Lomba Pantun yang Mengecewakan

Beberapa tahun lalu, sewaktu masih tinggal di Bogor, saya pernah menghelat kontes mini bertema Ramadan. Tugas dan syarat cukup mudah. Peserta mengunggah pantun terbaik karya mereka di blog lalu saya menilai dengan imbalan 3 eksemplar buku untuk 3 pemenang. Atensi teman-teman bloger cukup besar dan boleh dibilang giveaway tersebut berjalan lancar. Selain mungkin temanya unik, boleh jadi waktu itu memang belum banyak saingan lomba-lomba berhadiah keren seperti saat ini.

Meluruskan definisi

Tapi bukan soal hadiah atau tenggat yang saya ingin bahas, melainkan hasil penjurian yang menunjukkan ketidakakuratan pemahaman penilai mengenai pantun belakangan ini. Untuk mendapatkan wawasan yang tepat, izinkan saya mengutip bagaimana KBBI menampilkan pengertian pantun.

pan·tun  n 1 bentuk puisi Indonesia (Melayu), tiap bait (kuplet) biasanya terdiri atas empat baris yg bersajak (a-b-a-b), tiap larik biasanya terdiri atas empat kata, baris pertama dan baris kedua biasanya untuk tumpuan (sampiran) saja dan baris ketiga dan keempat merupakan isi

Merujuk makna tersebut, bisa disimpulkan bahwa pantun secara umum muncul dalam empat baris atau larik dengan rincian dua baris pertama berfungsi sebagai sampiran atau pengantar sedangkan dua baris berikutnya berposisi sebagai isi atau muatan utama pantun. Yang paling penting, dan ini yang menarik, pantun ditulis dalam sajak atau akhiran a-b-a-b. Artinya, rima yang dibangun berselang-seling. Baris pertama berima dengan baris ketiga, baris kedua berima dengan baris keempat.

Rima yang salah

Coba perhatikan beberapa pantun berikut yang keluar sebagai salah satu pemenang dalam lomba menulis pantun yang dihelat oleh sebuah pabrik pupuk beberapa waktu lalu.

pantun ramadan

Semuanya ditulis dalam empat larik dengan sampiran dan isi. Namun satu akidah dilanggar oleh pantun-pantun ini, yaitu pembentukan rima yang tidak sesuai. Bunyi akhir setiap kalimat dalam empat baris tersebut menyusun persajakan a-a-a-a yang justru menjadi ciri syair, bukan pantun. Saya coba merekonstruksi salah satu pantun agar sesuai dengan persajakan yang tepat.

Ikan bawal ikan tenggiri

Dagingnya kenyal enak dibakar

Bersiap menyambut bulan yang suci

Berkah Ramadan segera digelar

atau versi lain tetap dengan tema serupa;

Ikan bawal ikan tenggiri

Dagingnya lezat penuh manfaat

Tampaklah hilal, siapkan diri

Raih berkat Ramadan yang hebat

Saya pribadi senang sekali berpantun seperti BBC Mania bisa lihat adanya sejumlah post di blog ini. Meskipun kudu berpikir keras untuk menjalin rima yang pas, namun ada kepuasan tersendiri saat pantun tercipta. Selain melestarikan salah satu tradisi literer Nusantara, pantun bisa menjadi media ekspresi kreativitas dan luapan emosi serta hadiah indah bagi orang-orang tercinta.

Di jagat maya ada seorang kawan yang sering menjadi mitra atau lawan berpantun. Dia sahabat sewaktu kuliah yang kini mengabdi jadi guru bahasa Indonesia di sekolah internasional, Bandung. Entah dalam rangka lomba atau peristiwa keseharian, kami sering beradu pantun. Dengan tagar atau hashtag sesuai kebutuhan dan kondisi hati, hehe. Jadi bukan melulu soal hadiah loh kami ikut lomba yang juga tidak sering-sering amat.

Apalagi setelah tahu bahwa juri tak jarang salah mengartikan pantun yang selayaknya, saya jadi berpikir-pikir jika ada ajakan berlomba. Bukan takut kalah atau sakit hati sebab tak menang. Hadiah lomba pantun lumrahnya juga tidak mentereng seperti lomba blog, jadi lebih pada keasyikan praktik berbahasa di dunia maya. Wujud kecintaan kami pada bahasa Indonesia.

pantun

Dalam lomba apa saja, kalah menang tentu lumrah adanya. Jika tersisih lantaran peserta lain lebih jago dan unggul, tentu kami hormat dan puas. Namun kalah sebab juri tak paham, itulah yang sangat menyakitkan. Kali lain akan saya ceritakan mengenai elemen lain dalam pantun yakni intensitas berimbang dalam sampiran dan isi.

Ada yang suka berpantun?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Lomba Pantun yang Mengecewakan

    1. Saya pikir demikian, Mas. Saya pernah baca lembar jawaban ujian murid adik saya, saya terkekeh mendapati pantun cinta-cintaan yang sudah populer saat mereka diminta menulis pantun sendiri. Padahal sangat menarik untuk melatih kemampuan berbahasa–sekaligus biar mencintai bahasa Indonesia.

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s