Unpredictable

Kira-kira sebulan lalu sahabatku Momtraveler mengunggah sebuah info kontes di status Facebook-nya. Jujur saya gemar mengikuti lomba atau kontes blog, namun tidak semua lomba saya hajar dan eksekusi. Ada beberapa alasan mengapa saya terdorong berpartisipasi dalam sebuah kontes. Salah satunya bila saya punya pengalaman langsung tentang tema kontes tersebut. Pengalaman langsung akan menghasilkan tulisan yang unik dan bertenaga.

Status sobat ini mengabarkan kontes tentang pengalaman anyang-anyangan atau BAK (buang air kecil) yang sering. Saya segera mengklik tautan kontes dan menemukan obat yang diklaim mampu meredakan anyang-anyangan. Entah baru dirilis atau saya yang baru tahu, obat yang diramu dari ekstrak buah cranberry ini sukses bikin saya penasaran.

Lewat dua pertiga Ramadhan saya berburu prive uri-cran, nama obat ini, ke apotek langganan. Sayang, hasilnya nihil. Di luar dugaan, di apotek Vila Bogor Indah tempat saya menaruh wingko setiap hari ternyata punya stoknya. Sebagai pembeli bijak, saya tak langsung beli. Saya pelajari selebaran serta kandungannya.

Yang bikin gamang adalah obat ini sepertinya didesain khusus buat wanita yang memang kerap menderita anyang-anyangan. Kegamangan pun pupus setelah saya berdiskusi dengan istri agar saya mencoba prive uri-cran ini.

Esoknya saya beli. Malam konsumsi dan tidak langsung terasa dampaknya. Baru hari ketiga ada perasaan berbeda. Unpredictable! Frekuensi BAK berkurang signifikan sehingga malam-malam Ramadhan jadi lebih produktif tanpa bolak-balik ke toilet.

Kini hampir sebulan saya mencoba prive uri-cran. Naga-naganya ekstrak cranberry lumayan efektif menangkal infeksi saluran kemih yang belasan tahun saya derita. Jadi berpikir untuk punya kebun cranberry sendiri, hehe. 🙂

Ada beberapa indikator mengapa saya bilang privé uri-cran cukup ampuh.

  1. Jeda antara shalat fardhu (misalnya Magrib ke Isya atau Zuhur ke Ashar) biasanya saya harus ambil wudhu baru sebab harus BAK. Kini tidak lagi. Atau katakanlah, berkurang sangat drastis. Unpredictable.
  2. Beberapa saat setelah BAB, biasanya ada dorongan BAK beruntun yang tidak tuntas. Cukup merepotkan, tapi kini mereda. Jaraknya bisa normal atau skenarionya tidak berulang secara konstan. Unpredictable.
  3. Sebelum bepergian ke luar rumah, entah jauh atau dekat, desakan BAK sangat tinggi, sehingga harus bolak-balik ke toilet sebelum meninggalkan rumah. Kadang saya merasa enggak enak pada teman atau keluarga yang akan bepergian bersama saya. Dalam kasus ketiga ini, ada semacam tekanan psikis karena khawatir hasrat BAK itu datang kembali. Dan memang tidak mudah menangkis stres semacam ini. Alhamdulillah, kini mulai terasa ada perubahan.

Selama mudik kemarin, saya merasa sangat lega karena terbebas dari anyang-anyangan akut. Acara arisan keluarga besar berjalan lancar tanpa interupsi ke kamar kecil. Jalan-jalan bersama ibu dan keluarga pun nyaman tanpa direcokin BAK saya.

Ada satu lagi momen yang sangat mengesankan. Barangkali ini baru kali pertama terjadi. Setia mudik lebaran, ketua DKM setempat selalu meminta saya untuk menjadi murokki. Bagi yang belum familiar, murokki adalah orang yang bertugas mengantarkan khatib menuju mimbar baik sebelum Shalat Jumat maupun Shalat Ied. Tugasnya membaca bacaan tertentu hingga mengumandangkan azan untuk kasus shalat Jumat.

Lancar jadi murokki

Entah sudah berapa puluh kali saya jadi murokki di masjid kampung. Setiap kali saya usulkan agar diganti, pihak masjid merayu bahwa ini kan momen setahun sekali jadi hendaknya saya mau karena jarang terjadi. Saya sempat menuliskan bacaan dan mengajarkan tata caranya kepada seorang junior di kampung, dan sudah berhasil. Sayang sekali, dia sudah menikah dan kini tinggal di kecamatan lain di rumah istrinya. Walhasil, saya lagi yang harus bertugas.

Bagi saya ini tugas yang tidak berat. Saya sudah hafal bacaannya beserta prosesinya secara akurat, jadi tak ada masalah. Apalagi di keluarga kami, public speaking atau menghadapi audiensi dalam jumlah besar tidaklah masalah. Ayah dulu langganan jadi wakil sambutan tuan rumah atau perwakilan mempelai, juga aneka sambutan lain. Kakak sudah berpengalaman menjadi MC sedangkan saya kebagian membaca Quran atau sebagai qari’. Tak jarang kami bertugas bersamaan dalam satu momen sehingga pulangnya membawa rezeki nomplok buat ibu karena ada tiga amplop sekaligus, hehe. 😀

Tapi itu dulu. Sekarang ayah sudah tiada. Kakak sudah sibuk dengan keluarganya. Saya pun tidak lagi pernah diundang menjadi qari’. Selain suara yang sudah pecah karena makanan tak terjaga, anyang-anyangan juga menjadi kendala.

Nah kembali ke murokki, saya tak keberatan ditunjuk lagi dan lagi. Namun anyang-anyangan akut menjadi hambatan tersendiri. Apa sebab? Murokki harus datang lebih awal dari jemaah lain. Paling tidak ya sesaat setelah Subuh. Masalahnya, masjid saya ini punya kebiasaan yang kurang asyik. Menjelang shalat dimulai ada serangkaian sambutan yang membosankan. Ini itu dan sebagainya. Semakin lama menunggu giliran jadi murokki, semakin besar dorongan untuk pengin BAK.

Bisa sih izin ke toilet, tapi sangat tidak praktis. Padahal di rumah saya sudah beberapa kali BAK sebelum ke masjid. Tak enak pula dilihat jemaah lain kalau saya mondar-mandir ke kamar mandi karena saya duduk di barisan depan. Sementara bila ditahan, jadi makruh kan?

Tahun ini boleh jadi rekor bagi saya. Sejak datang di masjid, dengerin aneka sambutan, hingga khutbah selesai dan pulang, sekali pun tak ada keinginan untuk pipis. Subhanallah walhamdulillah. Saat keliling bersalaman dengan jemaah lain sembari menuju pulang, saya tak henti bersyukur. Sampai ingin bersujud karena karunia ini. Yang tidak saya dapatkan selama berpuluh tahun.

Unpredictable, so very unpredictable! Sebenarnya bagi Allah, tak ada yang benar-benar unpredictable. Indera dan pengalaman kitalah yang terbatas sehingga menganggap sesuatu menjadi unpredictable. Termasuk keterbatasan saya dalam memaknai ‘unpredictability‘ ini. Saya menduga karena privé uricran atau memang Tuhan mengabulkan keyamananan ini sekarang. Alhamdulillah.

Advertisements

2 thoughts on “Unpredictable

  1. Penyakit ada obatnya. Kalau belum sembuh berarti belum ketemu saja obatnya.
    Saya ikut gembira atas sembuhnya penyakit anyangan-anyangan sampeyan. Tahniah.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s