Agar Hidup Berenergi, Jangan Takut Berbagi!

WE MAKE A LIVING BY WHAT WE GET, BUT WE MAKE A LIFE BY WHAT WE GIVE.

—Winston Churchill

“Mana buktinya? Katanya kalau sedekah bisa menolak bala?” ujar seorang lelaki seolah memprotes dampak sedekah. Pasalnya, tak lama setelah ia bersedekah, kakinya malah tersandung dan berdarah hebat. Insiden itu memukul hatinya sampai seorang alim berkata, “Kamu tahu tidak bahwa kamu mestinya meninggal saat tersandung tadi. Namun Allah menurunkannya menjadi sekadar luka-luka robek itu sehingga kamu tetap hidup berkat sedekah.”

Kisah klasik itu dituturkan seorang ustaz dalam forum pengajian warga nyaris 10 tahun silam ketika saya masih tinggal di Bogor. Fragmen itu terpatri begitu kuat dan saya bawa ke mana-mana betapa sedekah benar-benar mampu menciptakan kegembiraan bagi pelakunya dan manfaat bagi penerimanya. Tepat seperti sabda Nabi bahwa sedekah bisa menolak malapetaka atau musibah.

Tentu saja hidup kita tak mungkin benar-benar bisa steril dari masalah sebab kelapangan atau kekayaan adalah ujian, sebagaimana kesempitan dan kemiskinan juga merupakan cobaan—seperti yang ditegaskan Surah Al-Fajr ayat 15 dan 16. Akan tetapi, sedekah jelas mampu membuka berbagai peluang positif seperti mengusir/menurunkan kadar bala, mengundang rezeki dan bahkan berpotensi menghadirkan kesembuhan sebagaimana disebutkan Nabi dalam hadisnya.

Dua saudagar, satu yang tegar

Setiap kali teringat pada keajaiban sedekah yang membuka tulisan ini, pikiran saya segera berkutat pada kisah dua saudagar di desa tempat saya dilahirkan. Sebut saja Pak Ma dan Pak Mo. Selain berasal dari keluarga besar yang sama, keduanya orang terkaya di desa kami. Mereka yang terbilang paman dan keponakan ini bergerak di bidang usaha yang sama, kekayaannya pun boleh jadi setara. Tak ada ceritanya beli mobil dengan mencicil; mereka bawa pulang secara tunai.

Lambat laun orang mulai mengenali perbedaan mencolok antara keduanya. Kenyataan ini sudah tersebar luas di kalangan warga. Pak Ma kurang dermawan dibanding Pak Mo. Suatu hari seorang pekerja Pak Ma bermaksud meminjam uang dari sang majikan. Karena diupah mingguan, maka uang dijanjikan akan dikembalikan begitu gajian diterima pekan itu. Namun sayang, pekerja tersebut harus gigit jari karena permohonannya ditolak.

Jumlahnya tentu di bawah upahnya seminggu dan hanya ibarat recehan bagi Pak Ma yang hartanya miliaran rupiah. Merasa tak punya pilihan lain, ia lantas meminjam uang dari ibu saya. Untunglah saat itu ibu punya simpanan sehingga tujuannya terkabul. Karena sakit-sakitan, pekerja itu akhirnya meninggal dan ibu mengikhlaskan utangnya.

Kisah miris lain terjadi pada tukang masak di dapur Pak Ma; sungguh ngiler ia pada daging yang tersimpan di kulkas sang majikan. Sayang sekali daging kurban itu tetap rapi terbungkus di freezer dari Idul Adha hingga Idul Adha berikutnya. Selezat apa pun masakan yang dia racik, tak ada ceritanya ia ditawari untuk ikut menyantapnya selain mencicipi saat memasak.

