Kenangan Masa Kecil: Menjebak Lebah dan Berburu Asam Jawa

Bertahan di rumah saja selama wabah bukan hanya boros camilan, tapi juga membangkitkan banyak kenangan. Syukurlah yang muncul adalah memori  masa lalu yang menyenangkan. Saking berkesannya, saya ingin sekali berkunjung ke bilik tempo dulu saat masih jadi siswa sekolah dasar. “Coba kalau ada WABAC ya, Yah!” ujar duo Xi teringat pada adegan film kartun Mr. Peabody. Memang asyik kalau kita bisa masuk ke masa lalu, jadi ada momen untuk bergembira lagi atau terharu sekaligus kalau memungkinkan.

Salah satu kenangan masa kecil yang masih jelas terukir dalam bilik memori adalah momen menjebak lebah alias tawon bersama teman-teman. Tawon memang binatang yang unik, baik dari segi ciri fisik maupun manfaatnya pada keseimbangan alam. Dalam tulisan tentang online gathering bersama @hutanituid dan yang saya unggah di blog beberapa waktu lalu, saya singgung tentang pengalaman disengat dua ekor lebah yang bikin kulit memerah dan sakit sekali.

Sarang yang kokoh

Kawanan lebah ini rupanya bersarang di sebuah batang bunga di depan saung. Ketika tak lagi ada anak yang belajar di Saung Literasi, koloni lebah mungil itu pun berkembang dengan makmur hingga mampu membentuk sarang yang sangat kokoh. Demi keamanan, bunga itu akhirnya saya pindahkan ke belakang saung, bersebelahan dengan himpunan bunga telang.

Gambar sarang lebah aktif di bawah saung/gazebo mini.

Beberapa waktu setelah saya pindahkan, honeycomb atau sarang lebah di bunga itu mendadak sepi. Tak lagi ramai oleh lebah yang pernah menyengat saya beberapa kali. Selidik punya selidik ternyata mereka membangun sarang baru di bawah saung, tepat seperti tampak di atas. Karena sarang lama tidak dihuni dan ditinggalkan begitu saja, saya pun memetiknya dari batang bunga. Sangat liat, seperti dilem agar lengket.

Belajar sains dengan mudah

Setelah itu saya ajak duo Xi untuk belajar biologi dari fenomena di sekitar kami. Begitu diteliti lebih dekat, sarang lebah berbentuk segienam itu memang sangat unik, baik dari bentuk, fungsi, dan bahan yang menyusunnya. Anak-anak segera meraih suryakanta alias kaca pembesar untuk melihatnya dengan lebih jelas.

Gambar sarang lebah yang telah ditinggalkan penghuninya.

Konfigurasinya sangat rumit, dengan jalinan yang solid tapi tetap indah. Konon bentuk hexagonal itu dipilih lebah sebab sangat fungsional. Dibanding bundar, misalnya, hexagon akan saling menyokong dinding satu sama lain tanpa meninggalkan celah yang boros tempat. Tak ada space yang terbuang percuma.

Gedung bertingkat di Kanada yang mengadopsi sarang lebah (hexagon)/Gambar: dezeen dotcom

Konon prinsip ini kemudian diadopsi dalam dunia arsitektur sebab bentuk heksagonal mampu memuat beban yang berat. Para arsitek memanfaatkan pelajaran dari alam sebagai biomimicry yang luar biasa. Sarang lebah terbuat dari sejenis lilin yang dikeluarkan dari kelenjar lebah pekerja. Uraian saintifiknya bisa sangat panjang dan memukau nalar kita.

Sarang lebah yang sangat indag, kokoh dan fungsinya luar biasa.

Kembali ke kenangan menjebak lebah, tentu bukan saya pelakunya. Biasanya tawon berwarna hitam dengan corak kuning itu membuat lubang di kayu reng atau rangka atap. Kayu-kayu yang dipakai memang bukan pilihan sehingga begitu mudah ditembus kawanan tawon yang entah apa jenisnya. Mereka berdengung dan mengebor kayu sampai siap jadi sarang.

