Ingin Punya Bisnis Sendiri? Ingat 10 Hal Ini Agar Keinginan Tak Cuma Jadi Impian

Setahun setelah resign dari kerjaan kantoran sebagai editor, saya dan istri merintis bisnis penerbitan buku, bidang yang tak jauh dari pekerjaan kami sebelumnya. Dana yang mepet membuat kami hanya mampu menerbitkan dua judul buku dengan risiko kerugian yang tak bisa kami hindari. Kalau dipikir-pikir, ternyata ada beberapa kesalahan yang kami lakukan sehingga bisnis tidak bertahan lama.

Beberapa poin itu baru saya sadari ketika mengikuti acara #Funancial yang diselenggarakan oleh Home Credit Indonesia di Boncafe, Surabaya Sabtu 14 Desember lalu. Mengusung tagline #YangKamuMau, talkshow ini benar-benar bermanfaat untuk mengingatkan betapa pentingnya mengelola keuangan, baik saat menjadi karyawan maupun ketika menjalankan bisnis sendiri. Hari gini siapa sih yang tidak tergiur merintis usaha karena iming-iming kebebasan waktu dan kebebasan finansial?

Sayangnya, banyak yang tidak tahu bagaimana menjalankan usaha yang stabil sehingga berujung pada keterpurukan atau kebangkrutan alih-alih memanen keuntungan meskipun harus diselingi kerugian. Saya pribadi termasuk terbantu oleh Funancial kali ini mengingat melek informasi finansial ternyata jadi bagian penting dari kesuksesan mendatang.

1 – Tentukan financial goal

Yang saya lewatkan saat menjalankan usaha adalah membuat financial goal yang jelas. Saking menggebunya buka usaha begitu terbebas dari status karyawan, usaha langsung saja dijalankan tanpa rute yang terencana. Belum jelas ke mana usaha akan diarahkan dan belum pula diikuti dengan target terukur, baik jangka pendek, menengah maupun panjang.

Financial goal ini penting sebagai motor dan energi sekaligus orientasi usaha sehingga saat bisnis mengalami kendala, kita  tetap bersemangat untuk meneruskannya alih-alih berhenti dan menyerah.

2 – Rencana dan komitmen serius

Ketika financial goal telah dirumuskan, kita mesti menyiapkan rencana A, B, C dan sebagainya sebagai antisipasi kalau-kalau usaha mendadak mengalami masalah atau bahkan kebangkrutan. Rencana ini bisa diturunkan dari financial goal yang telah kita tetapkan. “Kalau sudah pilih usaha, ya harus serius jalanin,” ujar Dipa Andika yang siang itu bertindak sebagai narasumber utama dalam #Funancial.

Dipa yang merupakan co-counder Hahaha Corp ini mewanti-wanti agar kita lebih serius menggarap bisnis jika sudah berkeluarga karena punya tanggungan, apalagi jika bergerak di bidang kreatif. Mungkin akan ada ‘tentangan’ dari orangtua, tetapi itu mesti dijawab dengan pembuktian bahwa kita mampu.

3 – Positive thinking

“Sebisa mungkin ya kita tetap menggaji diri kita pada tanggal yang disepakati meskipun bukan lagi karyawan,” kata Dipa lagi tentang pentingnya membangun pendapatan dari usaha sendiri. Jumlahnya minimal sama atau bahkan lebih besar dibanding nilai yang kita dapatkan saat masih bekerja pada orang. “Ya harus optimis dong. Positive thinking aja,” lanjutnya mengenai penghasilan dari usaha sendiri. Attitude seperti itu akan membuat perjalanan usaha menjadi nyaman untuk kita nikmati.

4 – Partner yang tepat

Salah satu kesalahan saya saat menjalankan usaha dulu adalah ketidakhadiran pihak lain untuk mendukung percepatan bisnis. Saya dan istri memang kompeten di bidang produksi sementara sisi marketing atau pemasaran tidak tergarap secara optimal. Buku yang selesai dicetak lantas dikirim ke distributor untuk disebar ke toko buku-toko buku agar dibeli pembaca.