Pekerja lain pernah berusaha meminjam duit dari Pak Ma demi ayahnya yang sakit. Meminjam dari majikan sendiri tentu jauh lebih enak sebab bisa langsung potong gaji nanti. Hatinya remuk saat permohonannya ditolak. Ia lantas menemui Pak Mo dan sukses mendapatkan pinjaman. Pak Mo memang masyhur sebagai dermawan. Ketika ada kegiatan apa pun, Pak Mo tak segan memberikan donasi. Sedangkan Pak Ma konon alot mengulurkan tangan. Kalaupun menyumbang, jumlahnya tidak signifikan.

Setiap lebaran, anak yatim dan duafa, termasuk masjid, kebagian rezeki dari Pak Mo. Jumlahnya cukup besar, sepadanlah dengan hartanya. Sementara Pak Ma juga turut bersedekah, namun jumlahnya itu itu saja. Belasan tahun berlalu, saya pun kembali menetap di kota kelahiran agar dekat dengan ibu yang sudah sepuh. Pak Ma sudah sakit-sakitan, berkali-kali masuk rumah sakit, dioperasi ini dan itu. Bisnisnya bangkrut dan rumah besarnya bahkan sempat ditawarkan miliaran rupiah tetapi tak laku-laku.

Adapun Pak Mo semakin berjaya. Usahanya makin maju dan bahkan dikembangkan ke lini lain. Sangat jauh dari keuangan Pak Ma yang kering kerontang. Pak Mo diuji dengan diabetes, tetapi dia tertib mengikuti petunjuk dokter sehingga sehat walafiat hingga kini. Badannya bugar, wajahnya selalu semringah, dan kakinya masih kokoh melangkah ke masjid untuk menunaikan shalat lima waktu. Sang istri juga diuji dengan sakit empedu, tapi tetap sehat hingga kini—saya yakin berkat kegemaran mereka berdonasi atau medermakan harta tanpa perhitungan.

“Ah, itu kan karena sudah kaya jadi bisa banyak bersedekah!” mungkin orang tergoda berkata demikian. Asal tahu saja, keluarga Pak Mo sudah sejak dulu ringan tangan, bahkan ketika masih susah. Toh orang kaya seperti Pak Ma tetap tak tergerak untuk royal membantu sesama. Kemurahan Pak Mo dan Bu Mo sungguh menginspirasi kami sekeluarga. Mereka tegar dalam semangat berbagi.

Maka begitu pindah ke daerah, komitmen saya adalah berupaya agar bisa berguna untuk masyarakat. Saya jelas bukan orang kaya, tapi itu bukan halangan untuk membantu sebab kami bisa menyumbang lewat karya.

Tiga peran penyemangat kehidupan

Saya pernah menulis di blog ini betapa dilematis balik ke kampung halaman di mana peluang serbaterbatas. Mau buka usaha, tak punya modal. Hendak bekerja sebagai karyawan, tak mungkin lagi lantaran faktor usia. Akhirnya saya menekuni dunia tulis-menulis, mulai dari mengeblog, menyunting (pekerjaan saya dulu), menerjemahkan, me-layout buku, hingga membuat desain sampul yang semuanya saya kerjakan secara lepas (freelance). Rezeki ternyata selalu ada meskipun tak selalu seperti yang saya inginkan. Alih-alih mengkhawatirkan aliran rezeki, saya berkonsentrasi pada peran-peran kecil yang saya maksudkan mengikuti jejak Pak Mo.

1 – Saung Literasi

Sewaktu masih tinggal di Bogor, kami pernah mengelola tempat les bahasa Inggris secara cuma-cuma untuk anak-anak yang tidak mampu. Sempat berjalan 3 tahun lalu vakum hingga kami pindah ke Lamongan sekarang. Di tempat baru ini kami mengibarkan bendera Saung Literasi karena anak-anak bukan hanya belajar bahasa Inggris, tetapi juga membaca dan menulis, peduli lingkungan, hingga menularkan semangat berbagi yang sudah jadi komitmen saya dan istri. Baru berjalan selama 8 bulan, hasilnya memang belum memuaskan tapi sangat menjanjikan.

