Dilema Angpau Lebaran Freelancer yang Enggan Berpindah Tangan

Setiap kali lebaran, setiap kali pula dilema menyerang. Seperti judul yang saya tuliskan, dilema yang saya maksud berkisar urusan angpau untuk dibagi-bagikan. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, saya selalu kebagian mendistribusikan angpau untuk para paman dan bibi dari pihak ayah maupun ibu. Namun yang wajib adalah kerabat ayah yang memang tinggal sedesa. Sementara kerabat dari pihak ibu tinggal di kampung sebelah yang tak selalu mendapat angpau. Kalau ada ya bagus, tapi kalau tak ada ya tidak memaksa.

Namun pemandangan yang kerap terjadi adalah ditolaknya angpau tersebut oleh bibi atau paman. Walau tidak selalu, tapi mereka kerap berujar, “Emang kamu punya duit?” atau “Ah, kamu kan ga ada duit, ga usah repot-repotlah!” Intinya kalimat yang mereka ucapkan menyiratkan rasa kasihan kepada saya yang tak jelas pekerjaannya. Harap maklum karena profesi bloger atau freelancer tak dikenal di kampung. Sebab saya tak bekerja kantoran, penghasilan dianggap menyedihkan.

Dilema angpau lebaran yang enggan berpindah tangan. (Foto: dokumentasi pribadi)

Saya pribadi tak mengklaim berlimpah uang, tapi kehidupan sebagai freelancer baik full-time blogger ataupun content writer cukuplah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan sedikit menabung. Untuk hal kedua memang butuh perjuangan berat, tapi bisa disiasati meskipun tak teratur. Namun dalam pandangan orang desa atau di daerah yang profesi masih didominasi oleh pekerjaan kantoran atau menjadi karyawan, apa yang saya kerjakan tidaklah menjanjikan.

Tetap diberikan

Itulah sebabnya angpau lebaran yang saya ulurkan untuk bibi dan paman kerap ingin dikembalikan. Selalu terjadi tarik ulur amplop saat kami berpamitan. Saya tentu saja bersikeras agar angpau itu mereka terima setelah adu mulut ringan. Memang nominalnya tidak besar, tapi lumayanlah untuk belanja sehari-hari di desa. Kalau kami mengangsurkan angpau lebaran, itu berarti kami telah sengaja menyiapkannya. Jadi tak ada alasan untuk menariknya kembali hanya karena bibi dan paman menolaknya atas dasar kasihan.

Saya dan istri selalu mengobrol terlebih dahulu menjelang lebaran tentang rencana pemberian angpau untuk kerabat tersebut. Jika ada dana, kami segera buat posnya dalam sekian amplop. Namun jika anggaran tak memungkinkan, yang memang pernah terjadi, kami tak repot-repot memberikan amplop berisi uang. Bagi mereka silaturahmi kami sebagai keponakan sangatlah utama dan bermakna. Angpau lebaran hanya pelengkap jika memungkinkan, bukan hal yang mereka harapkan.

Begitulah kisah saya sebagai freelancer yang kerap menerima penolakan saat memberikan angpau lebaran kepada kerabat yang kami rasa membutuhkan. Penolakan itu dilandasi rasa iba karena pekerjaan saya dan istri sebagai freelancer tak menjanjikan mengingat kegiatan blogging atau content writing berbeda dari pekerjaan umum yang eksis dan terbukti jelas mendapat bayaran. Padahal ada potensi mendapatkan hadiah bertubi-tubi dari kegiatan di dunia maya ini.

Apakah BBC Mania punya pengalaman seputar angpau lebaran yang unik atau tak terlupakan? Apalagi di tengah pandemi yang belum usai saat ini, mungkin pernah dihadapkan pada sesuatu yang dilematis seperti angpau yang saya angsurkan? Mau diambil kok terasa aneh, mau dipaksa ambil kok mereka mengasihani saya, bingung kan? Silakan bagikan di kolom komentar. Selamat berakhir pekan.

