhi tanda petik karena kegilaan mereka ternyata punya alasan religius. Betulkah? Mungkin. Aku pernah mendengar seorang ustaz memaparkan tentang dialog seorang sahabat dengan Nabi Muhammad.

Sahabat penasaran, “Ya Rasul, seperti apakah sedekah terbaik itu?”

Nabi menjawab, “Pertama, sedekah yang diberikan ketika kita masih sehat.” (Bukankah banyak orang yang baru tergerak hatinya untuk bersedekah tatkala ia sudah sakit-sakitan? Lalu ia mengeluarkan hartanya dengan harapan diberi kesembuhan?

“Kedua, engkau bersedekah padahal engkau masih menginginkan harta.” (Berapa banyak orang yang masih mau menafkahkan hartanya untuk orang lain ketika ia masih doyan-doyannya sama harta? Kerja siang malam demi menumpuk kekayaan. Sungguh luar biasa jika orang masih doyan atau butuh harta tapi masih sudi berbagi dengan orang lain–seperti sahabatku yang kuceritakan ini.)

“Ketiga, engkau bersedekah padahal engkau takut dilanda kemiskinan.” (Coba ingat-ingat, saat kita punya sedikit uang/harta, sebesar apakah dorongan kita untuk bersedekah? Atau kita justru menahannya? Saya sendiri akan cenderung menahan karena takut habis lantaran cuma punya sedikit. Maka tidak salah bila dalam Surah Ali ‘Imran ayat 134 disebutkan bahwa salah satu ciri orang bertakwa adalah orang yang mau berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit.

“Keempat, engkau bersedekah sementara kau masih berada dalam keadaan ingin kaya.” (Adakah di dunia ini orang yang tidak ingin kaya? Tentu ada. Tapi jumlahnya tentu kalah jauh dibandingkan orang-orang yang ingin kaya.)

Entah sahabatku tahu atau tidak tentang hadis ini, namun tindakannya jelas mencerminkan perilaku seorang muslim yang unggul sesuai anjuran Nabi. Aku pun jadi terlecut untuk turut melakukan hal yang sama sesuai dengan caraku.

Karena lembaran biru?
Perlu kusampaikan di sini bahwa sehari sebelum kami pulang dari RS Bersalin, suami si bidan mengunjungi kami malam-malam. Aku dan dia bercakap-cakap di ruang depan RSB sambil menyaksikan tayangan baru yang diasuh oleh Ustaz Yusuf Mansur (YM). Tentu saja beliau menganjurkan tentang kehebatan sedekah. Waktu itu YM mengundang seorang tamu yang telah merasakan kedahsyatan sedekah. Berkat sedekah yang sangat besar, tamu tersebut mendapat banyak berkah–terutama anak/momongan yang sangat ia idamkan.

rupiahindonesia-com

Suami bidan tersebut lantas bercerita tentang anaknya yang diopname pada saat ia tidak punya banyak uang. Akhirnya dia sengaja masukkan selembar pecahan lima puluh ribuan ke dalam kotak amal masjid. Beberapa hari kemudian saudaranya datang dan mengangsurkan uang dalam jumlah yang besar–sangat tidak terduga. Aku pun tergoda melakukan hal yang sama. Saat shalat Tarawih sehari setelah pulang dari RSB, kumasukkan selembar uang biru ke dalam kotak amal masjid. Lembaran biru boleh jadi adalah pecahan uang yang paling jarang kujebloskan ke dalam celengan akhirat.

Dua hari kemudian, imbalan pun datang: motor hilang! Haha… Allah sedang bercanda? Mungkin. Yang jelas, tiga hari kemudian, seorang sahabat datang mnyerahkan motornya. Dan ternyata ia dan istrinya juga menyaksikan acara YM edisi yang kutonton bersama suami bidan itu. Luar biasa!