Saya yang sakit-sakitan mendadak sehat bugar ketika belajar bersama mereka. Saya yang tak dilimpahi harta merasa begitu kaya begitu merekam anasir minat dan apresiasi setiap kali anak-anak datang setiap Sabtu malam dan Minggu sore. Dalam banyak hal lain saya mungkin kalah oleh orang lain, tapi di Saung Literasi inilah boleh dibilang saya merasa paling merdeka dan punya otoritas untuk menentukan kebahagiaan saya sendiri—tanpa khawatir dengan embel-embel atau tafsiran orang lain. Sangat mungkin berkat senyum merekalah hadiah demi hadiah kontes blog bisa saya raih. Alhamdulillaah

2 – Pengurus TPQ dan Imam Rawatib

Begitu masjid perumahan difungsikan, saya didapuk masuk dalam divisi pendidikan di TPQ. Tak mungkin saya tolak karena spiritnya senada dengan Saung Literasi. Selain turut merumuskan kurikulum bersama anggota tim, saya harus siap menggantikan guru yang berhalangan hadir sewaktu-waktu. Harap maklum, mengingat bisyarah atau honor yang bisa ditawarkan memang kecil jadilah kami pengurus harus siap membantu asalkan kegiatan KBM terus berjalan. Karena saya freelancer, saya relatif selalu punya waktu dibanding teman-teman pengurus lain sehingga saya selalu siap menggantikan dan saya sangat menikmatinya.

Mendongeng, menularkan kebaikan untuk sobat belia

Selain sesekali mengajar di TPQ, saya mendapat amanah menjadi imam Shalat Subuh pada hari-hari tertentu. Ini tugas berat yang awalnya setengah hati saya terima. Karena cari imam sulit, saya pun akhirnya mau dan merasakan manfaat yang besar. Pertama, saya mau tak mau harus rajin shalat fardhu di masjid—bukan hanya Subuh. Kedua, kualitas bacaan ayat dan tambahan hafalan surah terus bertambah agar ayat Al-Quran yang saya baca tidak monoton. Inilah kegembiraan paling dahsyat yang pernah saya terima karena saya setiap hari harus melakukan muraja’ah dan ada kenikmatan tak tertandingi begitu hafalan bertambah.

3 – Admin Nasi Bungkus Community (NBC)

Pernah saya tulis di blog ini masa di mana kami mengalami titik nadir. Ketika si bungsu lahir, tagihan menerjemahkan buku tak kunjung cair. Bukan hanya kelahiran lewat bedah Caesar yang biayanya cukup besar, tak lama berselang motor baru kami juga hilang. Hanya tersisa uang tak sampai 10 ribu rupiah yang akhirnya saya belikan beras setengah liter dan dua bungkus mi instan. Untunglah si bungsu masih minum ASI.

Sejak saat itu kami tahu perihnya lapar. Sejak kesulitan itu, saya jadi paham betapa merana orang yang tak sanggup makan. Perut perih, hati merintih—pecah berkeping-keping. Setiap kali mengenangnya, saya tak bisa menahan air mata. Maka ketika keadaan membaik, saya bergabung dalam komunitas Berbagi Nasi yang berbasis di Bandung. Organisasi tanpa bentuk ini bergerak sporadis di seluruh Indonesia dan bekerja sama dengan banyak relawan sosial lainnya.

Begitu kami meninggalkan Bogor, saya beruntung menemukan Nasi Bungkus Community (NBC) di kota kami. Saya semakin bersemangat begitu saya dipercaya menjadi admin medsos dan mendapat tugas menyusun video setiap pekan untuk dilaporkan kepada para donatur. Kendati hanya nasi bungkus, tapi percayalah rasa lapar yang mendera sungguh sangat berbahaya jika tidak diredam dengan makanan. Setiap Jumat pagi ada semangat membuncah untuk terus menyalurkan nasi siap santap bagi orang-orang kelaparan seperti saya dahulu. Selain nasi, ada pula program pengadaan air bersih yang sebagian terekam di bawah ini.

