Tiga Kekecewaan Menjelang Ramadan: Tentang Kekuatan Harapan

Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, maka kekecewaan yang datang. Inilah kira-kira yang mewarnai kehidupan manusia, tak terkecuali manusia modern dengan berbagai fasilitas dan kemudahan. Kecanggihan teknologi dan peradaban digital justru membuka begitu banyak peluang untuk kecewa lantaran kita kian bergantung (attachment) pada sesuatu yang mempermudah.

Ingat enggak kisah seorang tua gelandangan yang bertahan dalam dinginnya jalanan? Suatu hari ia bertemu dengan seorang miliarder yang menawarkan bantuan. Namun sebelum bantuan diberikan, sempat terjadi percakapan.

“Bagaimana Anda bisa bertahan selama ini menjadi gelandangan di luar sana tanpa punya apa pun?” tanya miliarder serius.

Kekuatan harapan

“Saya selalu punya harapan, Tuhan akan menolong kapan pun saya butuhkan. saya mendapat apa yang saya butuhkan.” Lelaki tua menjawab sambil melepas pandangan ke jalanan yang nyaris beku oleh salju.

“Saya ingin bantu. Bisakah Bapak tunggu di sini sampai saya kembali dengan membawa bantuan yang saya maksud?” ujar miliarder yang dibalas dengan anggukan Pak Tua.

Ketika harapan hilang dan hanya ada rasa ketergantungan

Entah karena lupa atau tersedot oleh kesibukan lain, miliarder itu rupanya tak kunjung datang. Ia baru tiba esok harinya, dengan mata berkaca-kaca. Ia memandangi sepenggal catatan di secarik kertas lusuh yang berbunyi:

“Selama ini saya bisa bertahan sebab punya harapan, tak ada perasaan harus kehilangan. Nothing to lose. Namun ketika Bapak datang dan menjanjikan petolongan, saya mendadak bergantung dengan sense of attachment yang besar. Saya limbung dan hilang kekuatan.”

Catatan itu tergeletak di sisi jasad gelandangan tua yang membeku dalam kelindan dinginnya salju. Miliarder tak sanggup berkata, matanya tercekat dengan perasaan terpukul sebab merasa bersalah.

Perasaan serupa saya alami belakangan ini, setidaknya sebelum menjelang Ramadan. Optimisme berlebihan membuat saya akhirnya berbuah kekecewaan, tanpa memikirkan celah kegagalan sebab saya manusia biasa yang tunduk pada ketentuan Tuhan.

Gagal di BSIbercerita

Kekecewaan pertama lantaran gagal masuk 10 besar dalam lomba menulis blog yang dihelat Tribunnews dengan sponsor Bank Syariah Indonesia (BSI). Saya paham kegagalan ini karena saya tidak optimal menggarap tulisan. Akibat lupa tenggat, saya mengirimkan artikel benar-benar injury time, pada tanggal 3 Maret 2023.

Karena masih terbayang nikmatnya menerima hadiah 10 juta rupiah dari lomba serupa, saya pun getol menuntaskan tulisan hari itu juga. Akhir 2021 Tribunnews menggelar lomba yang mirip temanya, hanya saja saat itu lomba disponsori BRI.

Saya kaget bukan main saat diganjar 10 jeti dari tulisan yang enggak sampai 500 kata. Ita betul, kala itu jumlah kata dibatasi dan cukup ditulis di microsite penyelenggara. Berbeda dengan lomba BSI tahun ini yang mensyaratkan peserta menulis di platform lain lalu didaftarkan di microsite.

Saya garap dengan gaya dua tahun lalu, dengan menitikberatkan kiprah UMKM selama pandemi yang sekiranya butuh dukungan permodalan dari BSI. Saya angkat kisah seorang sahabat yang sukses mengelola batik di Gresik dengan berbagai prestasi dan akselerasi ekonomi.

Rupanya saya keliru membaca kemauan penyelenggara. Ya, semua akibat waktu yang mepet. Saya baru sadar tenggat tanggal 3 langsung seharian mengerjakan. Ah, bahkan tak sampai seharian. Sore baru saya sadari dan saya genjot sampai malam hari.

