Mau Kulakan Sepatu, Malah Kecopetan 4 Juta Rupiah

Saat tengah menunggu istri membeli oleh-oleh di gerai kue lapis, terdengar ucapan seorang lelaki asing di samping saya. “Ya gimana lagi, uangnya dah amblas dicopet pas di bus sebelum terminal Baranangsiang. Salah kita juga ketiduran di bus!” ujarnya penuh penyesalan entah kepada teman di sebelahnya atau kepada orang di ujung telepon.

Saya tak segera merespons, tetap asyik berbincang dengan Rumi Bumi, meski saya dengar percakapan mereka. Tiba-tiba lelaki berbadan subur itu berseloroh, “Enak ya Mas di Jakarta, ada kereta yang bagus begini!” Suaranya terdengar melok khas Jawa Tengahan. Kereta Rek Listrik atau KRL rupanya membuat dia terpesona.

Menyadari kalimat itu ditujukan kepada saya, kalimat balasan pun meluncur, “Iya, Pak. Betul, memang enak di sini. Murah lagi!” jawab saya singkat. Dia tampak berusaha menutupi perutnya yang menyembul, seolah melampaui kemeja batiknya.

“Bapak dari mana?” ini pertanyaan basa-basi sebab saya sudah bisa menduga dia dari Jawa Tengah.

“Pekalongan, Mas.” Masih bapak gembul yang jawab. Temannya yang lebih muda tetap diam sejak awal. Hanya terlihat perasaan bingung.

“Bapak mau ke mana memang? Baru pertama ke Bogor?”

“Ya, Mas. Baru pertama. Tadinya mau kulakan sepatu di Pasaranyar. Maksudnya buat nambah variasi produk selain batik di Pekalongan. Eh, uang 4 juta amblas dicopet orang. Memang keterlaluan tuh copet, kerjaannya emang gitu.” Wajahnya tampak sangat kesal. Entah kalimat apa lagi yang ia lontarkan. Yang jelas berbau kekesalan.

“Uang sebanyak itu dicopet, Pak? Bapak enggak punya temen di sini?” tanya saya lagi.

“Iya saya juga nyesel kok visa ketiduran. Ada teman di Depok.” Sebetulnya bisa dimaklumi kenapa bisa tertidur mengingat perjalanan malam yang lumayan melelahkan.

“Orang Bogor beneran baik-baik ya Mas. Tadi ada yang kasih uang 30 ribu,” ujarnya sambil menunjukkan dua tiket KRL.

“Terus rencana Bapak gimana?”

“Ya ini mau ke Depok dulu. Sampai Depok nanti uang jaminan kami ambil, buat makan. Semoga ketemu teman buat pinjem ongkos pulang. Kalo ga ketemu, ya terpaksa jalan ke Cakung.” Kali ini kata-katanya penuh ketidakberdayaan.

Sebagai informasi, naik KRL ke depok dikenakan biaya Rp2.000 per orang dengan jaminan Rp10.000. Total 12.000 rupiah di mana uang 10 ribu bisa diambil kembali saat menukarkan kartu tiket di stasiun tujuan.

Ketika istri saya datang, kereta kami juga tiba. Saya beritahu si bapak gembul kalau mau ke Depok Baru dia bisa ikut naik kereta yang baru saja datang.

Kami di gerbong yang sama. Dari tempat kami duduk, mereka berdua terlihat resah tanpa banyak berkata-kata. Perut gembulnya tampak menonjol di antara kerumunan penumpang lain.

Ini kedua kali saya ketemu orang asing yang kecopetan. Kira-kira tujuh tahun lalu, selepas shalat Isya di masjid PDAM, seorang bapak menghampiri saya. Dia bermaksud pergi ke pasar terdekat untuk menjual baju bekas. Sambil menyodorkan surat kehilangan dari polisi, sang bapak bercerita tentang dirinya yang habis kecopetan di bus sebelum tiba di Terminal Baranangsiang.

Bersama istri dan kedua anaknya, si bapak tadinya hendak mengunjungi sanaknya. Kemalangan mencegah mereka sementara mereka tak bisa mengontak kerabat tersebut. Sungguh kasihan karena kecopetan di jalan.

Teman-teman, bila bepergian jauh dan menumpang kendaraan umum, usahakan untuk menjaga properti seaman mungkin ya. Uang yang banyak bisa disimpan di kantong celana dalam. Ini tips-nya dari seorang teman. Dompet diisi uang secukupnya saja. Dokumen penting bisa disimpan di tempat lain yang bisa didekap saat kita tidur.

Bapak penjual batik yang kehilangan uang empat Juta itu mengaku berasal dari Wiradesa Pekalongan. Semoga mereka tiba di rumah dengan selamat sebab saya tak bisa mengongkosi penuh hingga ke Jawa. Semoga mereka tidak kapok kulakan sepatu atau tas ke Bogor demi memajukan usaha mereka.

Teman-teman pernah kecopetan? Jangan sampai kecolongan hati hehehe….

Advertisements

16 thoughts on “Mau Kulakan Sepatu, Malah Kecopetan 4 Juta Rupiah

  1. Alhamdulillah kalo saya sih blm pernah dan jgn sampe kecopetan Mas. Biasanya kalo pas bawa jaket dan pas bawa uang cash yg nominalnya lumayan, saya taruh di kantong jaket bagian dalam, di bagian dada. Resleting ditutup. Beres. Tapi kalau pas ga bawa jaket ya dikantongin aja biasa, di saku celana bagian depan. Lebih sip kalau pas pake jeans. Lebih rapet sakunya. Asal jgn nyimpen di tas atau saku belakang celana aja. Ga terasa kalau diambil orang. 🙂

    Like

    1. Betul, Mas Andik. Saku dalam jaket boleh juga tuh. Relatif aman. Tas juga kudu ati-ati kadang gampang disamber. Moga-moga aman terus ya Mas. Kalau duit banyak, dipinjemin ke saya aja, jangan di bawa-bawa jalan hehe… 😀

      Liked by 1 person

  2. saya pernah juga kecopetan, mas. uang sekitar 700 ribu amblas. saya lalai. waktu bis malam singgah di rumah makan, tas saya tinggal di kabin. sampai di rumah sampai jumpai amplop berisi uang sudah robek.

    Like

    1. Momentum ini memang biasanya langganan copet, Mas. Pas turun bus sebaiknya bawa benda yang berharga. Syukur syukur kalau bisa gantian turunnya kalau ada temen. Tapi ya selalu ada gantinya 😁

      Like

    1. Zaman kuliah 15 tahun lalu tentunya uang segitu lumayan, Mbak. Apalagi di Semarang yang lebih murah dibanding jabotabek. Ada juga ya kasus hipotesis mahasiswi. Timbang dosa, ambilnya cuma dikit hehe

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s