Menjaga Desa Agar Tak Hilang: Catatan Sederhana Menuju Nusantara Gemilang

Kunjungan singkat ke rumah ibu akhir Oktober silam meninggalkan kesan yang mendalam. Pengalaman berkunjung ke sawah paman untuk memetik semangka bersama anak-anak menjadi fragmen penting untuk membentuk kepribadian mereka. Mereka jadi paham asal makanan yang selama ini mereka makan. Bagi saya jeda sejenak dari hiruk-pikuk kota yang membuat penat memunculkan kegelisahan yang sayang jika dibiarkan terlewat. Tentang isu-isu yang mungkin terlihat trivial tapi butuh elaborasi yang tuntas karena termasuk problem perenial.

Ya, di tengah gejolak globalisasi yang masif dan pemanfaatan teknologi informasi yang kian ekstensif, hal-hal yang akan saya uraikan mungkin terkesan anasir yang mubazir belaka padahal dampaknya terhadap kehidupan manusia bersifat perenial, alias berkelanjutan. Pada kadar tertentu, tak jarang memang diskusi mengenai isu-isu tersebut mentah begitu saja—menyisakan mereka yang peduli seolah menempuh jalan sunyi.

Potensi desa dan generasi muda

Liburan pendek ke desa membuat saya merenungkan beberapa unsur kehidupan rural yang terancam hilang dan beberapa hal lain yang patut dipertahankan. Kenapa desa? Sebab desa menjadi cikal bakal terbentuknya kota. Peradaban kota modern di mana pun semula tumbuh dari desa, baik secara organik maupun manipulatif. Mulai dari isu pangan dan pelestarian lingkungan, semuanya punya pengaruh besar terhadap kelangsungan manusia Indonesia, baik di desa maupun di kota.

Untuk menangani isu-isu itu dengan serius, tak cukup kepedulian sporadis dari segelintir orang saja. Namun harus menjadi gerakan nasional yang kompak dan solid dengan mengoptimalkan peran generasi muda. Salah satu solusi kreatif adalah lewat imajinasi menjadi pemimpin, dalam pengertian seluas-luasnya.

1 | Tata niaga pertanian

Para petani buah di desa—seperti tahun-tahun sebelumnya—segera mengeluhkan anjloknya harga komoditas mereka. Saat kemarau, bukan hanya semangka tapi juga melon madu yang terpuruk harganya akibat panen raya yang terjadi di mana-mana. Ada tengkulak misalnya yang datang menawarkan harga 1.000 per kilogram untuk melon legit itu. Alih-alih menerima, petani memilih membiarkan buah dionggok begitu saja di sawah atau dipanen untuk konsumsi tetangga. Namun bisa dihitung berapa banyak yang bisa diserap oleh lingkungan sekitar.

Fenomena berulang seperti ini menurut saya bisa diatasi dengan dua solusi. Pertama, pemerintah atau dinas terkait membuka pasar seluas-luasnya agar produk bisa diserap dengan cepat, baik lewat distribusi merata ke daerah lintas provinsi atau menciptakan link antara petani di desa dengan industri yang daya serapnya sangat besar. Dengan begitu, buah tak akan busuk atau terbuang percuma dengan potensi kerugian petani.

Kedua, peran generasi muda setempat bisa dioptimalkan. Mereka bisa menghimpun para petani dalam paguyuban atau koperasi lalu memberdayakan mereka untuk mengolah buah/sayur berlebih menjadi produk turunan yang nilai ekonominya lebih tinggi. Namun sekali lagi, cara ini butuh dukungan dari otoritas setempat atau dinas terkait dalam penyediaan teknologi dan pemasaran yang memadai. Tata niaga pertanian harus jelas untuk menjamin setiap komoditas berujung pada profitabilitas.

2 | Pendidikan agraris

Pada musim tanam tahun lalu ibu mengeluhkan sulitnya mencari tenaga untuk melakukan tandur atau menanam benih padi setelah disemai selama 20 hari. Tandur adalah aktivitas menanam padi di tanah berair dengan cara berjalan mundur. Butuh tenaga terlatih sebab tandur menuntut bukan hanya ketepatan tapi juga kecepatan. Tenaga yang tersedia umumnya berusia senja dan tak terjadi regenerasi. Tandur biasanya dikerjakan oleh satu tim dan di desa kami kini hanya tersisa dua tim yang semuanya sepuh.

Akhirnya tenaga tandur menjadi sumber daya langka sehingga tim yang tersisa dari desa atau kecamatan lain menjadi andalan yang diperebutkan. Ini bisa jadi ancaman serius pada sumber pangan masa depan ketika generasi muda tak tergiur jadi petani sementara generasi tua semakin tergerus usia. Setelah ditelisik, penyebab utama rendahnya minat pemuda bercocok tanam adalah kecilnya pendapatan petani padi yang tak sebanding dengan biaya produksi.

Padi yang telah ditanam oleh penandur, tenaga buruh yang kini semakin langka.

Selain minimnya buruh tani terlatih, irigasi dan ketersediaan pupuk menciptakan  kecemasan tersendiri bagi petani. “Mahal pun enggak masalah asalkan ada,” ujar ibu suatu hari saat pupuk sulit didapat. Keluhan serupa meluncur dari seorang teman SMA yang menekuni pertambakan. Pupuk memang jadi komponen utama usaha tambak untuk memicu tumbuhnya plankton dan kelekap yang baik untuk ikan atau udang.

Sedangkan pengairan, sejak waduk terbesar di kota kami difungsikan juga untuk memasok PDAM selama lima tahun terakhir, dampaknya ternyata cukup signifikan yakni berkurangnya aliran air untuk sawah-sawah saat dibutuhkan, terutama sewaktu kemarau. Ini memang problem dilematis karena sama-sama krusial.

