Peluk. Pijat. Basuh. Suap.

Hari yang membahagiakan itu pun datang lagi. Atas undangan Yatim Mandiri, kami (saya, istri, dan duo balita) segera meluncur ke Kebun Raya Bogor (KRB) untuk mengikuti acara bertajuk “Kado Cinta Buat Bunda” pada hari Minggu 23 Desember kemarin. Seorang teman (beserta anak dan istrinya) juga turut hadir walaupun tidak mendapat tiket masuk gratis seperti kami. Tepat pukul 09.00 kami telah bersiaga di depan pintu masuk utama. Sambil menunggu tim Yatim Mandiri, saya abadikan momen istimewa para pengunjung yang berjubel memasuki KRB. Saya sebut istimewa karena selama 3 kali kunjungan saya ke sini baru kali inilah saya menyaksikan KRB diserbu warga. Kemungkinan karena hari Minggu dan bertepatan dengan momen liburan sekolah.

Ada gula ada semut.
Ada gula ada semut.

Beberapa menit kemudian, Pak Agus dan kru Yatim Mandiri terlihat sibuk mengangkut barang-barang dan peralatan acara ke atas mobil Patroli. Mereka terpaksa menumpangkan barang-barang di atas mobil patroli karena mobil pribadi tidak diizinkan masuk ke KRB lantaran sedang ramai pengunjung. Setelah kami semua (terutama sejumlah anak yatim dan ibu mereka) dipastikan mendapat tiket masuk, kami pun bergerak berarak-arakan menuju lokasi. Acara direncanakan digelar di area lapangan yang tak jauh dari musala dan masjid KRB.

Pfeuh, lumayan capek juga menapak langkah dari pintu utama menuju lokasi. Andaikan kami masuk dari pintu gerbang di seberang Pangrango Plasa, niscaya jarak tempuhnya bisa sangat pendek. Tapi bagi saya yang sehari-hari lebih banyak bekerja di depan komputer, menuruni jalanan KRB sambil menghirup udara pagi yang sejuk adalah anugerah luar biasa. Istri saya tampak puas melihat saya keletihan, terutama karena harus memanggul sekotak buku dan menguntit Rumi yang selalu berjalan jauh di depan kami.

Setiba di TKP, lapangan segera dilapisi dua lembar terpal. Dua lembar terpal itu kami sewa dari petugas penjaga KRB. Ditambah dengan satu buah megabanner bekas seminar parenting beberapa minggu sebelumnya. Panitia bergerak cepat. Sebagian bergegas menyiapkan alat pemanggang, sebagian lagi terlihat berkerumun untuk berkoordinasi. Adapun saya sendiri, seperti biasa: sesaat sebelum acara dimulai saya langsung disodori kamera saku sebagai senjata untuk mengabadikan setiap momen penting selama acara berlangsung. Walaupun jujur saja, kemampuan fotografi saya sangat amatir. Tapi saya tetap gembira mengerjakannya (walaupun dengan risiko saya tak akan pernah nongol dalam bingkai sebagaimana acara-acara sebelumnya :().

Singkat kata, selain sebagai juru kamera (amatiran), saya akhirnya didapuk untuk menyampaikan kuis mini atau game interaktif di akhir acara. Wah, kuis apaan ya? (Saya memang tidak siap, tapi terpaksa mengiyakan.) Tepat pukul 9.30 acara dimulai. anak-anak yatim beserta ibu mereka tampak duduk rapi siap mengikuti acara istimewa ini. Di bawah sebatang pohon rindang, di atas hamparan karpet sederhana, para peserta lalu khidmat mengikuti rangkaian acara yang dipandu langsung oleh tim Yatim Mandiri Bogor.

Tibalah acara inti. Didampingi ibu mereka, sejumlah anak yatim diundang untuk maju dan diminta berdiri berhadapan. Atas komando pembawa acara, para ibu pun segera memeluk anak-anak mereka dengan penuh cinta kasih. Diiringi narasi yang kontemplatif dari Agus Budiarto, acara berpelukan antara ibu dan anak itu dapat berjalan penuh keharuan. Beberapa ibu tampak berlinang air mata menciumi buah hati mereka. Bibir mereka tak henti memanjatkan doa untuk kebaikan dan kesuksesan anak-anak yang mereka dekap. Pemandangan ini sontak menyedot perhatian pengunjung KRB yang lalu-lalang. Sejumlah wartawan yang hadir tak menyia-nyiakan momen langka ini. Dari balik pohonan rindang itu mereka segera melesat untuk merekamnya dengan kamera.

