Wangi Kenangan dalam Secangkir Ratu Luwak

BANYAK CARA UNTUK meraih kebahagiaan. Sebanyak cara untuk terjebak pada kesedihan. Namun opsi pertama tentu lebih kita sasar kan? Karena ternyata menjadi bahagia itu sangat mudah. Kalau ukuran bahagia adalah berlimpahnya materi atau paket liburan yang supermewah di mancanegara, tentulah kebahagiaan menjadi musykil–paling tidak hanya bisa diakses oleh segelintir orang saja.

Bagi kami sekeluarga, terutama saya, menyeduh kopi di pagi hari lalu meminumnya seteguk demi seteguk menerbitkan kebahagiaan yang luar biasa. Secara fisik mungkin terlihat sepele: satu cangkir atau satu mok kopi panas yang berkepul di atas meja! Namun bagi pencinta kopi, seperti kami, kepulan asap dan aroma kopi menyimpan energi sekaligus kenangan. Sebab kami mengenal kopi kali pertama saat masih tinggal di Bogor.

Harum kenangan

Sudah tiga tahun kami menggandrungi kopi. Pagi, siang, atau kadang malam, kopi kami seduh untuk dinikmati bersama. Tentu saja kopi yang sedap menurut kami adalah kopi tubruk. Pernah mencoba sebuah merek, lalu pindah hati ke kopi khas Bogor dengan merek Cap Teko. Dibanding Liong Bulan, Cap Teko jauh lebih kami sukai. Lebih harum dan pahitnya pas.

koppp

Namun ketika pindah ke Lamongan, kami kesulitan menemukan kopi Cap Teko yang sudah lama memanjakan lidah. Sebenarnya bisa meminta teman yang masih ada di Bogor untuk membelikan dan mengirimkannya. Namun rasanya remeh untuk meminta tolong demikian. Belum lagi kesibukan teman tersebut yang juga tidak terlalu suka ngopi. Sempat hampa dua bulan di tempat baru setelah Cap Teko habis.

Terpaksa kami beli kopi hitam kemasan bermerek kapal uap. Lumayan menambal rindu meskipun rasanya belum mengungguli Cap Teko. Pikiran masih berfantasi soal sedap dan nikmatnya kopi Bogor itu hampir setiap ingin meminum kopi. Nah, kerinduan akan Cap Teko akhirnya terwujud dalam sebungkus Ratu Luwak.

Begitu tahu ada kuis berhadiah kopi di Instagram, saya pun langsung ikut. Demi berharap menjadi salah satu pemenang kopi Robusta, saya yang biasanya kalem (?) terpaksa menggombal soal kopi. Hehe. Alhamdulillah, pas pengumuman pemenang, akun @belalangcerewet termasuk salah satu penerima kopi Ratu Luwak produksi Lampung. Robusta, kita banget!

kop

Tiga yang kusuka

Di luar dugaan, Ratu Luwak ternyata menghadirkan rasa yang mirip Cap Teko. Tentu ada perbedaannya dong. Seperti judul tulisan ini, ada semacam porsi nostalgia dalam secangkir Ratu Luwak meski dia punya cita rasa tersendiri. Seolah-olah terpuaskan kerinduan kami akan kopi Bogor, hanya saja saya mendapatkan lebih. Seperti yang saya tulis berikut ini.

k

1. Lebih bening

Dibanding kopi pada umumnya, kopi luwak dari Lampung ini warnanya lebih terang dibanding kopi-kopi yang kami minum sebelumnya. Saya sih suka, jadi ada semacam keunikan warna daripada sajian merek lain. Warna lebih bening ini akibat tekstur kopi yang dihancurkan cukup halus.

Walhasil, setelah diseduh bersama air panas dan gula, ampasnya tidak banyak tersisa. Paling tidak berdasarkan pengalaman kami. Saat difoto pun, kopi Ratu Luwak bisa tampil beda lantaran tidak pekat seperti kopi pada umumnya. Ini menjadi ciri khas yang saya suka.

2. Lebih manis

Saya rasakan bubuk Ratu Luwak ini relatif lebih manis dibanding kopi-kopi sebelumnya. Tentu saja ‘lebih manis” di sini dalam konteks bahan murni kopi ya. Dengan demikian, kita bisa mengurangi takaran gula untuk ditambahkan ke dalam adonan kopi. Jadi tak perlu waswas bagi penderita diabetes. Kira-kira begitu kan?

