Privé Uri-cran Bikin Anyang-anyangan Tuntas, Ciptakan Peluang Tanpa Batas

ENAM BELAS tahun, apakah itu waktu yang panjang ataukah pendek? Dalam konteks usia seseorang, angka 16 mungkin belum diperhitungkan. Dalam skala pendidikan formal, usia 16 tahun biasanya disandang anak kelas 1 SMA atau yang sederajat. Usia yang cukup belia dan mungkin masih dianggap anak bawang dalam konteks urgensi pendapat dan pengalaman hidup.

Namun jika angka 16 tahun dirujuk untuk menunjukkan durasi sakit seseorang, apakah itu periode yang panjang ataukah singkat? Itulah yang terjadi pada saya–benar-benar saya alami. Sejak pertengahan tahun 2000 hingga detik ini saya mengakrabi gejala medis ini. Hanya saja, dalam beberapa pekan terakhir ini, ada perubahan signifikan yang saya rasakan.

Lelah tentu saja, tapi berusaha untuk tidak putus asa meskipun perasaan desperate sesekali datang mendera. Nah, untuk lebih mudah memahami cerita ini, saya akan bagi dalam empat episode. Silakan nikmati, semoga bermanfaat. 🙂

episode kebebasan (1)

Episode Awal

Suatu malam, 16 tahun silam, dalam perjalanan pulang dari Semarang ke kampung halaman dengan menumpang bus, tiba-tiba ada dorongan untuk buang air kecil yang menggebu. Belum pernah rasanya seperti itu meskipun perjalanan bus 6 jam sudah beberapa kali saya lalui. Karena bus jurusan Surabaya-Semarang itu tidak dilengkapi toilet di dalam, maka saya tahan desakan untuk pipis.

Kala itu tengah bulan Ramadan, dan sesampai di rumah, setelah mengikuti shalat tarawih, hasrat untuk buang air kecil semakin kerap dan kerap. Padahal sesampai di rumah sudah dipenuhi. Saya pikir itu barangkali pengaruh perjalanan jauh akibat duduk terlalu lama. Nyatanya saya salah, setelah beberapa waktu gejala anyang-anyangan seperti itu tidak kunjung reda.

Setiba di Semarang, saya segera periksa ke dokter untuk mendapatkan informasi yang akurat sehingga pengobatan bisa terarah. Sempat terpikir saya terkena diabetes mellitus atau penyakit gula karena frekuensi kencing yang sering, terutama saat malam hari. Dari hasil tes darah dan urine, dokter menyatakan saya terkena infeksi saluran kemih atau lazim disingkat ISK.

Infographic
Informasi berharga harus dicermati

Menurut data yang saya peroleh, ada beberapa sebab yang memicu ISK, sebagaimana tersaji dalam infografis di atas. Jangan sepelekan anyang-anyangan loh, Sob, sebab sepertinya remeh tetapi dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari sangat besar. Nah, kira-kira ada empat macam penyebab anyang-anyangan yang bisa mengarah pada infeksi saluran kemih, yakni:

1. Menahan pipis atau buang air kecil

Ini barangkali yang menjadi pemicu mengapa saya akhirnya terkena anyang-anyangan akut. Lantaran dulu sering menahan pipis terlebih ketika menumpang bus selama 6 jam tanpa toilet. Sebenarnya ada bus yang bertoilet namun tarifnya lebih mahal dan tidak terjangkau oleh uang saku saya kala itu.

Orang menahan buang air kecil (BAK) banyak sebabnya, salah satunya karena melihat bahwa kamar mandi atau toilet yang dipakai ternyata kotor. Ingat tidak tentang seorang artis yang sampai harus diopname gara-gara menahan pipis gara-gara tak tahan toilet umum yang kotor? Mulai sekarang, bila ada hasrat BAK, segeralah penuhi. Cari toilet yang bersih sehingga meminimalkan terjadinya ISK.