Pelukan berdayaguna
Pelukan berdayaguna

Anak-anak yang tak kalah haru membalas doa tulus itu dengan pijatan lembut pada punggung ibunda. Suasana menjadi cair dan diliputi atmosfer cinta. Benar-benar sesuai dengan tema acara. Bahkan tak sedikit ibu-ibu yang meminta anak mereka untuk memijat bagian tubuh yang lain, mulai dari tangan hingga kaki. Anak-anak terlihat ikhlas melakukan permintaan ibu mereka demi meraup rida Tuhan dan keberkahan hidup di masa depan. Termasuk ketika mereka membasuh kaki ibunda tanpa rasa jengah atau risih. Wajah mereka sepenuhnya gembira dan berbinar sebagai wujud bakti kepada sang wanita hebat.
Meontokkan dosa dan kesalahan
Meontokkan dosa dan kesalahan

Sekali lagi, momen dramatis dan romantis yang mengundang perhatian para pejalan serta pengunjung KRB ini mengundang para jurnalis yang hadir untuk segera mengabadikannya dalam jepretan kamera. Wartawan dari MGS TV pun turut merekam adegan mengharukan tersebut untuk ditayangkan pada hari Senin malam di stasiun televisi mereka. Aura positif dan energi kedamaian sejenak melingkupi lokasi penyelenggaraan acara. Sublim dan magis. Lembut tapi digdaya. Walau terkesan seremonial, namun ternyata cukup menguras debet air mata.

Keharuan lalu pecah ketika panitia meminta anak-anak menuju titik pemanggangan sate. Sate? Ya, hari itu anak-anak memang dijadwalkan akan memanggang sate untuk dipersembahkan kepada ibu mereka. Maka setelah saling menumpahkan kasih sayang melalui interaksi batin yang menguras emosi, anak-anak dengan penuh semangat berhamburan ke lokasi atas panduan tim Yatim Mandiri. Mereka terlihat antusias memotong-motong, menusuk, dan meletakkan sosis di atas arang yang telah disiapkan oleh panitia. Anak-anak akan membakar sosis itu menjadi sate lezat dengan tangan mereka sendiri.

Sosis lezat tanpa bahan pengawet
Sosis lezat tanpa bahan pengawet

Sosis tersebut merupakan produk Yatim Mandiri yang dikemas dalam kaleng tanpa bahan pengawet dan hadir dalam dua varian: daging sapi dan daging kambing. Saya sendiri sangat menggemari rasa daging kambing karena saya memang kambing eh maksudnya doyan daging si embek. Rasa kambingnya kuat sekali. Tawa riang atau celetukan riang menghiasi proses pemanggangan, yang menegaskan kegembiraan mereka. Kami pun turut dibuai euforia yang sama. Proses pemanggangan sate berjalan meriah dan menyenangkan karena anak-anak mendapat dorongan dari ibu mereka.

Ketika sate sosis telah matang, anak-anak bergegas menghampiri ibu mereka. Mereka hendak menyuapi ibunda dengan sate tersebut—yang dilengkapi pula dengan nasi dan menu pendamping yang telah disediakan oleh Yatim Mandiri. “Suapan ini kupersembahkan untukmu, Bunda. Semoga Bunda sehat dan selalu disayang Allah,” begitu ujar anak-anak saat menyendok nasi dan lauk yang ada untuk ibunda tercinta. Pemandangan langka ini pun tak luput dari perhatian para wartawan. Saya sendiri mungkin terlalu royal untuk menebar jepretan kamera pada setiap momen; berbeda dengan para jurnalis yang menunggu saat yang tepat. Biarin dah, yang penting dapat banyak gambar (plus video) walau harus mengorbankan konsumsi baterai hehe :D. Para ibu yang menerima suapan dari anak mereka tak kuasa menahan air mata dan akhirnya mengecup dahi sang anak dengan keharuan mendalam. Lagi-lagi, emosi pun tergugah dan cinta kasih pecah menjadi doa-doa mulia.

