Bagaimana Rasanya Mendapat Hadiah Uang Tunai Rp10 Juta?

Bagaimana rasanya mendapat hadiah lomba berupa uang tunai sebesar 10 juta rupiah? Tentu saja senang karena saldo di rekenang akhirnya mengembang. Pastilah bahagia karena tagihan dan cicilan bisa terbayar tanpa pusing kepala. Maklumlah bagi freelancer dan full-time blogger seperti saya, mendapat suntikan dana senilai itu ibarat menerima durian runtuh meski saya tak suka makan durian.

Memang tak terbayangkan saya bakal diganjar uang sebesar itu. Saya memang berharap menang, tapi tak berani menarget posisi pertama. Dapat juara ketiga pun sudah bagus, batin saya. Selain banyak peserta yang ikut, cerita lokal yang dihimpun pun terbilang beragam dan unik. Namun dari sekian banyak cerita yang ditampilkan, saya lihat kebanyakan ditulis ala kadarnya padahal topiknya menarik.

Dari situlah saya bertekad untuk menulis dengan serius. Saya teringat seorang teman relawan yang memproduksi sambal khas kota Lamongan. Saya mengenalnya di komunitas sedekah NBC dan langsung saya kontak untuk mengagendakan wawancara. Mama Zil yang sudah berusia 56 tahun ini sangat koperatif dan luwes dalam memberikan jawaban, bahkan sangat lengkap sehingga tak mungkin saya angkat semua mengingat ada syarat maksimal kata dalam lomba.

Dan begitulah, saya datang ke rumah Mama, saya mewawancarainya dan tak lupa memesan beberapa botol sambal produksinya. Ada sambal boran yang saya angkat, lalu sambal bawang, sambal teri, dan sambal klothok. Alhamdulillah kabar baik itu menyapa di akhir tahun 2021. Saya merasa puas dengan entri yang saya setorkan. Kebetulan, salah satu juri pernah menjadi narasumber pada sebuah Kulwap gratis yang diselenggarakan oleh penyedia hosting. Materi copywriting darinya sangat bermanfaat

Terasa sebentar saja

Ketika pengumuman diunggah oleh Tribunnews, tak bisa saya sembunyikan kabar gembira itu dengan saya bocorkan kepada istri alias Bunda Xi. Kalau teman-teman bloger yang langganan juara mungkin sudah biasa menerima uang sebesar itu lantaran kerap memenanginya.

Namun bagi saya yang baru kali ini mendapat uang tunai Rp10 juta (sebelum pajak), perasaan senang membuncah tiada terkira. Pernah sih tahun 2018 silam saya mendapat hadiah lomba yang kalau ditotal nyaris sama jumlahnya. Kala itu berupa uang 4 juta rupiah ditambah laptop Lenovo senilai 5 juta. Karena berbentuk barang jadi sulit ditakar perbandingan tepatnya.

Nah, ketika hadiah akhirnya cair sebulan kemudian, kegembiraan yang membuncah perlahan terkikis oleh waktu dan kebutuhan. Uang segera terdistribusi untuk menutup kebutuhan ini dan tagihan itu. Untuk sedekah, untuk ibu, dan lain sebagainya. Hari gini siapa yang enggak punya tagihan atau cicilan, iya enggak? Walau hanya tersisa sedikit yang sengaja ditahan di rekening, saya tetap bersyukur.

Namun yang jelas perasaan gembira ketika menerima, when I actually have the money, ternyata berkurang dibanding saat pengumuman pemenang saya baca. Lebih-lebih ketika seorang teman mengabarkan bahwa kerabatnya, yang tinggal sekota dengan kami, baru saja membayar pajak usaha sebesar 1 miliar rupiah.

Mendadak saya ciut, merasa apa yang terima tak sebanding dengan omset dan profit yang kerabat itu dapatkan. “Uang segini mesti kudapatkan dengan susah payah, itu pun jarang pula. Nah tuh orang untungnya berapa ya kalau pajak aja segitu!?” bisik saya bersenandika.

Hadiah lomba 10 juta rupiah (Foto: Robert Lens/Pexels.com)

Sunguh pemikiran bodoh enggak ketulungan!!! Memikirkan hal-hal yang bukan ranah kita dan malah menggerus kegembiraan kecil alih-alih menegaskan rasa syukur yang nyata. Di saat teman-teman berjibaku untuk survive akibat pandemi, hadiah 10 juta tentu sangat bernilai, tapi saya anggap seolah recehan hanya karena cepat terpakai untuk ini-itu dan ilusi harta orang lain yang terlihat lebih besar.

Saya jadi menyadari dua hal: pertama, pencapaian kreatif menyimpan sensasi kegembiraan lebih kuat ketimbang materi yang menyertainya. Tepat seperti kutipan kondang oleh Franklin D. Roosevelt,

Happiness lies in the joy of achievement and the thrill of creative effort.”

Kedua, manusia–terutama saya–gampang silau oleh akumulasi pencapaian orang lain yang menyebabkan berkurangnya atau hilangnya rasa syukur. Kalau ilusi itu dibiarkan tanpa kendali, maka kebahagiaan kita sendiri lama-lama akan menjadi elusive alias sulit kita dapat. Terus menghindar dan sulit kita tangkap. Bukan karena kita lamban tetapi sebab kita gagal memanfaatkan peranti batin yang tidak pernah kita sadari kita miliki.

11 Comments

  1. MasyaAllah turut bahagia, dan trmksh pula pengingatnya. Terkadang saya juga gitu, sedih mikir finansial yg gak maju2, lupa bersyukur atas nikmat sehat dan keluarga yang baik

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s