Menjadi Diri Sendiri dengan Belajar Dari Rumi

DUA TAHUN LALU jagat Twitter sempat heboh akibat cuitan cucu seorang tokoh nasional yang mengungkapkan kemarahan dengan ekspresi brutal dan agresif. Dengan dalih menjadi diri sendiri, ia seolah tak perlu merasa bersalah telah menuliskan opini dengan bafhasa yang kasar apalagi mengingat dia mengenyam pendidikan di luar negeri. Sungguh membawa negative vibe saat itu. Berbeda pendapat sangatlah wajar, tapi tak perlu diungkapkan secara kasar. Betapa sering kita dengar frasa ‘menjadi diri sendiri’ atau anjuran be yourself, tapi implikasi maknanya bisa sangat ambivalens atau penuh kekaburan.

Pahami batasan “jadi diri sendiri”

Lebih baik jadi diri sendiri daripada menjadi munafik. Pernah tidak mendengar atau membaca pendapat seperti itu? Kalimat tersebut seolah menyiratkan bahwa orang yang menjadi diri sendiri bukan munafik, dan bahwa orang munafik tidak bisa menjadi diri sendiri. Masalahnya terletak pada apa maksud ungkapan being yourself yang selama ini banyak didengungkan di mana-mana. Kalau mengaku sudah menjadi diri sendiri agar bisa bebas berbuat dan berucap seenaknya, tentu perlu dipertanyakan pemahamannya.

Menurut saya, keberanian untuk menjadi diri sendiri setidaknya mesti dibatasi oleh tiga kerangka. Pertama, identitas. Kita harus ingat siapa diri kita; harus paham tentang keluarga, suku, dan lingkungan sosial yang melahirkan kita. Saya yakin setiap tradisi mengajak kita berlaku jujur tapi tetap santun. Boleh saja emosional, tapi bukan berarti gampang marah atau temperamental. Jangan sampai kita menjadi pribadi yang anonim, yang tak terikat pada identitas apa pun sebagai jati diri kita.

Kedua, konformitas. Kita lahir dan tumbuh dalam budaya yang memiliki nilai-nilai kemuliaan, baik produk hukum maupun norma agama. Boleh-boleh saja jadi diri sendiri asalkan tidak melanggar tatanan tradisi dan perangkat sosial yang berbasis pada local wisdom dan nilai agama. Konformitas berarti kesesuaian sikap dan perilaku dengan nilai dan kaidah yang berlaku. Jangan sampai internalisasi nilai yang dibentuk oleh keluarga kita hancurkan dengan semangat jadi diri sendiri yang sembarangan.

Ketiga, integritas. Pengertian paling mudah integritas adalah melakukan yang benar dan baik bahkan saat tak seorang pun melihat kita. Menurut kamus, integritas berarti kejujuran, yaitu kesatuan antara ucapan dan tindakan. Jujur bukan berarti meluapkan apa saja tanpa kendali, bukan menumpahkan segalanya sekehendak hati, tetapi berbuat sesuai kapasitas diri dengan tetap menjunjung identitas dan konformitas.

Mengabaikan peluang

Kalau sudah punya patokan begini, saya yakin siapa pun tak akan takut menjadi diri sendiri. Berbekal pegangan yang jelas, BBC Mania tentunya akan Dare to be You alias berani jadi diri sendiri tanpa keraguan. Kita sadar bahwa salah satu kunci sukses dalam meraih impian adalah keberanian tampil sesuai jati diri. Saya jadi teringat sepenggal kisah tentang teman Bunda Xi, istri saya. Teman itu bersikeras menjadi guru PNS di sebuah sekolah dasar negeri. Kepada Bunda Xi dia meminta pertimbangan saat akan melamar lowongan guru honorer yang kebetulan sedang dibuka.