Jika punya peran pemimpin, saya akan mendorong pencarian sumber air bersih di tempat lain tanpa mengorbankan sektor pertanian. Selain itu, pendidikan agraris harus digalakkan: masuk dalam kurikulum sekolah dan sosialisasi intensif pada berbagai komunitas atau organisasi berbasis partisipasi massa. Lulusan pertanian dari perguruan tinggi harus dipastikan mau berkontribusi demi peningkatan produksi pertanian di desa, baik mutu maupun diversifikasi pangan.

3 | Merawat kearifan lokal

Perubahan iklim di Indonesia sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Seiring dengan fenomena pemanasan global, dampak perubahan iklim tidak bisa dihindari. Perubahan iklim bukan hanya menyangkut kenaikan suhu rata-rata tetapi juga terjadinya cuaca ekstrem, pergeseran populasi dan habitat satwa liar, naiknya permukaan laut, dan dampak lain yanag serius. Ini akibat manusia yang terus menambahkan gas rumah kaca ke atmosfer sehingga ritme iklim berubah dan berdampak fatal pada makhluk hidup, termasuk kita sendiri.

Prediksi kondisi Jakarta tahun 2050 ketika 95% terendam air. (Sumber: Dr. Heri Andreas, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Tekologi Bandung)

Jakarta, misalnya, menjadi salah satu kota di dunia yang paling cepat mengalami penurunan muka tanah. Jika tidak dikendalikan, maka sebagian besar kota ini akan tenggelam pada tahun 2050. Dampak yang sudah muncul adalah kerusakan bangunan berupa retakan akibat gempuran air laut sebagaimana terjadi di wilayah Jakarta Utara.

Terkait perubahan iklim, saya teringat kasus yang menimpa Bojonegoro, kabupaten yang bersebelahan dengan Lamongan. Suhu udara di sana pernah mencapai 40 derajat Celcius tahun 2018 dari angka normal 26-35 derajat Celcius. Kepala Dinas Lingkungan Hidup setempat, Nurul Azizah, menyatakan bahwa peningkatan suhu udara disebabkan salah satunya oleh aktivitas industri migas. Selain pepohonan yang terus berkurang, emisi buang dari kendaran bermotor juga turut menyumbang peningkatan suhu tersebut. Belum lagi cadangan air di sungai yang menurun.

Pluruan dan urup

Azizah menambahkan bahwa masyarakat lokal dulu mempunyai “pluruan” yakni tempat pembuangan sampah yang terletak di belakang rumah masing-masing. Lamongan pun punya tradisi serupa sebagai salah satu local wisdom. Sewaktu saya kecil setidaknya dua rumah yang bersebelahan memiliki satu pluruan sebagai tempat menampung sampah rumah tangga. Namun seiring meluasnya permukiman warga, jumlah pluruan kini makin langka.

Selain pluruan sebagai sentra pembuangan sampah mini, warga di desa kami memiliki kebiasaan urup yakni menukar sampah dengan rempah. Sampah anorganik seperti botol, kardus, kertas, atau logam biasanya ditimbang untuk dibarter dengan bawang merah—bumbu wajib yang harganya sering melambung tinggi. “Alhamdulillah dapat segini pas bawang merah mahal,” ujar ibu dua pekan lalu setelah berhasil menukar tumpukan kardus dan botol dengan himpunan bawang yang cukup banyak.

Pendangkalan danau di Situ Gede, Bogor akibat timbunan sampah

Baik pluruan atau urup adalah kearifan lokal yang layak dipertahankan. Mungkin tak harus sama persis bentuknya, setidaknya keduanya berdampak positif pada alam. Pluruan memungkinkan sampah terkosentrasi di pembuangan-pembuangan mini yang mencegah warga membuang sampah di sungai sebagaimana terjadi di Bojonegoro. Dengan urup, warga desa bukan hanya menahan laju sampah baru karena sampah lama bisa didaur ulang, tetapi juga memperoleh benefit nyata dari transaksi barter untuk mendukung ekonomi keluarga.

Siapa pun yang menjadi pemimpin negara harus jeli dan punya determinasi kuat untuk mengawetkan kearifan lokal yang selama ini terbukti berkontribusi pada pengurangan global warming sekaligus dampak ekonomi yang produktif. Masih banyak local wisdom dari desa-desa di seluruh Nusantara yang wajib dilestarikan jika ingin desa berdaya dan maju.

4 | Kesehatan dan perlindungan hutan

Kesehatan menjadi isu paling aktual selama setahun terakhir menyusul wabah yang berlangsung secara global. Apakah Anda sepakat bahwa pandemi COVID-19 ini adalah dampak dari eksploitasi alam yang berlebihan? Dalam sebuah acara daring yang dihelat oleh Compassion in World Farming Juni 2020 lalu Jane Goodall, seorang naturalis dan antropolog kenamaan asal Inggris, menyatakan bahwa munculnya Covid-19 merupakan akibat over-eksploitasi atas lingkungan hidup. Goodall memperingatkan tentang bahaya “musnahnya” umat manusia jika kita tidak mengubah sistem pangan kita secara drastis.

Berubah atau musnah?

Ia menganjurkan agar kita mengurangi factory farming atau peternakan pabrik dan berhenti menghancurkan habitat alami sebab kedua aktivitas itu membawa potensi penyakit dan kerusakan iklim. Factory farming disebut sebagai penyebab meningkatnya bakteri yang resisten antibiotik dan ini mengancam kesehatan kita bersama. Bayangkan jika penyakit-penyakit sudah kebal terhadap obat yang kita miliki, maka tinggal tunggu waktu saja manusia binasa di tangan organisme mikroskopik.

Pembukaan lahan pertanian dengan membakar hutan untuk kebun sawit, misalnya, merupakan tindakan berbahaya yang mengancam habitat satwa liar dan keanekaragaman hayati yang tak ternilai. Selain itu, pembakaran ribuan hektar hutan akan memicu pemanasan global dan memengaruhi perubahan iklim yang semakin parah.

