Membangun Pariwisata Berbasis Partisipasi Massa

membangun

UDARA SEJUK Bogor segera menyergap begitu saya melangkah ke luar dari kereta KRL. Para penumpang bergegas turun dan menyerbu pintu gate-out. Matahari sedang tidak terik, redup selepas hujan ringan siang itu. Meski cuaca bersahabat, nyatanya lelaki tua itu malah tampak berkeringat. Wajahnya tegang dan sedikit gugup. Saya taksir usianya 50-an tahun, tubuh agak berbobot dengan rambut pirang. Celana pendek, kulit merah, tinggi badan dan warna rambutnya membuat saya menyimpulkan dia berasal dari Eropa, atau Amerika.

Saat penumpang lain bergerak menuju mesin deposit atau loket tiket untuk menarik uang jaminan, turis asing ini harus tertahan beberapa waktu lantaran tak diperbolehkan melewati pintu gate-out oleh petugas. Secara impulsif saya mendekati petugas dan menanyakan masalah yang berlangsung. Kendala bahasa rupanya menghalangi interaksi mereka. Setelah menjembatani komunikasi dengan si turis, ternyata bapak tua ini kebablasan. Tiket yang ia beli harusnya mentok di Stasiun Juanda, tapi entah bagaimana terbawa hingga ke Bogor tanpa tiket baru.

Sebagai konsekuensi atas ‘kesalahan’’ itu, uang jaminan sebesar 10 ribu rupiah tak bisa ia tarik namun ia diperbolehkan meninggalkan stasiun. Sesaat setelah keluar dari gate-out, dia terlihat bingung sehingga saya mendekat dengan niatan membantu. “Are you traveling alone, Sir?” tanya saya spontan. “Yes,” jawabnya singkat dengan pandangan ke mana-mana. Boleh jadi pertanyaan itu malah membuatnya takut alih-alih merasa terbantu. Selidik punya selidik, pria ini ternyata ingin mengunjungi Kebun Raya Bogor (KRB). Setelah saya jelaskan opsi transportasi menuju KRB, bapak ini lantas memilih berjalan kaki karena dirasa tak terlalu jauh. Sepintas terbit hasrat untuk mengantarnya sampai tujuan. Namun karena saya dan keluarga punya agenda mendesak lain, maka saya relakan turis itu menghilang di kerumunan penumpang.

Kejadian ini saya rasa penting untuk diceritakan dengan satu alasan utama. Turis tersebut tengah berkunjung ke kota tempat saya tinggal tetapi tampak resah, bukan gembira selayaknya orang yang melancong. Label asing ternyata membuatnya betul-betul merasa terasing di kota yang sejuk ini. Ibarat tuan rumah, rasanya tidak enak hati membiarkan tamu saya tersesat tanpa petunjuk. Saya tak menyalahkan para petugas kereta api yang tak cakap berbahasa asing karena mereka memang tidak dilatih untuk menjadi among tamu wisatawan. Sebaliknya, saya menyayangkan ketiadaan pihak terkait yang dapat menyajikan informasi akurat tentang pariwisata di Kota Hujan ini tepat setelah para turis turun dari kereta api—seperti bapak tua yang linglung pada kisah ini.

1. Berdayakan Ajang Pemilihan Putra-Putri Daerah

Insiden kecil ini membuat saya merenungkan beberapa isu penting dan riil dalam dunia pariwisata yang tak bisa dipandang sebelah mata potensinya—apalagi Bogor yang kaya dengan wisata warisan budaya (heritage), wisata alam, hingga wisata sains. Ketika turis asing itu bingung tertahan di pintu keluar stasiun, yang segera muncul dalam pikiran adalah wajah-wajah manis para mojang-jajaka (MoKa) Bogor. Saya membayangkan mereka yang masih muda dan terpelajar tengah duduk di sudut stasiun dengan meja kecil dan siap membantu wisatawan yang datang—baik domestik dan lebih-lebih turis asing.

