Sabtu Pagi di Perpustakaan Kota Bogor yang Sepi

Belakangan ini Rumi anak sulung kami kerap merengek agar diajak berkunjung ke perpustakaan kota Bogor. Mungkin dia sudah bosan dengan buku-buku yang ada di rumah meskipun belum tuntas semuanya. Suatu hari dia bahkan sempat menolak pergi ke sekolah lantaran lebih tertarik pergi ke perpustakaan.

Masalahnya, dia ingin agar kami pergi dengan formasi lengkap, yakni bersama saya, bundanya, dan Bumi adiknya. Nah, walaupun kami bukan orang sibuk, pergi bersama tidaklah selalu mudah. Saat saya siap, ternyata Bunda sedang tak sehat. Saat semua sehat, mendadak ada acara yang lebih mendesak.

Alhamdulillah, akhirnya Sabtu kemarin kami bisa meluncur ke perpustakaan yang berlokasi di Jl. Pemuda No. 2 Bogor, bersebelahan dengan GOR Pajajaran. Sejak pagi Rumi sudah menceracau agar kami membawanya ke sana. Bumi pun tak kalah semangat. Tiba di sana kira-kira menjelang pukul 9.30.

Daftar Biar Cetar

Bisa diduga, suasana perpustakaan sepi. Di halaman luar gedung sedang digelar Bogor Culinary Creative, namun acara tidak terlalu bising. Kami langsung menuju meja petugas dan segera mengisi buku tamu. Karena kami belum memiliki kartu anggota, maka kami hanya bisa membaca koleksi buku di tempat tanpa membawanya pulang. Sebenarnya saya pernah mendaftar beberapa tahun silam, namun setelah itu vakum.

Untuk menjadi anggota ternyata sangat mudah. Cukup menyerahkan fotokopi KTP disertai 3 lembar pas foto berukuran 2×3 cm. Untuk pelajar atau mahasiswa bisa menyerahkan kartu pelajar/mahasiswa. Tak ada pungutan biaya keanggotaan. Setelah resmi menjadi anggota, kita bisa meminjam maksimal 2 judul buku selama 1 minggu dan dapat diperpanjang bila masih diperlukan dengan mengembalikannya terlebih dahulu kepada petugas. Asyik kan?

Loker dan Komputer

Beres isi buku tamu, kami diarahkan untuk menuju loker. Ini barang baru yang tidak saya jumpai beberapa tahun silam. Pengunjung tinggal mencari loker yang masih kosong untuk menyimpan barang bawaan. Kuncinya menempel pada loker yang kosong. Kuncilah lalu simpan anak kunci dengan baik. Dengan adanya loker ini kita jadi tenteram, tak perlu waswas barang hilang atau repot membawa barang masuk ruangan.

Bahkan ketika loker belum dikunci, Bumi langsung menjulurkan kepalanya ke ruangan khusus anak. Buru-buru ia lepaskan alas kakinya dan segera menghambur ke dalam. Di dalam ruangan terdapat aneka koleksi buku anak mulai dari buku fiksi, sains populer, ensiklopedia, nonfiksi, dan beragam permainan kayu. Tanpa dikomando, anak-anak langsung memilih buku kesukaan masing-masing.

Selain buku, ada tiga unit komputer yang didesain khusus untuk kenyamanan anak-anak. Sayang sekali hari itu hanya satu komputer yang bisa dipakai. Satunya sedang error, dan sisanya tidak dinyalakan. Maklumlah, saat kami datang memang belum banyak pengunjung. Seingat saya hanya ada dua keluarga.

Keberadaan komputer ini merupakan bagian dari KidSmart Early Learning Program yang digagas oleh IBM untuk menginspirasi para pembelajar belia di seluruh dunia melalui teknologi. Komputer berisi game-game menarik dan menyenangkan bagi anak-anak. Maka tak heran bila mereka sangat menikmati dan bahkan berebut memainkannya.

kidsmart copy

Program positif yang perlu didukung

Untunglah Rumi dan Bumi sepakat bekerja sama dan saling memberitahu.

Belajar bersama lebih asyik

Belajar bersama lebih asyik

Betah!

Bosan dengan komputer, mereka menjelajahi ruangan untuk mencari buku atau mainan lain. Suasana menjadi makin menarik sebab ada anak lain yang tengah bermain saat itu. Kami biarkan mereka memilih buku atau mainan apa saja yang mereka inginkan.

Cari sampai dapat!

Cari sampai dapat!

Mainan kayu bisa jadi selingan

Mainan kayu bisa jadi selingan

Saat Bumi asyik bermain permainan kayu (mobil, helikopter, dan puzzle), Rumi tengah antusias mempelajari tata surya, apalagi ada planet yang namanya sama seperti adiknya, Bumi. Mereka betah di ruangan itu walau rasa lapar segera mendera.

"Kok ada Planet Bumi, Bun?"

“Kok ada Planet Bumi, Bun?”

Saat mereka tenggelam dalam asyiknya belajar, saya keluar sejenak untuk melihat ruangan lainnya. Mencoba membandingkan dengan kondisi terakhir saya datang dua tahun silam. Ruang referensi masih sama, tepat berada di depan di sebelah kanan dari pintu masuk. Koleksi di sini tak boleh dipinjam, hanya bisa digunakan di tempat. Termasuk juga koleksi majalah dan surat kabar. Tak banyak pengunjung di sini.

Belok ke kiri masuklah saya ke ruangan koleksi utama. Ruangan masih sama, hanya saja kini dilengkapi dua unit komputer di sebelah kiri dan kanan setelah pintu. Ada beberapa remaja dan pengunjung yang tampak serius membaca di bilik masing-masing.

