Kayak Gini Juga Rezeki

BERKALI-KALI KALAH dalam lomba tentunya tidak mudah dilalui meskipun itu hal lumrah sebagai peserta. Hadiah demi hadiah berlalu meninggalkan sesak di dada. Dadah, dadah, kurelakan engkau pergi untuk pemenang yang lebih beruntung. Meski sedih, kekalahan tidak untuk diratapi. Kendati kalah, kegagalan tak perlu jadi masalah.

Apalagi diam-diam ada rezeki lain yang membuat hati saya membuncah. Jadi jelas bahwa rezeki tidak melulu berupa hadiah lomba atau rupiah belaka. Kadang bisa pula maujud dalam dolar atau mobil mewah, #eh–just kidding! 🙂 BBC Mania pasti mafhum bahwa rezeki punya jangkauan yang luas–nyaris tanpa batas. Jika rezeki hanya dimaknai sebagai hal-hal bersifat moneter, tentulah hidup kita bakal lebih sering dirundung duka dan baper ketimbang kegembiraan.

post

Bukan lomba blog

Kemarin saya menulis status di akun Facebook tentang hadiah besar yang baru saya terima. Sengaja saya sampaikan secara implisit agar memancing jempol atau kekepoan teman-teman, hehe. Bukan, bukan, saya bukan pemburu jempol atau peduli pada ramai tidaknya sebuah status pribadi. Saya mengabadikan perasaan itu dalam bentuk status sebagai pengingat bahwa saya mesti banyak bersyukur dan mengurangi keluhan kendati lomba-lomba blog berlalu tanpa kemenangan.

Beberapa teman sepertinya terpancing untuk menduga bahwa status itu terkait kemenangan suatu lomba. Nyatanya tidak. Di sebuah jawaban komentar, saya sebutkan bahwa status tersebut sama sekali tak ada hubungannya dengan hadiah dari lomba. Harap maklum, saat ini lomba blog tidak melulu diumumkan secara publik. Ada beberapa jenis lomba yang publikasinya sengaja tertutup bagi orang-orang terpilih melalui fasilitas email blast.

Nah, kembali kepada judul tulisan, saya pengin ceritakan lima hal menggembirakan–seperti terlihat dalam infografik–yang saya syukuri sebagai rezeki belakangan ini. Namun khusus untuk rezeki yang saya maksud dalam status FB tadi sengaja tidak saya cantumkan dengan berbagai pertimbangan. Doakan saja ya! #sokmisterius 😀

1. Antar-jemput ibu

Sejak pindah ke Lamongan tiga bulan lalu, saya punya kegiatan rutin setiap akhir pekan atau tepat di hari Minggu. Tahun ini ibu dijadwalkan akan menunaikan haji ke Mekah. Setiap pekan ibu mengikuti bimbingan haji untuk memantapkan persiapan ke tanah suci. Tidak hanya bekal ilmu ibadah saja, soal kesehatan raga juga diperhatikan.

Saya dan keluarga tinggal di kota, yang dekat dengan tempat berlatih manasik, sementara ibu tinggal bersama adik perempuan saya di desa asal ibu. Setiap Minggu pagi, adik saya akan mengantar ibu ke tempat manasik untuk mengikuti sesi olahraga lalu saya akan menjemput ibu kira-kira jam 8 pagi.

Ibu lalu saya bawa ke rumah untuk beristirahat sambil menanti sesi manasik di sore hari. Pukul 12.30 ibu saya antar ke tempat latihan hingga tuntas pukul 4 sore. Kadang ibu menginap di rumah lalu saya antar Senin pagi, atau langsung pulang ke desa selepas latihan. Karena ibu masih menggarap sawah dan punya kesibukan lain, sering kali saya antarkan beliau langsung pulang tanpa menginap.

Minggu lalu adalah sesi terakhir latihan manasik sebelum Ramadan. Sejauh ini ibu terlihat gembira dan sangat bersemangat mengikuti setiap sesi latihan. Selain bisa saya antar langsung pulang tanpa merepotkan adik ipar saya, ibu juga semakin sering bertemu dengan dua cucu cowoknya alias anak saya yang selama ini jauh di Bogor sana.

Kegembiraan ibu tidak seberapa dibanding kegembiraan yang saya rasakan. Kecil sekali peran yang saya berikan, sekadar antar-jemput untuk ikut sesi latihan. Namun setiap senyum dan langkahnya membuat saya semringah dan makin yakin bahwa keputusan pindah untuk dekat beliau memang hal yang baik.

