Yang Tersisa dari Harlah Lamongan ke-448: Dari Nasi Boran Hingga Pameran Pendidikan

MINGGU (21/5) AWALNYA BERENCANA datang pukul 5.30 agar bisa ikut jalan sehat, kami ternyata terlambat atau malah sangat terlambat. Pukul 7.30 kami baru tiba di lapangan alun-alun kota Lamongan. Sudah beberapa hari badan tak enak, maka selepas subuh masih tergoda untuk melingkar di tempat tidur. Lantaran sudah janji sama anak-anak, kami pun tetap pergi untuk menyaksikan keramaian perayaan ulang tahun kota kami ke-488.

Selain agar Rumi-Bumi bersenang-senang, sebenarnya ada motif lain kami bersemangat datang. Pertama, kami yang penggemar fanatik nasi boranan tentu tak akan melewatkan menu ini, apalagi pagi itu dijajakan secara gratis. Iya, cuma-cuma alias enggak bayar! Ada puluhan pedagang nasi boran yang mangkal di pedestrian alun-alun siap menyambut warga yang datang.

Kedua, saya pengin meliput acara lokal untuk mewarnai tayangan di blog. Bosan juga kebanyakan posting lomba yang keok melulu, haha. Hitung-hitung ikut mempromosikan event daerah agar dikenal masyarakat luar kabupaten kami. Berburu foto dan momen langka juga menggerakkan langkah saya ke perhelatan ini.

Mengenal nasi boran

Mungkin ada BBC Mania yang belum akrab dengan nasi boranan. Nasi boranan sebenarnya nasi putih biasa yang dipadu dengan siraman bumbu dan aneka lauk. Nah, leleran bumbu itulah yang khas kota kami. Aroma rempah sangat kuat, terutama kunyit dan cabai yang dominan sehingga warnanya kuning kecokelatan. Selain nasi putih, tersedia pula nasi jagung halus yang dikenal dengan nasi lempog atau empog.

Sejak pindah ke Lamongan, istri saya yang lahir dan besar di Jakarta mendadak gandrung pada makanan khas ini. Sarapan pagi, makan siang, atau makan malam, nasi boranan tak pernah bikin bosan. Disebut boranan karena nasinya disimpan dalam boran yakni sebentuk wadah anyaman kayu yang dimanfaatkan dalam berbagai fungsi. Menyimpan beras, memeram tape, dan bahkan tempat ikan setelah dipanen dari tambak.

Barangkali boran itulah yang menambah aroma nasi yang khas. Jadi kapan pun BBC Mania main ke Lamongan, jangan sampai melewatkan sajian sedap ini. Turun dari kereta pun Anda semua bakal disambut banyak penjaja yang duduk di seberang stasiun. Mulai sore hari menjelang magrib sampai subuh dan pagi lagi. Ibu-ibu ini seperti tak pernah kehabisan energi, datang silih berganti menjajakan nasi.

Agak tak terkendali

Tiba pukul 7.30, tentu saja kami ketinggalan jalan sehat. Para peserta telah bergerak tetapi alun-alun masih sangat ramai. Selain panggung tambahan di depan Apotek K24, panggung utama tentu saja ramai oleh persiapan ini-itu. Suara MC dari panggung tambahan terdengar kencang berkali-kali, salah satunya mengingatkan pengunjung untuk merapat ke penjaja nasi boranan di sekeliling alun-alun. Di depan masing-masing penjaja telah ditempel nomor urut yang menandakan bahwa mereka telah terdaftar sebagai penjual cuma-cuma hari itu.

Namun sayang, saat kami merapat ke salah satu penjual, suasana menjadi tak terkendali. Apa pasal? Para warga yang tak ikut jalan sehat seperti kami tengah melingkar menunggu antrean. Alih-alih segera melayani kami seperti urutan antrean, ibu penjual ini malah terus saja membungkus untuk lelaki di samping saya. Bungkus demi bungkus diikat dan dilesakkan ke dalam plastik si abang ini.

antre

Pengunjung lain mulai ngedumel karena lama tak dilayani juga. “Minta sama panitia ya, jangan ke saya,” ujar si penjual sambil menggerakkan ekor matanya ke arah si abang di samping saya. Rupanya dia ini panitia yang bertugas mengumpulkan nasi untuk dibagikan pada peserta jalan sehat yang belum datang. Begitu prediksi saya. Akhirnya, beberapa bungkus yang sudah dikantongi terpaksa dibagikan kepada pengunjung yang telah mengantre.

Kami dapat jatah dua bungkus–dengan porsi nasi yang minimal. Tak apa, sungguh beruntung masih dapat. Ibu penjual lalu menutup dagangannya seolah-olah sudah habis. Mungkin sisanya untuk menjamu para peserta jalan sehat. Andai ada koordinasi antara MC dan panitia di lapangan, tentu suasana tak bakal ricuh. Tak jauh dari tempat kami terlihat para pengunjung yang tak lagi sabar mengantre sehingga saling ambil dengan menyerobot.

rebutan

Rebutan!

sampah2

Pada kesempatan lain mungkin panitia bisa menyediakan kupon bagi pengunjung sebelum mengambil jatah makan. Penjual tinggal melayani pengunjung sesuai kupon. Jika kupon habis, ya berarti sajian dihentikan. Dengan demikian, tak perlu ada kerepotan atau berebut saat mengantre. Ingat kan kalau kita masih sulit soal mengantre?

