Bocah Tua Nakal dan 3 Gigitan Belalang Cerewet

Entah sejak kapan saya menyukai karya fiksi. Yang jelas membaca tulisan bergenre fiksi sangat menghibur dan menyenangkan. Dulu ketika masih kuliah—saat badan agak meriang, lidah mulai terasa pahit, dan rasanya tak semangat beraktivitas—saya biasanya segera meluncur ke perpustakaan wilayah Jawa Tengah yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat kos. Bukan karena di seberang bangunan besar tersebut terdapat angkringan dengan menu yang lengkap dan hidangan yang lezat. Bukan pula sebab ada pertunjukan wayang yang sedang digelar oleh dalang-dalang yang masyhur. Saya datang semata-mata untuk meminjam buku. Sesampai di ruang utama Perwil (sebutan perpus yang populer), saya biasanya langsung mencabut dua buah buku cerita: seringkali dua-duanya berupa kumpulan cerpen atau kadang terdiri dari satu buku cerita jenaka dan satu antologi cerpen.

Setelah itu, saya akan mengayuh sepeda pinjaman dari seorang teman menuju kos. Tak jarang saya mampir dulu di sebuah warung bubur kacang ijo Sunda yang menyajikan pisang karamel yang sangat nikmat. Setiba di kamar kos, saya cepat-cepat membuka kumpulan cerpen untuk selanjutnya tenggelam dalam kenikmatan cerita demi cerita. Jujur saja, mmbaca cerita fiksi atau cerita humor sangat menghibur hati saya sehingga saya yang tadinya hampir masuk angin atau sudah demam ringan biasanya akan pulih kembali sehabis menuntaskan buku-buku yang saya pinjam.

Ide resep ini saya adopsi dari bapak kos yang kami juluki Bocah Tua Nakal (BTN). Dia seorang pensiunan veteran perang yang tak bisa diam; terus bergerak melakukan apa saja di kos-kosan. Saat bercengkerama dengan beliau, ada saja hal-hal yang ia utarakan. Mulai dari kisah masa lalu sampai kebijakan pemerintah masa kini. Yang hebat atau unik dari dia adalah meskipun usianya sudah sangat sepuh, dia jarang sakit. Suatu kali dia berkata bahwa sakitnya seseorang lebih disebabkan oleh pikirannya yang terganggu. Bila pikiran tak terbebani oleh sesuatu yang berlebihan atau ektrem, maka tubuh bugar harusnya tetap terjaga. Kesimpulan saya, saat sakit datang mendera, berarti itu saatnya untuk menyegarkan pikiran dengan sejenak melepas beban pikiran dan mengisi pikiran dengan hal-hal indah dan menyenangkan. Tentu saja hal indah atau menyenangkan ini sangat relatif nilainya antara satu orang dengan orang yang lain. Dan saya pribadi memilih membaca karya fiksi atau cerita lucu tatkala tubuh mulai tak bersahabat 🙂 Atau kadang dengan nonton film apa pun yang bisa menciptakan katarsis sehabis menikmati film tersebut.

Baiklah, rupanya pengantar ini mungkin sudah kelewat panjang dibanding maksud postingan yang sebenarnya. Beberapa waktu yang lalu seorang sahabat blogger tengah gencar menulis flash fiction (FF) atau cerita fiksi yang pendek. Sepanjang pengetahuan saya FF ini tidak lebih panjang dari sebuah cerpen, dan bahkan ada yang membatasi dengan jumlah kata. FF sendiri memiliki sejumlah nama lain. Ada yang menyebut dengan cerita sekilas, cerita mini, atau bahkan cerpen pendek. Sejumlah teman yang gemar menulis karya sastra bahkan belakangan mengusung karya bertajuk ‘fiksi mini’ yang panjangnya hanya beberapa baris kalimat dalam sebuah status facebook.

Oke oke, saya mulai ngelantur dari tujuan awal saya menulis postingan ini. Singkat kata, temen blogger itu—Nique, yang bermukim di nicamperenique.me—meminta sobat blogger yang lain untuk menyumbang kritik dan kalau bisa saran atas 19 buah FF yang sudah ia tulis. Ia jelas berkeinginan kuat untuk menekuni dunia penulisan fiksi, dan oleh karena itu hajatan ini kira-kira ia maksudkan untuk memetik timbal-balik dan tanggapan pengunjung blog agar ia mampu memperbaiki kemampuannya mengguratkan kata-kata dalam genre sastra.

Sayang sekali dari 19 FF yang ia sajikan di blognya (yang ia tulis secara maraton setiap hari) belum sepenuhnya menunjukkan kualitas yang unggul. Maklumlah, ia sendiri mengaku sebagai pemula dan berharap bisa berbuat lebih baik dalam karyanya ke depan. Saya pribadi tertarik pada 5 (lima) FF dari sekian belas yang ia tulis tersebut, masing-masing berjudul: Merindukanmu Itu Seru, Sepucuk Surat (bukan) Dariku, Aku Benci Kamu Hari Ini, Hujan, Ini Bukan Judul Terakhir, dan Es Krim.