Kipas terus...
Kipas terus…
Sayang sekali adegan menyuap tak sempat terabadikan. Makan besar pun bolehlah...:)
Sayang sekali adegan menyuap tak sempat terabadikan. Makan besar pun bolehlah…:)

Rumi anak saya hanya tertegun melihat apa yang berlangsung. Begitu juga dengan adiknya yang sedari tadi mengoceh tak keruan. Bagi mereka, ini mungkin akan menjadi kenangan indah (dan langka) yang menancap kuat dalam memori hingga mereka dewasa kelak. Saya sangat berharap mereka akan menumbuhkan dan memiliki kepedulian kepada sesama, baik yatim maupun kaum dhuafa.

Acara yang digelar dengan semangat Hari Ibu ini digagas dengan tujuan melatih anak-anak agar berbakti dan memuliakan ibu mereka. Melalu kegiatan sederhana ini anak-anak diharapkan untuk selalu mengingat jasa-jasa ibu yang telah melahirkan, merawat dan membesarkan mereka. Apalagi para ibu itu telah ditinggal oleh suami tercinta sehingga harus berjuang sendiri demi kelangsungan hidup anak-anak mereka. Untunglah, Yatim Mandiri memiliki program BISA yang merupakan akronim dari Bunda Yatim Sejahtera. Program ini memungkinkan para ibu anak yatim memperoleh pelatihan dan pendampingan kewirausahaan serta bantuan modal usaha janda dhuafa agar mereka tetap tegar dalam mendidik putra-putri tercinta. Selain itu, acara ini diharapkan dapat membangkitkan cinta anak kepada ibu melalui kegiatan nyata dan berkelanjutan agar mereka senantiasa mendapat aliran doa dari ibunda sebagai bekal kesuksesan masa depan. Dan tentu saja juga untuk memancing perhatian publik agar berkomitmen melakukan hal serupa.

Acara berakhir tak lama sebelum azan Zuhur berkumandang, ditutup dengan doa dan foto bersama. Anak-anak pun meninggalkan tempat dengan wajah semringah setelah menerima bingkisan buku cerita dari sukarelawan yang turut hadir. Semua orang yang terlibat dalam acara tampak puas dan gembira, termasuk para jurnalis dari harian Radar Bogor, Bogor Pos, majalah Sunda Urang, harian Metropolis, Jurnal Bogor, dan wartawan MGS TV yang turut meliput selama acara berlangsung. Harapan semuanya cuma satu: semoga anak-anak yatim itu kelak bisa hidup mandiri, menjadi anak saleh dan salihah yang akan membahagiakan ibu tercinta.

Sungai selalu memukau Rumi. Jadi pengen nyebur ya Mi? :D
Sungai selalu memukau Rumi. Jadi pengen nyebur ya Mi? 😀

Bagaimana dengana Anda, sahabat? Sudahkah membahagiakan hati ibunda? Sampai jumpa di kisah berikutnya. Untuk semua ibu: We love you, moms. Women ai nimen.

Advertisements

8 thoughts on “Peluk. Pijat. Basuh. Suap.

  1. Hai Rumiiii… Jangan nyebur ya sayang…. Nanti adik Bumi pengen ikutan lhoo…
    Mas Belalang, acaranya meriah sekali. Dan ide acaranya boleh banget tuuh…
    Para ibu dan anak bisa saling mencurahkan kasih sayang begitu. Dan diakhiri degan sate sosis… #mau dong…

    Like

    • Justru Mas Rumi pengen nyebur karena adek Bumi udah duluan meluncur ke sunai (sungai ala Rumi), Bunda hehe..Memang betul Mbak, saya kira acara bakalan seremonial semata, eh ternyata sangat mengharukan. Malah ada ibu yang request segala mana yang mau dipijit 🙂
      satenya enak Mbak, ayo ayo tukeran ma seafood haha.

      Like

    • Iya, Mbak. Setiap ada sungai, Rumi langsung bilang dengan mulut ternganga, “Wah, sun(g)ai! Sun(g)ai!!” — Semangat banget Mbak hehe..Dia senang renang.

      Like

    • Iya, Mbakje. Aku juga udah bilang ke penggagas acara agar jauh-jauh hari sudah memberitahukan ke rekan media, terutama televisi. Trims, Mbakje 🙂

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s