2. Pakaian dalam yang tidak bersih

Celana dalam yang kotor bisa juga menjadi biang keladi terjadinya Infeksi Saluran Kemih. Keterangan dalam gambar di atas pernah dikonfirmasi oleh seorang dokter yang juga tante teman saya di Kudus. Kebersihan celana dalam harus menjadi perhatian. Untuk ini saya juga tidak pernah kompromi. Perbanyaklah jumlah celana dalam agar bisa sering berganti karena bakteri doyan tempat yang kotor atau lembab. Selain frekuensi ganti, pastikan celana dalam kita dicuci dengan bersih agar menghindari menempelnya bakteri atau kuman.

3. Arah membasuh yang salah setelah BAB (buang air besar)

Informasi ini juga akurat. Setelah kelahiran anak kami yang pertama yaitu Rumi, saya sering kebagian memandikannya karena istri pascaoperasi Caesar belum bisa optimal merawatnya. Dari buku manual tentang memandikan bayi, saya dapatkan larangan agar kita tidak membasuh dari arah anus ke depan atau ke arah alat vital. Arah yang benar harusnya sebaliknya yaitu depan ke belakang.

Hal ini untuk mengurangi risiko masuknya bakteri ke dalam organ vital. Lebih-lebih bagi wanita, karena letak lubang pembuangan dan organ vital cukup dekat, maka arah membasuh yang benar harus diperhatikan. Ini saya peroleh dari berbagai sumber di Internet setelah menderita ISK.

4. Kondisi toilet yang kotor

Di awal sudah saya singgung betapa kebersihan toilet juga menjadi faktor yang sangat dominan. Untuk kamar mandi di rumah, rajin-rajinlah membersihkannya, dengan menggunakan cairan/alat pembersih yang aman dan dianjurkan. Pada bagian toilet, terutama yang model duduk, pastikan kebersihannya karena risiko menempelnya bakteri sangat besar.

Tips dari saya: saat menggunakan toilet umum, usahakan untuk mengalirkan air langsung dari kran untuk keperluan membasuh area vital. Jangan gunakan air yang sudah ditampung dalam bak atau ember. Bila terdapat gayung, cuci kembali gayung tersebut lalu tampunglah air dari kran ke dalam gayung tersebut untuk selanjutnya disiramkan pada organ intim. Ini terbukti cukup ampuh sekurang-kurangnya tidak memperparah ISK saya sejauh ini.

Sepintas lalu, ISK atau anyang-anyangan mungkin bukan penyakit berbahaya, namun dampak dan komplikasinya tidak bisa diremehkan. Pengaruh fisik dan psikologis ternyata cukup mengganggu kesibukan. Tentang bagaimana derita ISK, akan saya tulis di bagian berikutnya, Episode Kambuh.

Episode Kambuh

Sakit apa pun, seringan apa pun, bila sudah kambuh, tentu sangat mengganggu. Terkhusus untuk ISK ini, selama belasan tahun mengidapnya, saya rasakan sangat menyiksa. Memang terdengar sekadar anyang-anyangan belaka, tapi lagi-lagi dampaknya sangat mempengaruhi kinerja.

Derita fisik

Saya membaginya dalam dua macam ‘derita’. Saya membubuhkan tanda kutip pada kata ‘derita’ karena sifatnya sangat relatif, terutama dalam hal kadarnya. Ada penderitaan fisik dan nonfisik. Penderitaan fisik gampang dijelaskan, yakni ketika ISK kambuh, maka kegiatan toilet trip bisa sangat menjengkelkan.

Betapa tidak? Ke toilet berkali-kali sangat menyita waktu. Selain itu, ada rasa panas di bagian ginjal bila hasrat BAK tidak segera dipenuhi. Bahkan setelah dilampiaskan pun, gejala panas itu kadang masih terasa. Entahlah. Jika nekat ditahan, dalam kasus saya, rasa nyeri bisa menyengat perlahan ke arah dada dan menimbulkan sesak napas. Memang tidak selalu, tapi punya potensi demikian. Selain sesak napas ringan, ketika saatnya pipis, bisa mengalami sakit buang air kecil.