Bunda Xi menyarankan agar dia mengirim lamaran ke sekolah alam baru yang belum lama ini membuka rekrutmen karyawan besar-besaran. Lokasi sekolah alam ini hanya 5 menit dari SD yang dia incar. Setidaknya ada dua alasan kenapa Bunda memberikan saran demikian. Pertama, lowongan guru honorer di SDN itu tidak sesuai dengan jurusan kuliahnya. Jadi jika pun dia diterima saat ini karena ketiadaan kandidat lain, kemungkinannya sangat kecil bahkan nyaris tak ada ia akan diangkat CPNS nanti saat ada peluang. Posisinya akan tergusur oleh kandidat lain yang jurusannya lebih linear walaupun dia fresh graduate.

Alasan kedua, sekolah alam ini baru dibangun sehingga peluangnya untuk diterima sebagai guru sangat besar. Selain itu, kesempatan peningkatan karier terbuka seluas-luasnya karena ia ikut merintis dan membesarkan sekolah tersebut. Sayangnya, ia masih tergiur pada lowongan di SDN kendati kecil kemungkinan diterima dan ilmunya pun tak relevan. Akibat tidak teguh pada kemampuan atau ilmunya, akhirnya saat ini dia limbung tanpa keputusan sehingga tak berkembang.

Belajar dari anak-anak

Tentang konsep dare to be you, saya malah belajar dari si sulung, Rumi. Sebagaimana kita boleh meniru idola atau tokoh terkenal, sah-sah saja dong saya terinspirasi oleh contoh yang ditunjukkan oleh Rumi. Saya pikir karakter dare to be you tepat digambarkan lewat perilakunya selama ini. Bukanlah semua orang adalah guru yang memperkaya pengalaman kita? Toh, tak ada yang 100% orisinal di bawah langit ini. Karya apa pun lahir dari tahapan meniru lewat proses belajar dengan dukungan inovasi. Tak terkecuali di ranah bisnis dan industri kreatif, metode ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi) bukanlah hal memalukan. Yang penting ada kebaruan.

Lugu dan penuh rasa penasaran adalah ciri anak yang wajib kita tiru.

1 | Banyak baca (dare to learn)

Sejak bisa membaca saat memasuki TK, Rumi sudah suka buku. Kini saat dia kelas 4 SD, kegemarannya pada buku masih bertahan dan bahkan cenderung meningkat. Buku-buku yang dibacanya memang sebatas ensiklopedia bergambar dan komik, belum didominasi teks panjang seperti novel atau novela. Namun baginya tak ada hari tanpa membaca. Baik buku cetak atau buku digital di tablet, ia semangat melahapnya bahkan dibaca hingga berkali-kali.

Di mana saja tak afdal kalau ia tak membaca buku, termasuk sebelum dan sesudah tidur. Saat menginap di rumah eyangnya, bekal yang wajib dimasukkan dalam tas adalah buku selain baju ganti. Ia tak peduli walau tak ada temannya yang hobi membaca. Baginya membaca adalah kewajiban dan punya kenikmatan tersendiri. Tambah wawasan dan jadi hiburan. Dari Rumi saya belajar bahwa dare to be you berarti dare to learn alias mau belajar terus-menerus, salah satunya dengan membaca.

Begitu ketagihan membaca!

2 | Berani beda (dare to be different)

Pelajaran kedua dari Rumi adalah keberanian untuk tampil beda. Berani mengambil pilihan yang tak lumrah. Kendati 80% teman-temannya di kelas sudah punya smartphone sendiri, ia tidak mempersoalkan kondisinya yang sebaliknya. Memang sesekali ia pernah mempertanyakan kenapa ia tak punya gawai pribadi, tapi ia paham begitu kami jelaskan bahwa ia belum membutuhkan. Saat belajar secara online lewat Zoom, misalnya, ia bisa memanfaatkan ponsel kami yang juga dimaklumi oleh gurunya.

Saya sepakat dengan keputusan seorang teman bloger asal Surabaya yang belum membekali anak-anaknya dengan gadget untuk mereka sendiri. Bukan lantaran tak sanggup beli, tapi karena pertimbangan penting salah satunya agar anak lebih banyak berinteraksi dengan orangtua sehingga banyak nilai yang bisa ditransfer dan proses pembentukan karakter bisa solid. Tentu kami tidak berasumsi bahwa proses yang sama tak bisa berlangsung pada keluarga yang membelikan anak gawai sendiri. Ini sepenuhnya preferensi pribadi sebab kami percaya bahwa sebagai digital native, anak-anak seangkatan Rumi sangatlah cepat mempelajari atau menggunakan teknologi. Sedangkan pembentukan karakter butuh proses yang begitu panjang.