Pendar pelangi di balik pintu
Menilik kembali kisah hidupku, aku bisa memetik satu pelajaran penting bahwa kita hendaknya mencoba bergerak untuk melihat dalam perspektif yang lain, dan tidak hanya bertahan dalam kehampaan masalah sambil menunggu ilham. Bila aku tak salah, Bob Marley pernah mengatakan bahwa ketika sebuah pintu tertutup, ketahuilah bahwa ada pintu lain yang sedang terbuka. Ini adalah simbol bahwa setiap masalah sudah dilengkapi solusi bahkan ketika masalah itu ada, tidak selalu setelah masalah itu pergi.

Lalu bagaimana caranya agar kita mampu menemukan pintu yang terbuka atau melihat kemudahan di balik kesulitan? Pengalamanku pribadi menyiratkan bahwa ada tiga hal penting yang mesti kita lakukan:

1. mencoba membantu/menolong orang lain sesuai dengan kemampuan kita; melakukan apa saja seremeh apa pun bahkan sesepele memasukkan botol kemasan yang terserak ke dalam tong sampah;
2. menjalin silaturrahim/hubungan baik dengan siapa pun dalam rangka kebaikan; selain hati gembira karena banyak teman, kehadiran sahabat berpotensi membuka kran-kran rezeki;
3. berdoa kepada Allah agar kita mendapatkan pencerahan setiap kali dirundung kesedihan.

Dengan begitu insya Allah kita akan sanggup menangkap pendar pelangi di balik pintu lain yang terbuka. Semoga Allah masih berkenan menurunkan kemudahan (dan keberkahan) kepada kita walaupun kita sudah sering bersikap sok tahu atau bahkan menyalahkan-Nya.

NB. Untuk sahabatku MTV dan istrinya, semoga Allah mengabulkan apa saja hajat yang kalian niatkan. Setiap kali motor itu kupergunakan, kubayangkan rekening amal kalian terus bertambah dan bertambah–ibarat biji tasbih yang jalin-menjalin menyusun sebuah rosario indah dan akhirnya berakhir pada titik tercapainya doa yang kalian panjatkan siang dan malam.

“Tulisan ini diikutsertakan pada Monilando’s First Giveaway” dan kupersembahkan untuk semua orang yang tengah mencari jawaban atas rencana Allah–tetaplah bersemangat!

Advertisements

68 thoughts on “Maaf, Aku Sudah (Sangat Sering) Sok Tahu!

  1. hadeuuuhh panjang banget mas…. hehehe…

    tapi seru menyimaknya. Saya merinding bagian cerita tentang motor. Mulai dari proses melahirkan istri, hilang lalu dapat ganti dari seorang sahabat.
    Luar biasa mas… Allah begitu menunjukkan KuasaNya. Semua mungkin terjadi. Buah dari kebaikan yg dilakukan mas belalang dipetik pada saat yang tepat.
    Subhanallah…

    Semoga menag dengan GAnya

    Like

    1. Hadeuhh banget ya Bunda…meuni panjang pisaaaan..maap maap..semoga matanya ga sakit waktu baca postingan kepanjangan ini 😦

      Allah memang Maha Kuasa, tapi kita sering lupa ya Bunda–eh, saya ding yaang sering lupa 😀 Semuanya bisa terjadi atas kehendak-Nya.

      Bisa jadi karena tindakan saya di masa lalu atau mungkin bisa pula perbuatan baik ayah atau kakek saya. Kata orang sih begitu. Atau imbalan baik itu malah semata-mata dititipkan ke kami untuk anak-anak kami, Bunda.

      salam untuk Fanny 🙂

      Like

  2. Tertohok membaca tulisan ini, kadang manusia bersikap sok tau atas apa yg telah digariskan-Nya padahal ia tentu tak lebih tahu dari penciptanya T.T

    Makasih Mas telah membagikannya, salam kenal ya 🙂

    Like

    1. Bukan maksud saya membuat Mbak Monika tertohok 😀 Saya sendiri yang merasa malu. Betul Mbak, pengetahuan (dan kebijaksanaan) kita yang terbatas seringkali menguasai otak ketimbang mengandalkan hati. Terima kasih juga atas ide kontesnya, Mbak. Senang berkenalan dengan Anda. 🙂