Dalam media release IPBES (Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services), Dr. Peter Daszak, Presiden EcoHealth Alliance dan Ketua lokakarya IPBES mengonfirmasi pendapat Goodall, “Penyebab pandemi COVID-19, atau pandemi lain yang terjadi pada manusia modern sebenarnya bukan hal yang misterius.” Daszak menegaskan bahwa selama ini manusia terus merusak lingkungan yang berdampak pada hilangnya keanekaragaman hayati dan menyebabkan krisis iklim.

Perilaku manusia dalam mengalihgunakan lahan, ekspansi dan intensifikasi pertanian, perdagangan satwa liar, produksi dan konsumsi pangan yang tidak berkelanjutan telah merusak alam dan meningkatkan risiko kontak antara manusia dengan satwa liar, ternak, dan patogen. “Inilah jalan terbukanya berbagai pandemi,” imbuh Daszak.

Kita tentu ingat bagaimana di awal 1990-an wabah demam kuning melanda Afrika dan Amerika Selatan, yang kasus awalnya bermula dari Lembah Kerio di Kenya. Wabah ini disebabkan deforestasi yang membuat hutan setempat menjadi botak-botak. Deforestasi memicu terbentuknya petak-petak hutan yang menjadi tempat koloni inang primata dan nyamuk yang kemudian menularkan virus kepada manusia.

Pandemi lain menanti ….

Laporan IPBES juga menyebutkan bahwa setidaknya ada 631.000 – 827.000 virus yang belum teridentifikasi dan bisa menginfeksi manusia. Yang mengerikan, virus-virus asing tersebut diprediksi akan menimbulkan pandemi yang lebih sering, lebih mematikan, dan lebih memakan biaya ketimbang Covid-19 saat ini. Dan perlu dicatat bahwa hampir 100% dari pandemi yang pernah menyerang kita (seperti influenza, SARS, COVID-19) semuanya disebabkan oleh zoonosis. Artinya, penyakit-penyakit itu berasal dari hewan dan dengan mudah menular pada manusia.

Kesehatan benar-benar dipertaruhkan saat pandemi COVID-19 berlangsung sebab wabah ini menjadi bencana kesehatan ke-6 terparah di dunia sejak terjadinya pandemi influenza besar atau Flu Spanyol tahun 1918. Meskipun COVID-19 disebabkan oleh mikroba dari tubuh binatang, tapi kemunculan pandemi sepenuhnya akibat ulah manusia.

Berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang disajikan oleh 22 ilmuwan terkemuka IPBES, Dr. Daszak menyimpulkan bahwa risiko pandemi bisa berkurang secara signifikan jika kita terlebih dahulu mencegah kerusakan keanekaragaman hayati dan meningkatkan upaya konservasi di kawasan lindung serta mencegah eksploitasi sumber daya alam.

Saatnya memperbaiki hubungan

Dalam sebuah artikel di surat kabar The Guardian versi daring tiga petinggi organisasi lingkungan membuat pernyataan bersama. Elizabeth Maruma Mrema selaku ketua konvensi PBB bidang keanekaragaman hayati, Maria Neira direktur WHO bidang lingkungan dan kesehatan, dan Marco Lambertini ketua WWF International menyatakan:

“Sudah banyak penyakit yang muncul selama bertahun-tahun, seperti Zika, AIDS, SARS, dan Ebola yang semuanya berasal dari binatang yang mengalami tekanan parah dalam habitat mereka.”

Semua wabah tersebut, termasuk coronavirus saat ini, membuktikan adanya hubungan kita yang sangat tidak seimbang dengan alam. ketiga pakar itu meyakinkan bahwa perilaku abai terhadap lingkungan akan mengancam kesehatan kita. Ini kenyataan yang sudah kita abaikan selama puluhan tahun. Oleh sebab itu mereka mengajak agar kita memulihkan hubungan baik dengan alam untuk menyelamatkan kehidupan manusia.

Urgensi kurikulum perlindungan hutan

Dari sinilah urgensi perlindungan hutan harus disusun menjadi kurikulum yang rapi di seluruh jenjang pendidikan, baik formal maupun informal. Sejak pendidikan usia dini hingga bangku kuliah materi kehutanan harus masuk sebagai unsur wajib yang dipelajari dan diakrabi peserta didik. Booklet bertajuk Forests for Kids yang dirilis oleh PBB lewat FAO bisa menjadi pijakan awal untuk mengakrabkan anak-anak usia 8-13 tahun dengan hutan dan alam. Ilustrasi dan warna yang atraktif akan membuat anak-anak sangat menikmatinya.

Modul-modul yang tersaji dalam booklet tersebut mengajak anak mengenal pengertian dan macam-macam hutan, komposisi hutan, manfaat, dan simulasi peran jika suatu hari terjadi konflik perebutan hutan. Yang mencengangkan, sejak 1990 hingga 2015, ternyata hampir 130 miliar hektar (atau 3 persen) dari hutan di seluruh dunia sudah mengalami kerusakan, sehingga hanya tersisa kurang dari 4 miliar hektar hutan di bumi.

Salah satu contoh kasus ketika hutan didekati oleh perusahaan untuk penggunaan komersial

Nazanin Omidvar dkk dari Dalhousie University, Kanada, pernah meneliti bagaimana kecintaan anak-anak pada alam tahun 2019 lalu. Penelitian yang diadakan di dua Prasekolah Halifax itu kemudian dimuat dalam The International Journal of Early Childhood Environmental Education. Omidvar menyadari bahwa biophilia (kecintaan pada alam) merupakan ketertarikan psikologis, tetapi biophilia juga bisa dipelajari dan diasah dengan interaksi langsung dengan alam.

Sementara Departemen Pertanian Amerika Serikat telah lama menyediakan panduan setebal 183 halaman yang bisa diunduh gratis berisi aktivitas dan materi untuk mengajarkan anak-anak tentang alam dan hutan. Panduan berjudul Ecosystem Matters ini bertujuan mengajak anak AS untuk memahami bahwa ekosistem sangat penting. Bahwa manusia ikut membentuk dan dibentuk oleh eksosistem yang ada. Oleh karena itulah peran manusia dalam pengelolaan sumber daya alam sangat krusial.

