Tiga Hal yang Kukira Sulit

BELAKANGAN INI ADA tiga hal yang mengusik pikiranku. Hal-hal ini selama ini kuanggap berat dan sulit dikerjakan. Setelah dipikirkan, ternyata muncul kesadaran lain bahwa ketiga poin itu memang berat, namun ada hal yang jauh lebih berat sehingga membuatnya tak lagi begitu berat.

Hal-hal ini sangat familiar dalam kehidupan kita sehari-hari. Sering kita perbincangkan bersama pasangan, teman, atau lingkup sosial yang lebih luas. Tak jarang diangkat menjadi tema dalam buku-buku, atau seminar, hingga materi ceramah agama. Rezeki, ilmu, dan berbagi. Tiga hal itulah yang kumaksud.

3

1. Mencari rezeki

Dengan berbagai kenaikan harga dan minimnya kesempatan bekerja, ditambah persaingan produk asing dan tenaga kerja luar, boleh dibilang mencari duit semakin berat. Kalaupun ada peluang kerja, tak jarang imbalan yang diterima terbilang rendah atau kecil sehingga kita harus sangat berhemat atau malah mencari sumber pendapatan lain.

“Cari uang sekarang makin susah!” begitu orang sering berujar. Saya tak memungkiri bahwa cari duit memang tidak mudah dan butuh perjuangan dengan berbagai upaya. Memang ada sekelompok orang yang tampaknya begitu mudah mendapatkan rezeki, bahkan seolah-olah ibarat memetik uang dari pohonnya langsung. Seperti tetangga saya yang setiap harinya konon meraup 400 jutaan rupiah.

Namun ingat, untuk sampai pada titik saat ini tentulah ia telah bekerja keras dengan banyak pengorbanan dan usaha tak kenal lelah. Tapi tahukah BBC Mania, bahwa ternyata ada yang lebih berat ketimbang mencari rezeki? Yaitu cara mendistribusikan atau membelanjakannya dengan penuh tanggung jawab.

Setelah meninggalkan Bogor dan pindah ke Lamongan, tak ayal sempat tebersit ketakutan soal bagaimana nanti kami akan mendapatkan uang. Di Bogor kami mudah jualan apa saja atau bekerja di banyak peluang. Nyatanya, hampir 10 bulan kami di sini selalu ada rezeki yang menyambangi. Entah dari menulis content blog, review pesanan dari sponsor, editing, desain buku atau cover, hingga hadiah lomba blog.

Masalah justru datang saat uang sudah di tangan, seringkali banyak keinginan muncul untuk menghabiskannya. Ganti ponsel, beli baju baru, makan ini-itu yang sebenarnya tidak terlalu mendesak. Akibatnya, kita jadi lupa atau bahkan pelit untuk menyisihkan sebagian untuk kepentingan orang lain dalam bentuk infak, sedekah, atau donasi. Seolah bermurah hati adalah sia-sia. sayang seribu sayang untuk melepaskan harta yang telah susah payah kita dapatkan.

Itulah yang kurasakan, dan sungguh memprihatinkan! Sanggupkah nanti mempertanggungjawabkan semua pemasukan padahal selama ini cenderung untuk konsumsi dan kepentingan pribadi. Beraaat ….

2. Mencari ilmu

Untuk bisa hidup layak dan produktif, sudah bukan rahasia bahwa kita wajib memiliki ilmu. Ilmu apa saja terutama yang praktis dan bermanfaat secara positif. Namun semua orang sadar bahwa mencari ilmu bukanlah perkara mudah. Butuh biaya dan upaya keras agar sebuah ilmu bisa kita kuasai.

Ada yang menempuh sekolah formal belasan tahun hingga menjadi ahli. Ada yang memilih mengikuti kursus atau pelatihan sesuai minat, dan ada pula yang belajar secara autodidak. Mana pun jalur yang dipilih, ada proses panjang dan tak mudah yang harus dijalani. Kekuatan fisik, ketahanan mental, hingga praktik serius mewarnai langkah-langkah menuntut ilmu.

Namun tahukah BBC Mania bahwa ada hal lain yang jauh lebih berat dibanding mendapatkan ilmu atau keterampilan? Itulah menerapkan ilmu dengan penuh tanggung jawab dan kerendahan hati. Tak jarang saya temui orang-orang berilmu begitu pelit untuk membocorkan ilmunya dengan dalih ilmu itu didapat secara mahal dan seterusnya.