      Like

    1. Saya pikir juga iya: kepanjangan! Hehe..apa daya Masbro, postingan curhat ya begini. Ngalor-ngidul tapi ga jelas haha…tulisan panjang seperti ini ga ada apa-apanya sama sobat narablog yang lain..Sekali lagi, panjang pendek ga menentukan kehebatan tulisan kok..Tapi terima kasih atas kunjungan Anda 🙂 Saya segera berkunjung balik ke blog Anda. Salam

      Like

    1. Mas Chumhienk™, semangat membara tapi hasilnya memble Mas, jadi malu. Itu pun semangatnya pas dulu-dulu. Sekarang banyak terganggu ke(sok) sibukan yang lain 😀 hehe. Panjang pendek tulisan, menurut saya, ga selalu menentukan mutu tulisan kok Mas. Ada tulisan pendek tapi mengigit isinya. Membekas dan mengilhami pembaca. Tapi ada tulisan panjang x lebar malah kosong bertele-tele ga keruan..Ya kayak postingan yang Anda koemntari ini Mas Chumhienk™, hehe 🙂 Makasih dah berkunjung ke gubuk saya Mas…Met berakhir pekan.

      Like

      1. wah saya gk bilang artikelnya gk mutu loh kang… 😉
        btw, semoga sukses yah kang GAnya…
        pokoke all the best deh buat kang walan.. (panggilannya gitu yah kang?? ^^)

        Like

    1. Makasih Mas Junaidi, Cuma tulisan keluh kesah ga berisi Mas. Bahkan kode wilayah teleponnya pun berurutan Mas: 0321 – 0322 haha..padahal lebih dekat ke Bojonegoro dan Tuban ya haha..

      Like

  3. Mantabs cerita dari awal hingga akhir jadi terharu, bisa jadi inspirasiku, hebat euy Pak Belalang 🙂

    Like

    1. Terima kasih, Bunda. Sama sekali tidak hebat karena banyak yang jauh lebih hebat…Saya tunggu kontesnya Bunda 🙂

      Like

  4. terima kasih untuk cerita hidupnya mas
    sering bgt ya kita manusia berburuk sangka dulu terhadap Sang Pemberi 🙂

    Btw, Unnes nya masuk tahun berapa? Jangan2 seangkatan sama teman saya 🙂

    Like

    1. Seringkali kita yang tidak sabar dengan rahasia Allah Mbak. Atau kadang tak setuju sama yang Dia kasih karena tidak seduai dengan keinginan kita. Kata kuncinya mungkin: pertentangan antara keinginan dan kebutuhan.

      Saya bukan dari Unnes, Mbak esti. Saya dulu ngemper di Undip hehe… 🙂 Angkatan berapa ya? xixix..

      Like

  5. tidak bisa berkata apa-apa
    kecuali kata luar biasa… luar biasa panjangnya…. hahahaha..

    tapi yang jelas ini sebagai ibrah atas kebodohan yang sering kulakukan selama ini
    terimakasih untuk sharenya…
    di tunggu yang lebih panjang lagi..

    sukses untuk GA-nya

    Like

    1. Haha..memang kepanjangan ya, Ayah Devon. Sepanjang jembatan Suramadu–lebai ga sih? :p

      Sama-sama Mas. Kalau nunggu postingan yang lebih panjang, bisa2 butuh ngundang wartawan Mas. hehe :D… Ini sudah kelewat panjang, ga enak sama pembaca dan panitia GA.

      Saya ini jarang menang Mas, tapi terima kasih atas doa Mas Insani.

      Like

  6. Lika-liku kehidupan yang dipenuhi kisah mengharu biru. Saya malah sempat berpikir, “mengapa keluarga kami tidak diberikan Allah rejeki yang melimpah…? Kalau kami kaya, kan gampang kalau mau ini itu…”.
    Ternyata ke-soktahu-an kita, hanyalah bagian dari kebodohan kita sebagai hamba 😀

    Like

    1. Betul, Kak. Aku juga awalnya punya rasa penasaran yang sama–kenapa ga dilahirkan dalam keluarga yang kaya raya sehingga apa saja bisa didapat dengan mudah? Namun itulah cara Tuhan untuk membuat kita maju dan berkembang, agar kita meraih sesuatu dengan perjuangan. Agar kita menghargai makna kerja keras dan rasa syukur…Gitu kali ya kira2

      Like

    1. Iya, Mas. Kepanjangan banget kan? 😀 Baca kisah cemen gini ga usah keder Mas, karena ga terlalu istimewa. Salam kenal dan terima kasih tas dukungan Mas Hilal.