Pilkada dan ancaman bagi hutan Indonesia

Pilkada yang diselenggarakan 9 Desember nanti akan menjadi babak baru bagi Indonesia. Bukan hanya diliputi kecemasan sebab dihelat selama masa pandemi tetapi juga menjadi penentu masa depan lingkungan kita, terutama hutan. Sebagaimana diturunkan pada berita di Kompas beberapa hari lalu, pilkada tahun ini sangat strategis sebab sejumlah provinsi dan kabupaten/kota peserta pilkada mempunyai kawasan hutan yang masih luas dan berpotensi menjadi objek eksploitasi.

Dalam tataran angka, Nadia Hadad dari Koalisi Golongan Hutan menyebutkan bahwa 56% dari keseluruhan total hutan Indonesia dan 42% dari keselurahan total fungsi ekosistem gambut Indonesia pada 2019 berada di daerah penyelenggara Pilkada 2020. Sayangnya, pada pemilu 2019 lalu lingkungan belum menjadi isu penting bagi masyarakat kita, termasuk anak muda, sebagaimana terlihat pada hasil survei CSIS.

Nadia mengajak para pemilih, terutama anak-anak muda, untuk selektif dalam menentukan kandidat pilihan dalam pilkada nanti. Caranya dengan mengecek track record calon kepala daerah apakah punya keberpihakan pada isu lingkungan atau sebaliknya. Selain itu, perlu dilihat apakah ia pernah terlibat dalam korupsi sumber daya alam atau tidak. Era serbadigital saat ini memungkinkan kita melacak berbagai informasi dengan sangat mudah dan praktis menggunakan Internet, termasuk media sosial. Manfaatkan fasilitas itu untuk mengukur kapabilitas dan profil kandidat yang ada.

Sudah semestinya peran generasi muda dioptimalkan untuk berkontribusi pada kemajuan bangsa, salah satunya dengan memilih pemimpin yang kredibel dalam isu lingkungan. Dalam konteks ini, Golongan Hutan sangat relevan sebagai gerakan komunal sebab terdiri dari banyak organisasi masyarakat yang peduli pada kelestarian lingkungan.

Menyitir para ahli yang saya sebutkan sebelumnya, dengan menyelamatkan hutan berarti kita menyelamatkan masa depan sendiri, termasuk keluar dari pandemi saat ini. Oleh sebab itu generasi muda Indonesia harus bangga punya hutan lebat dan kaya sehingga perlu andil untuk menjaga kelestariannya. Jangan sampai harta berharga itu pupus akibat keserakahan dan ketidakpedulian.

Kekhawatiran Nadia memang berdasar, setidaknya merujuk pernyataan Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah yang ditayangkan di Kompas (5/8/2018) sebagai berikut.

“Modus korupsi sejumlah kepala daerah yang tertangkap tangan ini adalah suap terkait proyek infrastruktur atau pengadaan, pengisian jabatan, perizinan, pengurusan dan pengesahan anggaran, pengesahan peraturan atau APBD, alih fungsi hutan dan tukar-menukar kawasan hutan, dan lain-lain.”

Nadia memperkuat dengan data dari Kemendagri yang menjelaskan bahwa hampir sepertiga kepala daerah di Indonesia ternyata tersangkut kasus korupsi. Modusnya berkisar antara mengembalikan modal pemilukada sebelumnya, memelihara pemilukada berikutnya, dan sebagainya. Ini menandakan bahwa potensi besar hutan bisa dicaplok begitu saja jika kita tidak ikut mengawasi pemanfaatannya. Apalagi kalau sudah terjadi kebakaran (atau pembakaran) hutan yang sangat besar implikasinya.

5| Desa berdaya dan mandiri 

Sewaktu menginap di rumah ibu di kampung, ada beberapa kenduri yang membekali kami dengan berkatan berisi nasi-lauk dan jajanan oleh tuan rumah. Yang mengusik pikiran adalah betapa masyarakat di desa begitu semangat menggunakan plastik untuk mengemas berkat yang diberikan kepada undangan. Jika dulu berkat cukup dibungkus daun jati atau daun pisang, kini berkat diletakkan pada wadah plastik, dilengkapi mika, dengan jajanan ringan berbungkus plastik dan masih dibungkus lagi dengan plastik kresek besar sebagai kemasan luar.

Besek bambu untuk mengemas daging kurban komunitas kami beberapa bulan lalu

Saya spontan teringat pada berkatan ulang tahun dari seorang wali murid Taekwondo. Nasi berkat diletakkan dalam besek bambu tanpa plastik kresek satu pun. Ya memang masih ada mika tipis untuk memisahkan nasi dan lauk, tapi sudah cukup minimal. Saya pikir kini orang desa malah sedang ikut euforia pemakaian plastik karena sudah terlalu lama pakai bahan yang alami.

Mereka tergiur menggunakan styrofoam dan aneka wadah berbahan plastik sebab dirasa modern dan lebih praktis. Ini tentu saja mindset yang mesti diluruskan sebab problem iklim dan kelestarian lingkungan sudah cukup mengkhawatirkan. Mengurangi penggunaan plastik bisa jadi salah satu solusi untuk menyelamatkan kehidupan kita sendiri.

Ini fenomena umum yang terjadi di banyak tempat. Desa perlu didorong untuk kembali kepada kultur yang ramah lingkungan tanpa gagap mengikuti kemajuan zaman. Seperti Desa Pamoyanan di Bogor yang berhasil menjadi Desa Berdaya sampai mendapat apresiasi sebagai Juara ke-2 Produk Hasil Pertanian Dinas Ketahanan Pangan (Tingkat Kota), Juara ke-2 Lomba Pelopor Pengolahan Sampah Dinas Kebersihan Pertamanan (Tingkat Kota), dan Penghargaan Penggiat Keluarga dari GiGa Indonesia. Apresiasi ini penting bukan hanya sebagai penanda kesuksesan program, tetapi juga keterlibatan aktif masyarakat dalam program berkelanjutan dan berbasis desa.