Sebenarnya tulisan sudah saya garap dengan cukup optimal, tapi sayangnya kurang mengupas peran BSI sebagaimana saya perhatikan tulisan peserta lainnya. Judul-judulnya hard-selling dengan mengadopsi nama BSI ini dan itu.

Bukan salah mereka sih sebab mereka yang punya hajat dan oleh karena itu mereka bebas memilih pemenang yang layak dengan standar yang dikehendaki. Walhasil, melayanglah kesempatan masuk 10 besar untuk mendapat voting dan berkesempatan memboyong 15 juta rupiah sebagai hadiah pertama.

300 dolar melayang, perihnya ga hilang-hilang

Kekecewaan berikutnya terjadi setelah Mas Amir bloger Kebumen memberitahukan tentang sebuah peluang job di Intellifluence.

“Mas, ada kesempatan job 100 dolar di Intel, kali aja minat dan lolos,” sapanya lewat pesan di WhatsApp.

“Oiya? Masak sih? Tentang apa, Mas jobnya?” balas saya ringan.

“Games juga kayak dulu. Alhamdulillah saya dapet.”

Begitu dia bilang berhasil dapat, saya pun mengecek akun Intellifluence seketika. Buka beberapa akun, tak ada tawaran yang ia maksudkan. Baiklah, belum rezeki. Atau jangan-jangan Mas Amir sedang halu. Pikir saya singkat.

Uang melayang, semoga nanti datang!

Begitu saya tanyakan apa nama pemberi jobnya, saya pun terbelalak. Ternyata saya sudah membaca peluang itu di email. Saya bahkan masih ingat sudah membukanya tapi tak kunjung mengajukan aplikasi. Entah kenapa waktu itu abstain.

Padahal kalau ada tawaran di email, berarti blog saya masuk kualifikasi dan bisa ikut bidding. Sedihnya enggak ketulungan karena sadar saya punya tiga email dan tiga email yang berpotensi meraup $300 dalam sekali hentakan.

Kapan lagi sih menjelang lebaran bisa diguyur uang hampir 5 juta cukup dengan menulis tiga postingan? Duh, terbayang-bayang di mata, kata Ona Sutra, uang lima jeti melayang enggak bisa saya gondeli.

Sekarang tinggal gigit jari, bayangin Mas Amir nanti makan kue kering selepas terima fee dua minggu lagi.

Kenapa harus kecewa

Namun selain dua kekecewaan berbau cuan itu, kekecewaan ketigalah yang paling menyayat hati. Yaitu perasan musykil pada diri sendiri. Bisa-bisanya saya membiarkan diri larut dalam kekecewaan akibat tidak mengambil aksi dan gagal dalam manajemen waktu seputar penulisan artikel lomba BSI.

Kekecewaan mendalam adalah tidak adanya rasa kecewa sebab memasuki Ramadan saya masih gini-gini aja. Mana itu perasaan gembira sebagaimana dianjurkan para ustaz dan penceramah? Mana itu komitmen untuk lebih baik ini itu yang bedaa dari tahun lalu?

Hal-hal ini sangat mengecewakan, bahkan sampai putaran kedua (memasuki hari ke-11 Ramadan) saya belum menemukan gairah dan kenikmatan ibadah yang solid selain euforia belaka.

Sungguh menyedihkan Ramadan tidak menghasilkan apa-apa, bahkan blog post pun sangat terbatas yang saya hasilkan. Masih nulis beberapa tapi semuanya demi lomba sebagai peserta tercepat saja.

Duh Gusti nyuwun pangapura, hamba abai tapi ingin kembali. sampai kemarin malam saya baca ayat-ayat terakhir pada Surah Thoha yang bikin perih mata dan hati merajalela. Mau nangis tapi tak bisa produksi air mata.

Dear BBC-Mania, semoga Ramadan membawa berkah dan spirit kebaikan dalam pengertian seluas-luasnya ya. Aaamiin.

Advertisement

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s