Video kelangkaan air parah akhir tahun lalu di sejumlah desa di Kabupaten Lamongan

Belakangan NBC mendirikan Omah Ngaji dan mengamanahi saya mendongeng dua kali dalam sebulan yang tentu saja saya sambut dengan senang hati. Saya bisa bercerita banyak hal lewat dongeng yang sudah berjalan selama satu bulan. Dengan berbagai kegiatan sosial ini, waktu saya sudah cukup tersita. Mengelola Saung Literasi, mengurus TPQ dan jadi imam, menjadi admin NBC, mendongeng di Omah Ngaji—ditambah menulis sebagai bloger oh sungguh saya syukuri.

‘Musibah’ itu datang kembali

Saya yakin itu semua termasuk sedekah, dalam bentuk jasa dan pengabdian. Namun entahlah, di saat saya merasa sudah mencurahkan tenaga, pikiran, dan uang untuk kebaikan, mengapakah titik nadir iru hadir kembali? Pesanan pekerjaan menulis tiba-tiba sepi, lomba-lomba blog tak lagi saya menangi. Ketika mengecek email dengan harapan ada tawaran pekerjaan, yang muncul justru newsletter yang mengabarkan Suriah tengah dirundung kengerian musim dingin, atau Palestina yang mengalami kelangkaan air bersih. Saat memeriksa grup-grup WhatsApp kalau-kalau ada info lowongan menulis, yang dikirim lewat broadcast justru kecamuk perang di Mali yang menewaskan kaum Muslim dan banyak lagi kabar di tanah air yang butuh uluran tangan.

Semua itu seolah hendak mengatakan dengan lantang, “Hai, Rudi! Bantu kami agar kau dibantu. Help more in order to get even more!” Sungguh perih bahwa ketika saya merasa butuh pertolongan, tapi pesan-pesan itu justru menafikan bahwa sayalah yang mesti menolong. Saya jelas (masih) kurang berdonasi, jadi sangat mungkin saya kurang bersyukur. Saya pun teringat pada kunjungan ke pameran syariah di Surabaya akhir tahun lalu ketika saya menyinggahi booth Dompet Dhuafa.  

Saya mampir karena tertarik dengan program pemberdayaan yang selama ini digarap oleh Dompet Dhuafa. Selain Rumah Sehat Terpadu di Parung yang dulu sering saya lewati, Dompet Dhuaha kuat perannya di bidang pendidikan seperti Beasiswa Etos yang fenomenal dan Smart Ekselensia yang juga ada di Bogor. Berkiprah sejak 1993, Dompet Dhuafa adalah solusi untuk menyalurkan zakat, infak, dan sedekah agar harta kita bersih dan bisa dipergunakan untuk menunjang 130-an program pemberdayaan umat yang sangat bermanfaat.

Produk lokal berjaya berkat binaan Dompet Dhuafa

Dari gerai Dompet Dhuafa dalam pameran itu saya membawa pulang kopi lokal asal Temanggung yang pengembangannya didukung dan dibina oleh Dompet Dhuafa. Selain menikmati kopinya, secara tak langsung saya turut menyokong program pemberdayaan masyarakat agar para petani lokal semakin maju dan kian percaya diri. Selain itu, saya juga ingin berkontribusi dalam bentuk rupiah lewat Dompet Dhuafa.

Dalam himpitan ekonomi, di tengah sepinya job dan rezeki, saya menemukan video berikut ini yang membuat saya mbrebes mili alias menitikkan air mata. Video ini mengingatkan saya betapa saya kurang bersyukur dengan tidak mengoptimalkan waktu untuk mendalami dan menjalankan agama Islam dengan pancaindra yang berfungsi sempurna. Sementara saudara-saudara penderita tuli berjuang mati-matian untuk mengenal Allah dan mendalami Al-Quran. Simak tayangan berikut, biarkan hati kita yang memandu.