Rezeki tak terkira bagi saya karena bisa menemani beliau dan sesekali membelikan makanan kesukaannya. Tak ada hadiah lomba blog yang bisa mengungguli kegembiraan ini. Rezeki yang tak ternilai.

2. Air sumur yang bersih

Pindah dari Kota Hujan menuju Kota Tahu Campur yang panasnya menyengat bukan perkara gampang. Bayangan gerah sepanjang siang sudah menjadi mimpi buruk tersendiri. Ternyata malam hari cuaca tak kalah ‘menyiksa’ sehingga hujan menjadi idaman hampir setiap hari. Sayang seribu sayang, hujan rasanya enggan turun menyapa kami. Sumuk, oh, begitu panas hawa di sini!

Baca juga: Plus Minus Hidup di Kota Kecil

water

Namun kami tak ingin terlena oleh letupan emosi keluhan. Sebab ada sisi lain yang cukup menggembirakan. Karena layanan PDAM belum tersedia di area kami, maka air tanah menjadi solusi. Hal inilah yang kami syukuri sebab air mengalir deras melalui sumur bor. Airnya memang tak jernih 100% tetapi tergolong bersih sehingga bisa kami manfaatkan untuk mandi dan mencuci.

Meski ada kadar pasir berlebih, rasanya tetap senang apalagi jika dibandingkan tetangga sebelah yang harus membeli bertangki-tangki air bersih setiap periode tertentu. Selain mahal, rasanya juga tak praktis jika harus mengandalkan pasokan air tangki yang sewanktu-waktu bisa habis di rumah. Sebagi komponen hidup yang vital, tak ada perasaan lain bagi kami selain bahwa ini adalah rezeki yang berlimpah.

3. Apresiasi dari berbagi nasi Nusantara

Jika BBC Mania mengikuti beberapa cerita saya di blog ini, mungkin Anda akan menjumpai coretan seputar ngider atau berbagi nasi selama masih tinggal di Bogor. Banyak hal positif kami dapatkan lewat Bernas Bogor; persahabatan, berbagi, rasa syukur dan rahasia Tuhan. Kami belajar untuk menerima hal baik melalui perbuatan baik lainnya.

Beberapa hari lalu semua post tentang pengalaman ngider mendapat backlink secara beruntun dari Berbagi Nasi Nusantara. Catatan-catatan ringan selama menyusuri jalanan Bogor untuk membagikan nasi diunggah kembali secara lengkap di website resmi Berbagi Nusantara.

Blog remah rengginang seperti BBC tak berharap banyak mendapatkan trafik berkat publikasi tersebut. Namun besar harapan saya kisah-kisah sederhana itu turut tersiar untuk mendorong orang-orang agar memahami betapa perihnya lapar, betapa sakitnya terkapar saat tak punya sumber daya yang cukup untuk makan. Tepat seperti yang pernah saya alami sendiri. Hiks 😦

4. Rumi rajin mengaji

Sebagai seorang ayah, salah satu tanggung jawab besar di pundak saya adalah soal pendidikan anak. Saya dan istri mengupayakan agar Rumi anak sulung kami senantiasa tertarik untuk membaca–salah satunya membaca kitab sucinya. Sejak pindah ke kota baru, Rumi dan Bumi senang sekali berkunjung ke perpustakaan daerah. Selain tempatnya nyaman, koleksi yang tersedia pun bisa memuaskan mereka.

Nah, sebagai seorang muslim, Rumi tentu harus mengenali Al-Quran sebagai sumber ajaran hidup dan kekayaan ilmu yang tiada tara. Agar bisa menyelami makna dan rahasianya, dia harus terlebih dahulu mampu membaca kata dan kalimat-kalimat yang ada di dalamnya. Kini selepas shalat saya berusaha untuk mengajaknya membaca sesuai kemampuannya.

Meski sesekali enggan atau malas, namun dalam sehari selalu ada satu hingga dua ayat yang dia baca untuk menempatkan pikirannya dalam lingkaran ayat-ayat suci. Semoga saya bisa menirunya dan belajar bersama dengan istiqamah.