(a) rak besi dengan banyak koleksi; (b) komputer di sebelah kanan

(a) rak besi dengan banyak koleksi; (b) komputer di sebelah kanan

Saya lantas berkeliling untuk mengecek perkembangan koleksi. Memang harus diakui, jumlah koleksinya masih belum banyak banget. Kendati begitu, buku-buku yang relatif baru sudah tampak menghiasi rak. Oh iya, ada pemandangan yang menyenangkan. Kini rak-rak baru warna-warni menggantikan rak-rak lama yang usang dan berdebu.

Rak-rak ciamik berderet menyambut pengunjung

Rak-rak ciamik berderet menyambut pengunjung

Buku-buku fiksi berbahasa Inggris jumlahnya berkurang secara signifikan. Hanya saya jumpai beberapa. Dahulu saya pernah membaca karya C.S. Lewis yang mengarang Narnia itu. Setelah saya tanyakan petugas, buku-buku yang sudah lapuk memang disortir dan hanya yang bagus saja yang ditampilkan. Ini menjadi catatan penting agar pemkot memikirkan tambahan judul terutama buku-buku terkini. Saya jadi punya niat untuk membawa beberapa buku terbitan kami untuk disumbangkan di sana. Semoga tidak lupa. 😛 Agar pengunjung punya banyak variasi judul, agar pengunjung punya sejuta alasan untuk bertahan.

Meja baca rapi dan nyaman

Meja baca rapi dan nyaman

Sekali lagi hadirnya rak-rak baru dan penataan buku lama menjadi angin segar untuk datang lagi. Namun suntikan judul-judul baru harusnya menjadi PR juga buat kita semua. Barangkali pemkot serbasalah: bila jumlah koleksi ditambah, sementara tingkat kunjungan masih rendah. Jadi anggaran bisa dialihkan ke masalah publik yang lebih urgen. Mungkin. Jadi masalahnya akhirnya kembali kepada masyarakat setempat. Betapa minat baca masih rendah sehingga perpustakaan jadi tempat yang terlalu mewah. Sungguh pertanyaan yang pelik.

Membaca, jendela dunia

Membaca, jendela dunia

Saya merenungkannya sembari melangkah ke ruang baca anak. Rumi dan Bumi terlihat asyik membaca buku lain. Kini pengunjung di ruang anak dua kali lipat jumlah sebelumnya walaupun belum spektakuler. Tetap nyaman sebaba ruanganm ber-AC. Kami segera membereskan barang lalu berkemas siap untuk pulang. Anak-anak sudah tak sabar bersantap siang.

Bagi Sobat pembaca yang tinggal di Bogor, mari main ke Jl. Pemuda No. 2. Catat nih jam operasionalnya. Setiap Senin-Jumat layanan dibuka mulai jam 08.00 – 15.30. Khusus Sabtu jam layanan dimulai pukul 08.30 – 12.30. Dengan kondisi yang memang belum ideal atau bahkan sempurna, perpustakaan tetap menjadi sarana tamasya yang menghibur. Mengenalkan anak pada budaya literasi dan kehalusan budi. Jadi apa pun mereka kelak, kebiasaan membaca akan memudahkan profesi dan mendukung renjana (passion) mereka. Membacalah! Membacalah! Membacalah!

 

Advertisements

16 thoughts on “Sabtu Pagi di Perpustakaan Kota Bogor yang Sepi

    1. Itu bagus Mbak, mengenalkan dan mendorong anak-anak agar cinta buku, tambah ilmu juga. Agar wisatanya ga ke mal terus, hehe. Insya Allah mau jadi apa pun kelak anak kita bakal terbantu karena kecintaan membaca.

      Like

  1. Perpustakaan daerah di Bogor mirip dengan yang ada di Balikpapan. Di ruang baca anak disediakan juga komputer dari IBM persis seperti itu. Perpusda Balikpapan adalah salah satu tempat favorit saya dan anak-anak yang sering kami kunjungi, karena tempatnya nyaman dan ada banyak pilihan buku yang bisa kami baca. Setiap hari selalu ramai dikunjungi oleh anak-anak sekolah (apalagi kalau hari Sabtu…penuh), nggak heran sering kali tercium bau pensil bau khas anak sekolah dasar…hehehe

    Like

    1. Wah, asyik sekali kalau selalu ramai dikunjungi pelajar, Mbak. Berarti pengelolaannya bagus. Ayo ditulis di blog, Mbak biar pembaca lain makin termotivasi. Bau pensil sungguh khas ya ….

      Like

  2. Halo Mba, seru yaa main sama anak2 ke perpus hehe aku mau tanya mba, aku juga orang bogor tapi baru sekali ke perpus pas masih sma (sekarang udah lulus kuliah hehe) disana koleksi novelnya banyak ga ya mba? Aku lagi cari novel2 indo yg terkenal tapi blm ku baca semacam negeri 5 menara, novel2nya tere liye, gitu2 hehe makasih sebelumnya 🙂

    Like

    1. Iya, Put, memang asyik banget pelesiran ke perpustakaan. Gratis dan pulang bawa ilmu. Kemarin sempat masuk ke ruangan bacaan umum. Sayang sekali sepintas lalu masih banyak rak yang kosong, Put. Koleksi novelnya juga belum banyak bertambah mengikuti tren novel masa kini seperti yang kamu sebutkan. Padahal harusnya ditambah ya. Nanti bila ada info penambahan koleksi, bisa kuupdate informasinya.

      Liked by 1 person

  3. maaf mau tanya kak, kalo tgl merah buka engga? saya baru setahun di bogor, beberapa kali pernah lewat dan cuma lirik2 aja karena kebetulan hari minggu..

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s