Cara seperti itu terbilang pasif karena kami nyaris tidak menerapkan strategi pemasaran apa pun. Tentang mitos larangan berbisnis dengan teman, Erin mengingatkan bahwa itu sah-sah saja. Kalau bisa ya bukan teman dekat banget dan ia partner itu punya skill yang berbeda dengan kita bisa saling mengisi dan melengkapi proses bisnis. Masing-masing bisa memberikan andil yg proporsional sehingga sama-sama berarti. Dengan begitu, gesekan setidaknya bisa diminimalisasi.

5 – Pencatatan detail

Salah satu PR penting yang sering terlupa dalam pengelolaan keuangan adalah pencatatan. Pencatatan detail mutlak dibutuhkan karena tanpa pencatatan sangat mungkin terjadi promborosan pada pos-pos tertentu yang terlihat kecil tetapi kontinu. “Pakai Excel pun cukup,” ujar Dipa menambahkan. Seringkali orang lebih tergoda mencatat data pemasukan sementara pengeluaran terabaikan. Ini keliru karena rekaman rinci akan membantu kita melakukan koreksi.

6 – Waspadai latte factors

“Hati-hati dengan latte factors, yaitu pengeluaran kecil yang enggak terasa.” Dipa  menyebutkan parkir dan nongkrong sambil ngopi di kafe sebagai contoh latte factor yang berbahaya. Orang setidaknya tanpa sadar bisa menghabiskan uang 900 ribu rupiah untuk pernik-pernik kecil saja. Uang sejumlah itu bisa berubah jadi ratusan juta rupiah jika diinvestasikan selama 10-20 ke depan.

Christie Erin, co-founder Basha Market & Of Shorts, mengamininya dengan menggarisbawahi kebiasaan karyawannya di Surabaya yang cenderung tergiur oleh promo-promo di aplikasi sehingga jadi latte factors yang menyedot penghasilan. “Padahal di kantor ada kopi gratis, mereka tetap memilih ngopi yang promo,” kata Erin sambil terkekeh. Padahal dana tersebut bisa disisihkan untuk ditabung.

7 – Pisahkan rekening

Erin menambahkan bahwa bekerja kantoran tidak masalah karena penghasilan yang didapat bisa dimanfaatkan untuk membiayai usaha yang kita impikan. Bekerja juga bisa memperkaya pengalaman, jadi tak perlu alergi untuk bekerja. Yang penting harus dijalani dengan pengelolaan keuangan yang matang.

Kalaupun pilih banting setir menjadi pengusaha, Dipa meminta agar kita tak lupa membuat rekening berbeda untuk pekerjaan, bisnis, dan pribadi. “14 mungkin!” jawab Dipa ketika Arditya Erwandha selaku host bertanya berapa jumlah rekening miliknya. Semua rekening itu meliputi rekening bank dan aset-aset digital seperti reksadana dan saham.

Pemisahan rekening berguna untuk menghindari tercampurnya dana pribadi dan perusahaan sehingga cashflow jadi tak terpantau. Uang pribadi bisa begitu saja terpakai saat usaha rugi atau sebaliknya. Hal ini akan menyulitkan kita dalam mengukur kinerja bisnis dan membangun kedisiplinan pembukuan.

8 – Dana darurat

Komponen financial planning yang juga sering terlupakan adalah penyediaan dana darurat. Seperti namanya, dana darurat kita pergunakan saat kita menghadapi kondisi tak terduga yang harus segera dituntaskan. Atau benar-benar menginginkan suatu barang yang momennya akan terlewat jika tak dibeli saat itu.

Kecelakaan, sakit, kerugian dalam usaha bisa di-cover dengan dana darurat. Pembelian baju baru saat lebaran atau hari raya juga bisa diambilkan dari dana tersebut jika dirasa sangat mendesak, apalagi jika benda itu ternyata membawa produktivitas. Mengenai besarnya, setidaknya harus 3x pengeluaran untuk orang lajang atau yang sudah menikah, 6x untuk pasutri dengan 2 anak, dan 9-12x pengeluaran bagi pasutri dengan 3 anak. Seandainya dana darurat tidak terpakai, toh bisa dialokasikan untuk investasi.

9 – Investasi  

Berkaitan dengan poin keenam, kita harus menetapkan jumlah tertentu untuk disimpan sebagai investasi. Pos-pos besar seperti latte factors bisakita alihkan untuk saham atau reksadana yang lebih menguntungkan. Investasi punya banyak manfaat. Selain sebagai penghematan, keuntungannya bisa kita manfaatkan untuk membesarkan usaha—dan tentu saja menyiapkan dana pendidikan untuk anak-anak di masa mendatang. Belum lagi kalau bisnis mengalami kendala keuangan, investasi bisa menyelamatkan.

