Rajin dan Kadin, Kunci Kemajuan Indonesia

Seperti hari-hari lainnya, pagi itu saya menembus udara dingin Bogor demi mengantar kue wingko produksi sendiri. Itu terjadi tahun 2015 saat saya belum pindah ke kampung halaman. Tahun itu pula Pak Fahmi, teman saya penjual kue soes, menceritakan kisah seorang anak muda asal Sumatera yang sangat inspiratif. Sebut saja ia Rama. Pak Fahmi kerap berjumpa Rama saat ia mengirim soes ke sejumlah lapak.

Yang Pak Fahmi ketahui tentang Rama adalah pemuda biasa yang sehari-hari mengantar donat ke beberapa toko atau kios. Selidik punya selidik, donat itu ternyata bukan buatan Rama sendiri, tetapi ia beli dari produsen di daerah Karadenan. Yang menarik, Rama berani membeli putus semua donat yang dia distribusikan alih-alih menggunakan sistem konsinyasi atau titip jual.

Suatu pagi, saat mengantarkan kue ke kantin sebuah kampus swasta, Pak Fahmi kaget ketika memergoki Rama sedang bermain bola basket di halaman kampus tersebut. “Iya, Pak. Saya kuliah di sini,” ujar Rama sembari tersenyum menjawab rasa penasaran Pak Fahmi.

Rp6 juta per bulan!

“Memang sih enggak keliatan keren, Pak. Pake motor bebek dengan modif buat angkut donat. Tapi dari sini saya paling enggak dapat 6 juta per bulan. Bisa kirim juga buat orangtua di Sumatera sana.”

Ente top! Udah mulai usaha sejak muda dan enggak malu. Saya mah termasuk terlambat,” Pak Fahmi menimpali seraya mengacungkan jempol. Usaha kue yang dirintisnya bersama istri memang baru berjalan 4 tahun tetapi omsetnya mencapai belasan juta.

Kisah Rama menegaskan bahwa usaha yang tampak sederhana ternyata mampu meraup untung cukup besar, hanya dengan kulakan donat. Rp6 juta rupiah adalah angka yang fantastis bagi seorang mahasiswa aktif, setara gaji supervisor menengah di Bogor dengan beban kerja yang lebih berat.

Anak-anak seperti Rama kelak akan mampu menghadapi tantangan hidup dengan sigap sebab telah terlatih menaklukkan kesulitan dan menghadapi berbagai macam orang. Dengan bekal ilmu yang ditimba selama kuliah, dia bisa menciptakan peluang usaha alih-alih mencari kerja belaka. Saya jadi teringat pada siklus hidup ikan salmon yang penuh dengan value untuk kita tiru.

Belajar Bisnis dari Ikan Salmon

Ikan salmon yang terkenal mengandung gizi tinggi awalnya tinggal di perairan tawar (sungai) yakni saat telur-telurnya menetas. Setelah menetas pada bulan November, ikan-ikan kecil yang disebut alevin tersebut menetap di antara kerikil di dasar sungai dan bertahan hidup dengan memakan plankton. Begitu pasokan makanan habis, alevin pun meninggalkan dasar sungai pada bulan Mei-Juni dan beralih menjadi fry.

Fry lantas berkembang menjadi smolt yang terus bergerak ke muara sungai menuju lautan lepas. Selama di laut, salmon berpetualang hingga 4-7 tahun dan harus berhadapan dengan predator seperti anjing laut, burung, dan manusia. Begitu mencapai usia dewasa dan siap bereproduksi, ikan salmon yang hidupnya berkoloni akan berkerumun dengan koloni lainnya guna mempersiapkan perjalanan kembali ke sungai tempat mereka dilahirkan.

Perjalanan pulang tidaklah mudah. Selama berbulan-bulan mereka harus rela melewati batu karang, berenang melawan arus deras, melompati air terjun dan siap berhadapan dengan predator utama yakni beruang. Uniknya, selama berenang pulang ke sungai, salmon berpuasa alias tidak makan apa-apa. Mereka mengandalkan cadangan lemak di tubuh sebagai sumber energi. Pada fase inilah banyak salmon mati entah karena terluka, kelelahan, dan tentu saja dimakan predator.

