Bidadari Berselendang Bianglala

Judul tulisan ini saya pinjam dari sebuah puisi berjudul “Ibu” karya penyair kondang sekaligus kyai, D. Zawawi Imron. Dalam sajak tersebut terlihat betul bagaimana ia mengagungkan dan menjunjung harkat seorang ibu sebagai sosok yang sangat istimewa dalam hidupnya. Bahkan, jika suatu saat ia mengikuti ujian dan ditanya siapa pahlawan yang berarti bagi dirinya, ia akan mengajukan ibunya sebagai jawaban.

Seberapa hebatkah seorang ibu hingga Zawawi pun demikian terpesona pada ketokohannya? Jawaban dari pertanyaan ini bisa sangat beragam, bergantung pada individu yang mengonsepsikan sosok agung tersebut berdasarkan pengalaman dan kedalaman batin masing-masing orang. Berjuta kata atau air mata barangkali tak akan sanggup melukiskan peran penting seorang ibu. Bermiliar rupiah tak mungkin bisa mewakili ketulusan cinta seorang wanita bernama ibu.

Namun, boleh jadi sebagian kita masih belum memandang beliau sebagai tokoh yang penting dalam membentuk kepribadian. Bagaimana pun wujud kehadirannya dalam hidup kita, ibu tetaplah orang yang mesti kita banggakan dalam arti yang seluas-luasnya. Ia bukan saja wanita yang telah memungkinkan kita hadir di dunia, tetapi juga memberikan warna pada kekayaan batin kita. Ia telah menempa diri kita dengan proses internalisasi nilai-nilai luhur serta cinta kasih sebagai bekal bagi kita melanglang dunia di luar keluarga.

Merenungkan cinta ibu
Dalam sebuah hadis sahih, diceritakan seorang lelaki datang kepada Rasulullah dan bertanya, “Ya Rasul, siapakah yang paling berhak kuperlakukan dengan baik setelah cinta pada Allah dan Rasulullah?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Demikian jawaban Rasul beruntun sebanyak tiga kali menanggapi pertanyaan pemuda itu mengenai urutan perlakuan baik setelah ibunya. Baru kemudian ayah yang menempati posisi keempat. Jawaban Rasul dalam konteks ini amatlah jelas menggambarkan sosok ibu yang begitu penting dihormati dan dijunjung tinggi oleh putra-putrinya. Tentu saja hadits tersebut tak hendak melupakan figur ayah yang juga tak kalah penting perannya dalam hidup kita. Rangkaian jawaban yang diberikan Rasulullah semata-mata menunjukkan betapa agung dan mulia peran seorang ibu hingga perlu mendapat peringkat tertinggi dalam rangka haknya menerima penghormatan dari anak.

Secara fisik, kita bisa bayangkan betapa beratnya ibu yang mengandung seorang bayi. Hari dan bulan berlalu; perutnya kian membuncit demi mengemban amanah Allah untuk melahirkan seorang anak manusia. Kondisi demikian tentulah menciptakan kesulitan tersendiri bagi ibu, walaupun barangkali hal itu tak pernah dirasakan dengan serius oleh ibu kita. Kegembiraan akan memiliki calon khalifah seolah-olah telah melupakan jerih-susahnya selama sekian bulan. Semua yang ia konsumsi dan pikirkan amat diperhatikan agar kelak anak yang dilahirkan menjadi buah kebahagiaan bagi semua orang. Tak terbersit sedikit pun keluh atau kesah dengan perut yang semakin memberat yang secara otomatis membatasi dirinya beraktivitas atau bahkan beristirahat dengan layak seperti ketika tak mengandung.

Sosok tak tertandingi
Tapi sungguh ibu adalah insan pilihan bagi kita. Momen genting ketika melahirkan pun, yaitu saat nyawa dipertaruhkan demi kehadiran sang anak, ia jalani dengan ikhlas dan penuh pengharapan. Rasa sakit yang tak terkira seakan-akan musnah oleh kepasrahan dirinya pada Allah karena ia yakin tengah melahirkan benih cinta sebagai bagian usaha untuk menyambung regenerasi manusia demi memakmurkan bumiNya. Tangis haru dan bahagia meluap saat tangis bayi terdengar memecah kesunyian alam. Alhamdulillah, ia hadir dengan selamat; sebagai calon khalifah yang bakal menebar kebahagiaan dan kemuliaan di muka bumi.

Belum lagi kebahagiaan itu dinikmati, tugas berat sudah menantinya: mengasuh dan membesarkan anak, baik secara fisik mengenai asupan apa saja kebutuhan anak maupun perhatian besar terhadap kelangsungan kehidupan mentalnya. Itu berarti ia lagi-lagi harus dibatasi dengan banyak hal yang tak bisa ia lakukan atau ia konsumsi sebagaimana saat dalam kondisi normal. Rasa cinta dan kasih sayang mendalam menghapus setiap kelelahannya.