“Ngaji Plastik”

Elan Jaelani, fasilitator Rumah Zakat Desa Berdaya Pamoyanan mengajak ibu-ibu setempat untuk ikut pembinaan rutin bulanan bertajuk Ngaji Plastik. Jaelani menggagas inisiatif ini setelah melihat semakin banyaknya plastik yang digunakan oleh masyarakat desa tersebut.

“Kegiatan Ngaji Plastik ini kita sisipkan dalam pembinaan terhadap ibu-ibu, biasanya dengan mengundang ustaz, pegiat sosial, dan kali ini dengan mengundang pengrajin daur ulang sampah dan Ecobrick. Dengan adanya program ini mudah-mudahan masyarakat akan semakin menyadari pentingnya mengelola sampah secara mandiri,” ujar Jaelani.

Ngaji Plastik, mengolah sampah jadi sumber rezeki yang baik. (Sumber: wartabogor.id)

Kata ngaji dipilih sebab sudah identik dengan kajian keagamaan sehingga warga akan lebih tertarik sebab ada ikatan religiositas. Lewat Ngaji Plastik, warga setempat diberikan keterampilan untuk membuat kerajinan keset dari kain baju bekas. Mereka juga diajak mengumpulkan jelantah dan menyetorkan sampah anorganik yang bernilai ekonomi ke Bank Sampah dan membuat Ecobrick. Problem sampah teratasi dan ada benefit ekonomi.

Mandiri pangan dan energi

Kisah lain desa yang inspiratif terjadi di Bendrong, Malang, Jawa Timur. Sudah 10 tahun lebih petani setempat mengolah kotoran sapi menjadi biogas. Kotoran sapi yang sebelumnya sekadar limbah menjijikkan yang berpotensi menciptakan konflik sosial akhirnya diubah menjadi sumber energi potensial. Yang paling penting, aktivitas positif itu dapat mencegah warga menebang hutan sembarangan yang sebelumnya menjadi kebiasaan untuk dipakai bahan bakar memasak. 

Sebagaimana dituturkan di situs KBR, biogas dihasilkan dari kotoran sapi yang diolah dalam reaktor atau digester. Sulastri, salah satu warga setempat, membeli alat tersebut seharga Rp6 juta dengan skema kredit lewat koperasi. Menurut Sulastri (38 tahun), biogas lebih bagus daripada LPG atau kayu bakar. Warnanya biru tidak menyengat hidung. Asap elpiji bisa mengepul ke mana-mana, menyebabkan noda hitam.

“Biogas diisi untuk memasak. (Kalau) habis, nanti ngisi penuh sendiri. Kalau elpiji kan sesuai tabung. Selama ini tak ada kendala lebih ngirit, tidak pakai kayu bakar. Biogas juga lebih bersih,” kata Lastri mantap.

Adapun ampas biogas bisa langsung dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk menyuburkan singkong, tebu, dan kayu sengon yang mereka tanam. Dengan begitu zero waste bisa terwujud karena sampah organik bisa difungsikan untuk mendukung berbagai kebutuhan sekaligus.

Biogas selamatkan hutan

Adalah Muhammad Slamet yang merintis praktik pertanian terpadu di Dusun Bendrong. Sebagai Ketua Kelompok Tani Usaha Maju,  pada 2009 silam ia mulai fokus pada pengolahan kotoran sapi menjadi biogas demi mengurangi konsumsi kayu bakar dan penebangan hutan yang dilakukan warga sekitar.

“Kami pernah survei jumlah kebutuhan kayu per tahun 22,5 meter kubik kalau dikonversikan batang pohon sekitar 5-6 batang pohon. Bayangkan kalau 1.000 orang, praktis akan kehilangan 6 ribu batang pohon hanya untuk memenuhi kebutuhan energi,” tutur Slamet.

Sebelum diolah menjadi biogas yang kini memiliki 150 reaktor, limbah sapi bukan hanya mencemari sungai tapi juga memicu konflik horisontal. Kini kotoran ternak bisa produktif menjadi sumber energi dan tidak lagi menggunung sembarangan di pelataran rumah yang membuat gesekan antartetangga.

Beruntung Slamet didukung oleh 25 petani muda yang tergabung dalam Paguyuban Bakti Manunggal. Mereka bertugas melakukan penghijauan guna melindungi mata air. Alfa Junaedi sang ketua mengatakan:

“Hutan kembali lebat dan air mengalir deras. Sebelum pakai biogas, air untuk mandi dan memasak berkurang karena penebangan pohon banyak. Setelah ditanami, air kembali normal seperti dulu.”

Muhammad Slamet, perintis gerakan penyelamatan lingkungan di Bendrong (Gambar: kbr.id)

Slamet bermimpi bahwa dengan program biogas di dusun tersebut mereka bisa mencapai kemandirian energi dengan gas dari limbah sapi, lalu bisa mandiri air dengan hutan yang pasokan airnya terpelihara, serta mandiri pangan berkat kotoran sapi yang dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang ramah lingkungan. Bukankah mimpi ini bisa diwujudkan di desa-desa seluruh Nusantara dengan mempertimbangkan potensi wilayah masing-masing?

Nusantara gemilang

Hutan terjaga, Nusantara berjaya.

Kita sadar bahwa makanan yang kita santap setiap hari berasal dari tumbuhan yang ditanam oleh para petani di desa. Sebagaimana disebutkan dalam buku Pengantar Geografi Desa (2001), manfaat desa tidak bisa dipandang sebelah mata. Salah satu fungsi desa adalah sebagai daerah belakang atau hinterland yakni penyuplai kebutuhan kota. Bukan hanya memasok pangan dan tenaga kerja, tetapi juga kebutuhan rekreatif seperti keindahan pohon dan habitat di hutan-hutan.

