Awalnya Bingung Akhirnya Untung

Bingung, confused, itulah tema yang dilempar Mas Ben Huberman dua hari lalu. Itu pula perasaan yang membuat hidup saya galau beberapa bulan belakangan. Ini tulisan ringan, jadi bacanya santai saja. Hehehe….

Semua berawal dari keripik singkong bawaan dari kampung. Setelah menyantap beberapa potong, clep! Ada yang terusik di dalam mulut. Siapa lagi kalau bukan gigi. Keripik ini 100% homemade, jadi harap maklum bila ada keping-keping yang kadang alot hingga gigi pun harus bekerja ekstra.

Seketika itu satu gigi atas di atas taring berkeletak. Tergerak akibat sebuah gesekan. Saya rasakan gigi itu mulai goyang. Walhasil, makan pun jadi tak tenang. Semua orang tahu bahwa kita tak bisa cuma mengandalkan deretan gigi kiri atau kanan saja untuk mengunyah makanan. Sesekali perlu berganti agar tidak monoton. Dalam kasus-kasus tertentu,  kadang makanan pindah begitu saja secara spontan ke deretan gigi yang lain.

Insiden keripik ini membuat saya harus ekstra hati-hati saat mengunyah. Ada rasa tidak nyaman saat makan sehingga mau tak mau saya jadi terpikir untuk mencabutnya. Ahh, baru membayangkan saja sudah ngilu gigi ini. Terakhir cabut gigi sepertinya saat SD yakni di puskesmas bersama mendiang ayah.

Istri sudah meyakinkan bahwa pencabutan gigi oleh dokter ahli tidak akan sakit. Jujur saya pun mengamini pendapatnya, namun entah mengapa masih enggan ke dokter gigi, baik di puskesmas dekat rumah maupun di Dokter Jenny di seberang Kebun Raya Bogor. Saya terus menunda sambil ‘menikmati’ gigi yang bergoyang.

Kalau cabut di puskesmas, khawatir kurang bagus. Tapi kalau cabut di klinik tempat istri cabut gigi,  biayanya lumayan. Alamak, dasar bapak pelit, hehe 😁. Lambat-laun gigi yang bergoyang seolah tak terasa bermasalah lagi. Makan aman dan relatif nyaman.

Saat mudik lebaran Juli lalu saya sebenarnya sudah bertekad untuk ketemu Dr. Jenny begitu saya balik ke Bogor. Namun sesampai di Bogor, niat itu hilang lagi karena banyak alasan. Salah satunya ya karena bingung antara puskesmas yang murah dan Dr. Jenny yang mahal.

Kebingungan berakhir pada Selasa dini hari lalu. Ketika bersahur dengan sepotong malkist cokelat, tiba-tiba kletuk! Gigi itu tanggal dengan sendirinya. Darah segar menetes sebentar lalu terhenti. Normal seperti sedia kala. Ah, leganya.

Awalnya bingung jadi beruntung, hehe. Enggak perlu ke dokter, cukup dengan malkist. Alhamdulillah….

Advertisements

4 thoughts on “Awalnya Bingung Akhirnya Untung

  1. Tau gak Mas kalau gigi goyah itu bisa di kencangkan di dokter gigi, waktu itu aku k dokter gigi spesialis, dan Beliau bilang bisa. Emang dokter spesialis itu mahal, tapi hasilnya itu josss banget

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s