3 | Percaya diri (dare to be confident)

Spirit dare to be you juga dicontohkan Rumi dengan keberaniannya membuat proyek selama belajar di rumah di tengah pandemi. Karena sering membaca cerita dan komik, akhirnya ia tergerak untuk menulis cerita karyanya sendiri meskipun masih sangat sederhana dan butuh banyak penyempurnaan. Diawali dari tulisan dalam buku diary, ia kemudian memberanikan diri mengetik karya fiksi pendek yang saya buatkan layout-nya agar lebih enak dibaca. Berkolaborasi dengan adiknya, Bumi, dia juga menggambar komik berdasarkan pengalaman berkunjung ke Surabaya pertengahan tahun lalu. Ia sadar masih harus terus belajar menggambar atau menulis, tapi kepercayaan dirinya tak pernah pudar.

4 | Mau berbagi (dare to share)

Ketika sebuah panti asuhan terbakar di Bogor awal tahun 2016 silam, Rumi berkenan menghibahkan backpack Spiderman kesukaannya yang belum lama dibeli. Saat pindah ke Lamongan dan berteman dengan seorang teman yang baru saja ditinggal meninggal ayahnya, Rumi tak segan mengajak teman itu ke sebuah kedai kopi favorit dan mentraktirnya. Uang angpau lebaran yang tak banyak ia relakan untuk menjamu temannya.

Walau ia tak paham, tapi inilah menurut saya arti dare to be you sebenarnya, yaitu dare to share. Kesudian untuk mau berbagi di tengah masyarakat yang orang-orangnya mungkin cenderung tak peduli dan bahkan saling mencurangi. Termasuk saat ia beberapa kali ikut berbagi nasi setiap Jumat pagi di komunitas sosial yang saya ikuti. Lagi-lagi saya belajar dari Rumi.

5 | Polos dan kritis (dare to be Critical)

“Yah, kita udah merdeka belum?” tanya Rumi suatu siang dua tahun silam saat kami meluncur ke rumah eyangnya di kampung.

“Menurut kamu gimana, Mas?” saya balik bertanya.

“Menurutku sih belum, Yah. Lihat aja sampah di sepanjang jalan. Banyak banget.” Jawaban Rumi ada benarnya karena di sepanjang sungai itu memang berserakan aneka sampah. Pada kesempatan lain dia memprotes pengendara motor yang tidak mengenakan helm dan melawan arus di lajur kanan, atau yang menerobos lampu merah.

Berani jadi diri sendiri, berani berekspresi

Pernah juga ia bertanya kenapa dalam lomba mesti ada yang kalah dan kenapa orang yang melamar pekerjaan harus diseleksi. Juga kenapa arang mesti kering sebelum dibakar saat kami akan memanggang nasi pepes. Paling berat tentu saja pertanyaan tentang takdir. Kepolosan sering kali hilang dari orang dewasa karena takut dianggap bodoh jika bilang tak tahu. Pertanyaan kritis tak jarang diredam sebab khawatir dianggap ekstrem atau mengada-ada.

Berani menjadi diri sendiri berarti berani mempertanyakan keadaan. Tak apa harus malu tapi bisa menemukan kelemahan diri untuk bisa maju. If you dare to be you, you must be willing to see the way you are. Tak ragu mengakui kondisi dan keterbatasan diri agar bisa melakukan perbaikan.