Desa di Indonesia memiliki ciri dan kultur yang unik sesuai latar budaya yang membentuknya. Potensi-potensi itu bisa dioptimalkan agar Nusantara mencapai kegemilangan dengan melibatkan peran generasi muda. Tanpa asap dari kebakaran hutan, udara semakin bersih sehingga paru-paru manusia tetap sehat. Tanpa deforestasi tak terkendali, kehidupan kita seimbang dan relatif aman dari ancaman pandemi sebab flora dan fauna hidup bebas di habitat alaminya.

Kalau kita cinta Indonesia, dengan peran apa pun yang kita emban sekarang, mari lakukan semampu kita tanpa menunggu. Menyitir ucapan Jane Goodall, jangan sampai kita apatis terhadap masa depan hutan dan lingkungan yang menentukan masa depan kita sendiri. Tetap dengan mempertimbangkan desa sebagai bagian dari Nusantara yang kaya. Agar ia tidak hilang sebagai khazanah unik yang membesarkan dan menghidupi kita dan anak cucu nanti.

Bacaan pendukung

https://suarabojonegoro.com/news/2018/04/19/suhu-di-bojonegoro-kian-panas-mencapai-40-derajat-celcius | https://www.nationalgeographic.com/environment/global-warming/global-warming-overview/ | https://ipbes.net/pandemics | https://www.theguardian.com/world/2020/jun/17/pandemics-destruction-nature-un-who-legislation-trade-green-recovery | https://kbr.id/berita/11-2020/bendrong_menuju_dusun_mandiri_energi_dan_pangan/104035.html | https://nasional.kompas.com/read/2018/08/05/10101301/modus-korupsi-32-kepala-daerah-yang-sudah-ditangkap-kpk


51 thoughts on “Menjaga Desa Agar Tak Hilang: Catatan Sederhana Menuju Nusantara Gemilang

  1. Setuju, desa punya potensi yang sangat kaya untuk menyejahterakan Nusantara. Hutan kita harus dirawat, kearifan lokal harus dipertahankan agar hidup kita seimbang dan terbebas dari ancaman pandemi seperti sekarang. Sepakat juga dengan Goodall, kalau kita enggak peduli, lalu siapa lagi yang memperhatikan? Apatisme bisa menghancurkan kita sendiri, termasuk membiarkan ribuan hektar hutan terbakar untuk komersialisasi kebutuhan modern. Good point!

    Liked by 1 person

    1. Betul, khazanah lokal yang sudah turun-temurun dan berorientasi pada pelestarian lingkungan harus dipertahankan, dengan memberdayakan desa agar Nusantara sejahtera tercapai. Mulai dari kita generasi muda, mulai dari sekarang juga. Harus peduli dan tak boleh apatis.

      Like

  2. Sejak kecil saya hidup di desa, hal-hal yang dituliskan disini menjadi sebuah kebiasaan yang gak pernah terpikirkan buat dituliskan dan dihubungkan dengan banyak hal terutama keseimbangan lingkungan

    Like

    1. Iya, Mbak. Kadang karena begitu dekat malah harta karun berharga terasa biasa saja. Semoga lewat tulisan ini semakin banyak pembaca yang tergerak untuk merawat kearifan lokal desa dan kelestarian lingkungan di mana saja.

      Like

  3. Desa sekarang udah kayak kota. Internet membawa perubahan besar karena informasi bisa dicari dengan mudah. Tinggal kearifan warga dan kemauan pemimpin setempat untuk terus melestarikan budaya2 nusantara agar desa tetap lestari. Menjadi penyokong perekonomian tanpa kenal resesi.

    Like

    1. Iya, Kak. Internet dan kemajuan sudah merambah ke desa, termasuk membawa dampak lingkungan yang tak terasa. Yuk dukung kearifan lokal dengan merawat lingkungan dan semangat kemandirian!

      Like

  4. Setuju banget dengan kalimat “ancaman terbesar masa depan manusia adalah sikap apatis”. Hiks andai semua mau lebih peduli tentu potensi Indonesia bisa terjaga namun tetap bisa dimanfaakan dengan baik.

    Liked by 2 people

    1. Begitulah, Kak. Terutama generasi muda jangan sampai apatis dalam menentukan pemimpin daerah besok. Saatnya anak muda berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan dan kekayaan lokal agar daerahnya sejahtera.

      Like

  5. Waahhh keren, saya sepakat bahwa apatisme adalah bumerang yang akan menjerumuskan kita sendiri, entah dalam waktu dekat, atau nanti keturunan kita. Penasaran dengan Desa Bendrong, Malang sebelah mana ya…nanti kucari ah

    Like

  6. benar ya mas, klo benar-benar diberdayakan, semua potensi desa bisa berkembang optimal ya mas
    butuh peran semua pihak, termasuk generasii muda..

    btw artikelnya lengkap mas, good luck yaaaa…

    Like

    1. Iya, Mbak Dian. Tiap desa di Indonesia kan punya potensi berbeda dengan khazanah yang unik. Sayang banget kalau tidak diberdayakan, terutama dari segi lingkungan, termasuk hutan yang kaya banget.

      Like

  7. Ternyata banyak juga hal yang bisa dibahas terkait kelestarian lingkungan ya. Aku concern bgt dengan biogas menyelamatkan dunia. Yang aku tau kotoran sapi atau kotoran ternak adalah kontribusi terbesar pemanasan global. Kalau memang bisa dioalh menjadi biogas yang lebih bermanfaat, aku rasa pemerintah harus siap dengan projek besar ke depannya terkait ini.

    Like

    1. Betul, Kak Jasmi. Kalau kotoran sapi saja bisa diolah jadi biogas yang berdaya guna, apalagi potensi lain yang beragam di berbagai desa Nusantara kan? Dengan sinergi dan semangat mandiri, menurutku bisa kok kita maju.