Tak jauh dari Stasiun memang terdapat pusat informasi wisata atau tourism centre kota Bogor. Namun berapa banyak wisatawan asing—bahkan penduduk lokal—yang mengetahui keberadaanya? Nah, kehadiran jebolan MoKa di konter stasiun bisa dimanfaatkan untuk menjembatani informasi kalau-kalau wisatawan butuh keterangan lebih mendalam sehingga perlu dirujuk ke tourism centre tersebut. Meski jaraknya relatif dekat, namun tanpa kecakapan bahasa yang memadai, petugas stasiun bisa saja kesulitan menjelaskan seperti saat menghadapi turis yang saya ceritakan di awal.

moka-wawancara

Saya percaya daya pikir, stamina, vitalitas, dan keterampilan bahasa jebolan ajang pemilihan putra-putri itu sangat bisa diandalkan sebagai ujung tombak pariwisata, dalam hal ini sebagai penyambut tamu di lapangan. Untuk menenangkan, memberi informasi awal, syukur-syukur yang lengkap agar para pelancong semakin bersemangat dan betah berkunjung. Hampir setiap daerah (kabupaten, kota, hingga propinsi) memiliki ajang pemilihan seperti itu. Nah, mereka bisa digembleng dan disiapkan hingga mumpuni soal wisata daerah—termasuk ekspresi-ekspresi standar saat menghadapi wisatawan mancanegara. Boleh jadi, saat saya menanyakan apakah turis tadi bepergian sendirian, ia justru merasa takut sebab saya akan berbuat buruk padanya. Padahal saya mengajukan pertanyaan demikian dengan tujuan simpatik dan ingin membantu seandainya dia mau.

Dalam sebuah acara literasi akhir Oktober silam saya berhasil mewawancarai runner-up MoKa Bogor 2016 yang belum lama terpilih. Secara umum mereka merespons positif usulan saya tentang tugas tambahan di titik-titik strategis outdoor atau di luar ruangan. Selama ini, MoKa cenderung ditugaskan untuk menjadi among tamu di acara-acara formal dalam gedung, baik bertemu turis asing maupun promosi wisata ke daerah lain. Entahlah dengan para alumni ajang pemilihan di daerah lain.

Ada puluhan finalis yang bisa diberdayakan untuk menyebarkan potensi wisata di lokasi-lokasi yang biasa menjadi pintu masuk wisatawan luar daerah. Pemerintah atau dinas terkait bisa menyiapkan paket tugas dengan kompensasi yang terjangkau. Dengan cara demikian, promosi wisata bisa tetap terjaga sedangkan kepercayaan diri dan keterampilan public speaking para finalis atau pemenang itu akan meningkat seiring dengan praktik lapangan. Peran mereka tidak sebatas acara formal belaka atau proses seleksi selama karantina, tetapi bisa terlibat lebih lama dan nyata. Jadwal bisa disusun menurut ketersediaan para finalis, dan bahkan bisa melibatkan senior atau angkatan sebelumnya. Win-win solution kan?

2. Optimalkan Vlog (Video Blog) Wisata

Kita hidup di era teknologi di mana semuanya serbadigital dan saling terkoneksi. Setiap orang hampir tak bisa lepas dari gawai, baik ponsel pintar maupun tablet. Dunia hadir dalam genggaman—bukan lagi impian. Kenyataan ini direspons positif oleh para finalis MoKa 2016, didukung paguyuban yang menaungi mereka, dengan cara membuat Youtube channel yang akan menampilkan video-video pariwisata kota Bogor. Vlog ini nantinya akan menjadi sarana promosi online yang bisa diakses oleh siapa pun—terutama calon turis. Di kanal Youtube belum banyak video tentang wisata Bogor, dan kalau pun ada, tayangan tidak diproduksi secara profesional seperti contoh berikut.