Akselerasi lewat teknologi

Saya tak bisa ingkari peran teknologi canggih dalam membantu Rumi meraih kesuksesan demi kesuksesan kecil. Saat meraih lomba menggambar dari sebuah penerbit tahun lalu, gambar karyanya mesti dipindai menggunakan aplikasi scanner yang ada di ponsel bundanya. Ketika menulis kumpulan cerita Misteri Burung Puter, ia memanfaatkan tablet PC milik komunitas sosial yang biasa saya pakai untuk mengelola akun medsosnya. Dengan bantuan wireless keyboard, cerita demi cerita pun ia ketik di sana karena laptop di rumah hanya ada satu.

Gambar Rumi yang mendapat juara ketiga, harus di-scan terlebih dahulu sebelum diunggah di Instagram.

Sekitar tiga pekan lalu ia mulai menginginkan notebook dan bukan smartphone. Setidaknya netbook yang lebih mungil. Memang harus telaten menulis menggunakan tablet dan keyboard lewat bluetooth. Maka saya dan istri sepakat untuk merencanakan pembelian notebook atau netbook agar Rumi bisa bebas menulis di mana saja. Bumi adiknya yang suka menggambar truk dan alat-alat berat pun bisa bergantian memanfaatkan perangkat baru tersebut. Namun notebook seperti apa yang cocok untuk mereka yang bisa juga digunakan oleh bundanya untuk mengedit naskah?

Untuk mendukung kreativitas dan produktivitas mereka, rasanya ASUS VivoBook S14 S433 jadi pilihan tepat untuk mereka bertiga. Agar saya tak diganggu saat menerjemahkan buku dan me-layout naskah, hehe. VivoBook S14 S433 adalah notebook yang diluncurkan secara live streaming di Facebook dan Youtube tanggal 8 Mei 2020 lalu. Produktivitas dan inovasi pabrikan asal Taiwan yang terus merilis produk walau wabah melanda ini layak dicatat sebagai keunggulan. Secara demografis, Rumi dan Bumi termasuk Generation Alpha yang akan sangat mengandalkan teknologi sepanjang hidup mereka, mirip dengan Generasi Z.

Kenapa VivoBook S14 S433

Dengan ciri khas berekspresi dan berkomunikasi menggunakan peranti berlayar sebagai media utama, Rumi dan Bumi akan sangat menikmati pengalaman menggunakan VivoBook S14 S433 yang mengusung kebebasan berekspresi sebagai pilar utamanya. Ada beberapa alasan mengapa notebook besutan ASUS ini harus dilirik generasi Z dan generasi alpha guna mendukung kreativitas mereka.

Mendukung spirit Dare to Be You

Lewat desain dan konsep yang unik, VivoBook S14 S433 akan memberi mereka sugesti positif bahwa menjadi diri sendiri adalah prestasi tersendiri. Mereka bisa leluasa belajar dan berposes untuk menghasilkan karya tanpa terbebani selera publik atau kecenderungan pasar yang mainstream. Meminjam pepatah Inggris, sky is the limit, begitulah batasan kreativitas mereka.

Produksi konten bisa sangat eksploratif tentu dengan mengindahkan identitas, konformitas, dan integritas agar karya tidak membahayakan atau melukai pihak tertentu. Lewat VivoBook S14 S433 gen Z dan gen alpha seolah menemukan momentum dan tonggak untuk mendukung semangat mereka dalam berkreasi baik mandiri maupun kolaboratif. Peluang terbuka lebar karena showcase karya dan bakat semakin mudah dengan notebook ini.

Tampilan menawan

Generasi mana pun menyukai laptop dengan penampilan fisik yang memikat. Tak terkecuali pesona ASUS VivoBook S14 S433 yang hadir dengan desain yang stylish dan trendy. Bodi yang ramping dan desain yang kekinian menjadidaya tarik notebook yang ditawarkan dalam 4 varian warna yaitu Indie Black, Gaia Green, Dreamy Silver, dan Resolute Red. Kalau harus memilih, Rumi dan Bumi cocok diganjar dengan VivoBook S14 S433 versi Gaia Green karena warna hijau mencerminkan kesegaran dan harmoni. Sangat tepat menggambarkan jiwa muda mereka yang kreatif dan dinamis.