Lamongan Segenggam

Belum beres soal makan, harus miris lihat soal sampah. Tak sedikit pengunjung yang membuang begitu saja sampah mereka, baik bungkus makanan besar maupun camilan. Untunglah ada sekelompok anak pramuka yang disiapkan berkeliling untuk memungut sampah dalam karung khusus. Mereka datang silih berganti dalam tim berbeda. Tapi bukan karena ada mereka lantas kita bisa buang sampah sembarangan kan?

Saat acara dihelat di alun-alun pun, banyak pengunjung yang juga menyampah di sana sini. Ironis betul, padahal hari itu pemerintah daerah tengah meluncurkan lanjutan program Lamongan Green & Clean (LGC) demi menyongsong Lamongan bebas sampah tahun 2020 sesuai program pemerintah nasional. Jika masing-masing orang mengantongi sampahnya sendiri, tentu kebersihan lebih mudah diwujudkan.

Soal sampah sedikit terlupakan ketika ratusan anak usia SMP melakonkan Tari Lamongan Segenggam. Saya bilang melakonkan karena dalam tari tersebut anak-anak menceritakan apa maksud Lamongan Segenggam melalui dialog secara lip sync. Gerakan-gerakan rancak ditampilkan mereka dalam balutan busana cerah dan hentak semangat.

lamongan

Sebagai tari modern, Lamongan Segenggam menceritakan soal SOTOLA. SOTOLA merupakan kependekan dari Sistem Operasional Terpadu Online LAmongan, sebuah aplikasi yang telah tersedia di Play Store bagi warga setempat. Lewat aplikasi ini, pemda hendak menegaskan bahwa Lamongan berada dekat di genggaman kita melalui idiom SOTO yang memang telah terkenal sebagai makanan khas Lamongan.

Aplikasi ini diharapkan memudahkan warga Lamongan dalam berbagai layanan publik, misalnya pengurusan SIM online, kesehatan, dan lain-lain. Karena saya belum menginstal SOTOLA (lantaran minimnya memori ponsel), maka belum banyak yang bisa saya komentari soal aplikasi ini. Namun sebagai sebuah langkah progresif, tentulah upaya ini harus kami dukung secara positif.

Fashion show dan pameran pendidikan

puna

sayap

Disiapkan sebelum disandang

Setelah penampilan Tari Lamongan Segenggam dan Punakawan yang memaparkan program pemda soal kelanjutan LGC 2017, sejumlah peserta parade busana akhirnya unjuk kebolehan. Uniknya, busana yang dipamerkan merupakan hasil kreasi dari barang atau produk bekas seperti karung goni dan sampah plastik kemasan.

Walau baru mendekati pukul 10 pagi, matahari cukup terik sehingga para penonton yang kepanasan mulai menepi ke tenda-tenda atau pendopo untuk meneduhkan diri. Kami yang membawa duo krucil tentu mengalami hal serupa. Anak-anak mengeluh kepanasan sehingga kami memutuskan untuk pulang.

Dalam perjalanan keluar meninggalkan alun-alun, kami sempat mengamati satu per satu stan pameran yang diisi oleh entitas pendidikan, baik sekolah maupun dinas terkait mulai dari kecamatan hingga kabupaten. Saya berdiri sejenak saat melewati booth sekolah SMP dan SMA saya dulu. Sayangnya stan belum siap dan masih sepi sehingga tak bisa berinteraksi dengan para siswa atau guru.

Hari ini saat berburu obat ke apotek di pojok alun-alun, terdengar dentum musik dan keriuhan dari booth pameran pendidikan. Saya tak sempat mampir lantaran harus segera mendapatkan obat tersebut untuk saya konsumsi. Rupanya dihelat lomba-lomba juga tadi siang. Senang rasanya saya memotret pemandangan itu; anak-anak berkompetisi dalam hal-hal positif tapi tetap menyenangkan.

penuh

Meskipun tak mengikuti acara hari Minggu secara lengkap, namun hadirnya ribuan orang pagi itu saya maknai sebagai indikasi bahwa Lamongan punya warga yang peduli. Mereka ingin memeriahkan ulang tahun kota dan berharap pemimpinnya mampu menyediakan kesejahteraan. Tentu saja ini bukan pekerjaan semalam, bukan pula tugas pemerintah saja. Semua orang haruss bergerak–mengambil peran sesuai kemampuan.

Dirgahayu Lamongan ke-448! Semoga rahmat Allah senantiasa melingkupimu dan menurunkan kedamaian di hati para warganya melalui kerja keras dan saling peduli. BBC Mania punya cerita serupa?

 

Advertisements

7 thoughts on “Yang Tersisa dari Harlah Lamongan ke-448: Dari Nasi Boran Hingga Pameran Pendidikan

  1. Dapet ikan sili nggak Pak? 😀
    Ish, nyesel rek momen setahun sekali dan saya kemarin nggak bisa ke sana…

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s