Dari Teh Villa ke The Sunrise of Java: Mengukir Cinta Bareng Traveloka

TAK LAMA SETELAH mengomentari wingko yang kami beli di atas kereta, kami pun tiba di Stasiun Bojonegoro. Duo Xi bergegas turun sebab tak sabar menyambung kereta ke Semarang. Di mata mereka, ke mana pun tujuannya, moda favorit adalah kereta api. Semakin lama, semakin betah. Makin jauh perjalanan, makin asyik mereka rasakan. Udara Bojonegoro yang biasanya terik seperti Lamongan sore itu lumayan redup tapi belum menunjukkan tanda-tanda akan hujan.

Namun, di luar dugaan, gerimis turun di hati kami. Saya menoleh kepada istri yang segera menyambut dengan tatapan pasrah saat saya sampaikan bahwa kereta ke Semarang sudah berangkat. Artinya, kami tak bisa ke Kota Lunpia hari itu juga. Solusinya, kami merapat ke terminal bus lalu balik ke Lamongan. Atau dari terminal kami naik bus turun di Kecamatan Babat, perbatasan Tuban, untuk berganti bus jurusan Semarang.

Opsi kedua yang kami pilih. Walaupun lelah—karena bayangan kami sudah tenang di atas kereta—kami pun meluncur ke terminal dan menumpang bus untuk kemudian transit di Babat. Lumayan bisa shalat Ashar dulu sambil menunggu bus Surabaya-Semarang datang. Sekitar pukul 4 sore kami bertolak dan tiba di Terminal Terboyo Semarang hampir jam 10 malam.

Akibat kurang persiapan

Untunglah ada sobat bloger yang mau jemput dan menginapkan kami di rumahnya. Kalau boleh jujur, enggak enak juga rasanya sih karena udah merepotkan. Tapi mau bagaimana lagi, gara-gara kurang persiapan soal transportasi dan akomodasi—semua jadi berantakan. Badan capek enggak ketulungan, perut lapar keroncongan, kasihan lihat anak-anak seharian berpindah-pindah kendaraan.

Waktu itu, tahun 2015, kami sedang berlibur singkat ke Lamongan lalu memutuskan mampir ke Semarang. Jadi mengalir saja walau berujung kelelahan. Untunglah Muna Sungkar, teman bloger baik hati ini, berkenan mengantar kami ke Kampoeng Kopi Banaran. Keliling kebun kopi yang luas, melewati Rawa Pening yang lengendaris, dan menyeruput kopi serta jajanan setempat sungguh membuat hati kami membuncah gembira.

Naik ini buat keliling kebun kopi, asyik banget! (Foto: dok. pri)

Tiba pukul 10.00 kami disambut udara sejuk pegunungan. Matahari muncul malu-malu, menjadi latar kawasan agrowisata yang dikelola oleh PTPN IX itu. Puas keliling, anak-anak lalu bermain di istana balon. Ada banyak spot menarik yang bisa dinikmati: taman bunga, flying fox, water park, motor ATV, wisata berkuda, dan bahkan camping ground.

Kalau ingin makan ditemani angin semilir, kita bisa melipir ke sejumlah gazebo yang tersedia di beberapa titik. Kalau kami sih pilih ke restoran biar bisa melihat aneka koleksi biji kopi di dalamnya. Aneka jajanan lokal tersedia dan kami memilih mencicipi sosis pisang yang rasanya memang lembut dan sangat nikmat.

Sosis pisang, legit dan nikmat tiada lawan. (Foto: dok. ri)

Kolam renang di atas awan

Tahun 2018 kami berkesempatan ke Semarang lagi, kali ini atas ajakan Muna yang mengiming-imingi si bungsu naik bus tingkat alias Si Kenang yakni bus pariwisata gratis untuk keliling kota Semarang. Sayangnya kami gagal naik sebab harus reservasi dulu.

Sebagai gantinya, Muna membawa kami ke Umbul Sidomukti, tempat wisata baru yang sedang viral dan kekinian.Karena terletak di Desa Sidomukti, Kec. Bandungan, Kab. Semarang yang merupakan area pegunungan, maka untuk mencapainya kami harus menempuh jalan berkelok berbukit-bukit. Makin lama makin menanjak, waktu tiba di lokasi airnya dingin seolah masuk kulkas.

