Pengalaman Pertama Jadi Juru Bahasa: Dari Karen Young Gadungan hingga Arnold Schwarzenegger yang Nyasar ke Semarang

Tak terbayang rasanya ketika saya akhirnya mendapat kesempatan menjadi juru bahasa atau interpreter pada awal tahun 2005. Saat itu saya baru saja lulus kuliah dan mengajar bahasa Inggris di sebuah tempat kursus. Walaupun saya merasa kemampuan berbahasa Inggris saya tidaklah mumpuni, namun sungguh senang menantikan momen berbicara dengan orang asing.

Saya dijadwalkan mendampingi konsultan asal Kanada selama empat hari, yakni dua hari di Blora dan dua hari di Kudus, Jawa Tengah. Pelatihan Internet dan komputer untuk bisnis selama dua hari di Blora berjalan lancar. Malam terakhir sebelum kami pindah ke Kudus esok paginya, ibu-ibu pengusaha mengajak kami makan malam di sebuah resto di kota Blora. Perjalanan dari hotel menuju resto tersebut menyisakan kepedihan tersendiri. Betapa tidak, Blora yang dikenal sebagai salah satu sumber minyak Nusantara ternyata tak seluruhnya diliputi kesejahteraan. Saya perhatikan hanya wilayah tertentu saja yang telah terjamah oleh kemakmuran, sedangkan daerah-daerah pinggir begitu memprihatinkan kondisinya, terutama kondisi jalanan dan bangunan.

Karen Young gadungan

Singkat kata, makan malam pun rampung. Setelah itu, saya mendampingi konsultan yang diwawancarai oleh wartawan setempat tentang kegiatan kami selama dua hari itu. Selepas makan dan wawancara,  para ibu yang mentraktir kami malah meminta kami menyanyi di resto tersebut. Sebagaimana lazimnya resto di kota, biasanya ada pojok organ tunggal yang siap mengumandangkan aneka musik. John si konsultan berkali-kali menolak permintaan para ibu. Namun khusus untuk saya, mungkin karena sama-sama pribumi, tetap didesak agar mau menyumbang suara. “Ayolah, Mas Rudi. Satu lagu saja. Apa aja deh!” begitu bujuk mereka.

Demi menjalin hubungan baik, tanpa persiapan, saya pun memilih Nobody’s Child yang pernah dinyanyikan Karen Young. Ini jelas bukan lagu baru dan mungkin tidak semua orang mengenal. Saya beruntung mengenal dan menguasainya saat diajarkan oleh guru bahasa Inggris sewaktu SMA dulu. Tak dinyana ternyata lagu itu berguna juga untuk membina rapport dengan para ibu pengusaha. Hasilnya? Entahlah. Yang jelas: Karen Young Gadungan tentu tak lebih bagus dari penyanyi asilnya, hehe ….

Dua hari berikutnya di Kudus berjalan lancar tanpa kendala. Tema pelatihan masih sama dan antusiasme para ibu pengusaha sungguh besar dan mengagumkan demi peningkatan skill serta kemajuan usaha mereka. Oh iya, pelatihan selama empat hari itu dilangsungkan di sebuah warnet di masing-masing kota. Sebagaimana bisa diduga, kami sempat mengalami kesulitan jaringan yang membuat saya rikuh untuk menjelaskan kepada konsultan kenapa Internet sering drop dan error. Nasib negara kita yang Internet-nya masih lemot, ahaha … 😀

Tugas menjadi juru bahasa selama empat hari sangat saya syukuri. Selain bayaran yang cukup tinggi, jalinan keakraban bersama para ibu sungguh tak ternilai. Saya bisa belajar nila-nilai dan perjuangan bisnis dari mereka. Ada yang punya butik kecil, ada yang mengelola usaha penginapan, catering, rias pengantin, dan sebagainya.

Tugas saya selama empat hari itu ternyata memuaskan sehingga beberapa bulan berikutnya saya ditunjuk lagi untuk mendampingi konsultan yang lain. Masih dari Kanada, namun kali ini bukan memberikan pelatihan, melainkan rencana pemberian kredit kepada para ibu pengusaha di Semarang dan sekitarnya.

Medical-interpreter-interior_rev2
Gambar dari http://www.utexas.edu/

Arnold Schwarzenegger minta kredit usaha

Nah, pada kesempatan inilah saya sedikit mendapat masalah saat menerjemahkan pesan konsultan. Pada tahap awal, konsultan datang selama tiga hari untuk menilai kelayakan usaha yang akan mendapat suntikan kredit. Jadilah tiga hari kami berkunjung ke setiap tempat usaha yang akan menerima kredit. Ada pengusaha pembuatan celana dalam (CD), produksi tempe, tanaman herbal, las besi, konveksi, dan lain-lain.

Skema kredit ini bertajuk Credit Circle di mana para peminjam tergabung dalam kelompok 5-8 orang. Masing-masing menjadi penjamin atas pinjaman temannya. Jika temannya tak bisa bayar, maka anggota lain harus menanggung cicilan temannya. Inilah yang disebut dengan mutual responsibility atau tanggung renteng di mana para peminjam saling men-support untuk bisa membayar.