Begitu tiba di sungai, salmon yang tersisa sedikit itu pun menyiapkan liang sedalam 25-30 cm di mana salmon betina mengeluarkan 3.000-8.000 butir telur untuk dibuahi oleh salmon jantan. Ketika pembuahan rampung, liang pun ditutup dengan kerikil sementara salmon jantan dan betina bertahan di sekitarnya sampai mereka kehabisan energi dan akhirnya mati. Bangkainya membusuk dimakan bakteri dan berubah jadi pupuk alami. Pupuk itu lantas disantap oleh plankton dan serangga kecil yang di kemudian hari akan menjadi santapan salmon kecil (alevin).

Melihat perjalanan salmon, ada pelajaran bisnis yang tersirat. Bahwa memulai usaha bisa dimulai dari membangun pasar terlebih dahulu. Jika pasar sudah tercipta, barulah kita bergerak ke produksi. Kita berdagang dulu seperti Rama lalu beralih ke sektor industri begitu pasar sudah mantap. Penetrasi pasar bukan perkara mudah, dibutuhkan modal besar dan perjuangan hebat seperti salmon yang menantang arus deras lautan (hilir) untuk bisa melaju ke sungai (hulu) demi bereproduksi. Materi bernas ini saya petik dari fragmen buku berjudul Keluar Dari Jalan Buntu karya Dr. Ir. BS. Kusmuljono.*

Rajin dan Kadin Kuncinya

Data kemiskinan di Indonesia sudah banyak tersebar di mana-mana. Alih-alih fokus mencari solusi, selama ini yang terjadi justru berkutat pada debat saling menyalahkan terutama terhadap pemerintah. Kegiatan usaha atau bisnis bisa menjadi jalan keluar untuk menurunkan angka kemiskinan karena perdagangan bisa membawa keuntungan finansial dan sosial bagi berbagai kalangan masyarakat.

Rakyat yang kekuatan ekonominya meningkat akan lebih berdaya dalam hal lainnya, termasuk memiliki kepercayaan diri untuk membangun bangsanya. Oleh karena itulah diperlukan Sumber Daya Manusia yang unggul agar produktivitas rakyat turut terdongkrak. Saya merumuskan formula Rajin yangmerupakan kependekan dari Resilient, Aktif, Jaringan, Inovatif, dan Nasionalis sebagaimana bisa dilihat dalam infografik berikut ini.

R – esilient

Resilient berarti punya sifat lembam yakni tahan banting terhadap berbagai tantangan atau kondisi kritis sekalipun. SDM yang unggul harus ulet dan fleksibel terhadap perubahan; mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman. Adaptif terhadap kebutuhan paling relevan.

Saya sendiri pernah merasakan pahitnya penolakan saat berdagang kue, juga perihnya didera kerugian saat berbisnis penerbitan. Itu semua ibarat obat agar kita siap menghadapi risiko lebih besar. Rama mungkin pernah dicibir temannya lantaran berjualan donat dari toko ke toko, tetapi sifat resilient mengembalikan semangatnya untuk maju.

Resilient berarti bangkit kembali setelah terpuruk atau dilanda tekanan dengan landasan optimisme dan harapan. Spirit maju setelah gagal banyak dimiliki oleh para pelaku usaha, salah satunya mereka yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri alias Kadin sebagai wadah komunikasi dan berbagi pengetahuan sesama pebinis.

A – ktif

Sudah bukan zamannya kita berpangku tangan dan menanti keajaiban terjadi. Apalagi anak-anak muda yang punya ilmu, keterampilan, dan wawasan sesuai kondisi masa kini. Agar menjadi pribadi unggul, kita mesti bergerak, terutama aktif belajar untuk memuluskan peralihan dari satu level ke level berikutnya.

Bukan hanya belajar ilmu bisnis, tetapi aktif pula menimba pengalaman yang bisa kita serap para pelaku usaha senior seperti mereka yang tergabung dalam Kadin Indonesia. Aktif berorganisasi dan gerakan sosial juga sangat bermanfaat untuk menggembleng kematangan jiwa sehingga kita tak mudah terprovokasi saat dilanda kekalahan atau kekalutan.

J – aringan

Punya produk bagus tetapi tak punya pasar yang disasar, itu jelas petaka. Modal besar bisa terbuang percuma kalau tak ada pasar yang menyerap produknya. Apalagi kalau kita sudah bergerak di ranah industri, tentu biaya dan risiko akan jauh lebih besar. Jika tak pandai berhitung, kita bisa terjebak dalam kebangkrutan dan utang mengerikan.