Kalaupun mereka mau, sering berpendar aura kesombongan saat memberitahukan ilmunya kepada orang lain. Seolah dirinya paling pandai dan butuh dihargai sehingga mengecilkan orang yang masih butuh pencerahan atau yang belum bisa mengecap pendidikan. Tentu saja tidak semua orang berilmu bertingkah demikian. Namun fakta di lapangan menunjukkan eksistensi mereka. Saya pun kadang tergoda merasa sok dan arogan saat membaca karya orang atau menurunkan ilmu kepada orang lain yang saya anggap lebih jahil. Menerapkan ilmu? Beraaaat ….

3. Berbagi dengan sesama

Sejak pindah ke kampung halaman, saya dan istri tetap terobsesi untuk melakukan sesuatu bagi lingkungan kami. Yang terbayang adalah mendirikan taman bacaan ditambah belajar bahasa Inggris gratis atau murah untuk anak-anak yang tidak mampu. Hingga kini maksud itu belum juga terwujud, dengan berbagai alasan dan apologi.

Seolah-olah untuk menjadi filantrop haruslah kaya raya dahulu seperti Bill Gates atau Oprah Winfrey. Seakan-akan haruslah pandai setinggi langit dengan deretan gelar mentereng untuk bisa berbagi dengan lingkungan sekitar. Akhirnya niat baik untuk berderma semakin menciut dan kendur hingga tak juga diwujudkan.

Padahal banyak sekali cara atau media untuk berkontribusi kepada lingkup sosial kita. Pernah tidak BBC Mania mendengar berita tentang seorang sopir bus antarkota yang mendirikan rumah baca dan akhirnya merintis sekolah gratis di Sumatera? Atau kabar seputar tukang parkir di Jakarta yang mendirikan sekolah cuma-cuma?

Bahkan seorang kawan bloger asal Jepara belum lama ini menempuh jalur kontribusi yang sangat sederhana: ia mengumpulkan ibu-ibu sekitar rumahnya untuk diajak belajar memasak kue dipandu seorang teman yang paham dunia pastry. Para undangan sangat bergembira dan menikmati kesempatan itu dan bila digeluti dengan serius suatu hari akan menjadi bisnis yang meningkatkan keuangan keluarga.

Kadang pikiran kita terlalu berkutat pada hal-hal besar untuk diberikan kepada orang lain. Berpikir bahwa harus kaya dulu, kudu pintar dulu, kudu mapan dulu agar mampu meringankan beban sesama melalui kontribusi sosial. Bertindak positif untuk sesama nyatanya begitu mudah; yang lebih berat adalah mempertahankan sifat rendah hati dan tidak merasa paling baik lantaran sudah berdonasi atau berkontribusi.

Inilah tiga hal yang kukira sulit, BBC Mania, namun nyatanya ada yang jauh lebih beraaat….

Advertisements

8 thoughts on “Tiga Hal yang Kukira Sulit

  1. Terima kasih banyak sharingnyaa mas. . Sepakaat bangeet sama 3 hal tersebut. Rezeki, ilmu dan kebermanfaatan untuk sekitar. Semogaa tetap membumi dan senantiasa berbagi bahagia dengan sekitar mas ya, dalam keadaan lapang ataupun sempit. Aamiin. .

    Like

    1. Cari jodoh penting, Nay. Tapi jangan terlampau galau. Masih muda ini kan, yang penting berdoa biar dikasih yang terbaik. Nah, sambil nunggu bisa berbagi mana yang Nay bisa. Ikut Berbagi Nasi asyik juga kok. Di semua kota ada….

      Like

  2. Tiga hal itu juga yg sebenernya jadi bekal kita buat pulang ke kampung halaman yg sesungguhnya, ya. Hikss kalau ingat bekalnya belom nambah2 aja, malah suka defisit lantaran dikurangi sebab dosa2 suka jadi merasa jd org paling rugi sedunia 😦
    Thanks for sharing, Mas…

    Like

    1. Ah, Mbak Nurul pan punya banyak skill, bingung ya yang mana yang mau dikasih? Kasih laptop barunya gih, hehe. Selamat ya mau bertolak ke California. Mupeng hiks. Semoga lancar dan membawa banyak manfaat pas balik ke Indonesia.

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s