Bus tingkat Si Kenang khas Semarang (Foto: kopidankamu.com)

Selain aneka wahana seperti berkuda, di sini juga tersedia taman bunga, wisata kebun stroberi, pondok kopi, pondok wisata (resort), villa untuk keluarga, dan tentu saja kolam renang alam yang saya sebut dengan kolam di atas awan. Saya bilang demikian sebab posisi kolam ada di gigir tebing dengan pandangan luas pepohonan di sekelilingnya. Jangan tanya betapa dingin airnya saat kita berendam. Brrr….

Karena waktu terbatas, kami tiba di sana menjelang Ashar, maka tak banyak yang bisa kami lakukan. Anak-anak langsung mupeng dengan kolam renang yang tersedia dalam tiga tingkat kolam sesuai kedalaman masing-masing. Kolam ini masih alami sebab dibuat dengan lantai dan dinding bebatuan dengan air yang mengalir dari mata air Pegunungan Ungaran.

Tak peduli air dingin, duo Xi malah kegirangan dan malas naik. (Foto: dok. pri)

Puas bermain air dan makan—tentu saja diselingi seruputan kopi khas Pondok Kopi—kami pun bertolak ke kota selepas Magrib. Jalanan membentang di depan, kadang ada cahaya saat melewati rumah-rumah warga yang belum banyak tersedia, Mas Indra yang berada di balik kemudi tampak tenang mengendalikan laju kendaraan. Anak-anak tertidur pulas, kami hanya sesekali bertukar komentar karena (juga) kecapekan.

Muna dan suami langsung menurunkan kami di penginapan, yang ternyata jauh dari rumah mereka. Untuk liburan berikutnya harusnya kami lebih selektif sebelum menentukan lokasi akomodasi agar lebih dekat di kota. Waktu itu cari makan cukup sulit selain memesan online delivery. Pengalaman ini jadi pelajaran berharga betapa sahabat sangat bermanfaat (bukan sengaja dimanfaatkan) dan bahwa liburan harus betul-betul direncanakan dengan matang.

Wisata murah di Surabaya

Nah, pada tahun baru nanti, yang akan kita jelang dalam hitungan hari, kami merencanakan liburan keluarga ke destinasi yang berbeda. Jika kemarin cenderung ke arah barat, maka kali ini pelesiran kami arahkan ke tujuan di penjuru timur. Yang paling dekat dari Lamongan tentu saja Surabaya. Ini bisa kami eksekusi saat liburan sekolah minggu depan.

Duo Xi senang sekali masuk ke dalam kapal selam. (Foto: dok. pri)

Sebenarnya kami sekeluarga sudah sering piknik tipis-tipis ke Kota Pahlawan ini, baik pulang-pergi dalam sehari maupun menginap di sana. Namun, seiring waktu berjalan, ternyata masih banyak destinasi wisata yang belum kami jelajahi. Ada saja informasi dari teman di sana tentang tempat wisata yang layak dikunjungi. Maklumlah, karena kami baru 5 tahun pindah ke Lamongan, itu belum terpotong masa pandemi selama 2 tahun. Jadi tak banyak aktivitas traveling ke sana kemari.

Sebelum pandemi, kami sempat berkunjung ke Monumen Kapal Selam dan Tugu Pahlawan, dua-duanya destinasi sejarah yang menarik bagi anak-anak. Di kawasan Monkasel pengunjung bukan hanya dipersilakan masuk ke dalam kapal selam, tetapi juga menonton video pendek tentang sejarah kapal ini di ruangan terpisah. Setelah itu, pengunjung bebas bersantai di luar dengan penjaja makanan yang cukup beragam.

Kemegahan Tugu Pahlawan, saksi perjuangan melawan penjajah. (Foto: dok. pri)

Adapun Tugu Pahlawan memang cukup menantang karena saat itu kami datang pada saat siang, jadi lumayan terik. Untunglah tak lama berada di area luar, kami segera memasuki museum yang nyaman dan memperkaya wawasan. Betul-betul cara mudah untuk mengenalkan anak kepada tokoh sejarah dan mengapa kepahlawanan itu penting. Lewat diorama dan patung lilin, mereka bisa membayangkan sosok penting itu saat dulu berkontribusi bagi kemerdekaan Indonesia.

