Sungai Besar Itu Mendadak Surut

Sungai besar itu mendadak mengering. Airnya menyusut hingga tampak dasar berupa tanah. Sungai yang sempat kami khawatirkan akan meluap dan membanjiri rumah-rumah kini surut—menyisakan  tanda-tanda bahwa pernah ada air yang cukup tinggi menggenang. Tambak-tambak di sekeliling sungai itu kesulitan mencari sumber air untuk dialirkan bagi ikan-ikan. Sejumlah tambak akhirnya menyesuaikan diri: beralih menjadi sawah dengan tanaman padi yang tak boleh digenangi air terlalu dalam.

Kali itu cukup besar, membelah sawah dan tambak tanpa kutahu di mana muaranya. Hanya bendungan yang berdiri di ujung sana yang sering kulewati ketika kami mengunjungi ibu di desa. Bendungan pembawa berkah. Penduduk sekitar tak jarang tampak memasang jaring atau perangkap ikan di mulut bendungan. Airnya mengalir deras dan menimbulkan suara menggelegar.

Tentu saja itu dulu, sekitar satu bulan lalu. Sudah dua pekan ini—terutama saat menginjak Ramadhan—bendungan itu sepi ditinggalkan para pencari ikan. Arus sungai mengecil seiring debit air yang menyusut drastis. Sebelumnya seolah tak mungkin volume air sebesar itu bakal surut begitu cepat. Dalam hitungan hari atau pekan, bumi menyedotnya ataukah langit menghirupnya kembali.

hilang

Apakah yang tak mungkin di dunia ini? Kali besar kemudian kehilangan air seketika walau tak terbayangkan. Seperti seorang tetangga di kampung yang beberapa waktu lalu kujenguk setelah menjalani operasi. Dia lelaki terpandang karena kaya dan punya kuasa dalam organisasi publik. Tak ada yang menyangsikan kekayaannya yang berlimpah. Usahanya di mana-mana, baik dikelola sendiri atau oleh anak-anaknya.

Tapi itu dulu. Semua kini tinggal kenangan selain tentu saja harta untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. “Kecut!” begitu kata orang di tempatku untuk menggambarkan pelaku usaha yang menuju kebangkrutan. Seiring berlakuknya aturan pemerintah mengenai AMDAL bagi pabrik-pabrik, usahanya terpaksa gulung tikar. Para pegawai yang dahulu menemaninya entah ke mana beranjak. Tak ada seorang pun kulihat beraktivitas di sekitar rumahnya yang sangat luas. Kabar terakhir bahkan menyebutkan rumah besar tersebut bakal dijual dengan harga yang fantastis. Kecut!

Badan yang dahulu kuat kini lunglai dan teronggok di atas ranjang. Ketokohan yang dahulu disegani kini redup. Pamornya pupus. Pernah kudengar cerita lain tentang rentenir yang cukup kejam. Tak segan-segan ia memerintahkan centengnya untuk memukuli para peminjam uang yang gagal membayar uang plus bunganya. Tak butuh waktu lama ketika Tuhan mencabut kedigdayaannya. Stroke merenggutnya. Dalam ketakberdayaaannya, orang yang pernah dipukuli itulah yang datang menjenguk dan menghiburnya. Orang lain tiada peduli

Duhai, apakah yang bisa kita banggakan dengan sesuatu bernama kelebihan? Tubuh yang bugar, kekayaan berlimpah, kecerdasan yang unggul, kecantikan yang sempurna—bukankah semua akhirnya sirna dalam goresan waktu? Semua pesona dan daya tarik fisik nyata-nyata bukan hal yang bisa kita petik atau bahkan kita andalkan. Aura kecerdasan yang memukau tiada menjamin keberkahan hidup. Kekayaan dan segala kemewahan akhirnya hangus dalam dekapan takdir. Cuma amal yang abadi, hanya perbuatan dan sikap yang akan kita tuai.

Sungai besar itu mendadak surut dalam waktu yang cepat. Namun beberapa bulan lagi, saat musim hujan tiba, awan-awan akan berekerumun di atasnya untuk jatuh dengan penuh kegembiraan sebagai tetes-tetes hujan. Sungai akan tergenang lagi, air penuh dan bisa dialirkan ke sawah dan tambak. Air terus mengaliri detak kehidupan. Tapi kita berbeda, semua hal yang hilang belum tentu kembali. Segala yang diambil tak dijamin diberikan lagi. Entah bernama kesempatan atau nyawa yang bisa diminta kapan saja.

Ramadhan ini, apakah yang hilang dari diri kita: dosa-dosa ataukah kesadaran akan kematian?

 

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Sungai Besar Itu Mendadak Surut

  1. Jika Allah sudah berkehendak apapun bisa terjadi.. jabatan, harta dan semua yang berupa titipan bisa jadi diambil kapan saja.. dan kita tidak pernah tau waktu pasti itu. Yang menyedihkan itu di tingalkan.. memang benar tempat terbaik bersandar cuma Tuhan, Allah.

    Like

  2. Hiksss…kalau mengingat yang hilang, kadang aku jadi merenung sendiri…betapa mudahnya segala sesuatu berubah dan bergeser. Kadang tidak pernah tahu apakah diri ini juga adalah orang yang sama sepanjang waktu, ataukah ada yang baik yang bertambah, atau justru yang buruk yang bertambah. Tfs, nice post…menggabungkan dua kisah yang berbeda dengan esensi yang sama

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s