Tugas paling penting
Elizabeth Cady Stanton yang amat gigih mengkampanyekan penderitaan wanita pernah menulis bahwa tokoh ibu sangatlah penting—di mana posisi ini membutuhkan pengetahuan jauh lebih banyak dibanding profesi-profesi yang berkenaan dengan perihidup manusia. Namun sampai saat ini belum ada lembaga khusus yang menyiapkan bagaimana menjadi ibu yang baik. Dengan beban atau keistimewaan semacam itu, kita tak mungkin lagi bisa menyangkal signifikansi kehadiran seorang ibu dalam hidup kita.

Dr. Tim J. Sharp, seorang psikolog yang dikenal sebagai pendukung psikologi positif, menegaskan dalam bukunya 100 Ways to Happy Children bahwa mengasuh dan mendidik anak adalah salah satu tugas yang paling penting di dunia karena gagal atau suksesnya pendidikan dalam keluarga akan berpengaruh terhadap kehidupan anak dalam lingkungan sosial. Selama ini banyak dipelihara kesalahpahaman bahwa mengasuh dan mendidik adalah tugas ibu semata, sementara ayah cukup bekerja mengais rupiah di luar rumah. Jika pun ini masih subur dalam masyarakat kita, maka kita bisa bayangkan betapa kompleks dan beratnya beban yang dipikul para ibu.

Mengalirkan kebahagiaan

Mari kita mengingat kembali kapan terakhir kita menelepon beliau untuk sekadar menanyakan kabar atau memohon doa untuk setiap langkah kita. Sudahkah kita mencantumkan namanya dalam doa-doa yang kita panjatkan setiap hari kepada Allah? Seberapa sering kita menghikmati jasa-jasanya untuk selanjutnya melakukan apa saja yang berkenan bagi kegembiraan beliau, meskipun sama sekali tak mengandung unsur materi. Kita mesti paham bahwa saat kita susah ia pun merasakan demikian dan ketika kita senang maka ia senang, bahkan jika pun ia tak menerima apa pun dari kita. Jadi, apa yang sudah kita berikan kepada ibu kita? Jangan-jangan cuma kegelisahan dan sakit hati akibat ulah kita. Nauzubillah.

Dengan segenap tenaga, mari kita junjung tinggi dan hormati ibu kita sebagai sosok yang dipilih untuk kita banggakan. Bukan semata-mata kita ingin mendapat surga yang konon bernaung di bawah kakinya, tak juga sebab kita takut akan dikutuk sebagai anak laknat semacam Malin Kundang. Perilaku yang baik justru kita lakukan sebagai etos kedirian kita akan kebesaran Allah yang telah menciptakan makhluk hebat bernama ibu. Mudah-mudahan ia bisa menjadi bidadari yang berselendang bianglala atau pelangi. Lantas kita petik warna-warna yang terpancar dari kedalaman cintanya; untuk mengiringi perjalanan kita dalam menempuh hidup menuju ridha-Nya.

Advertisements

6 thoughts on “Bidadari Berselendang Bianglala

  1. Trimakasih utk tulisan yang indah untuk ibu.
    16 tahun menjadi ibu rasanya masih banyak kewajiban yang lalai saya kerjakan utk anak2. Membahagiakan seorang ibu tdklah sulit sebetulnya. Sesederhana memberikan senyuman kepada ibu.

    Di hari ibu ini, sebetulnya para ibu tdk hanya sekedar menerima perhatian dr org2 dekatnya, melainkan bermuhasabah… Sudahkah sebagai ibu menjalankan kewajiban sesuai sunatullahNya?

    Like

  2. setuju, Mbak. Saya sebenarnya ada postingan satu lg tentang ibu. Tapi belom sempat diunggah. Salam jengkie dr Bogor 😀

    Like

  3. Robbighfirli Waliwalidayya Warhamhuma Kama Robbaya Ni Shogiro
    inilah doa yang selalu membasahi bibirku minimal seusai sholat 5 waktu
    tulisannya baguuussss bangeettt, cetar membahana badai

    Like

    1. Ini kenapa ada penggemar Syahrini nyasar kemari 🙂 Sama Mas, doa itu tak pernah terlewat di lisan saya selepas shalat. Semoga Allah senantiasa memberi kebaikan dunia dan akhirat kepada orang tua kita. Amin.

      Like

  4. udah kasi ucapan dong sm bundanya Bumi ???

    salam hangat utk semua Ibu yg sdg bergembira hari ini atas perhatian dan ucapan sayang dr org2 terdekatnya 😀

    Like

    1. Tiap hari kami saling menyemangati menjadi orang tua, Mi. Jadi hari ini aku ndak usah ngucapin hal-hal sepesial ke istri karena aku yakin kerja keras dia sehari-hari telah membentuk makna keibuan yang sebenarnya. Idih, kok jadi ngaco gini balesannya ya hehe…Salam hangat untukmu juga, Mi. Semoga jadi ibu yang hebat utk RaDiAl dan mendampingi mereka tumbuh jd anak2 hebat pula. Plus, jd istri luar biasa tentunya. 😀

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s