Namun perlu saya tegaskan, rasa sakit dan penderitaan fisik akibat Infeksi Saluran Kemih tidak selalu mudah dijelaskan secara verbal. Tak jarang rasa sakitnya begitu kompleks dan hanya bisa dirasakan dan diterima dengan mengembuskan napas secara perlahan. Bagi saya yang muslim, saya iringi momen ini dengan banyak istigfar di dalam hati. Terbukti cukup membantu dan membuat saya agak relieved.

Terutama saat saya sampai mengalami kencing darah. Bagaimana bisa? Baca kisahnya di episode terapi.

Derita nonfisik

Sesakit-sakitnya derita fisik, penderitaan nonfisik tak bisa diremehkan. Bahkan menurut saya sangat signifikan. Dari pengalaman yang saya lalui, di awal menderita ISK ini, hidup saya terasa hambar, loyo, dan tidak bersemangat. Seolah visi hidup sudah musnah karena bayangan penyakit ini. Betapa tidak, saat kumat, semua konsentrasi buyar, maka pekerjaan terancam ambyar.

Saat itu saya bekerja sebagai staf pengajar bahasa Inggris di sebuah lembaga kursus di Semarang sebelum dan sesudah lulus kuliah. Saya pikir itulah capaian tertinggi saya sebagai manusia: mengajar belaka. Selain gajinya rendah, potensi karier pun hampir tak ada. Bukan saya meremehkan pekerjaan mengajar, tetapi karena perasaan galau yang saya rasakan saat itu begitu menyiksa. Saya kerap berpikir bahwa saya akan ‘membusuk’ di sana. I’m gonna stuck here forever. With no one to love. Begitu sering batin saya miris.

Love. Ini satu kata yang perlu saya bahas. Dengan ISK, saya tiada pernah membayangkan akan punya pasangan atau berumah tangga. Manalah ada wanta yang mau saya persunting dengan kondisi fisik akibat ISK yang menjengkelkan itu? Kalau ada, mungkin sekadar kasihan saja, hiks. 😦 Perasaan ini betul-betul menyiksa. Saat teman-teman kuliah mulai menggeliat dalam pekerjaan, bahkan sebagian sudah menikah, saya masih terbuai dengan penderitaan akibat anyang-anyangan akut. I’m gonna stuck here forever. With no one to love.  With nothing to achieve. Begitu terus rasa sakit batin yang mendera.

Rasa sakit ini betul-betul menggerogoti kepercayaan diri saya, meragukan diri sendiri sebagai seorang lelaki yang akan memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga kelak, kalau ada yang mau. Oh iya, saya juga heran mengapa saya terkena Infeksi Saluran Kemih mengingat penyakit ini kebanyakan diderita oleh kaum wanita. Ya sudahlah, sabar dan nerimo saja.

Episode Terapi

Bila derita terus diceritakan, saya khawatir akan dianggap lebay dan malah berpotensi mendorong saya untuk tidak mensyukuri nikmat Tuhan. Untuk itu saya sambung dengan rangkaian terapi yang pernah saya jalani. Saya sebut ‘rangkaian’ karena memang ada beragam opsi pengobatan yang sudah saya tempuh.

Pertama, pengobatan medis. Setelah dinyatakan menderita ISK, dokter segera meresepkan obat untuk saya tebus guna menangani sakit tersebut. Saya beli dan konsumsi. Berpengaruh memang, redalah anyang-anyangan itu. Namun ternyata tidak bertahan lama. Setelah obat habis, datanglah lagi mimpi buruk sering-sering ke toilet lagi. Bisa dibayangkan saat saya menjalani perkuliahan dalam kondisi demikian. Malu juga bila diceritakan kepada kawan-kawan kan? Saya tabung uang saku dan fee hasil kerja freelance untuk membeli obat ini lagi, namun lagi-lagi dampaknya hanya sementara.

Kedua, pijat refleksi. Ternyata sakit sekali pijat jenis ini walaupun memang ada pengaruh terhadap berkurangnya anyang-anyangan. Saya menjerit-jerit bahkan sampai berurai air mata *malu* hehe. Selain biaya per pijat lumayan untuk ukuran mahasiswa, plus hasilnya tidak maksimal, saya akhiri terapi ini.