Saya pun tergerak mendonasikan sejumlah uang untuk program ini–tentulah dalam jumlah yang proporsional di tengah kerontang ekonomi yang menguji kami. Karena zakat belum mencapai nisab, saya pun diarahkan untuk mengemas donasi ini sebagai infak/sedekah. Dibantu admin melalui pesan WhatsApp, saya dengan mudah melalui tahapan berdonasi sampai proses transfer selesai.

Tinggal pilih sesuai program yang dikehendaki.
Pemeriksaan data dan panduan transfer
Lega setelah donasi dipastikan masuk.

Alhamdulillah, lega akhirnya turut mendukung program positif sekaligus mempromosikannya lewat blog ini. Setetes sumbangan, ibarat kontribusi sebutir pasir, begitu membahagiakan sebab saya yakin donasi itu akan ditasarufkan dengan benar oleh lembaga yang tepercaya selama puluhan tahun. Tak perlu ragu untuk berbagi karena berbagi justru menambah, bukan mengurangi. Tak perlu menunggu berlebih untuk berbagi sebab berbagi bisa sesuai dengan kemampuan diri. Sekecil apa pun akan sangat berarti untuk saudara kita yang menanti.

Sekali berdonasi, banyak pihak difasilitasi.

Ingat, semua yang kita miliki akan dimintai pertanggungjawaban. Termasuk kewajiban membantu sesama pada saat kita mampu namun mencari alasan agar tidak mengeluarkan sedekah/infak, terutama zakat. “Tidak alasan untuk tidak memberi,” tentu kita sepakat dengan pendapat Ustaz Abdul Somad. Tak penting lagi apa yang sudah kita punya atau belum kita miliki. Yang penting adalah kemauan bertindak sesuai kemampuan dan kapasitas. Ayo berdonasi!

Tak lama setelah donasi terkirim, sungguh gembira saya ketika tawaran menerjemahkan datang, menjanjikan keuntungan. Pada saat yang sama, order layout buku masuk dan bahkan ada yang saya tolak. Alhamdulillah, jalan selalu ada. Berbagi benar-benar tak akan mengurangi, justru semakin membesarkan hati!

Seperti kata Churchill di awal tulisan ini bahwa pendapatan memang kita peroleh dari apa yang kita dapatkan, dari pekerjaan atau usaha kita. Materi kita raup dari hasil usaha atau gaji. Namun untuk bisa merasakan denyut kehidupan yang hidup, kita harus sudi memberi kepada orang lain. Pekerjaan atau usaha menegaskan eksistensi diri kita, sedangkan kemurahan hati memperkuat denyut kehidupan agar senantiasa segar dan terpelihara dengan sehat. Jadi jangan takut berbagi agar hidup kita semakin berenergi—terawat dalam kesegaran jasmani, terjamin dalam jalinan solusi yang tak pernah kita bayangkan.

Advertisements

26 thoughts on “Agar Hidup Berenergi, Jangan Takut Berbagi!

    1. Memang keren Dompet Dhuafa, Mbak Nurul. Ke sini aja kalau mau kasih zakat atau infak dan donasi macam-macam. Cerita Mbak Nurul yang hadiah umroh itu juga gokil abis kok. Top!

      Like

  1. Membaca postingan ini saya jadi malu sendiri, saat ada pemberitahuan atau permintaan sedekah kerap terabaikan. Terbesit dalam pikiran ah…. Nanti saja saat punya uang berlebih

    Like

    1. Sama, Mbak. Saya juga sering sengaja melewatkan tawaran seperti itu, Malas-malasan bacanya, beda sama jawab email tawaran menulis hehe. Alasannya ya gitu, belum cukup buat sendiri. Gitu terus sampai beneran uang kita jadi ga cukup deh hiks….

      Like

  2. Kalau kata kyai saya, jangan tunggu kaya untuk sedekah tapi sedekahlah sesuai kemampuan dan kondisi ekonomi kita. Karena dengan sedekah hidup kita menjadi lebih bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT

    Like

    1. Benar sekali, Mas. Kalau menunggu kaya, besar kemungkinan kita enggak bakal mau bersedekah karena merasa terus kurang dan enggak kaya juga. Dengan sedekah hidup jadi bertenaga, makin bersyukur karena bisa berbagi dengan yang lebih menderita. Nikmat jadi ditambah terus ya….Sip!