Obrolan singkat bersama Galih dan Ulfa jelas menegaskan bahwa mereka selalu siap bergerak untuk membantu tersebarnya potensi wisata lokal, baik yang sudah dikenal seperti Puncak maupun objek yang belum akrab seperti Klenteng Pan Kho Bio yang cukup tua sejarahnya. Dengan dukungan sumber daya yang cukup dari pemerintah daerah, video-video garapan mereka akan mampu menarik minat pelancong serta mendongkrak pendapatan daerah dari segi pariwisata.

3. Sosialisasi Berkala

Diakui atau tidak, problem pariwisata di kebanyakan daerah adalah kurang familiarnya publik terhadap objek-objek wisata yang ada. Warga setempat tidak jarang kurang punya pengetahuan memadai, baik tentang ragam objek wisata maupun kedalaman informasi objek tersebut. Kalaupun tahu, sering tidak komprehensif. Inilah pentingnya diadakan sosialisasi secara rutin sesuai kemampuan dinas terkait. Sebisa mungkin massa mendapatkan suntikan informasi mengenai berbagai objek wisata daerah, baik yang sudah populer maupun yang baru diadakan. Massa di sini mencakup semua elemen warga, mulai dari anak sekolah, pegawai pemerintah, karyawan, hingga entitas khusus seperti MoKa.

reportaseharga
Taman Bunga Nusantara (gambar dari reportaseharga.com)

Pembaruan informasi mengenai profil wisata daerah secara menyeluruh akan memberikan manfaat besar bagi dinas karena terbantu dari segi promosi. Masing-masing warga bisa menjadi agen pariwisata daerah sesuai peran yang mereka ambil dalam masyarakat. Jika merujuk poin kedua, para MoKa akan terfasilitasi sebab punya sumber tepercaya sebagai bahan membuat vlog.

Bentuk sosialisasi bisa bermacam-macam, menyesuaikan kondisi lapangan. Bisa lewat pesan singkat (sms), selebaran, mobil berjalan, pamflet yang ditempel di majalah dinding kampung atau lembaga-lembaga keagamaan, hingga acara-acara yang menjadi ajang perkumpulan warga seperti ulang tahun kota/kabupaten dan sebagainya. Di depan kantor Disbudpar Ekraf Bogor sendiri terpampang kalender berisi rangkaian kegiatan atau event sepanjang tahun. Namun berapa banyakkah orang yang sengaja singgah di sana untuk menelisiknya?

kalender

Dari penuturan istri yang pernah berlibur ke Thailand, di sana para juru foto maupun penyedia jasa lepas lain pun bisa memberikan informasi tepercaya tentang objek wisata yang dikunjungi turis asing. Inilah titik kuat sosialisasi karena menjadi akar penyebaran profil-profil wisata oleh warga yang tergerak oleh kesadaran berkontribusi kepada daerah.

4. Kerja Sama dengan Bloger

Memanfaatkan media sosial dan blog saat ini sebagai media promosi bukan lagi hal asing, justru lumrah—mengikuti kecepatan teknologi informasi yang sangat pesat. Bisa dimaklumi, orang kerap lebih merasa nyaman mencari info melalui Google dan membaca blog ketimbang membaca press release dari dinas yang kadang kaku. Paparan di blog yang bersifat personal, dengan bahasa mengalir, unik dan apa adanya sering menjadi daya tarik tersendiri sehingga kini banyak brand mempercayakan kampanye produk mereka kepada para bloger. Selain biayanya relatif rendah, jangkauannya lumayan masif dan tahan lama.

q2

Belum lama ini, komunitas bloger bernama Indonesia Corners mengajak sejumlah travel blogger dari Jabodetabek, Bandung, Lampung, dan seluruh Indonesia untuk mengeksplorasi Jakarta melalui sebuah event keren bertajuk Jakarta Night Journey. Kegiatan ini memungkinkan para bloger itu untuk mengunjungi beberapa kawasan seperti Balai Kota Jakarta, Jakarta Smart City, Kawasan Kota Tua, dan tentu saja Tugu Monas (Monumen Nasional). Dengan mengusung tagar #EnjoyJakNight, perhelatan ini cukup heboh menjadi hype di dunia maya. Ini salah satu contoh memberdayakan bloger untuk mendongkrak potensi pariwisata.

