Dulu Bitter, Lalu Better

Beberapa hari lalu seorang sahabat bloger menuliskan catatan tentang rencana akan dioperasi esok harinya. Di sepanjang tulisan bisa saya tangkap aura kengerian mengenai kesehatannya. Meski bukan kali pertama dirawat di rumah sakit untuk menjalani operasi, bibit-bibit ketakutan–atau trauma–jelas tak bisa disembunyikan.

Tahun lalu Eva, nama sobat bloger ini, mengalami pengangkatan kista pada ginjal, lalu kini ada benjolan di kelopak mata yang disinyalir sebagai tumor. Siapa yang tak horor mendengar anjuran dokter untuk menjalani proses operasi? Apalagi sewaktu kecil teman bloger ini juga langganan ke rumah sakit–yang kini juga diikuti putri kecilnya.Saya hanya bisa menjangkaunya lewat doa–mengharapkan agar Allah memberinya yang terbaik. Usianya masih muda, dia piawai menulis, dan saya yakin akan lahir karya-karya menarik dari tangannya di masa mendatang.

‘Sudah dipilih’

Namun sebagai manusia biasa, tentulah sakit yang mendera kita–apalagi seolah beruntun–lantas membuat kita berpikir, “O Tuhan, kenapa harus saya (lagi)? Why me?” Ini tentu saja bukan keluhan tanpa tahu berterima kasih. Secara naluri, saya yang juga menderita penyakit menahun, sesekali tergoda bergumam demikian. Si A itu kondisinya sama kayak aku, usianya mirip, aktivitasnya pun serupa, namun kenapa kondisi kesehatan atau masalah kesehatan kami berbeda?

Sebelum jatuh kepada rasa tak bersyukur, saya segera menyimpulkan bahwa setiap orang nyatanya memang telah dipilih untuk menjalani peran masing-masing. Setiap individu dilahirkan dengan kondisi fisik dan mental yang berbeda. Fisiologi masing-masing mempengaruhi interaksi dengan zat atau benda lain di alam semesta. Ada yang merokok berat namun tak pernah sakit, namun di sisi lain ada seseorang yang tidak merokok–pun menjalani gaya hidup standar–ternyata harus menderita sakit tertentu.

Itulah yang saya sebut dengan ‘dipilih’. Dahulu semasa kuliah di Semarang, teman sekamar jarang sekali sakit–paling-paling masuk angin atau sakit kepala biasa. Yang cukup diusir dengan susu jahe panas atau tolak angin. Sementara saya yang rajin berolahraga sering sakit dan salah satunya menjadi penyakit menahun. Dulu saya pertanyakan kenapa demikian, namun kini itu semua adalah pilihan Tuhan.

Tentu saja status ‘dipilih’ untuk melalui siatuasi yang sulit atau pengalaman pahit (bitter) tidak menggaransi kami ini orang yang dekat dengan Tuhan, saleh, dan sebagainya. Tidak. Itu soal lain. ‘Dipilih’ berarti diuji dengan cara ini, lewat rasa sakit. Sedangkan orang lain pasti diuji dengan hal-hal lain sesuai kemampuan mereka.

7

Sharing dengan pembaca

Siang hari sebelum membaca tulisan Eva, seorang pembaca dari Ponorogo bercakap-cakap panjang lebar tentang penyakit yang sama-sama kami derita. Lewat sebuah blog post di BBC dia menemukan informasi mengenai sebuah obat yang saya rasakan manfaatnya. Sobat yang berprofesi sebagai dosen ini terbilang masih muda, 9 tahun di bawah saya, dan belum menikah. Tentu mengkhawatirkan jika gejala-gejala menyiksa itu terus dibiarkan.

Kalimat-kalimat yang meluncur lewat WhatsApp bernada kelegaan, juga kekhawatiran. Ya, jelas ada emosi kelegaan saat bisa menuturkan keluhan medis yang selama ini dirasakan. Apalagi bila diceritakan kepada teman lain dan ternyata dianggap sepele. Maklumlah mereka tak pernah menderita seperti yang kami rasakan.

Saya yang lebih dahulu mengakrabi kelainan ini, hal yang pahit, kini sudah lebih baik (better). Sejumlah terapi yang terbukti efektif saya sampaikan kepada kenalan baru ini. Saya tahu betul betapa tersiksanya dia mengalami semua itu dengan beban mengajar yang padat. Sambil saling menguatkan bahwa ini semua jalan yang harus kami tempuh.

Masalahnya bukan soal kita dipilih untuk menjalani apa, tetapi lebih pada bagaimana kita menjalani peran itu, menghikmati pengalaman itu dengan penuh tanggung jawab sambil sebesar-besarnya berusaha untuk menciptakan kemanfaatn untuk orang lain–sekecil apa pun itu.

Bagi BBC Mania yang tengah dirundung kesedihan, akibat penyakit, akibat masalah rumah tangga, keuangan, pertemanan, pendidikan, atau pengalaman pahit lainnya, jangan berkecil hati. Anda tidak sendiri. Kesulitan yang datang beruntun tidak selalu berarti kita ini hina, tidak juga berarti sebaliknya.

Jalani saja dengan penuh dedikasi sebab suatu hari akan terbit perasaan lebih indah, jalan keluar lebih baik yang baru kita rasakan setelah melewati kepahitan saat ini. Ibarat biji kurma yang dipendam dan tertutup batu-batu, suatu hari kita akan menyeruak menjadi sekuntum

Terima kasih buat Cheri Lucas Rowlands dari WordPress yang telah mengusulkan kata better dan bitter sebagai tema daily post beberapa hari lalu. Selamat berakhir pekan, BBC Mania! Be positive, be philanthropic!

Advertisements

12 thoughts on “Dulu Bitter, Lalu Better

  1. Saat anakku dirawat karena sakit, aku jadi nangis melulu, mba. Pertanyaan yang terlontar selalu ‘kenapa anakku’. Tapi saya anggap ini ujian untuk keluarga. Semoga kita selalu dapat melewati ‘ujian’ dengan baik. Aamin

    Like

    • Iya, sama, Mbak. Waktu anak saya dirawat dua kali di RS, juga begitu. Sedih dan hancur gitu, tapi kita harus kuat. Semoga itu mendewasakan kita dan merasa lebih bergantung sama Allah. Kita ga sendiri.

      Like

  2. wah semoga yang diberi kesakitan tuk sabar, ikhkas dan terus berusaha berobat dan semoga diberi eksembuhan.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s