Kadin Indonesia bisa menjadi sarana yang tepat untuk membangun relasi dan koneksi guna mewujudkan akselerasi usaha. Tentu bukan hubungan negatif untuk mengeruk keuntungan sepihak apalagi nepotisme belaka, tetapi sebuah jaringan (networking) yang saling menguatkan dan sinergis. Persinggungan dengan berbagai pelaku bisnis dalam Kadin akan memperluas jangkauan produk dan potensi keuntungan. Berjejaring itu sangat penting.

I – novatif

Era serbadigital saat ini menuntut kita bergerak sangat cepat dan bersikap kreatif jika ingin memenangkan kompetisi. Dengan persaingan yang kian terbuka, bahkan sangat luas nyaris tanpa batas, kita harus menawarkan produk dengan keunggulan yang istimewa. Inovasi sudah menjadi kewajiban mutlak, atau kita akan ditelan kemajuan zaman dalam ketertinggalan.

Oleh karena itulah Kadin Indonesia akan mengembangkan Program Pengembangan Ekonomi Digital pada tahun 2020 mengingat ekonomi digital tak mungkin lagi dielakkan. Yang bisa dilakukan bukan menghindarinya, tetapi menyiapkan regulasi dan infrastruktur sehingga percepatan industri 4.0 bisa dirasakan oleh perusahaan-perusahaan tradisional sehingga lebih adaptif dan responsif.

N – asionalis

Disintegrasi menjadi isu strategis belakangan ini. Mempertahankan keutuhan NKRI bukanlah tugas pemerintah semata-mata, melainkan tanggung jawab setiap warga negara—termasuk para pelaku usaha yang turut menentukan laju ekonomi bangsa. SDM unggul adalah mereka yang punya jiwa nasionalisme dalam pengertian seluas-luasnya.

Apa pun profesinya, sehebat apa pun jabatannya, peran-peran itu akan terkikis oleh jiwa koruptif jika tak dilandasi oleh kecintaan pada negeri tercinta. Keberpihakan pada produk lokal harus menjadi prioritas untuk dimajukan. Dalam hal ini, Kadin Indonesia memasukkan butir peningkatan ekspor ke dalam program kerja tahun depan dengan orientasi mendorong kinerja para pengekspor dengan tentu saja memastikan peningkatan daya saing produk.

Kontribusi Kadin

Dengan kesadaran penuh bahwa dunia usaha nasional merupakan motor perekonomian nasional yang sehat dan dinamis, maka Kadin berupaya melakukan sejumlah hal demi mewujudkan pemerataan kesempatan berusaha, terlaksananya pembangunan serta terjaminnya kesejahteraan rakyat. Lewat Rapimnas di Bali November lalu Kadin Indonesia menegaskan komitmen mereka untuk membantu akselerasi kemajuan bangsa lewat ekonomi sehingga persatuan dan kesatuan bangsa dapat dipertahankan. Muaranya tentu saja adalah terbangunnya ketahanan nasional agar kita dapat bersaing dalam percaturan perekonomian regional dan internasional.

Pembukaan lapangan kerja

Dengan komitmen untuk mendorong tumbuhnya industri berdaya saing dan bernilai tambah, termasuk membuka akses pasar terhadap produk lokal unggulan, sebagaimana tertuang dalam program kerja Kadin yang dirumuskan oleh Rapimnas 2019 di Bali 28-29 November silam, kita optimistis bahwa penciptaan lapangan pekerjaan akan mampu diwujudkan sehingga Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang Februari 2019 tercatat 5,01% akan diturunkan secara signifikan.

Peningkatan SDM

Selain itu Kadin punya perhatian serius terhadap pengembangan SDM Indonesia yang secara demografis didominasi oleh 70 % usia produktif dan 30 % usia nonproduktif. Kadin percaya bahwa pengelolaan yang cermat akan mendorong SDM tersebut menjadi lebih profesional, produktif, terampil dan akhirnya punya daya saing dengan tenaga asing.

Kadin Indonesia berkomitmen mendukung upaya percepatan pada bidang pendidikan dan pelatihan vokasional atau kejuruan, termasuk kesempatan magang pada berbagai industri serta peningkatan kualitas berbagai lembaga pendidikan juga pelatihan keterampilan. Lewat Kadin, anak-anak muda bisa berkembang untuk memajukan ekonomi bangsa.