      Like

    1. Ternyata desa menyimpan banyak kekayaan yang sangat kalau tak diolah dan dijaga, Mbak–termasuk lingkungan hidup seperti hutan dan flora fauna eksotisnya. Jangan sampai desa kita hilang, termasuk potensi fisik dan budaya, akibat modernisasi yang tak terkendali.

      Like

    1. Betuk, Kak Heizyi. Menjaga keberlangsungan desa secara tak langsung turut merawat kelestarian hutan dan lingkungan di sekitarnya, yang akan menentukan kehidupan di kota. Mulai dari sekarang, mulai saat ini juga, yuk!

      Like

  8. Anakku doyan semangka tapi belum pernah lihat pohon semangka apalagi metik sendiri nih. Sesekali perlu juga ya berkunjung ke kebun tapi kebun siapa.
    Kangen juga ke desa, desa orang pastinya ya apalagi bisa main air di sungai duh jadi inget masa kecil ini.
    Ayo aku dukung deh Mas Rudy jadi pempimpin supaya bisa hijau lagi Indonesia

    Like

    1. Ayo main ke sini, Pascal dan Alvin. Boleh petik sebebasnya sambil bermain di sawah. Pulangnya bayar tapi ya 🙂 Sungai masih luas dan airnya masih berlimpah.

      Like

  9. Di daerah pesisir sudah berkurang petani buah. Yuni nggak tahu menahu bagaimana mekanisme pasarnya.

    Hanya saja, para petani buah di sekitar rumah yuni kadang menjual hasil panennya sendiri. Tentu, para pemudanya juga mempromosikannya via medsos juga.

    Dan memang, yuni sepakat sih bahwa ada komoditas tertentu yang ketika panen raya harganya malah anjlok.

    Mungkin benar bahwa perlu adanya pendidikan agraria. Bisa lho kita panen di luar musim. Jadi, harga nggak jatohlah.

    Like

    1. Iya, Kak. Harus ada kerja kolaboratif dari berbagi pihak yang melibatkan peran generasi muda agar pesannya sampai ke semua orang. Jangan sampai orang malas jadi petani hanya karena pendapatan kecil dan pemasaran yang buruk.

      Like

  10. Setuju Mas. Bahwa pilkada 9 Desember ini menentukan masa depan hutan Indonesia. Banyak para kepala daerah yang memanfaatkan aset hutan di wilayahnya untuk alasan pemanfaatan hutan agar produktif dengan menyerahkan pengelolaan hutan kepada perusahaan-perusahaan kayu dan sawit.

    Like

    1. Nah itulah, Kak. Jangan sampai hutan lokal jadi modal pencalonan dengan iming-iming akan dieksploitasi nantinya. Bayangkan betapa banyak kehilangan kita kalau daerah dengan tutupan hutan luas sembrono mengobral janji kepada pihak tertentu. Rakyat yang sengasara.

      Like

  11. Internet yang sudah menjangkau hingga ke desa perlu didukung dengan peran generasi muda untuk memajukan desa, dan setuju juga dengan adanya pendidikan lebih mendalam tentang agraris dan perlindungan hutan. Karena memang perlu semua pihak saling mendukung.

    Liked by 1 person

    1. Betul itu, Kak. Generasi muda punya langkah yang lebih gegas dan pikiran yang masih sigap, jadi wajib berpartisipasi dalam memajukan daerah, dari pertanian dan pengelolaan hutan.

      Like

  12. Pluruan itu bagus ya kalau tetap dipertahankan. Memang benar juga, kebiasaan kita membangun rumah sampai penuh seluruh lahan dibangun. Jadi engga ada resapan air tanah lagi deh, semuanya mengalir ke laut. Banyak banget sebetulnya langkah-langkah agar pelestarian lingkungan tetap terjaga. Termasuk menjaga desa…

    Like

    1. Bagus, Mbak Hani. Cuma ya karena populasi terus bertambah sementara lahan berkurang, maka area pluruan makin terpinggirkan sehingga tak dianggap penting lagi. Dilema ini sebenarnya ya bisa diatasi dengan membangun rumah susun agar air tetap bertahan di sekitar rumah, enggak melulu terbuang ke sungai dan laut. Menjaga desa bisa jadi salah satu langkah produktif untuk membangun bangsa dengan tetap melestarikan lingkungan hidup.

      Like

  13. Sebuah desa di Lampung punya sumber daya berupa masyarakat yang senang berkebun pisang. Tetapi sayangnya pisang-pisang tersebut sering dimakan hama, sehingga kalau dijual pun mutunya tidak terlalu bagus.

    Sebuah perusahaan agrikultur datang dan membeli kebun itu. Mereka tetap membiarkan kebun itu menghasilkan pisang, dan mempekerjakan penduduk sebagai petani pisangnya. Mereka mengajarkan teknik perawatan tanaman pisang. Mereka mengajarkan cara perlindungan pisang dari hama. Mereka juga mengajarkan teknik pengolahan limbah supaya limbah pertanian tidak mengotori sungai. Mereka memastikan para penduduk yang menjadi petani itu bisa menafkahi anak-anak mereka.

    Pisang-pisang dari kebun itu mereka ambil, lalu mereka kemas dengan rapi dan mereka distribusikan. Kebun pisangnya memang ada di Lampung, tapi penjualan pisangnya sampai ke Jakarta dan Bandung. Jarang ada keluhan pisangnya rusak selama perjalanan. Brand pisang ini sampai terkenal di Indonesia sebagai pisang bermutu.

    Itu contoh nyata bagaimana menggerakkan kekuatan swasta bisa membangun sebuah desa.

    Like

    1. Nah, kayak gini kan bagus Mbak Vic, sinergi swasta untuk memberdayakan potensi lokal. Tentunya masih butuh instrumen pemerintah biar kerja sama bisa nyambung dan menguntungkan. Aku yakin banyak kisah seperti ini di Indonesia, entah yang sudah menemukan solusi atau masih berkutat mencari jalan. Bravo Lampung!