Ketiga, tanaman herbal. Saat seseorang sakit, biasanya informasi apa pun tentang kesembuhan akan didengar dan dipatuhi, tidak terkecuali saya. Setiap kabar yang mengindikasikan potensi pengobatan Infeksi Saluran Kemih, saya pertimbangkan untuk dijalani. Salah satunya saat mendengar obat herbal. Ada banyak obat herbal saat ini, seperti kumis kucing dan keji beling. Namun dampaknya tidak bisa tuntas karena memang tidak tepat sesuai gejala yang saya keluhkan.

Ada lagi resep tradisional yang bisa kita ramu dan seduh sendiri, seperti jahe, kunyit, dan lidah buaya. Namun lagi-lagi dampaknya cukup pendek dan tidak signifikan mengurangi anyang-anyangan. Apalagi lidah buaya yang mahal dan repot bila harus diolah sendiri. Maka jenis terapi ini saya hentikan.

Keempat, tusuk jarum. Akhir tahun kemarin dan awal tahun ini menandai penderitaan saya yang cukup menyeramkan. Tak pernah saya duga bahwa saya akhirnya mengalami kencing darah. Jangan ditanya lagi sakitnya saat kambuh ini. Sellain sakit buang air kecil, juga keluar darah segar, kadang kental. Untunglah saya kini sudah berkeluarga dan istri sangat mendukung kesembuhan saya. Ini sungguh tenaga dahsyat yang turut memperkuat.

Periksa dan obat dari dokter spesialis saya tempuh, namun kencing darah berulang setelah sebulan kemudian. Masih menderita sakit buang air kecil. Istri lalu menyarankan akupuntur tak jauh dari kota kami. Alhamdulillah, ternyata tusuk jarum ala Tiongkok ini cespleng menghilangkan kencing darah yang saya alami. Selain ditusuk secara rutin, juga dikasih obat herbal.

Namun entahlah mengapa anyang-ayangan masih saja menyerang. Aktivitas sehari-hari jadi sangat terganggu. Setiap kambuh, rasanya sedih dan lunglai. Rasa khawatir dan cemas menggelayuti. Ingin saya bebas, menjadi diri sendiri dengan segala potensi. Bebas ke mana-mana tanpa ancaman anyang-anyangan, bebas berkreasi tanpa gejala patologi ini. Tuhan menjawab doa saya.

Episode Kebebasan

Seseorang akan kegirangan saat apa yang diimpikan menjadi kenyataan. Itulah yang terjadi pada saya. Kira-kira sebulan lalu seorang teman menginformasikan Privé Uri-cran sebagai terapi untuk menangkal anyang-anyangan. Namanya susah disebut, bahkan ketika saya menanyakannya di apotek terdekat, hehe. Ini pengalaman saya pribadi.

Saat Ramadan kemarin, saya cek ketersediannya di beberapa apotek. Saya tergerak ingin mencoba karena selama ini saya belum pernah menemukan iklan obat yang berani mengklaim sanggup memelihara kesehatan saluran kemih. Tepat seperti yang saya alami bertahun-tahun lamanya.

prive beli.jpg
Akhirnya ada yang bantu dengan tuntas! Yeayy!

Meski agak kecewa karena di apotek langganan tak tersedia, akhirnya dapat juga di salah satu apotek di wilayah Karadenan Bogor. Jujur, ekspektasi saya tidak terlalu tinggi mengingat semua terapi sebelumnya berdampak sementara. Maka di awal saya konsumsi tidak banyak dulu. Saya minum pada sepuluh terakhir Ramadan saat ikut menginap di masjid untuk iktikaf bersama keluarga. Pada malam ke-21 dan 22 saya terpaksa sering ke toilet untuk BAK di malam hari, saat jamaah lain khusyuk mengaji atau shalat malam. Sungguh mengganggu karena harus sering berkontak dengan air dingin dan mengambil wudhu lagi.