Next stop: Teh Villa Gallery di Surabaya

Pada liburan kali ini, galeri lukisan sepertinya cocok sebagai tujuan. BBC-Mania mungkin tahu bahwa duo bocil sama-sama menggandrungi seni menggambar. Maka kunjungan ke pameran lukisan akan memberi pengalaman istimewa sebab bisa melihat langsung goresan lukisan dan corak warna untuk menambah pengetahuan mereka, terutama si bungsu yang hobi menggambar benda realis seperti berikut ini.

Melihat karya seni dari jarak dekat akan berpotensi melecut diri mereka untuk menghasilkan karya serupa dengan objek yang berbeda. Setidaknya kepercayaan diri akan tumbuh setelah berinteraksi dengan objek seni.

Pucuk dicinta, ulam tiba. Sebuah galeri bernama Teh Villa Gallery yang ada di  Jl. Rungkut Industri II No. 53, Surabaya sedang menghelat pameran lukisan dalam rangka memeringati satu tahun berdirinya galeri ini. Disebut Teh Villa Gallery karena galeri ini memang bertempat di lokasi yang sama dengan sebuah produsen teh hitam merek Teh Villa.

Nyoman Sujana Kenyem, salah satu perupa yang meramaikan Awakening (Foto: Times Indonesia)

Pameran bertajuk “Awakening” ini telah dimulai sejak tanggal 12 Desember 2022 dan berakhir tanggal 31 Januari 2023.  Mengusung makna kebangkitan, lukisan-lukisan yang dipamerkan akan menampilkan nilai-nilai yang berpaut dengan situasi kejiwaan dalam mendorong bangkitnya kesadaran, yakni kesadaran untuk bangkit bersama dari pandemi apalagi ada ancaman resesi.

Partisipasi 11 perupa dengan pilihan artistik yang khas akan memberikan suntikan nilai dan semangat bagi kami sekeluarga—terutama duo bocah. Yang tak kalah menarik, kami bisa menelisik bagaimana proses pembuatan teh dari awal sampai pengemasan. Ini penting sebab kami sekeluarga penggemar teh sejati, mulai teh hijau dan vanili pernah kami cicipi. Selain kopi tentu saja.

Kami merencanakan kunjungan pada sesi kedua yakni jam 13.00—15.00 WIB pada hari Rabu tanggal 28 Desember 2022. Pagi harinya, setelah tiba di Stasiun Pasar Turi dan menyantap sarapan pagi, kami bisa menghabiskan waktu di Kampung Ilmu yakni kawasan penjual buku yang dulu pernah berjejer di sepanjang Jalan Semarang Surabaya. Kini mereka terhimpun dalam satu kompleks, jadi lebih rapi dan nyaman. Selain buku baru dan bekas, ada pula gerai makanan saat dibutuhkan.

Wisata buku bekas dan baru juga tak kalah mengasyikkan. (Foto: dok. pri)

Bagi kami, berkunjung ke pameran lukisan yang didahului dengan kunjungan ke kawasan toko buku adalah bentuk wisata yang sangat bisa dinikmati dan sangat berarti. Untuk lukisan sudah saya sebutkan alasannya, sedangkan buku tak ayal lagi sangat disukai duo Xi.

Kalau ada buku cerita, buku bergambar, dan terutama komik, mereka akan beli dan membacanya lagi dan lagi. Baca berulang pun tiada bosannya. Selain itu, wisata ke galeri lukisan juga mengajarkan mereka berbagi sebab untuk bisa masuk ke Teh Villa Gallery akan dikutip Rp20.000 per orang yang seluruh dananya akan disumbangkan ke panti asuhan.

Jadi tak perlu merasa rendah diri jika ada orang lain menganggap destinasi yang kita kunjungi termasuk recehan. Kita bebas kok menentukan apa dan bagaimana liburan keluarga harus dijalani, termasuk juga liburan sendiri (solo trip). Karena setiap orang punya cara masing-masing untuk menikmati hidup tanpa harus didikte oleh orang lain. Saya teringat kutipan pengarang Nigeria Jaachynma N.E. Egu yang populer:

Don’t set your goals by what other people deem important.”

—Jaachynma N.E. Egu

Manfaat berlibur keluarga Hal ini juga berlaku pada traveling atau bepergian dalam rangka liburan. Kitalah yang tahu apa yang kita butuhkan, dan kita pula yang memahami sebesar apa dana yang sanggup kita keluarkan untuk membiayai perjalanan tersebut. Mana mungkin kita ikut target orang lain begitu saja kalau ujungnya malah bikin kita boncos dan tekor. Bukannya rekreatif, tapi stres ganda yang kita dapatkan meskipun sudah berlibur.