1.jpg

Masih tentang bloger dan pariwisata, saya teringat seorang teman yang turut diundang ke Kuala Lumpur untuk meramaikan hajatan bertajuk Eat, Travel, Doodle pada pertengahan tahun ini. Menyadari pengaruh bloger di era informasi, Kementrian Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia melalui Tourism Malaysia memutuskan mengundang 35 media, bloger dan doodler dari kawasan ASEAN dan Inggris. Menurut penuturan wakil dari Tourism Malaysia, belakangan ini doodling telah menjadi salah satu bentuk ekspresi yang dianggap cukup efektif untuk ikut mempromosikan wisata.

Memberdayakan bloger tidak hanya melalui undangan dalam event-event tertentu, tetapi bisa pula lewat kontes atau tulisan pesanan yang semuanya diarahkan untuk memperbanyak atau mempertajam konten wisata di dunia maya. Bila kerja sama bisa sinergis, maka bukan cuma bloger yang berpromosi, tetapi juga para warga maya (netizen) yang bisa mengakses beragam informasi tepercaya itu sehingga mereka pun menjadi corong wisata di dunia nyata.

5. Kemitraan dengan Hotel/Penginapan

Membangun pariwisata tentu bukan tugas dinas atau departemen terkait saja. Secara teknis mungkin pihak pemerintah yang menggerakkan, namun secara praktis, semua orang punya kewajiban untuk mempromosikan pariwisata di daerahnya. Setelah warga well-informed tentang objek wisata setempat, yang tak boleh dilupakan adalah memanfaatkan tempat menginap seperti hotel sebagai ujung tombak wisata. Saya pribadi tidak terlalu sering menginap di hotel atau penginapan. Namun dari pengalaman menginap di hotel, belum pernah ada tawaran tentang potensi wisata yang bisa kami kunjungi di kota tempat bermalam. Entahlah dengan turis asing.

091610_salak1
Hotel Salak, salah satu hotel tertua, termasuk warisan budaya (gambar dari detik.com)

Saya membayangkan bila setiap hotel atau penginapan dilengkapi dengan himpunan informasi profil wisata yang lengkap suatu kota, lalu ditampilkan sedemikian rupa sehingga menarik minat tamu yang menginap, maka potensi itu bisa diubah menjadi keuntungan. Tamu yang sebelumnya hanya menginap untuk pertemuan bisnis bisa berubah pikiran untuk berwisata dan menambah jadwal menginap. Di beberapa layanan reservasi hotel online memang saya jumpai informasi tambahan mengenai tempat-tempat wisata yang tak jauh dari hotel, namun informasi yang sama rasanya belum banyak ditawarkan di hotel-hotel saat booking langsung di tempat. Kembali lagi, ini berkaitan erat dengan poin kedua tentang sosialisasi atau dukungan dari dinas terkait.

6. Transportasi Massal

Pariwisata identik dengan kegembiraan dan kenyamanan. Pengalaman positif seperti itu tidak akan bisa dirasakan bila jalanan menuju tempat wisata selalu macet, cenderung kotor, dan semrawut. Diskusi ringan bersama Galih dan Ulfa membuncahkan satu kabar gembira. Salah satu solusi untuk meningkatkan tingkat kunjungan adalah penyediaan moda transportasi massal yang nyaman. Menurut berita, akan dibangun kereta tram di tengah kota–namun masih belum jelas rutenya.

bus
Mudah, murah (gambar dari mediaindonesia.com)

Sejauh ini, keberadaan bus Trans-Pakuan sudah sangat membantu warga untuk menuju titik-titik strategis meskipun tidak langsung ke objek wisata. Dari pool Trans-Pakuan pelancong bisa memanfaatkan jasa ojek maupun angkot jarak pendek. Atau dalam kasus tertentu bisa memanfaatkan andong atau jalan kaki setelah itu. Jika tram benar dihadirkan, patut diduga kemacetan bisa ditekan dan jalanan bisa sedikit lega–tentu jika warga berbesar hati meminimalkan penggunaan kendaraan pribadi.