Malam ke-23 saya konsumi uri-cran, 1 butir sebelum isya dan 1 butir selepas sahur di masjid. Saya ingin menguji seberapa efektif obat ini untuk mengurangi anyang-anyangan saya. Dampak belum terlalu terasa hingga malam ke-27 dan 28 di mana frekuensi ke toilet sangat berkurang. Bila biasanya setiap shalat fardhu saya harus pipis dan wudhu lagi, maka setelah malam itu saya bisa cukup mengambil wudhu tanpa pipis lagi setiap mau shalat. Bagi orang lain, itu biasa saja. Tapi bagi saya itu kemajuan luar biasa. Produktivitas ibadah meningkat karena frekuensi BAK menurun.

img111
Selain mahal, juga tak sedap bila dimakan langsung.

Mungkinkah ini berkat Privé uri-cran? Boleh jadi, sebab saya tidak mengonsumsi obat lain selain ekstrak cranberry ini. Saya penasaran bagaimana uri-cran bisa menangkal dorongan anyang-anyangan yang cukup menyiksa. Setelah menelisik lebih jauh, uri-cran yang berisi ekstrak cranberry ternyata kaya akan kandungan Proantocyanidin (PAC) yang efektif mencegah penempelan bakteri E. Coli pada saluran kemih. Dari pengalaman saya, selain mencegah anyang-anyangan, Privé uri-cran juga mampu mengobati anyang-anyangan bahkan ISK akut seperti yang saya derita.

Ini sudah melalui penelitian loh. Soalnya bakteri E. Coli ini memang yang selama ini jadi biang kekesalan saya, hehe, sehingga jadi sering anyang-anyangan. Tahu gini kenapa ga minum dari dulu ya? Nah tahunya baru sekarang, atau produknya memang baru ada sekarang? Entahlah, yang jelas Privé uri-cran sangat membantu saya agar hidup lebih produktif.

Sebenarnya bisa mengonsumsi langsung buah cranberry, namun mendapatkannya di negeri kita bukanlah hal gampang. Kalaupun bisa, harganya lumayan mahal dan rasanya pun tak terlalu enak. Saya belum pernah makan buah ini, namun sesaat sebelum menelan kapsul Privé uri-cran ada bau dan rasa langu yang saya duga adalah khas milik cranberry. Dengan dibentuk dalam kapsul, maka tak perlu susah-susah membuat ekstraknya atau membuat jusnya lalu meminum dengan risiko rasa tidak enak.

img236-1
Tampak segar!!!

Saya masih penasaran ingin mencoba Privé uri-cran yang versi cair. Sayang sekali versi seduh belum tersedia di apotek saat saya membelinya. Mungkin di Guardian ada, tapi belum cek ke sana. Sekali lagi Privé uri-cran ini memang sangat membantu saya. Pertama, membantu saya terbebas dari anyang-anyangan yang sangat mengusik keseharian. Kedua, ia memungkinkan saya untuk bekerja lebih prima sehingga kepercayaan diri saya pun kembali pulih.

Dengan Privé uri-cran, anyang-anyangan saya tuntas, peluang pun muncul tak terbatas. Bagaimana mungkin?

What I Fear the Most

Di awal saya sebutkan tentang penderitaan fisik dan nonfisik akibat penyakit ISK menahun ini. Sebetulnya ada perasaan takut mendalam yang melampaui itu semua. Tentang rezeki, memang saya khawatirkan, namun sejauh saya berusaha, pastilah selalu ada jalan dari Tuhan. Hal yang paling saya takutkan bukanlah berkurangnya kenikmatan akibat ISK ini. Bukan karena banyak pantangan makanan yang harus saya jaga. Bukan.

Yang paling saya takutkan akibat sakit adalah berkurangnya produktivitas untuk berbuat baik atau memberi manfaat kepada orang dari apa yang saya punya atau yang saya bisa.

Yes, I mean it! Saya sudah berpengalaman kekurangan, baik kurang makan bergizi saat kuliah maupun kurang harta benda karena diasuh dalam keluarga yang biasa saja. Itu bukanlah derita bagi saya. Penderitaan sesungguhnya adalah ketika kemampuan dan potensi saya tidak bisa menimbulkan manfaat bagi orang lain gara-gara fisik saya terganggu akibat anyang-anyangan atau ISK.