Manfaat liburan keluarga

Yang lebih penting bukanlah objek wisata atau mewahnya liburan, melainkan manfaat yang kita dapatkan dari liburan itu—terutama jika menyangkut liburan keluarga. Kita mestinya fokus pada poin-poin berikut ini, bukan malah berkutat pada penyeragaman dengan wishlist orang lain padahal enggak bikin kita bahagia.

Mengutip laman Orchids International School, ada beberapa manfaat penting liburan keluarga alias family vacation. Di sini tidak disinggung soal harus ke mana atau besarnya dana, melainkan soliditas atau kekompakan keluarga dalam wisata bersama.

Pertama, liburan keluarga akan menjadi memori berharga bagi anak sampai ia dewasa. Bukan cuma pesta ultah atau pernikahan, liburan juga jadi bagian penting yang akan mengisi kenangan manis anak-anak yang akan dibawa sampai dewasa dan berkeluarga. Lewat foto indah, mereka akan mengenang memori kuat saat menghabiskan waktu bersama.

Kedua, liburan bisa menjadi sarana quality time antara orangtua dan anak mereka. Mungkin di hari lain orangtua menyapa anak sekadarnya, maka liburan adalah momentum untuk menyelami perasaan mereka.

Ketiga, liburan bareng keluarga bisa menjadi pemecah stres atau pereda ketegangan terutama bagi orangtua yang bekerja. Anak-anak pun akan bisa terbebas dari stres sebab tak lagi repot dengan tugas sekolah.

Keempat, liburan keluarga adalag cara mudah untuk membangun bonding antaranggota keluarga. Sehari-hari mungkin kita tak punya waktu untuk sekadar bercakap dengan anak. Atau kalau ada, momennya dipaksakan atau obrolan tidak menyentuh kedalaman. Ketika beraktivitas bersama dalam liburan, semua anggota keluarga akan saling membuka diri lewat interaksi dan ketergantungan.

Kelima, liburan keluarga membuat keluarga sehat. Begini alasannya: saat keluarga beraktivitas bersama-sama di luar ruangan, tanpa disadari hubungan kekeluargaan menguat. Karena semua bergembira, stres pun enyah. Saya sendiri merasakan manfaat ini. Setelah berjalan dari stasiun menuju halte bus, saya malah merasa bugar dan semangat. Kalau ada variasi aktivitas fisik yang menggembirakan, maka kesehatan kita dapatkan.

Keenam, liburan keluarga memberi peluang bagi anak untuk belajar hal baru. Ini sudah pasti karena banyak hal, pengetahuan, dan bahkan skill yang tak diajarkan di bangku sekolah. Kunjungan ke mana pun, di keluarga kami, anak-anak selalu ditugaskan untuk menceritakan kembali pengalaman berlibur dalam diary. Dengan begitu, keterampilan menulis akan meningkat.

Ketujuh, liburan keluarga tak bisa dimungkiri akan bikin semua orang happy. Apalagi jika destinasi yang dikunjungi sesuai mimpi dan ekspektasi, kegembiraan akan berlipat. Itu bisa mendongkrak spirit pascawisata, baik bagi orangtua dalam bekerja maupun bagi anak dalam studinya.

Ada cinta di The Sunrise of Java

Dengan pemahaman yang benar tentang liburan keluarga, juga solo trip, maka tak semestinya kita melulu ikut arus hanya karena orang sering mengucapkan atau memviralkannya. Momen apa pun bersama orang tercinta sangatlah istimewa, bukan terletak pada apa dan di mana berwisata, tetapi bagaimana memaknainya.

Maka sejak 5 tahun terakhir saya malah senang karena JOMO alias Joy Of Missing Out. Ketika kita mudah terbawa tren FOMO (Fear Of Missing Out), tak butuh waktu lama kita akan tersiksa lantaran kehilangan hakikat apa yang sebenarnya kita suka dan cinta. Sekaranglah saatnya meyakinkan diri untuk mengikuti suara hatimu, bestie! Jalani hidup dengan caramu sendiri tanpa paksaan. Just #LifeYourWay!

Setelah puas berburu buku dan menikmati lukisan, kami akan merapat ke Sahid Surabaya Hotel yang lokasinya berdekatan dengan Monkasel. Tujuan utama kami adalah biar dekat Stasiun Gubeng sebab malamnya kami akan bertolak ke Banyuwangi menggunakan kereta api. Tinggal jalan sekitar 10 menit, kami langsung tiba di Stasiun Gubeng. Bisa praktis langsung pesan di aplikasi Traveloka.