Saya pribadi berharap jumlah angkot bisa dikurangi dan sebaliknya armada bus Trans-Pakuan ditambah dengan rute-rute lain melebihi sekarang. Selain harganya terjangkau, bus Trans-Pakuan juga cukup nyaman sehingga penambahan armada berpotensi menarik minat pengguna moda lain dengan catatan tambahan rute diberlakukan. Adapun andong yang berkeliling di seputar Kebun Raya dan Istana Bogor harus tetap dipertahankan mengingat daya tariknya bagi turis asing seperti pengalaman saya menemani teman dari Kuala Lumpur Agustus tahun lalu.

7. Pengelolaan dan Perawatan

Dua isu yang sangat penting dan relevan dalam bidang wisata adalah pengelolaan dan perawatan. Pengelolaan berarti pengemasan objek wisata agar tampil memikat sedangkan perawatan merujuk pada upaya-upaya untuk menjaga kelestarian objek agar awet dan bisa memberikan manfaat dalam jangka waktu yang lebih lama. Bila mau jujur, potensi wisata di Indonesia sangatlah melimpah. Sangat kaya, baik dari segi ragam maupun filosofi budaya.

Namun itulah masalahnya. Kadang karena sudah begitu banyak dan sudah menarik, maka kemasan menjadi diabaikan. Di Singapura, kebanyakan objek wisata merupakan taman buatan atau artifisial. Berbeda dengan Nusantara kita yang diberkahi dengan potensi alam yang luar biasa. Pemandangan gunung memesona, garis pantai yang indah, hingga entitas suku dengan budaya yang unik dan eksotis.

sindangbarang-4
Kampung Budaya Sindangbarang (gambar dari sputnikers.blogspot.co.id)

Khusus untuk Bogor, Kampung Budaya Sunda di Sindangbarang rasanya belum optimal digalakkan. Saya yang bukan asli Sunda pun sangat tertarik pada objek wisata ini. Saya seketika teringat pada cerita perjalanan seorang kawan bloger ke Jeonju Hanok Village di Korea Selatan. Saya memuji pemerintah setempat tentang bagaimana usaha melestarikan khazanah budaya sehingga mampu menarik minat wisatawan mancanegara. Di Kampung Jeonju ini misalnya, terdapat 130 rumah tradisional berusia 300-500 tahun yang masih asri dinikmati–bahkan diselingi pohon jeruk yang masih berbuah.

Saat masuk ke desa tersebut, turis lantas menyewa Hanbok atau baju tradisional dengan biaya 100-250 ribu bergantung pada jenis pakaian. Lumayanlah untuk sewa baju saja. Saya kemudian membayangkan bila turis asing memasuki Kampung Budaya di Bogor dengan mengenakan baju pangsi berwana hitam-hitam itu. Bisa menyewa, bisa pula membeli–rasanya harganya tetap terjangkau bagi mereka. Mereka bisa menginap dan mendalami budaya setempat melalui karya seni ataupun permainan tradisional. Ini bisa mendatangkan manfaat berlipat-lipat, baik bagi warga sekitar maupun pendapatan daerah.