10 – Memandang kerugian

Seperti saya yang pernah rugi saat merintis usaha, semua usaha pun punya risiko yang sama. Dipa mengingatkan agar kita mengubah perspektif tentang kerugian. Rugi dalam berbisnis perlu dianggap sebagai investasi. Asalkan usaha kita bergerak dengan progress meskipun rugi, itu sudah bagus karena kita bisa memetik pelajaran berharga dari setiap kerugian. Lewat kerugian atau kebangkrutan, kita bisa meneliti mana hal yang sudah baik dan mana yang perlu dikoreksi.

Tak terasa waktu 3 jam pun berlalu dengan cepat. Lokasi talkshow yang dipadati ratusan pengunjung meriah dengan aneka games berhadiah voucher termasuk sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif dan seru. Menjelang pukul 1 siang, acara diakhiri dengan satu pemahaman bahwa punya uang banyak itu baik selama kita bisa mengelolanya. Cari uang banyak butuh perjuangan berat, berkebalikan dengan cara menghabiskannya yang bisa kita lakukan dengan kilat.

Akhirnya, mengutip Dipa, definisi kaya sesungguhnya adalah ketika kita bisa bersyukur dan bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Jadi bagaimana pun kondisi keuangan Anda saat ini, pastikan untuk menerapkan FUNancial planning dengan optimis berusaha dan selalu bersyukur agar Yang Kamu Mau bisa jadi kenyataan lewat bisnis yang serius dijalankan.  

36 Comments

  1. Wah, penting banget nih infonya. Apalagi buat yg mau buka usaha sendiri. Mungkin dgn belajar ttg perencanaan keuangan, kerugian akibat kesalahan bisa diminimalisasi. Betul gk sih? 😁🙏

    Like

    1. Betul, Bu. Perencanaan sebelum mulai bisnis dan pengelolaan selama bisnis berjalan sangat penting. Biar arah bisnis jelas dan terutama strateginya bisa disesuaikan. Lanjutkan!

      Like

      1. Kalo ada saldo g*pay, rasanya bawaannya mulut nih gak berhenti ngunyah. Pengen jajan mulu, apalagi promo. Huhu. Dan bener mas, itu semua gak terasa. Apalagi ada sh**pe pay, huah malah buku apa aja masuk keranjang, yah novel, apalah apalah, ntah bacanya kapan. Sekarang, saldo sh**pe pay aku tinggal gak sampe 50rb, baru deh gak lirik2 lagi. Hehe. Asik bener acaranya kemarin mas, jleb banget. Semoga tahun baru bs semangat bikin goal keuangan yang realistis agar semangat nabungnya.

        Like

        1. Begitulah kalau kita enggak kelola dengan baik, Bu. Apa saja bisa kalap karena punya saldo atau uang yang kayaknya sedikit padahal kalau diakumulasi ya jadi besar juga. Semoga habis ini kita makin waspada dalam pengeluaran dan lebih giat buat cari pemasukan. Biar bisa investasi dan naik haji, hehe.

          Like

  2. 1. Blog post ini bagus banget karena memberikan informasi dan motivasi. Terimakasih, masbro!
    2. Dulu jadi editor di publikasi apa, Mas?
    3. Saat menjalankan usaha penerbitan buku, modalnya dari kocek sendiri atau dari investor/bank?
    4. Latte factors memang penting untuk diperhatikan. Saya jadi ingat saat kantor saya beli alat Kangen Water tiga bulan sebelum “didorong” untuk pindah gedung.
    5. Bicara bisnis, saya jadi ingat soal modal keahlian bisnis: produk, pemasaran, dan keuangan. Orang yang jago salah satu belum tentu jago untuk hal lainnya. Dan agak langka ada orang yang ahli dalam dua, atau bahkan ketiga aspek itu sekaligus. Walhasil, membentuk tim yang ahli dalam masing-masing bidang tersebut (dan juga kompak) itu diperlukan.
    6. GUE BARU TAHU MASBRO PUNYA INSTAGRAM. GUE FOLLOW YA BRO. Wkwk…

    Tetap semangat, dan semoga semakin sukses!