Jam 11 malam kami akan check-out menuju Stasiun Gubeng sebab kereta berangkat pukul 11.35. Tiket kereta Wijayakusuma kelas Eksekutif sudah diamankan, tinggal menikmati perjalanan.

Sesampai di Stasiun Banyuwangi Kota, kami bisa istirahat dulu selepas shalat Subuh. Karena jadwal check-in ILLIRA Hotel Banyuwangi baru bisa jam 3 sore, maka kami akan bersantai di stasiun sambil cari sarapan pagi. Nasi tempong enak nih!

1. Desa Adat Kemiren

Setelah bersih-bersih, kira-kira jam 9 kami akan meluncur ke destinasi pertama yakni Desa Adat Kemiren. Panggil layanan taksi online, bereslah. Dekat kok menurut Google Maps. Saya tertarik mengunjungi desa ini karena tahun 2018 gagal ke sana saat diundang dalam Festival Sastra Banyuwangi.

Desa Kemiren adalah desa adat suku Osing, suku asli Banyuwangi. Desa ini pernah menyabet sebagai juara 2 dalam ajang Desa Wisata Award 2021 yang digelar oleh BCA untuk kategori wisata budaya. Di desa ini kita bisa menyaksikan sekaligus menikmati khazanah budaya setempat, mulai dari pangan lokal, cara memasak, tarian, dan tentu saja kopi khasnya.

Di sekitar desa adat ini masih terdapat banyak pohon kopi sebagai kekayaan kuliner yang dirawat turun temurun. Tak heran jika Festival Ngopi Sepuluh Ewu yang dihelat setiap tahun (biasanyaa pada bulan Oktober) selalu dipadati wisatawan asing maupun domestik.

Festival Ngopi Sepuluh Ewu menunjukkan keramahan suku Osing Banyuwangi (Foto: pontas.id)

Sesuai namanya, dalam festival ini setiap penduduk menjamu tamu yanag datang ke Desa Adat Kemiren dengan sajian kopi yang jumlahnya 10.000 cangkir beserta jajanan tradisional setempat. Uniknya semuanya gratis.

Menurut penuturan Suhailik, salah seorang sesepuh desa tersebut, warga suku Osing menjunjung falsafah lungguh, suguh, dan gupuh sebagai bentuk keramahan mereka. Lungguh berarti duduk, artinya pengunjung dipersilakan untuk duduk di latar atau teras rumah. Mereka lantas akan suguh yakni menjamu dengan sajian yang dimiliki. Sedangkan gupuh menyiratkan kesigapan tuan rumah dalam menyambut tamu yang datang.

Kuliner khas Banyuwangi di Desa Adat Kemiren. (kemiren.com)

Puas mencicipi kuliner lokal, terutama pecel pithik, dan menyeruput kopi Osing, saatnya menuju ILLIRA Hotel untuk melepas lelah. Ingin mandi dan ganti maju, lalu menikmati family time di dalam kamr hotel yang nyaman. Untung sudah pesan di Traveloka, serbapraktis dan ekonomis.

Di Traveloka sering ada promo yang menguntungkan. Potongan ini bisa menghemat biaya sehingga selisih dibanding aplikasi lainnya bisa kita pakai untuk membeli oleh-oleh buat mereka yang ada di rumah. Kami putuskan untuk menginap 3 malam agar punya spare waktu untuk menikmati wisata alam Banyuwangi di dekat hotel seperti Solong Beach.

Tanggal 30 pagi kami santai sejenak karena kebetulan hari Jumat. Saya mesti ikut Jumatan sambil bersosialisasi dengan warga setempat. Siapa tahu ada ide lain untuk menghabiskan waktu di Banyuwangi meskipun saya sudah punya itinerary sendiri.

2. Kerajinan daur ulang akar dan daun

Selepas Jumatan dan makan siang, agenda berikutnya adalah mengunjungi sentra kerajinan dari bahan daur ulang yang terdapat di Dusun Kejoyo Desa Tambong Kecamatan Kabat. Seperti namanya, barang-barang yang diolah menjadi aneka kriya di sini memang diambil dari bahan-bahan yang semula memang terbuang, entah tercecer di kebun, hutan, gunung, sungai, dan tempat lainnya.