Selain itu, harus ada upaya serius dan terencana untuk mendukung objek wisata mandiri yang sering tidak terkelola dengan baik. Danau Situ Gede, misalnya. Danau yang bersebelahan dengan Hutan Penelitian Dramaga ini memang menjadi favorit warga sekitar, bahkan luar kota. Biaya masuknya sangat murah–hanya membayar uang parkir saja. Namun disayangkan, karena dikelola mandiri oleh penduduk setempat, tempat wisata kurang terawat dan tidak ada kemajuan dari tahun ke tahun. Jalanan menuju danau rusak/becek tak terawat. Harapan saya, ada campur tangan dinas untuk merawat objek wisata murah meriah seperti ini.

8. Solusi Sampah

sampah-situ-gede
Kondisi sampah yang menyebabkan pendangkalan di Danau itu Gede

Salah satu topik bahasan saya bersama Galih dan Ulfa adalah sorotan terhadap persoalan sampah di kota kami. Sampah ini menjadi problem yang terus-menerus ada tetapi kerap diabaikan. Semua orang terlibat, semua warga harus turun tangan yakni melalui kesadaran buang sampah pada tempatnya. Dorongan untuk menjaga kebersihan akan berpotensi menciptakan kenyamanan bagi para wisatawan.

Penyediaan tempat sampah yang lucu bisa menjadi solusi kreatif, seperti yang pernah saya lihat di Polres Kabupaten Bogor berikut ini. Tentu disertai denda yang tegas bila ada yang buang sampah seenaknya. Publik bisa ikut terlibat dengan melaporkan tindak pembuangan sampah sembarangan, terutama mobil yang melempar sampah ke jalan. Potret nomornya, lalu laporkan. Nah, warga pelapor bisa mendapat imbalan sesuai aturan. Bisa jadi demikian. Sebab selama ini jarang ada penindakan soal pembuangan sampah yang sembarangan.

botol-sampah

Bila semua warga punya pengetahuan memadai tentang potensi dan objek wisata daerahnya, entah dia bloger, netizen, ibu rumah tangga, pelajar, dan sebagainya, maka mereka akan menjadi agen–menjadi corong untuk memaksimalkan pencapaian pendapatan daerah. Mereka terlibat dan bangga berkontribusi kepada masyarakat dari segi wisata. Mereka merasa memiliki sehingga turut merawat. Mereka merasa digdaya karena ikut diberdayakan. Dengan berbasis massa sebagai ujung tombak, tugas dinas menjadi ringan. Potensi pendapatan bisa cemerlang. Semoga.

Advertisements

4 thoughts on “Membangun Pariwisata Berbasis Partisipasi Massa

  1. Hola, mas!
    Kasian yaa turisnya 😦
    Mau liburan malah jadi bingung sendiri 😦
    Dc dulu sempat tinggal di Bogor selama 4 tahun dan IMHO, sistem transportasi publik (terutama angkot) memang harus dibenerin deh di sana. Ngejimet bgt..
    Dan setuju sama poin membangun pariwisata berbasis massa. Sebenarnya semua orang bisa diberdayakan untuk mencapai tujuan yang sama. Bareng-bareng jadi lebih ringan dan hasilnya maksimal ya mas?
    Yuk sama-sama berkontribusi membangun dengan peran kita masing-masing.
    Sukses ya, mas! 🙂

    Liked by 2 people

    • Betul, Mbak. Soal transportasi di Bogor memang masih PR buat kami. Harus berjuang menghapus julukan ‘Kota Sejuta Angkot’ nih soalnya emang terlalu banyak, jadi sering kosong tanpa penumpang. Jumlah tidak sebanding.

      Iya, Mbak. Kalau masing-masing warga dibekali informasi memadai, dampaknya bisa positif. Kuncinya sih sinergi, tapi kudu berkelanjutan. Terima kasih dah mampir, Mbak.

      Like

    • Sudah saatnya warga juga merasa punya hak, bukan lagi kewajiban, untuk mempromosikan potensi wisata daerahnya. Sumber data pemerintah tentu terbatas, jadi kita bisa mengisi kesenjangan di lapangan kapan saja semampu kira.

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s