Saya perlu ceritakan sedikit tentang partisipasi saya dalam kegiatan sosial bertajuk Bernas atau Berbagi Nasi yang pernah saya tulis di sini. Kegiatan ini diadakan hampir setiap minggu di puluhan kota seluruh Indonesia. Belum genap setahun saya ikut kegiatan ini, namun sangat menyenangkan. Namun kesenangan itu bisa berkurang lantaran saat ngider berbagi nasi tiba-tiba pengin BAK sehingga merusak agenda semua orang yang ikut malam itu.

Ya, kini tak ada lagi anyang-anyangan. Mudik tempo hari lancar tanpa sering ke toilet setelah mengonsumsi Privé uri-cran. Bayangkan perjalanan 56 jam tanpa mendapati toilet di sekeliling. Kini hidup semakin normal dan semoga kian membaik sehingga banyak peluang terbuka di depan. Banyak pekerjaan bisa saya garap bila saya sepenuhnya sehat. Menerjemahkan buku, lagu, menjadi juru bahasa (interpreter) dan pekerjaan lain kini tak lagi terganggu. Liburan lebaran bersama keluarga pun jadi tenteram karena banyak waktu intensif tanpa ada interupsi.

Terima kasih Privé uri-cran, kini saya bebas, tak ada lagi sakit buang air kecil. Anyang-anyangan sudah tuntas dan banyak peluang menanti nyaris tanpa batas. Meski bekerja di rumah, saya bisa tetap produktif. Dan ke luar rumah pun tak ada ketakutan lagi. No more fear now, and I can be what I want to be. It’s this freedom I’ve always dreamt of having! Thanks, Privé uri-cran!

Freedom.png

 

 

 

 

Advertisements

23 thoughts on “Privé Uri-cran Bikin Anyang-anyangan Tuntas, Ciptakan Peluang Tanpa Batas

  1. Syukurlah ya kang, akhirnya ketemu obat yang meringankan bahkan bisa menghilangkan penyakit anyang-anyanga. Derita 16 tahun semoga segera tuntas, blas.
    Pengalaman saya, paling baik celdam bagian dalamnya distrika dengan panas yang cukup. Ini akan mematikan kuman yang mungkin masih terbawa. Kalau saya celdam saya setrika luar dalam. Kemudian toilet/kakus/jamban sekali seminggu saya siram dengan air panas mendidih untuk membunuh kuman, terutama bakteri E-Coli.

    Sepertinya saya perlu juga nih obat itu untuk jaga-jaga. Sudah dua hari semalam hujan gak berhenti di Ambon. Udara dingin sehingga bikin sering buang BAK.
    Mari hidup sehat.

    Like

    • Terima kasih atas tips-nya, Mas. Ini pun saya terapkan dan emang jadi makin mantap ya. Yang berbahaya juga adalah celana dalam yang masih basah atau belum kering betul tapi dipaksa dipakai. Ini mungkin karena jumlahnya terbatas atau lantaran musim penghujan jadi ga ada panas.

      Alhamdulillah banget Mas, semoga bisa terus dan bukan efek instan ya. Optimis sekarang karena sudah menjadi bagian perjalanan hidup hehe. Moga tuntas tas….

      Like

    • Alhamdulillah banget, Mbak Ophi. Berangsur membaik dan berbeda dari terapi-terapi sebelumnya. Frekuensi jadi berkurang sangat signifikan sehingga punya waktu lebih banyak untuk hal lain yang lebih ih produktif. Hampir sebulan ini sih terbilang ampuh, Mbak. Nanti saya update progress-nya. Semoga menggembirakan. Terima kasih. 😀

      Like

    • Ya sejauh ini pengaruhnya paling bagus dibanding terapi-terapi sebelumnya, Mbak. Paling tahan lama. Semoga bisa konsisten. Bila Mbak Tarry punya keluhan yang sama, bisa dicoba. Semoga cocok juga seperti saya. Kemarin saya ke apotek di Kabupaten pas mudik, eh belum ada. Belum nyampe kali. Mungkin Madiun sudah ada, kan lebih kota. Hehehe