Pada suatu kesempatan di Semarang bagian atas, saya sempat terpojok pada ucapan konsultan. Setelah berbicara panjang lebar akhirnya dia dia bilang, “So in this circle, members will receive some loan without any collateral.” Saya ragu menyampaikan pesannya karena saya mendadak shocked mendengar kata collateral. Menurut memori saya, collateral adalah bagian dari film yang dibintangi Arnold Schwarzenegger berjudul Collateral Damage.

Terus terang saya tak tahu apa arti collateral. “Wadow, kenapa pula Arnold ikutan cari kredit pengusaha kecil di Semarang?!” begitu gerutu saya dalam hati. Keringat dingin mulai menetes di pelipis. Hati berdegup kencang. Mulut seolah terkunci karena saya betul-betul tak tahu harus tanya sama siapa. Sementara tak mungkin saya bertanya pada konsultan apa arti collateral. Tengsin bo! Masak interpreter tak tahu arti collateral, hehe. Waktu itu belum punya ponsel canggih yang bisa akses Google macam Android yang booming sekarang.

Saya terpekur sejenak. Dan konsultan sepertinya tahu kegelisahan saya. “Rudi?” begitu ujarnya membangunkan saya dari lamunan kesialan. “Is everything fine?” tanyanya lebih lanjut. “Oh, yes. I think so. Will you repeat one more please?” Lalu ia berbaik hati mengucapkan lagi kalimatnya. Saya tetap masygul, tak tahu kenapa Arnold ikutan kredit segala, haha. “Did you say collateral?” tanya saya akhirnya dengan muka memerah dan panas. “Yes, collateral.” Jawabnya singkat. “Ah, collaretal!” ujar saya seolah dapat ide layaknya seorang genius.

Dia pun akhirnya tahu bahwa saya tak tahu maksud collateral. “You don’t know what collateral is?” selidiknya tanpa basa-basi. Saya mengangguk malu-maluin. “It means without any guarantee.” Dia berkata kemudian berusaha memperjelas. Saya baru paham kemudian. Oalah, ternyata collateral tuh maksudnya jaminan atau agunan. Wakakaka. Kuperr!!

Lalu segera saya sampaikan kepada para ibu peserta yang hadir bahwa pinjaman itu tidak butuh agunan apa pun, berbeda dengan bank yang kerap mensyaratkan tanah, surat berharga, atau kendaraan sebagai jaminan pinjaman. Mereka gembira mendengarnya. Saya juga lega walaupun terus terang sangat malu karena tercekat pada masalah Gubernur California itu. Entahlah apa yang terpikir oleh si konsultan tentang kompetensi saya. Ia tak tahu kalau ini adalah tahun pertama saya jadi juru bahasa atau interpreter, hihihi. Yang jelas setelah itu kami dimanjakan makan siang enak dengan hidangan seafood dan sayuran segar yang lezat di sebuah rumah makan.

Perbanyak bacaan dan praktik

Inilah pengalaman mendampingi orang asing yang sangat berkesan dan sedikit memalukan. Dari kisah ini saya berpesan kepada Pembaca yang ingin menggeluti pekerjaan serupa. Siapkan diri dengan baik. Perbanyak membaca dan menonton film. Lalu jangan lupa cari tahu artinya. Praktikkan kemampuan sesering mungkin untuk melatih pelafalan dan memperjelas pendengaran saat berbicara dengan penutur asing kelak. Dalam kadar tententu, lupa itu boleh, tapi interpreter yang banyak tak tahunya sungguh akan memalukan. Dan kemungkinan besar tidak akan dipakai lagi dalam proyek selanjutnya.

Namun syukur alhamdulillah, sebab setelah itu saya masih dipercaya menemani bos si konsultan saat dia ke Semarang untuk mengucurkan pinjaman yang telah disetujui. Sungguh senang karena bisa mempraktikkan keterampilan berbahasa asing sambil mendapat bayaran besar, berkali-kali lipat dari honor mengajar kursus. 😛

Itu pengalaman pertama dan terakhir sebelum akhirnya saya pindah ke Bogor dan menuliskannya untuk Anda sekarang. Mari belajar terus! Jam terbang itu penting, tapi jangan khawatir, pemula juga ada rezekinya sendiri.

Advertisements

13 thoughts on “Pengalaman Pertama Jadi Juru Bahasa: Dari Karen Young Gadungan hingga Arnold Schwarzenegger yang Nyasar ke Semarang

  1. wah pengalaman yang seru nih….terutama kata2 collateral….adalah bahasa yang penting bagi seorang pebisnis…..
    thanks mas brow…

    Like

  2. hi..hi..kebayang groginha karena nggak tah collateral…tapi aku baru tau juga nih aryinya di sini
    kl collateral di bidangki artinya lain lagi sih

    Like

    • Sedikit memalukan, Uni. Tapi ya memang mengesankan, xixixixi. Saya ini memang cenderung pelupa, jadi kadang-kadang kata-kata sederhana tiba-tiba lupa artinya. Blank aja… *alasan.com*

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s