ASUS VivoBook, sahabat berkreasi antisuntuk

Warna hijau juga menyiratkan adanya perkembangan dan konektivitas pada alam. Ini pesan penting buat gen Z dan gen alpha untuk terus berkreasi dengan spirit progresif tapi tetap melestarikan lingkungan. Lebih asyik lagi, bagian belakang layar bisa dipersonalisasi dengan ditempeli stiker eksklusif karya seniman visual asal Jakarta Muchlis Fachri atau yang kondang sebagai Muklay. Inisiatif ASUS ini bakal mempertegas pilihan Gaia Green sehingga selain fresh pengguna VivoBook S14 S433 juga semakin percaya diri dengan identitas kekinian yang luwes dan ekspresif.

Stiker keren bikin laptop Vivabook semakin unik.
Stiker lucu buat kamu!

Dengan warna menawan dan berhadiah stiker keren, VivoBook paling trendy besutanASUS ini terbilang sangat tipis untuk kategori laptop di kelasnya. Hanya setebal 15,9 mm, berarti VivoBook S14 S433 setara dengan novel kesayangan setebal 240-an halaman. Karena saya editor, jadi bandingannya sama buku dong, hehe. Bobotnya pun cukup ringan, hanya 1,4 kg yang ga membebani perjalanan jauh seperti backpacking atau cuma dibawa ke rumah eyang saat akhir pekan. Yang jelas, notebook ini sangat pas buat pengguna yang mobile tapi tetap bergaya.

Performa sempurna

Bagaimana dengan jeroan ASUS VivoBook S14 S433? Rumi dan Bumi tentu tak butuh prosesor superkencang buat aktivitas mereka. Namun hobi bikin komik mereka akan menuntut pemrosesan data yang cepat dalam hal grafis dan multimedia. Dukungan prosesor 10th Gen Intel menjanjikan kinerja yang gegas dan hemat daya dengan berbagai fitur premium seperti fingerprint sensor, fast charging, dan backlit keyboard. Dibenamkannya chip grafis NVIDIA GeForce MX250 membuat gambar tampil memukau dan akurat. Apalagi teknologi PCle SSD sebagai internal storage, wuih, makin cepat deh akses data dan buka berbagai aplikasi. Anti-ngelag.

Performa sempurna VivoBook S14 S433 tentu akan mendukung siapa pun untuk lebih produktif menghasilkan konten, tak terkecuali anak-anak yang gandrung teknologi canggih. Namun antusiasme besar pada notebook terbaru ASUS ini bukan hanya muncul pada Generasi Z atau alpha, tapi juga pada kami sebagai orangtua. Sesekali boleh dong generasi kolonial nebeng kerja dan mencicipi kecanggihan notebook berukuran 14 inch ini. Biar tulisan dan editan makin lancar kalau laptopnya bikin percaya diri, hehe.

Ragam pilihan

Dalam membuat produk untuk konsumen, ASUS selalu memberi opsi specs notebook agar sesuai dengan kebutuhan dan anggaran. Apalagi saat pandemi saat ini, setiap pengeluaran harus diperhitungkan dan keputusan pembelian harus diupayakan agar bisa mendukung produktivitas dan akhirnya berujung pada profitabilitas. Jika menilik tabel di bawah ini, VivoBook S14 S433 dengan prosesor Core i5 pun sudah mumpuni, baik untuk kebutuhan anak-anak maupun saya yang sesekali butuh mendesain.  

VivoBook S14 S433
• Intel® Core™ i7-10510U Processor / Intel® Core™ i5-10210U Processor
• Windows 10 Home
• Layar 14” FHD (1920×1080) Anti Glare, Wide View
• Discrete graphics MX250
• 512 GB PCIe NVMe M.2 SSD with 32GB Intel Optane Memory
• 8 GB LPDDR3 Memory
• Wi-Fi + BT 5.0
• Expressive and various colors
• Harman Kardon certified audio for high-quality.
• Nano Egde bezel
• Bundle with unique VivoBook stickers
• 2 Tahun Garansi Global, senilai Rp 1.250.000
• Bonus backpack senilai Rp 299.000
Harga: Rp 15.999.000 (core i7) / Rp 13.999.000 (core i5)

