Apologia Akibat Serakah

Manusia punya dua ciri utama yang sering disinggung, dibahas, dan dielaborasi dalam beragam bentuk tulisan mulai dari puisi, novel, esai, hingga lagu, dan bahkan disampaikan lewat media visual seperti film dan iklan di televisi.

Apa dua hal itu? Potensi berbuat salah dan kecenderungan untuk bertindak serakah. Dua hal ini menjadi corak umum manusia. Secara umum keduanya tidak mungkin dihilangkan, tetapi tentu sanggup ditekan dengan berbagai cara dan pelatihan. Bukan domainĀ  saya untuk mengupas strategi semacam itu, paling tidak untuk saat ini.

Tak jarang kita dengar, manusia tempat salah dan lupa. Ini patut dimaklumi sebagai sebuah teori tetapi tidak bisa dijadikan justifikasi atas setiap kesalahan dan kelupaan yang berulang sepanjang waktu. Kama qola Wak Haji Rhoma, tapi kalau selalu salah, itu sih bukan lupa//tapi kalau selalu lupa, itu mah disengaja.

Sepenggal lirik itu mengingatkan bahwa bertindak salah/lupa itu bisa dimaklumi, tapi tidak untuk kesalahan yang terus-menerus terjadi. Orang bijak akan menimbang setiap rencana tindakan dengan melihat kesalahan yang pernah dilakukan. Mereka melihat ke belakang untuk belajar, agar kesalahan tidak terulang.

Godaan lain bagi manusia adalah sifat serakah atau loba. Seandainya manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, ia tentu ingin lagi yang kedua. Jika ia diberi yang kedua, ia ingin lagi yang ketiga. Begitu sindir Nabi Muhammad tentang karakter kita. Cak Nun bersama Kiai Kanjeng mencoba menegaskan pengertian ini dalam sebuah komposisi lagu:

Ketika belum, kepingin sudah
Ketika sudah, kepingin tambah
Sesudah ditambahi, kepingin lagi
Kepingin lagi, lagi, dan lagi….

Lazimnya orang yang bersalah, ia mesti meminta maaf. Dan itu pula yang terjadi pada saya belum lama ini. Kendati sudah mengajukan permohonan maaf atas kesalahan, jiwa rasanya masih dirundung ketidaknyamanan.
image

Semua bermula dari keserakahan. Sebelum Ramadhan saya mengerjakan editing disertasi. Karena ditulis dalam bahasa Inggris, maka proses editing berjalan lambat. Sebenarnya bisa dipercepat, namun deadline pekerjaan lain turut memperlambat ritme kerja.

Memasuki fase mudik, tinggal dua bab terakhir yang harus dibereskan. Saat kembali ke Bogor, tersisa satu bab untuk dibaca. Saat itulah masuk tawaran editing dari penerbit langganan. Karena temanya sesuai minat saya, plus skedul bisa dikompromi, proyek itu pun saya ambil–juga atas desakan penerbit.

Mengerjakan naskah secara paralel nyatanya tidak mudah. Saya terus kebut draft disertasi, sementara naskah kedua baru dibaca sekilas. Begitu disertasi rampung dan bersiap menyunting naskah kedua, musibah datang tak terduga.

Bumi mendadak demam dan pucat sehingga akhirnya diopname. Tadinya terpikir untuk menuntaskan editing di ruang rawat inap dengan membawa laptop. Ternyata Bumi harus dirawat intensif di ruang High Care Unit yang tidak boleh dijaga sembarang orang. Jangankan bawa barang, orangtuanya pun harus bergilir masuk.

Bunyi mesin ECG, plus pemandangan selang oksigen, dan alat lain praktis membuat saya kehilangan mood bekerja. Hanya cemas dan khawatir yang mendera. Saya langsung menelepon penerbit pemberi order tentang kondisi naskah. Naskah akhirnya saya kembalikan dengan penuh penyesalan dan kekecewaan.

Meski permintaan maaf sudah diterima, saya masih merasa berdosa. Sebab tak bisa menjalankan amanah sementara deadline sudah di depan mata. Inilah akhirnya, saya sampaikan apologia kepadanya. Semua diakibatkan sikap serakah saya yang ingin meraup rezeki pada saat yang sama.

Dari pengalaman ini saya berkaca, keserakahan hanya akan menyulitkan. Maafkan, maafkan….

Advertisements

7 thoughts on “Apologia Akibat Serakah

    1. Alhamdulillah sudah boleh pulang, Kak Ros. Tapi masih tes ini dan itu sambil kontrol ke dokter hingga sebulan ke depan. Secara umum kondisinya baik, hanya belum ketahuan aja penyebab sakitnya kemarin.
      Pemberi order bisa memaklumi meskipun terdengar terpaksa. Semoga ada gantinya. Mohon bantuan doa ya Kak.

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s