    Like

    1. 1. Sama-sama, Mas Adhi.
      2. Dulu kami kerja di penerbitan buku sekolah, Mas. Penerbit Yudhistira.
      3. Pakai uang sendiri untuk buku pertama, lalu melibatkan uang orang untuk buku kedua, Mas. Orangnya saudara sendiri, akhirnya uang dibalikin secara bertahap.
      4. Wah tergiur Kangen Water juga rupanya.
      5. Sepakat banget, Mas. Memadukan skill dalam satu orang cukup sulit, bahkan langka. Kudu cari tim yang solid.
      6. Nama akun Mas apaan? Aku follow jugalah 😀

      Like

  3. Kalau saya, yang wajib terdekat untuk dilaksanakan adalan mencatat detail segala cash flow. Kemana aja mengalirnya, karena penghasilan sebagai full time Blogger. Terkadang gak kelihatan, karena datangnya tak bebarengan🤣🤣🤣

    Like

    1. Cocok, Mas Gesang. Aku pun bermasalah sama pencatatan karena sering ga konsisten. Pas semangat sih kadang dicatat, tapi sering dodolnya. PR banget nih terutama jajan yang ga perlu. Apalagi ngemil pas touring hehe….

      Like

  4. Ketika sudah diingatkan seperti ini ingin sekali bisa berubah.. mulai mengurangi jajan yang terkadang tdk kita butuhkan.. hanya skedar memenuhi keinginan.. “lapar mata”..semoga ya sentiasa dimampukan.. #tfs Mas, Barokallah

    Like

    1. Iya, Mbak. Saling mengingatkan semoga makin semangat berubah ke arah positif. Lapar mata memang bahaya karena kita sering enggak benar-benar butuh padahal duitnya bisa dipakai buat kebutuhan lain yang lebih penting, kayak investasi misalnya.

      Like

  5. Banyak banget PR yang harus saya kerjakan nih berkaitan dengan pengelolaan keuangan. Pencatatan detail, pemisahan rekening, penentuan financial goal, kurangi latte factor

    Like

    1. Semuanya penting, Mbak Nanik, terutama pencatatan secara terperinci karena enggak terasa terasa menentukan arus kas kita. Uang kayaknya cepat habis padahal enggak beli hal-hal besar ya. PR juga buat saya buat konsisten.

      Like

  6. Abis dari acara ini aku langsung merenung. Keuanganku kemarin2 ternyata banyak bocor alusnya gegara latte factors yang gak pernah kerasa. Apalagi jual beli skrg lebih simpel menggunakan uang elektronik, tarik banyak pun berasa gak pake uang. Jadinya jebol diitung2an terakhir. Beruntung ada tips2 dari kak dipa yg bener2 mengedukasi aku banget. Jadi kepikiran buat bisnis yang konsep dan funancial planningnya kudu dimatengin dulu.

    Liked by 1 person

    1. Iya, Cor. Uang hasil jualan online biasanya malah cepat kepakai padahal belum tentu kita butuhkan. Biasanya godaan promosi sih, makanya kudu waspada. Kalau bisa mah buat disimpan dan diinvestasikan agar dana darurat tersedia ya. Sayangnya kok berat banget praktiknya, hehe. Mesti direncanakan dan dikelola dengan teliti.

      Like

  7. Alhamdulilah di ingatkan kembali
    Resign dr keeja kantoran buka usaha sendiri berawal dg laundri yg akhirnya tutup, lanjut mbakoel arumanis sampai sekarang.diikuti usaha2 lain
    Kr pernah bekerja di bank bagian operasioanl jd sdh terbiasa dg pencatatan2.
    Trimakasih sdh saling mengingatkan

    Like

  8. Late factors tu emang ngeri ya Pak. Keliatannya pengeluaran kecil nan sepele. Tapi kalau saja kita catat pos pengeluaran kita, yang kecil-kecil tapi sering keluar dan useless ini malah jadi sumber pengeluaran gede.

    Like

  9. Berkaitan dengan point “Partner yang Tepat” aku jadi ingat waktu yang telah lewat saat suami merintis bisnisnya dan temannya minta bergabung, eh malah dianya yang menggunting dalam lipatan.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s