Begitu mereka dipastikan ada di dalam, plastik bening kami buka untuk ditutupkan pada lubang tawon. Teman lain mengetuk kayu agar tawon terganggu dan keluar menuju plastik yang terbuka itu. Tuk tuk tuk … tawon bergerak perlahan akhirnya masuk ke jebakan kami. Biasanya dikasih tali agar terbang dengan tetap terkendali. Dia tak bisa menyengat karena berada di dalam plastik kecil.

Asam Jawa jatuh dari pohonnya

Pengalaman lain yang sangat mengesankan di waktu kecil adalah mencari asam Jawa gratis di belakang sekolah. Sewaktu SD saya sempat ikut sekolah di MI (Madrasah Ibtidaiyah) tak jauh dari rumah. Kami menyebutnya “ngerangkep” alias merangkap sebab pagi sekolah di sekolah negeri lalu siang masuk MI. Sayang hanya bertahan sampai kelas 5.

Walau singkat, momen paling menyenangkan adalah saat jeda istirahat selepas Asar. Saya dan teman-teman langsung bergerak ke lahan kosong di belakang gedung MI untuk mencari buah asam yang jatuh dari pohonnya. Lahan itu tak jauh dari makam desa. Menemukan buah matang dalam kantung-kantung cokelat yang merekah itu sungguh berkah tersendiri. Buahnya manis dan legit, itulah jajanan saat istirahat. Sungguh nikmat dan meninggalkan kesan sangat kuat.

Saking asyiknya kami berburu buah asam, kami tak pedulikan rasa takut pada makam yang berada tak jauh dari pohon besar tersebut. Sebenarnya ada pohon asam lain yang jadi sasaran kami, yakni milik warga di dalam kampung. Di belakang rumahnya terdapat pohon sawo besar dan asam Jawa yang buahnya lebat. Kami kadang mencari di bawah pohon pada saat liburan seperti hari Minggu sebelum nonton film kartun favorit.

Bagaimana, asyik banget kan masa kecil saya? Bagaimana dengan BBC Mania, apakah punya kenangan unik semasa kecil dulu? Ceritakan di kolom komentar dong biar kita euforia kegembiraan masa kanak-kanak.


45 thoughts on “Kenangan Masa Kecil: Menjebak Lebah dan Berburu Asam Jawa

      1. Asam jawaaaa! Di rumah masa kecilku di Aceh, berjejeeeeeer pohon asam jawa besar-besar di sepanjang kompleks. Seneng banget mungutin buah asam yang jatuh. Trus dimakan gitu aja atau pakai gula pasir. Atau diseduh air hangat.

        Like

  1. Jadi ingat masa kecil, suka lemparin asam jawa dari pohon di kebun orang sampai dikejar pemiliknya. Kalau sama lebah atau tawon masih belum berani main-main. Sampai sekarang aja masih ngeriii sama hewan itu.

    Like

  2. Pohon Asam Jawa mengingatkan saya sama rumah kakek dan nenek. Ada kebun luas di sana. Ada beberapa Pohon Asam Jawa juga. Sayang kalau main ke kebun, saya nggak dibolehkan kalau tanpa kakek atau nenek. Khawatir ada anjing atau ular katanya.

    Like

  3. kalau saya waktu kecil suka hunting buah manggis atau buah nangnam (nama buah di Sunda, boleh searching deh kak BBC.. hehe)

    Itu jadi kesenangan dan kegembiraan setiap pulang sekolah. Pas nemu yg bulat, warna ungu kehitaman dan mulus tersembunyi oleh dedaunan di atas tanah, wow.. girang nian rasa. Apalagi ketika dipungut, ternyata buah manggis utuh dan baru jatuh. Seru sekali.

    Btw, saya dulunya sekolah di MI juga. tapi kok Kak BBC bisa dobel ya sekolahnya.. mantul abis tuh. hihi

    Like

    1. Aku baru tahu buah itu, Mba, karena di tempatku ga ada. Barusan browsing itu mirip kacang-kacangan ya isinya? Beda banget sama manggis? Pokoknya masa kecil selalu menyenangkan ya, zaman dulu karena gadget belum semasif sekarang. Dolanan terbatas itu-itu aja sama teman. Kebanyakan olah fisik. Untuk sekolah dobel, entahlah dulu kok masih boleh. Kayaknya karena MI baru dirintis jadi belum banyak siswa. Sekarang mah sekolah MI udah maju dan enggak boleh lagi merangkap sama SD karena masuknya juga sama-sama pagi.