15 Comments

  1. kalau aku sendiri biasanya nih suka diguyoni sama sodara sodara, “gajimu dibuat apa lho, kayake simpanannya banyak”, lahhhh
    aku sendiri juga nggak selalu kasih ke sodara angpau, palingan ke keluarga sendiri aja kalaupun mereka butuh

    Liked by 1 person

      1. Terkadang saat bukan lebaran pun saya sering berkeinginan berbagi, contohnya ketika saudara datang, sedikitnya kita selipin amplop utk ongkos atau jajan mereka. meski mereka kerapkali menolak keinginan utk berbagi pasti ada.

        Like

  2. Wih ngeri juga kalau ditolak, berasa diece, eh. Semoga saya aja yang salah tangkap.
    Kalo di desa, profesi blogger emang belum populer ya?

    Dulu ada kawan saya kerja di perusahaan internet (KL) eh disangka jaga warnet.

    Like

  3. Risiko jadi bloger di desa ya mas, selalu dianggap menyedihkan karena tak punya penghasilan tetap hahahaa
    bedalah sama yg kerja di kantor, hmmmm hmmmm hmmmmm
    Tapi niat tulus untuk berbaginya itu yg malah bikin aku salut. Mudah2an mas rudi dan istri diberikan kelancaran rezeki, bibi dan paman juga mg sehat terus ya

    Like

  4. Berbaik sangka saja, Mas siapa tahu penolakan mereka berselip doa dan akan membawa berkah bagi pekerjaan freelancer-nya.
    Kalau saya pengalaman ditolak kasih angpau pernah sih dengan alasan kami merantau, mudik saja butuh dana banyak, kok pakai ninggalin angpau segala…hahaha. Padahal angpaunya sudah termasuk bagian dari dana mudik

    Like

  5. Kalau saya jujur saja belum pernah mengalami pengalaman yang unik soal angpau ini. Kalau kebetulan ada saudara yang sedang kurang beruntung, biasanya keluarga besar sudah tahu sama tahu, jadi saudara ini tidak perlu memberikan angpau dan dia tidak perlu merasa sungkan dengan saudara yang lain.

    Like

  6. Ada. Salah satu keluarga suami tidak mengizinkan anak-anaknya diberikan angpao setiap lebaran. Khawatir jadi kebiasaan menagih uang angpao saat lebaran. Mereka hanya ingin anak-anaknya antusias silaturahim saat lebaran bukan karena membayangkan akan dapat angpao banyak saat kumpul lebaran. Hmm.. seru sih, jadi tahu tipe pengasuhan orang beda-beda. Pasti dengan alasan yang baik 🙂

    Like

  7. Hehehehe …. saya enggak pernah mengalami ditolak seperti itu karena, eh, karenaaa saya memang tak pernah memberikan angpau. Ealaah. Ya ampuun. Jebulane wong pelit. Hahahaha!

    Seru ya mas klo dirasa-rasakan. Mikir DL saja seriuuusss, dipikir orang di rumah rebahan dan tak bergaji. Sing sabar. Klo ini sih diriku kerap mengalami. Heheheh …

    Like

  8. Kami sejak menikah tak banyak memberi angpau kepada keponakan, saat itu emang lagi sulit ekonomi. Saat ini pun tradisi berbagi angpau hanya untuk anak sekitar rumah. Malahan anakku yang sering dikirim oleh tantenya.

    Like

  9. Jadi sedih ya kak, dipandang freelancer pekerjaan tidak jelas. Padahal kebebasan mendapatkan profit lebih banyak ketimbang bekerja di perusahaan yang sudah dipatok gitu. Semangat ya kak! semoga makin kedepan orang – orang akan memahami peran freelancer ini yaa..

    Like

  10. mungkin mereka belum tahu aja freelancer bahkan ada yang penghasilanya belasan sampai puluhan juta rupiah. kalo ada yg masih tanya kerjaanya dimana, kadang saya malah kasih tahu webnya kek fiverr, threadless, shutterstock biar pada kepo sendiri. hi

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s