      Like

    1. Kang Achoey, saat diceritakan secara tertulis seperti ini memang tampak indah dan terarah, namun kejadian sebenarnya penuh liku-liku dan detail yang membuat hati pecah.

      Salam balik persohiblogan 🙂

      Like

  7. Subhanallah..Allah Maha Besar, Allah Maha Pengasih & Penyayang..
    semoga mas Walang & keluarga senantiasa berlimpah berkah & rahmat dr Allah Swt amiinn ya rabb..

    sukses ngontesnya ya mas 🙂

    Like

    1. Amiin, amiin, amiin. Begitu juga dengan keluarga Bunda Enny ya. Semoga senantiasa diberi kemudahan dan dilimpahi keberkahan dalam setiap langkah.

      Terima kasih Bunda 😀

      Like

  8. wah, mas walank ini pancen oye aja, hehe

    itu mah bukan artikel mas, lebih tepatnya bagian dari autobiografi, hehehe

    semoga sukses di GA nya mas ^^

    Like

  9. wah, mas walank ini pancen oye aja, hehe

    itu mah bukan artikel mas, lebih tepatnya bagian dari autobiografi, hehehe

    semoga sukses di GA nya mas ^^

    Like

    1. Saya kira ini memang bukan artikel, Mas Imam. Hanya mengulik masa lalu saja yang agaknya terlalu bertele-tele 😀
      Terima atas doa Anda, Mas.

      Like

    1. Lebih tepatnya: terlalu panjang ya Mas untuk ukuran sebuah posting di blog. Tentang 3 benda itu, saya tak tahu harus disebut apa; yang jelas semata-mata karena kemurahan Tuhan…Hanya saja caranya yang tidak pernah terbayang oleh pikiran saya yang lemah…Alhamdulillah…

      Like

          1. Ada yg salah ketik. Maksudnya “SAJA” bukan “SAYA”.

            Teman2 yg BW terkadang butuh cepat biar bisa meninggalkan komentar di banyak blog dengan waktu yang dipunyainya.

            Like

    1. Betul sob, rencana Tuhan pada dasarnya selalu indah. Hanya saja kita yang kadang (atau bahkan sering) merasa sok tahu sehingga menganggap diri kita terpuruk dan paling menderita di dunia hehe. Andaikan kita sabar, insyaallah ada pelajaran atau hikmah penting yang penuh manfaat.

      Terima kasih sudah berkenan mampir ke gubuk saya 🙂

      Like

  10. ngos2an saya mbacanya dari atas sampai selesai hehehe
    kisah yang unik dan langka
    sampai tak bisa lagi berkata2
    mengiri dengan semua berkah yang kalian dapatkan 🙂

    semoga berjaya di kontesnya yah 😀

    Like

    1. Ni, maaf ya–memang rata-rata pembaca mengeluhkan postingan yang terlalu panjang 😦 Apa daya, ceritanya ga padu kalau dituturkan sepanjang itu.
      Aku yakin Ni dan keluarga tentu memiliki kisah yang unik dan spesifik; ayo kapan2 diposting dong sebagai bahan untuk saling menyemangati, dalm hal apa aja. Masing-masing orang pasti punya rahasia dan hidup yang menarik.
      Makasih ya dah mampir Ni. warnetnya rame?:D

      Like

  11. ini bisa dijadikan buku mini loh Mas.. dengan judul “alkisah telepon genggam, biru dan komputer”

    saya dukung artikel ini jadi jawaranya 🙂

    Like

  12. kunjungan balik nih 😀
    subhanalloh,, ini cerita asli mas sendiri ??? :O
    keren dan sarat makna..
    waw saya gak menyangka blog saya dikunjungi orang hebat seperti mas 😀 salam kenal