5. Silaturahmi kembali

Sebulan lalu seorang teman SMP menghubungi saya lewat WA dan mengabarkan soal rencana reuni angkatan selepas lebaran bulan depan. Tentu saja saya menyambut gembira meskipun dalam grup WA angkatan percakapan tidak selalu saya kehendaki isinya.

Yang lebih penting adalah saya menemukan lagi nama-nama sahabat dan teman dekat yang sudah puluhan tahun hilang dari radar komunikasi. Nomor-nomor sahabat dulu segera saya catat daan beberapa saya kontak–atau sebaliknya menghubungi saya duluan. Aduhai senangnya bisa berkabar dengan sahabat lama. Jalinan persahabatan kembali tersambung.

Rezeki demi rezeki itu menjadi hal-hal menarik yang mengisi hati saya belakangan ini. Dalam kadar tertentu semangat berlomba memang sedang turun. Mungkin lantaran kalah melulu, hihi. Beberapa lomba sudah saya catat tenggatnya lalu terlewat begitu saja, hehe.

Tapi tak apa. Toh saya jadi makin mengerti bahwa lewat lima hal tadi rezeki makin tegas terdefinisi. Bahwa rezeki bukan melulu materi. Yang kayak gini-gini juga rezeki loh!

Advertisements

20 thoughts on “Kayak Gini Juga Rezeki

  1. Hehehe Mas Rudi ini senang berteka teki juga. Saya penasaran, tapi lebih memilih diam + mengamati. Ternyata ini jawabannya. Betul, Mas. Rezeki itu maknanya luas, bukan melulu materi. Semoga ibunda menjadi haji mabrur, ya. Aamiin. Salam buat Rumi. 😀

    Like

  2. Barakallah… yg paling kerasa itu yg bagian air bersih. Mau bagaimanapun air bersih itu yg utama. Bahkan orangtua sering menasehati, kalau cari rumah yg penting airnya, niscaya keberkahan lainnya bakal mengikuti insya Allah.

    Like

  3. Aku BBC Mania nih dan baru tau julukan ini *brarti telat dong, haha.. Aku kira tadi ada kelahiran anggota baru kok, tapi udah ngira juga kalau arahnya rejeki yg seperti ini. Dan, curhatanmu ini mewakili perasaanku saat ini juga loh mas, hahaha… Btw, kadang memang kita mesti dikembalikan lagi ke titik nol untuk merefleksi semua jalan yg sdh dilalui kemarin ya, termasuk urusan lomba blog *ngomong sama diri sendiri 😀

    Dan, lah kok samaan baru hijrah. Aku sudah 5 bulan di Jember 😀 Selamat menikmati setiap detik waktu yang berharga. Kebalikannya, di Jember justru duinginnn, dan di Bekasi dulu puanas 😀

    Like

  4. Ini benar banget, saya kalau ngeliat si kecil punyakemampuan bagus dari hari sebelumnya, bahagianya luar biasa. Kalau lomba aja buat saya ini untuk ngasah ilmu, sama nantangin diri sendiri, eh sama banyak tahu blogger lain, nggak melulu cari ‘nafkah’ di lomba.
    Semoga terus mendapatkan rezeki yang baik ya mas.

    Like

  5. Kebayang senyuman ibu mengalahkan semua perasaan ya mas. Sejak balik semarang pun kemana maunya mama selama aku bisa antar tak anter.apapun yg bisa dilakukan demi ibunda.
    Rumi yg rajin ngaji ya..insyaallah jd anak sholih. Kakak nadia tunggu main2 ke semarang ya

    Like

    1. Iya, dekmun. Sungguh hepi beliau karena kami sekarang berdekatan–kapan saja bisa ketemuan. Walau ya memang ga gampang untuk adaptasi. Terima kasih ya, semoga kapan-kapan bisa kopdar lagi. Salam buat Nadia dan baby K!

      Like

  6. Salah satu amanah yang di emban anak laki, melayani orangtua. Kita tidak pernah bisa bayangkan bagaimana orangtua berjuang keras demi perut kenyang sang anak! (Sediihh..)
    Ini rejeki mas bbc. Rejeki yang jarang di sadari oleh kita salah satu pintunya menjaga amanah.
    Salam.

    Like

  7. Iya mas,rejeki paling besar adalah bisa hidup dan sehat, alhamdulillah,apalagi keluarga juga sehat,rukun pula.kalo rejeki yg lain mungkin nanti

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s