Orang yang Kukagumi

MENGAGUMI SESUATU ATAU seseorang sangatlah manusiawi. Saya pun menyimpan kekaguman pada banyak hal di alam semesta. Pendar matahari saat terbit atau tenggelam dengan corak yang khas seolah tak pernah bosan menyihir kita. Embun yang membasahi rumput, berbagai jenis satwa dan fauna unik, hingga konstelasi bintang di angkasa selalu memesona dan membuat saya takjub.

Namun saya hendak membahas kekaguman pada orang, bukan pada benda. Setiap hari saya bergaul dengan orang lain, baik di dunia nyata maupun maya. Dalam beragam konteks: teman, tetangga, mitra usaha, pelanggan, keluarga, dan sebagainya. Ada bermacam orang namun bisa saya simpulkan segelintir yang membuat saya kagum, salut, dan takjub.

Pertama, orang yang gemar berbagi meskipun tidak berlebih. Sungguh senang saya mengenal orang-orang seperti ini. Kehadiran dan aktivitas mereka mendorong saya untuk berkaca diri dan bersyukur. Energi mereka luar biasa positif, membuat saya sejenak melupakan beban hidup. Masalah hanya masalah, itu hal yang lumrah. Bisakah kita tetap peduli walau kita sendiri masih butuh?

Dalam sebuah ayat Al-Quran (maaf lupa surahnya) pernah disebutkan tentang keistimewaan orang-orang semacam ini. Bahkan dalam kondisi memprihatinkan pun, mereka tak enggan membagi yang mereka miliki, entah uang, barang, tenaga, dan sebagainya.

Saya melihat sosok-sosok gesit dalam komunitas bernama Bernas atau Berbagi Nasi. Mereka masih muda, bekerja dengan tangan sendiri, sibuk seperti orang bekerja lainnya, namun tak lupa menyisihkan dana atau tenaga, juga pikiran untuk menyalakan api semangat dan kegembiraan bagi orang lain.

Saya tahu tak ada dari mereka yang bergelimang harta. Rata-rata dari keluarga biasa tetapi membuat perbedaan dengan melakukan hal tidak biasa. Tentu saja komunitas positif seperti ini banyak jumlahnya di antero Nusantara. Oleh karena itu, salut saya pada mereka. Kagum dan bangga semata-mata. Namun mereka tak butuh temukan melainkan urun tangan dari kita semua untuk kemajuan negeri. Hats off for you, guys!

Kedua, saya menaruh hormat pada mereka yang jujur. Jujur dalam menjalani hidup sesuai dengan nilai dan idealisme kebaikan yang mereka yakini. Seperti bunyi salah satu butir dalam Dasa Dharma Pramuka:

Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.

IMG_20170126_100809_HDR

Kaya atau miskin, rupawan atau tidak, jelita atau sebaliknya, menjabat atau tidak, disorot atau tidak, terkenal atau tidak, mereka menjaga diri untuk berkomitmen dalam kejujuran. Tak perlu saya jelaskan panjang lebar tentang bagaimana pentingnya kejujuran.

Ketiga, orang-orang yang rendah hati. Berkata secukupnya sesuai yang diperlukan, bertindak semampunya tanpa dibikin-bikin. Bukan untuk memetik kekaguman orang, tetapi tetap rendah hati agar nuraninya terus berfungsi. Bukan seolah-olah merendahkan hati padahal bertujuan agar dipuji.

Keempat , orang yang berani mengakui kesalahan dengan sikap ksatria. Tidak takut dicerca karena mengaku salah. Tidak khawatir dianggap rendah karena bersalah lalu meminta maaf. Tidak berusaha mengelak dan melemparkan kesalahan tanggung jawab pada kambing hitam. Sulit betul menemukan orang-orang seperti ini sekarang.

Kelima, orang yang berani menyatakan ketidaktahuan. Sudah jadi fenomena umum kini orang-orang di era digital saling mengungguli satu sama lain, bahkan saling menyerang dalam hal-hal yang mereka tidak paham benar. Mereka enggan membaca berita secara komprehensif. Malu berkata tak tahu lantaran takut dianggap bodoh.

Padahal pernyataan tidak tahu karena memang tidak punya ilmunya bisa menyelamatkan orang lain dari kesesatan, baik informasi umum, lebih-lebih persoalan agama. Tidak ada salahnya mengaku tidak tahu karena kapasitas kita memang terbatas. Tak perlu berpura-pura menjadi jadi ahli bila kita tidak mumpuni.

Di zaman serba cepat, kita bisa bertanya apa saja kepada Google. Tapi sekali lagi itu tidak lantas mengubah kita menjadi seorang pakar meskipun tampak mengesankan sebagai orang pintar.

Akhirnya, jangan sampai salah menjatuhkan pilihan tentang siapa yang kagumi. Sebab sosok yang kita unggulkan sedikit banyak akan memengaruhi pola pikir dan pola perilaku kita selanjutnya untuk bisa disesuaikan atau mendekati orang yang kita kagumi itu.

Advertisements

7 thoughts on “Orang yang Kukagumi

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s