    Like

    1. Arnize: Ya cerita asli saya sendiri tanpa direkayasa atau ditambah-tambahi. Semoga bisa saling mengingatkan dalam kebaikan. Terima kasih juga sudah mampir ke sini ya…Salam sukses selalu 🙂

      Like

    1. Iya Mbak Rahmi, Allah selalu kasih jalan. Hanya kita saja yang kerap tak bisa membaca kemudahan dari-Nya, entah akibat terlalu fokus pada kesulitan atau semata-mata kelewat banyak dosa 😦

      Like

  13. wow..!! Kisah panjang yang menakjubkan, membuat mata berkaca bukan hanya karena sangat panjang tapi juga mengharukan 🙂
    Salut dengan aneka kisah sok tahu ini. Saya juga sering sok tahu sama takdir Tuhan, setelah ini pasti begini, setelah itu pasti begitu, eh, ternyata seringkali sok tau saya itu keliru. Namanya juga sok tau 😀 Salut deh pokoknya. Aku belajar banyak hal dari kisah2 ini. Dan tentu saja, salut buat teman Mas Walank!

    Gudlak buat ngontesnya ya..

    Like

    1. Terima kasih, Dewi. Begitulah naluri manusiawi; selalu terdorong untuk menilai rencana Tuhan dengan kacamata duniawi semata–yang akhirnya berujung pada kepahitan hidup atau pesimisme. Semoga kita selalu diberik kekuatan untuk membuka mata batin guna melihat secercah cahaya dalam setiap peristiwa 🙂

      Like

    1. Bukan panjang Mas Rawins, tapi sangat panjang. Mohon maaf bila mata Anda kelelahan gara-gara membaca postingan ini. Terima kasih sudah bertamu. Salam kenal balik 🙂 Tunggu kunjungan balik saya ya…

      Like

      1. hehe maklum kalo bw, sambil nyolong nyolong jam kantor. menyimak artikel panjang perlu beberapa kali bolak balik ke blog dan pura pura kerja
        hehe malah curcol..

        Like

  14. Idem dengan para komentator di atas: memang asli puanjang kisahnya tapi penuh perenungan semuanya. MOtor yg hilang..tentang lomba yg tak berjaya [saya sering banget gak menang yg penting bisa untuk terapi menulis]…

    Oia, salam kenal…terima kasih sdh menyapa juga di blog saya

    Like

    1. Hehe..maap kalo bikin ngos2an bacanya, mbk Ririe. Mudah2an ada hikmah yg bermanfaat dan salam kenal balik 🙂 Semoga sy bs sering bw ke blog Anda..kalau koneksi internetnya dah lancar:D

      Like

  15. wah, saya baru baca 1/4 Pak, eh mungkin belum ada malahan….

    saya simpan aja deh ya Pak…
    di baca ketika Off aja…
    kl udah di baca insya alloh nanti laporan kesisni lagi…

    Like

    1. Siip, Mas. Terima kasih atas kesudiannya menyalin dan membacanya lebih lajut. Mohon maaf jika terlalu panjang. Salam sukses selalu. 🙂

      Like

  16. surah / surat : Al-Mujaadilah Ayat : 7

    alam tara anna allaaha ya’lamu maa fii alssamaawaati wamaa fii al-ardhi maa yakuunu min najwaa tsalaatsatin illaa huwa raabi’uhum walaa khamsatin illaa huwa saadisuhum walaa adnaa min dzaalika walaa aktsara illaa huwa ma’ahum ayna maa kaanuu tsumma yunabbi-uhum bimaa ‘amiluu yawma alqiyaamati inna allaaha bikulli syay-in ‘aliimun

    7. Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu

    Like

  17. Ambegan sek…. Puanjang sekali smp aku bingung no komen apa selain Subhanallah..
    Allah ga kn mungkin menelantarkan hamba Nya,selalu ada rezeki entah dr mna ya mas (hiks.. Ampun ya Allah kl aku mah srg ragu kl ini.. Kl itu…)
    Love this so much yoo 🙂

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s