Saya yakin layar berteknologi NanoEdge dengan bezel yang tipis akan memberi mereka pengalaman menonton film dan video musik yang mengesankan karena sudah Anti Glare dan Wide View. Dukungan Full HD pada layar bakal menampilkan sudut pandang yang lebar dan menghadirkan reproduksi warna yang luar biasa untuk kebutuhan visual apa saja. Yang tak kalah penting, dimensi VivoBook S14 S433 yang ringkas tentunya akan menghemat pemakaian space di atas meja atau ruangan rumah kami yang mungil. Disimpan di ransel pun tetap irit tempat.

Akses cerdas

Problem anak-anak pada umumnya adalah ketidaksabaran. Sulit sekali meminta mereka menunggu atau bersabar nyaris dalam segala hal. Kalau boleh jujur, orang dewasa pun begitu. Saya sendiri sering melongo dan blank saat menunggu login saat menyalakan laptop. Untunglah ASUS VivoBook S14 S433 sudah dibekali dengan fitur login yang sangat mudah lewat fitur Windows Hello. Aksesnya dijamin cepat dengan memanfaatkan sensor sidik jari atau fingerprint sensor.

Touch to go!

ASUS paham betul bahwa keamanan dan kecepatan adalah kunci kesuksesan saat ini. Akses yang cepat akan melancarkan pekerjaan yang perlu dituntaskan. Bayangkan jika login lambat dan malah hang akibat fitur keamanan yang tida andal, kita bisa stres. Tapi itu tak perlu terjadi berkat VivoBook S14 S433. Ditambah daya tahan baterai mencapai 12 jam, pikiran bisa fokus pada kerjaan tanpa sibuk cari colokan gara-gara daya habis mendadak.

Hemat daya bikin kita enggak mati gaya.

Merek terjamin

Saya sendiri belum pernah memiliki unit ASUS, tapi pernah mencoba laptop milik sepupu di Depok dulu. Bentang layarnya luas dan cukup gegas saat menjalankan aplikasi multitasking walaupun ada tuts keyboard yang terlepas. Tata suara dari Harman Kardon mengingatkan saya pada laptop di kantor dulu yang lantang tapi tetap bening. Wajarlah karena ASUS memang perusahaan dengan portofolio teknologi yang sangat kuat, dengan pengalaman 30-an tahun menggarap berbagai produk IT, termasuk motherboad dan laptop.

Seperti bisa dilihat dalam infografik di atas, keandalan ASUS sebagai pabrikan IT diakui secara global. Bukan hanya garansi berlangsung 2 tahun dan bahkan ada subsidi kalau rusak akibat kelalaian pengguna, ASUS termasuk dalam deretan World’s Most Admired Companies dari majalah Fortune atas dedikasi merek ini dalam menghadirkan solusi digital dalam bentuk aneka jenis produk komprehensif seperti Zenbo, ZenFone, ZenBook, dan rangkaian perangkat IT serta komponen lain, termasuk AR, VR dan IoT.

Mutu ASUS turut dijamin oleh banyaknya sumber daya kreatif di sana—setidaknya ada 16.000 karyawan di seluruh dunia, 5.000 di antaranya merupakan insinyur pada tim R&D (riset dan pengembangan) berkaliber dunia. Tahun 2017 ASUS berhasil membukukan revenue sebesar 17,34 miliar dolar Taiwan dan itu tentulah bukti bahwa perusahaannya sehat dan menguntungkan.

Pengalaman dan jam terbang ASUS sebagai pemain global di industri IT adalah jaminan untuk mendukung produktivitas kita guna memenuhi kebutuhan berbasis teknologi yang andal dan mumpuni. Salah satunya lewat VivoBook S14 S433, notebook tipis dengan desain dan warna bikin percaya diri. Jeroannya terpilih sehingga menjanjikan performa yang sempurna. Cocok sekali buat gen Z yang mobile dan gen alpha yang dibesarkan teknologi. Sudah siap jadi diri sendiri?

14 Comments

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s