Selain itu, secara umum, meminum kopi bisa menghambat penurunan fungsi kognitif otak akibat penuaan–berdasarkan penelitian di Prancis. Saya juga pernah membaca bahwa kopi ditengarai bisa mengurangi risiko stroke. Sila kulik informasinya di Google untuk mempelajari lebih lanjut.

3. Lebih harum

Ngomongin kopi, hal pertama yang terbayang adalah keharumannya. Biji-biji pilihan yang diolah dengan serangkaian cara tertentu akan menguarkan aroma sedap yang unik. Inilah yang saya temukan dalam Ratu Luwak. Setelah disiram air panas, wanginya langsung merebak memenuhi ruangan. Ditambah sedikit gula membuatnya semakin lengkap–manis gurih dengan kadar kepahitan yang pas.

Menenggak satu mok kopi dari Ratu Luwak bukan lagi menyecap serbuk ajaib yang bikin rileks. Bagi saya, ini menjadi pengalaman khas sambil mengingat kenangan selama kami tinggal di Bogor. Begitu banyak memori dan kisah persahabatan yang sangat berkesan. Lewat wangi Ratu Luwak, semua rekaman seperti diputar kembali. Di Kota Hujan tempat kami mengenal dan jatuh cinta pada kopi.

BBC Mania sudah ngopi?

Advertisements

17 thoughts on “Wangi Kenangan dalam Secangkir Ratu Luwak

  1. Mantap kang. Semoga menang di lomba berikutnya.

    Saya sudah gak ngopi. Pernah satu kali waktu minum kopi tanpa gula selama sebulan lebih, mengakibatkan jantung saya berdebar keras. Sejak itu saya berhenti minum kopi.

    Like

    1. Belum ada lomba lagi, hehe. Mungkin itu terlalu kuat kalau tanpa gula, Mas. Kondisi fisiologis masing-masing orang mungkin yang berpengaruh. Tapi walau suka juga tak bagus juga kalau terlalu banyak ya Mas.

      Like

  2. Ah, jd pgn nyicipin kopinya :).. Aku bukan peminum kopi yg rutin sih. Hanya sesekali, kalo sdg kumpul bareng temen, ato kalo sedang ada tugas kantor yg memaksa utk lama begadang.. Dan wangi kopi selalu bisa bikin mata melek lama ya mas 🙂

    Like

  3. Bicara kopi, maka kita bicara aroma
    Dan bicara aroma, ini bisa meleber kemana-mana hahaha

    Saya sudah tidak ngopi lagi
    Sekarang saya hanya minum teh panas saja. Itupun tentang aroma juga
    Aroma rileks 🙂

    Salam saya Kang

    Like

    1. Bener banget, Om. Aro kopi sungguh memikat.
      Saya juga menyelingi dengan teh tawar alias teh pahit tanpa gula, Om. tapi tetap cari yang beraroma melati. Terima kasih sudah mampir.

      Like

  4. Saya penggemar kopi om, tiap pagi ngopi hehehehe… Biasanya sih ganti2 rasa, kadang dari Lampung, Jawa, Gayo, dll 😀 Kalau ngopi juga nggak pernah pakai gula hehehehe… Jasi bisa merasakan kopi yang sebenarnya nggak sepahit hidup ini rasanya… eh 😆

    Like

  5. Aroma kopi selalu membawaku kembali ke saat2 bepergian bareng dengan teman2 dulu. Duduk mengelilingi perapian sambil sibuk mendorong cangkir kopi seng bertutup masuk ke dalam perapian, bersama dengan ketela pohon. Bener banget, kopi tak hanya sekedar dinikmati aromanya, dia bisa membawa kita kembali ke berbagai kenangan manis.
    Sayange aku saiki wis ora ngopi neh hiks… keterbatasan fisik jua lah yg membuatku harus membatasi diri utk tidak mengkonsumsi kopi lagi. Palingan nyruput sakencrit kalo kuangen bingiiitt.

    Like

    1. Betul, Mak. Sok sok ada kenangan yang muncul gitu ya. Tapi ya sama juga, karena faktor usia hal-hal yang berlebihan ya kubatasi konsumsinya. Walau berat, tapi tak seberat ga jadi duta Asus, hehe #apasih

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s