      Like

  4. Itulah kekuasaan Tuhan, seekor lebah yang ukuran tubuhnya kecil, mampu membuat sarang berbentuk hexagonal yang kokoh. Padahal gak ada satupun dari mereka yang belajar dunia arsitek, tapi mereka sanggup membangunnya.

    Kalo saya waktu kelas 1-2 SD, pernah mandi bareng teman-teman di Kali Ciliwung di daerah Kalibata, Pasar Minggu, Jaksel, hahaha… Kalo inget waktu itu, ya ampun itu kan bahaya banget, mana penuh lumpur… Terus pernah juga naik kereta gak bayar bolak balik dari Ps. Minggu – Depok. Hadeeeuh masa kecil saya cukup liar

    Like

    1. Iya, Kang. Malah mereka bisa menginspirasi arsitek buat bangun rumah kayak punya lebah. Keajaiban, bukti kekuasaan Tuhan. Emang besarnya di mana Kang kok mandi di Kali Ciliwung? Sekarang mungkin dah ga bisa ya, banyak pencemaran? Naik kereta ga bayar aku juga pernah pas SMA kayaknya karena dekat banget, naik KRD. Asyiknya masa kecil kita dulu!

      Like

  5. Hahahaha… Iya. Bener tuh kak.

    Selain boros camilan, jadi hobi rebahan, juga makin sering inget yang lalu.

    Gimana enggak, lawong kerjaannya cuma natap ponsel atau laptop seharian. Ya bosen lah. Jadinya pikiran auto traveling

    Like

  6. sarang lebah itu bentuknya keren banget ya, tapi berani banget sih Mas dan kawan-kawannya itu godain lebah gitu waktu kecil, hihih

    dulu waktu kecil yang paling diingat itu kalau sore, udah deh pada keluar semua tuk main enggo sembunyi (petak umpet), main karet, hendip dan lainnya 😀

    Like

    1. Dulu yang didekati biasanya bukan sarang yang rumit kayak gitu sih. Biasanya seekor lebah menempati lubang yang ia bikin di kayu penopang atap. Aku ya agak menjauh sih, agak takut wkwkwk. Cuma jadi kenangan banget pas udah gede. Memang menyenangkan masa kecil dulu, mainan olah fisik kebanyakan karena belum ada atau belum banyak mainan elektronik.

      Like

  7. wuah, aku ndak pernah main sama sarang lebah dan asam jawa
    aku dulu main darah2an. itu loh, tanaman liar yang ada bunganya bundar2 warna merah, ditempelin ke tangan terus sok-sokan bilang terluka

    Like

  8. Dulu di rumah kakek ada nih sarang lebah, waktu aku kecil sering lihat pakde ambil sarangnya buat ambil madu. Taoi setelah renovasi udah gak ada lagi sarang lebahnya. Kenangan masa kecil dulu suka diajak ke sawang & main di sungai kalau ke rumah sepupu.

    Like

  9. Kenangan masa kecilku yang paling membekas adalah waktu jatuh depan rumah gegara main seluncuran di tanah yang diguyurin aer hahahah. Emang dasar tengil yah. udah tahu bisa kepleset tapi woles aja. cuma berbekal tali tampar yang diiketin ke batang pohon, trus dijadiin pegangan. Alhasil pas ndlosor beneran jatuh hahahaha… selain itu juga pernah bantuin bapak pelihara tawon madu. Tapi nggak berani deket-deket. Mau madunya, nggak mau tawonnya eaaaa

    Like

    1. Itulah anak-anak ya Mbak Bety, cenderung menantang aturan haha. Rasanya ada kepuasan sendiri kalau sudah membuktikan apa yang diinginkan, hehe. Dulu mah memang banyak tantangan dan kegiatan sehari-hari tuh menyenangkan, kalau anak sekarang cenderung digital ya. Namun ya ada plus minusnya.