      Like

  14. datanglah ke nagari jorong tabek
    di sana desa tetap terjaga dengan menonjolkan kearifan lokal, mempertahankan pertaniannya, sawah, tebu, asik sekali

    Like

    1. Jorong Tabek memang sudah terkenal ya Mas sebagai desa yang konsisten mempertahankan keaslian alamnya. Makin mupeng saya ke Sumbar sekalian buat makan dendeng paru, haha….

      Like

  15. Jadi ingat gimana dulu senang banget kalau pas liburan, bisa pulang ke kampung bapak dan ibu di desa. Bisa menghirup udara segar, melihat hijaunya sawah. Sekarang? Sebagian besar daerah desa udah berubah jadi perumahan. Hiks.

    Like

    1. Iya, Mbak Andy. Apalagi alam Lombok yang indah banget ya. Sekarang desa-desa makin tergusur tanahnya buat permukiman warga, termasuk kehilangan eksotisme alamnya. Kalau tak waspada, lambat laun desa bisa terkikis dan tak menyisakan lagi kebudayaan atau kearifan lokal, termasuk kekayaan hutan dan pesona alamnya.

      Like

  16. Potensi desa, gede banget. Sering kali orang keliru selalu menafsirkan bahwa potensi pendapatan kota > desa. Padahal, saat ini apabila kita di desa dan punya 1/4 ha lahan pertanian saja, bisa digunakan untuk ditanami padi atau tanaman pangan lain yang nilai panennya besar banget.

    Btw, aku baru tahu ttg istilah pluruan dan urup. 🙂

    Like

    1. tepat sekali, Mas Ari. BTak jarang orang salah kaprah dengan menimbang potensi desa lebih kecil dibanding kota padahal bisa sebaliknya. Pendapatan/gaji orang kota boleh jadi lebih tinggi tapi secara umum kapasitas poduksi pangan yang jadi santapan orang kota justru berasal dari rural atau desa-desa. Ayo tulis juga kearifan lokal di daerah Mas.

      Like

  17. Artikel ini sangat mencerahkan, ternyata berbagai virus yang sekarang melanda dan menjadi pandemi tidak lebih dari ulah manusia sendiri yang kurang menjaga hubungan dengan alam, keatifan lokal yang dapat menjaga kelsetarian lingkungan memang mesti dijaga

    Like

    1. Bisa disimpulkan begitu, Mbak Rani, karena bencana lingkungan hampir selalu merembet jadi bencana kesehatan, baik berupa penyakit ataupun kelaparan. Kalau hutan rusak dan gundul, banyak fungsi ekologis yang tak bisa dipertahankan, yang berdampak serius pada kelangsungan hidup manusia. Dari situlah pentingnya mulai menelisik kearifan lokal yang kaya di tiap daerah untuk bisa maju tapi tetap ramah lingkungan.

      Like

  18. Jadi kangen ibu di desa. Hikss… hehe
    Peran generasi muda di desa memang penting, tapi kaalu di desa ibuku udah jarang banget anak mudanya. Ada juga nggak banyak. Mereka biasanya disibukkan dengan krjaan ngebengkel atau sejenisnya. Jadi untuk memikirkan bagaimana desa mereka ke depannya nampaknya masih selow aja gitu hehe

    Like

    1. Desa dan penguninya memang ngangenin kan KakNiken? Apalagi masih punya ortu, wah pasti sering terbayang memori masa kecil, apalagi bermain di alam terbuka atau bersentuhan dengan habitat alami berbagai binatang. Tantangan banget memang melibatkan peran generasi muda karena isu hutan dan lingkungan hidup belum seksi di banyak daerah, lebih-lebih yang banyak pabriknya.

      Like

  19. sedih bgt si liat timbunan sampa di situ gede, sesedih aku liat kali atau sungai2 di surabaya kotornya gak karuan, sampah di mana mana, padhal sungai ngalir di dekat pemukiman warga.

    setuju bgt klo peran generasi muda sangat penting buat ubah kebiasaaan orang-orang yang suka sembrono dan kurang peka buat jaga alam sekitar kak

    Like

    1. Selain tak sedap dipandang, timbunan sampah kan juga potensial bawa penyakit kan, Kak? Generasi muda yang punya jangkauan ke teknologi harus punya inisiatif dan kepedulian buat melestarikan lingkungan.

      Like

  20. Sedih yaa kalau sudah lihat timbunan sampah begitu, di sini pun masih ada beberapa lokasi yang kesadaran masyarakat masih sangat minim terhadap lingkungan. Saya dukung banget menjaga desa karena desa sangat dekat dengan hutan biasanya, dan mereka memiliki kearifan lokal sendiri menjaga hutan leluhur.

    Like

    1. Iya, Kak. Miris dan sedih kalau menjumpai tumpukan sampah semabarangan yang bukan hanya mengganggu pemandangan tapi juga memengaruhi pasokan air bersih secara keseluruhan. Semoga spirit positif dari desa menjadi nilai luhur yang bisa kita ejawantahkan demi membangun Indonesia agar lebih kuat dan makmur.

      Like

  21. Menjaga desa sebagai bagian dari Nusantara yang kaya, agar desa sebagai khazanah unik yang membesarkan dan menghidupi kita dan anak cucu nanti, tidak hilang tertelan modernisasi <<< aku setuju dengan kalimat ini. Jangan semuanya di Indonesia di modernkan dan kota yang sumpek dan gedung-gedung tinggi. Desa perlu tetap ada, alami, hijau, tapi tetap ada teknologi pendukung di dalamnya

    Like

  22. Desa, hutan, dan lingkungan alam secara umum adalah bagian dari kehidupan kita, yang membentuk kita lewat proses alami. Kalau tak merawat lingkungan, mana mungkin kita bisa hidup. Begitu kan? Harus banyak kepedulian dari siapa saja yang merasa cinta Indonesia.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s