      Like

  2. Wah anak bernas juga ya mas, hehehe toss dulu 🙂
    Saya ga bisa bayangin peristiwa selama itu mas, pasti berat sampai ada episodenya begitu. Mana lama banget lagi sakitnya ya Allah
    Untung skg udah ada banyak obat dan kemudahan dalam penyembuhan ya mas

    Like

    • Iya, Mbak Mei. Ikut bernas juga ya? Toss, hehe… Sejauh ini pengaruh prive Uri-cran menggembirakan, Mbak. Cukup lama dan ga kumat lagi. Semoga bisa terus ya jadi bisa tetap aktif ngider di bernas. Enggak menang juga gapapa sih Mbak di kontes ini karena saya niatkan berbagi dari pengalaman saya sejujurnya sejauh mengonsumsi obat ini.

      Like

  3. Terus terang ga nyangka kalau anyang anyangan ada obatnya. dulu kalau ada family yang anyang-anyangan, pasti obatnya disuruh minum banyak air sama si mbah 😀

    Like

  4. gimana sekarang keadaanya om…udah sembuh total belum, sya 3 bulan ini juga kena isk mirip spt yang smpean alami rasanya nyiksa banget…

    Like

    • Relatif lebih baik, alhamdulillah. Memang sembuh total rasanya agak sulit, tapi minimal tidak menyiksa dan menggangu aktivitas utama sehari-hari. Apa sudah cek laboratorium dan konsultasi dengan dokter? Berdasarkan pengalaman saya, pakai Uri-Cran ini cukup membantu. Sayangnya masih sulit didapatkan terutama di kota kecil. Mbak Mechta tinggal di mana?

      Like

  5. Salam mas. Saya sudah 7 tahun menderita sakit seperti mas. Sering datang dan pergi. Namun 6 bulan terakhir ini kambuh (akibat nahan kencing cukup lama) dan belum kunjung sembuh. Sudah banyak antibiotik yang saya minum dan juga herbal. Dari daun-daunan sampe akar-akaran sudah saya coba. Namun belum nemu titik terang kesembuhan. Yang saya rasakan adalah tidak nyaman di daerah perut bawah tepat (maaf) diatas kelamin. Apalagi dalam. Keadaan kurang minum, sakitnya smakin terasa tidak enak dan anyang2an. Alhasil jika sudah tidak enak bagian perut bawah, kencing pun susah dan harus ngejan. Apakah mans jg demikian?
    Setelah membaca dengat cermat dan khusyuk artikel mas ini, saya merasa ada harapan mas atas derita saya.

    Like

    • Salam, Mbak Nofa. Berarti sudah pernah cek di urolog ya. Menurut pengalaman saya pribadi, sembuh total memang kayaknya susah. Hanya saja gejala-gejalanya bisa diredam dengan beberapa terapi. Kalau saya kambuh, mirip seperti yang Anda rasakan sehingga sangat menggangu pekerjaan dan hampir tak bisa ngapa-ngapain. Nah bila desakan ingin pipis sangat kuat dan sangat tidak nyaman, saya ternyata cocok sama Uri-cran. Mungkin Mbak bisa coba. Selain itu, terapi yang cocok buat saya adalah tusuk jarum atau akupuntur. Mbak bisa cari info di sekitar tempat tinggal yang menawarkan jasa akupuntur. Saya sangat cocok. Tapi sekali lagi mungkin kondisi fisiologis mmasing-masing orangg berbeda sehingga penanganannya pun bisa berbeda.
      Adapun antibiotik, memang bisa meredakan sakit tapi hanya sesaat. Begitu obat habis, ternyata sakit dan rasa tak nyaman kembali lagi. Silakan dicoba sesuai pengalaman saya. Selain itu, banyak berdoa bisa jadi solusi. Semoga segera sembuh ya. Tetap semangat!

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s