Mereka akan ditempa untuk menggeluti ladang bisnis dengan mentorship dari para senior dan partnership yang saling menguntungkan. Sinergi berbagai pelaku usaha dari berbagai skala dapat membangun ekosistem bisnis yang produktif dan optimis menyambut perubahan.

Pembinaan dan pemberdayaan UKM

Yang paling menggembirakan, UKM sebagai komponen bisnis lokal dimasukkan dalam deretan 10 butir rekomendasi teratas yang dirumuskan oleh Rapimnas Kadin November 2019 silam. Penguatan UMKM melalui bantuan pembiayaan adalah langkah strategis untuk mengangkat UMKM ke level selanjutnya sehingga produksi mereka bisa digenjot agar diserap pasar lebih luas. Tentu saja dengan dibarengi peningkatan kualitas produk yang dijual, yang akan dibina oleh Kadin Indonesia–baik UMKM maupun koperasi di seluruh tanah air.

Jika setiap pelaku bisnis memiliki atribut RAJIN dan tak enggan bergabung dalam Kadin lalu bergerak bersama, niscaya visi Indonesia untuk membangun sumber daya manusia yang unggul akan terwujud. Sudah saatnya kita meyakini bahwa produktivitas, daya saing, dan fleksibilitas bukanlah bakat, melainkan pilihan yang bisa kita bangun dan putuskan dengan cermat sebagai bekal menghadapi tantangan global yang semakin dinamis dan sarat risiko tetapi juga menawarkan peluang untuk mempercepat kemakmuran.

Rajin dan Kadinlah kunci kemajuan kita!

Sumber bacaan:

Dr. Ir. BS. Kusmuljono. 2011. Keluar Dari Jalan Buntu . Bogor: IPB Press

12 Comments

    1. Betul sekali, Mas. Faktor kali sangat menentukan. Meskipun untung dikit tapi kalau terjual banyak ya gede juga ya hasil yang didapatkan. Mas Eko juga jualan kan, lanjutkan Mas!

      Like

  1. Jiwa wirausaha seperti Rama layak dipupuk dan ditularkan ke anak muda lain. Pantang menyerah atau malu menjalani usaha sejak dini. Semoga setelah Rapimnas Kadin makin berkembang dan membawa angin positif buat kemajuan ekonomi Indonesia.

    Like

    1. Semoga saja banyak Rama lain yang tergerak untuk memanfaatkan potensi merek sejak belia, tanpa menunggu rampung studi atau banyak pengalaman dulu. Ditempa proses dan kegagalan, mereka akan banyak belajar sehingga menjadi pribadi unggul, yang akhirnya berdampak pada meningkatnya kemakmuran Indonesia. Salah satunya lewat karakter Rajin dengan dukungan Kadin, betul?

      Like

  2. Wah kagak nyangka ya. Usia masih muda tapi penghasilannya besar melebihi pekerja kantoran. 6 juta itu lebih dari cukup. Bisa kuliah sambil usaha. Setelah lulus wawasan dapet buat ngembangin usahanya

    Liked by 1 person

    1. Iya, Mas. Enggak perlu malu asalkan yang kita kerjakan halal damn malah produktif nambah pendapatan. Kalau lulus bisa ngembangin usaha karena modal dan pasar sudah ada. Ayo bikin bisnis juga, Mas!

      Like

  3. Ini loh yang musti ditiru berjuang dari nol, bertahan dari kerasnya kehidupan, hingga pada akhirnya menikmati dan jangan lupa untuk menyediakan lapangan pekerjaan bagi yang lainnya.

    Like

    1. Betul, Mama Indri. Berjuang sejak dini, tak perlu malu karena hasilnya akan dipanen kelak: keuntungan finansial dan pengalaman yang tak ternilai. Akhirnya punya kesempatan untuk menciptakan peluang kerja untuk teman-teman lainnya.

      Like

  4. Bener mas rudi, inovasi di bidang industri haruslah dinamis, dan proporsional. Itulah kenapa industri kreatif, industri digital sangat bernilai di era revolusi industri 4.0 ini, karena ya itu, didalamnya penuh inovasi. So, mantap seandainya pebisnis di Indonesia bangkit dari keterpurukan dengan ide-ide brilian mereka. Semoga kedepannya terwujud. Amin..

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s