      Like

  10. Ngomongin soal sarang lebah, teman saya ada yang membuat penelitian sampai bertahun-tahun kemudian menerbitkan hasilnya. Dia menulis berdasarkan sains dalam tinjauan Islam. Nah, kalau kenangan masa kecil saya paling inget diajak temen-temen saya “nyolong tebu”, heuheu, nakal banget waktu itu. Pas hujan-hujan. ketauan mandor pula. Larilah kami tunggang-langgang demi beberapa lonjor tebu. Padahal kalau minta pasti dikasih. Dasar bocah iseng.

    Like

    1. Kenakalan anak-anak ya serasa hidup selamanya, haha. Menyenangkan sekali padahal kalau mau minta ya bakal dikasih ya Mbak. Namun balik lagi, anak-anak makin senang kalau ada tantangan dan masallah buat dipecahkan.

      Like

  11. hunting buah ya kang… emang sedep banget, kalau dulu saya sukanya nyari buah buahan ditepi sungai sih. pake sampan dan terkadang dapetnya banyak banget, penuh satu perahu hehehe

    Like

  12. Di masa kecil, aku sering banget disengat lebah madu waktu nonton TV di rumah Mbah. Meski agak trauma, tetap aja main ke sana buat nonton, hahaha. Kalau soal buah asam, dulu di sekolah ada teman yang bawa kadang dijual. Yang matang itu enak banget. Anak sekarang gak akan paham gituan

    Like

  13. Waktu kecil, saya pernah diajak sama teman nyari kalajengking. Agak ngeri juga ya mainnya. Awalnya saya takut, tapi setelah dikasih tahu caranya dan mencoba sendiri, malah ketagihan banget. Sampai saya jadi bisa membedakan mana lubang yang ada kalajengkingnya.
    Biasanya, kalajengking yang didapat nanti akan dijual. Katanya akan diambil minyaknya.

    Like

  14. pengalaman yang seru banget ya kak
    nah kalo menjebak lebah aku belum pernah coba karena dulu takut ama lebah hehe
    tapi kalo berburu asam jawa hampir setiap hari saat SD karena jalan ke SD ku dipenuhi pohon asam
    duh kan jadi ngecap2 sekarang keinget asamnya yang segar 😀

    Liked by 1 person

  15. Unik banget menjebak tawon. Kalau aku dulu waktu kecil paling berburu belalang buat dikasih makan ke ayam, hehe. Kalo anak2 cowok kadang berburu jangkrik, tapi kayaknya gak ada deh yg jebak tawon, hehe. Luar biasa sarang lebah ini bisa sekalian media anak belajar sains secara langsung ya…

    Kalo tanaman aku dulu suka metikin cecendet (nama kerennya apa ya, golden berry? :D), di pinggir sawah Deket rumah sekalian nangkapin belalang, hehe. Eh maaf tapi bukan belalang cerewet ya, hihi

    Like

    1. Cari jangkerik di malam hari juga asyik sih, Teh. Pernah juga pergi ma teman-teman berburu jangkerik di sawah. Seru karena harus bedain jangkerik cewek dan cowok. Cecendet bukan ciplukan ya?

      Like

  16. Yang saya ingat malah ada teman jahil
    Makanya saya lebih sering di rumah
    Saya pernah pulang dengan baju penuh lumpur
    Hasilnya emak marah sampai diungkit-ungkit terus

    Like

  17. Asik banget kak, kenangan masa kecilnya anti mainstream. Kalau aku dulu ingetnya suka nangkepin belalang di halaman rumah terus aku suapin, dikasih makan rumput (maksa tepatnya sih). Hahaha

    Like

  18. Masa kecil selalu meninggalkan kenangan yang manis untuk dikenang ya. Btw baru tahu kalau buah asam itu rasanya bisa manis gitu sampai dijadikan cemilan hehe..
    Dan soal lebah, maa syaa Allaah banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik dari hewan ini ya, bahkan orang bisa mengambil ide/inspirasi dari sarangnya.

    Like

  19. Kalau aku gak berani jebak lebah waktu kecil takut disengat hahah, paling2 waktu kecil suka main masak2 aja dan berburu capung 😂

    Like

  20. Kenangan masa kecilku, cari keres sambil berburu kupu-kupu. Zaman saya kecil belum ada Royal Plaza apalagi Jatim Expo. Serangga bebas berkeliaran dengan tenang. Sekarang makin banyak gedung di Surabaya. Jadi kangen momen waktu kecil

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s