      Like

  3. Terkadang memang ada yang menganggap kalau dirinya sudah bersedekah namun imbal baliknya belum diterima. Kemudian menganggap apa yang sudah di lakukannya hanya sia sia. Padahal rejeki itu ada di tangan Tuhan. Entah kapanpun waktunya, setiap kebaikan yang kita lakukan (tentunya dengan rasa ikhlas) akan ada balasan tersendiri untuknya.

    Like

    1. Ya, Mas. Seperti cerita yang saya sebut di awal, mungkin sebenarnya sudah dibalas tapi dalam bentuk lain. Cuma kan kita maunya berbentuk materi atau uang–itu pun minta yang besar dan banyak. Jadi ya meleset terus harapan kita terus mikir seolah sedekah enggak ada guna atau dampaknya. Semoga kita enggak gitu ya Mas karena masih banyak yang bisa kita lakukan selain kasih sedekah uang, seperti kemampuan dan tenaga.

      Like

  4. Cerita yang mengalir apa adanya seperti ini ku sangat suka mas… kalo ga ada halangan aku ada rencana mau backpacker keliling indonesia… kalau diizinkan aku boleh mampir ga ke saung literasinya mas.. ? aku ingin sedikit berbagi juga dengan adik2 disana…

    Semangat berbagi mas…
    Semoga menang lomba blognya… amin

    Like

  5. Iya ya Pak, kadang kita manusia jadi makhluk yang itung-itungan. Mau sedekah aja mikit dulu balasannya nanti berapa kali berapa. Padahal andai aja kita ikhlas, tanpa peritungan, ada rasa nyes damai yang tahu-tahu kita rasakan kayak entah karena apa.

    Like

    1. Begitulah kita, Ka. Quran sendiri dah menyindir: kalau kekurangan kita mengeluh enggak keruan, tapi kalau dikasih berkat malah jadi pelit dan perhitungan. Memang berat sih, apalagi buat konsisten dalam berbuat baik. Ada aja alasan untuk tidak mau memberi. Masih kurang dan masih ada waktu biasanya jadi modus padahal kurang dan lebih kan relatif, toh jatah hidup kita enggak tahu. Padahal ada sensasi kepuasan tersendiri ya pas habis berbagi apa pun?!

      Like

    1. Begitulah, Mas. Hidup jadi makin berarti kalau kita berbagi, serasa kita selalu berlimpah dan tak ada alasan untuk mengeluhkan segala keterbatasan. Kita mungkin masih kurang, tapi bukan alasan untuk merasa paling menderita. Berbagi itu menguatkan, betul kan Mas?

      Like

  6. Halo mas Belalang, sy sampe berulang kali cerita diatas. Sungguh jleb sambil merenung, untuk tak lupa berbagi meski bukan dalam kondisi lapang. Tulisan ini sungguh bernyawa. Top banget. Kapan2 aku boleh ya maen ke Saung Literasinya 🙂

    Like

    1. Terima kasih, Septi. Menulis juga bentuk berbagi kan? Jadi jangan kendor semangat. Silakan mampir ke rumah, soto menanti hehe. Asal jangan bawa tetangga yang hobinya mencuci mobil sampai airnya melimpah ruah itu hihi….

      Like

  7. Cair, luwes, dan inspiratif. Tiga kata paling tepat untuk menggambarkan artikel Mas Rudi kali ini. Saya menikmati betul setiap kata yang ditaja. Mungkin tidak disadari. Melalui artikel ini, Mas Rudi sejatinya sedang berbagi, baik inspirasi kisah yang diangkat maupun ilmu merangkai kata.

    Sukses terus, Mas. Saya doakan semoga juara. Amin Yaa Rabb.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s