Bentuknya bisa berupa kayu kering, akar-akaran pohon besar, dan bermacam daun yang disulap menjadi cendera mata, lampu, tas, hingga topi yang bernilai ekonomi. Saya ingin mengajarkan kepada duo Xi tentang menjaga alam, melestarikan lingkungan dengan memanfaatkan sisa-sisa di alam tanpa harus mengeksploitasi berlebihan.

Setelah itu kami mengunjungi pantai terdekat sesuai arahan penduduk setempat. Kalau memang bisa dijangkau taksi online, Pantai Plengkung dengan ombak susun tujuh yang terkenal itu ya sangat layak didatangi.

3. Kerajinan tenun serat pisang Abaca

Hari Sabtu tanggal 31, agenda kami adalah kembali ke Desa Adat Kemiren untuk mengungkap keunikan kerajinan tenun yang terbuat dari pelepah pisang Abaca. Sungguh eksotis memang hasilnya. Namun jangan salah paham, meskipun namanya pisang, tapi buah dari pohon ini tak bisa dimakan loh.

Kerajinan serat pisang Abaca khas Banyuwangi (Foto: idealoka.com)

Sebaliknya, pisang yang konon berasal dari Filipina ini dimanfaatkan seratnya karena tidak mudah putus sehingga dipakai sebagai bahan baku tali tambang, aneka kerajinan, mebel, dan terutama campuran uang dolar. Itulah yang membuat Abaca jadi komoditas mahal.

Namun untuk usaha kerajinan yang ada di Desa Kemiren ini tenun serat Abaca yang ditekuni warga belum digunakan untuk pembuatan uang. Produk yang dihasilkan antara lain taplak meja, tirai, tatakan makan, dan bantalan kursi. Harganya pun bervariasi. Setelah browsing, saya semakin mupeng untuk main ke sana. Sekalin minum kopi (lagi), hehe….

Itulah mengapa Banyuwangi sangat ingin kami kunjungi dalam liburan berikutnya. Selain pesona alam seperti pantai yang indah, kota berjuluk The Sunrise of Java ini juga menawarkan kuliner lezat seperti pecel pithik, nasi tempong, dan tentu saja kopinya yang unik. Saya pernah membandingkan kopi Osing dan kopi lain yang sama-sama dari hutan, kopi Osing tetap paling unggul.

Alasan lain mengapa Banyuwangi memikat adalah keberadaan desa adat yang dihuni suku Osing sebagai contoh nyata pelestari alam. Mereka mengambil sesuai kebutuhan, bukan manipulasi sesuai keinginan.

Jadi next time teman-teman pengin berlibur, coba susun itinerary sendiri. Tak perlu tergoda atau minder oleh pilihan orang. Yang penting bisa tidur nyenyak dan makan enak selama di kota tujuan. Nah, cara paling mudah dan hemat adalah rencanakan liburan di Traveloka baik lewat aplikasi maupun website. Jangan tunggu nanti sampai tekor baru manfaatin berbagai fiturnya yang menguntungkan.

Pesan saya, it’s your life, you’re the one to choose and decide which way to go. #LifeYourWay you want it to be! Don’t be discouraged with what others say. Ngapain rempong oleh pendapat orang, paling benar ya ikuti suara hati dan jalani hidupmu dengan caramu sendiri #LifeYourWay karena bahagia ada di hatimu, bukan pada ocehan tetangga julid apalagi warganet sotoy.

Eksotisme Pantai Plengkung dengan ombak susun tujuh (Foto: travelingyuk.com)

Dan bagi kami, Banyuwangi adalah kota istimewa untuk mengukir cinta bersama keluarga, yakni cinta pada alam dan budaya lokal. Cinta ini semakin indah dengan didahului pengalaman estetis berkat kunjungan ke Teh Villa Gallery di Surabaya. So, pack your stuff and start your journey, will you?

Advertisement

3 Comments

  1. Baca ini jadi pengin ngajak anak-anak liburan. Libur sekolah udah mau usai, masih di rumah aja ini kami. Hihihi.

    Sudah lama pengin ajak mereka ke kampung halaman ibu, simbah puteri mereka, di dekat Taman Nasional Baluran. Enggak jauh dari perbatasan Banyuwangi-Situbondo. Apalagi sekarang ada kereta api rute Semarang-Banyuwangi. Duh!

    Liked by 1 person

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s