Sejak awal membaca semua FF yang tersaji, mata saya langsung tertambat pada beberapa judul saja. Menurut saya, kemampuan penulis dalam merumuskan judul merupakan 70% aset untuk membuat karyanya sukses. Sebab tanpa judul yang memikat, mustahil calon pembaca akan tergerak untuk melirik dan akhirnya memutuskan membaca sebuah karya. Apalagi di tengah belantara industri buku dan karya fiksi yang kini semakin kompetitif.

Dalam Merindukanmu Itu Seru penulis bercerita tentang keasyikan atau kesibukan seseorang (yang mungkin saja penulisnya) yang tengah merindukan kekasihnya. Kekasih di sini boleh jadi kekasih layaknya pacar atau orang yang disayang seperti suami. Salah satu momen paling seru menurut tokoh utama adalah saat ia berada di depan cermin dan bermain peran. Namun pada hemat saya sebagai pembaca, bentuk aktivitas seperti yang diceritakan tidaklah cukup seru. Toh sebenarnya ia hanya melakukan satu jenis kegiatan di depan cermin, yakni berakting sesuai yang ia suka. Seharusnya bila ingin menonjolkan keseruan, sangat mungkin ditampilkan beragam aktivitas orang yang tengah dilanda rindu. Misalnya, dengan menelpon setiap stasiun radio dan me-request lagu yang mewakili rasa rindunya pada kekasih tersebut. Atau bisa pula dengan memanjat pohon sawo atau asam Jawa lalu melayangkan pesawat kertas berisi puisi agar menyampaikan kerinduan kepada jantung hatinya. Bentuk keseruan yang lain bisa juga berupa: tokoh utama pura-pura pingsan sehingga membuat orang serumah panik. Lalu saat mulai siuman, ia berpura-pura kesurupan dan memanggil-manggil nama sang kekasih sebagai ekspresi rindu. Well, banyak lagi hal-hal lain yang menjanjikan keseruan selain sekadar bercermin dan bermain peran. Tapi tetap saja bahwa keseruan juga bisa sangat relatif. Yang seru bagi saya mungkin tak seru bagi orang lain 😀

Selain itu, ada klausa yang menurut saya berhenti dan kehilangan konteks.

“Kutatap wajahku di cermin, kok suara ketawaku terdengar sumbang ya? Hmm … mari kita berganti peran.”

Berganti peran seperti apakah yang dimaksud di sini? Padahal kalimat berikutnya hanya berupa kalimat langsung yang diucapkan oleh si tokoh utama tersebut kepada kekasihnya. Namun kalimat langsung yang menutup cerita ini sangat bagus menurut saya.

“Jangan biarkan aku merindu sendiri ya Mas.” Tak terasa pipiku sudah berlinang air mata.

Bagi saya ini penutup yang manis untuk sebuah ekspresi kerinduan walaupun tentu masih bisa digali secara lebih dramatis.

Sepucuk Surat (bukan) Dariku berkisah tentang seorang istri yang terlibat pertengkaran heboh dengan suaminya akibat sesuatu hal yang misterius. Namun kiranya masih bisa dipahami bahwa si suami telah salah dalam mengambil langkah, yakni memutuskan suatu hal yang penting berlawanan dengan apa yang telah diusulkan oleh si istri sebagai pertimbangan. Si suami selama ini mungkin selalu menganggap istrinya bodoh dan tidak memahami hal yang menjadi permasalahan suami. Barangkali itu adalah soal bisnis atau usaha yang bangkrut. Mungkin juga mereka terjerat utang yang sangat besar dan mereka tak sanggup lagi membayarnya.

Sekali lagi, judul FF ini cukup bagus walaupun isinya agak mengecewakan bagi saya. Ekspektasi saya luntur seketika membaca keseluruhan cerita bahwa itu adalah pertengkaran mengenai surat yang tidak jelas tentang apa. Saya bayangkan surat itu adalah surat yang akan membawa pada perpecahan rumah tangga akibat hadirnya orang ketiga atau bahkan orang keempat. Tapi penggunaan kata ‘bukan’ dalam tanda kurung menurut saya langkah yang bagus. Dan menarik. Tapi gaya ceritanya masih lemah dan tidak mengalir.

Dalam FF berjudul Aku Benci Kamu Hari Ini dikisahkan seorang wanita yang tengah berulang tahun dan berencana akan bertemu dengan suaminya yang sama-sama pekerja kantoran. Namun sayang ternyata sang suami tidak menepati janji. Ia tidak hadir tepat waktu karena urusan pekerjaan sehingga istrinya harus menunggu lama di sebuah toko buku. Pada puncak kejengkelan si istri, yakni ketika ia harus menunggu dan akhirnya pulang pukul 9 malam, ternyata ia disergap oleh kehadiran sang suami yang justru memberinya kejutan ulang tahun. Walau si istri marah, mereka pun tetap akur.

Tidak ada yang istimewa dalam kisah ini. Hanya saja, memang judulnya menarik. Andaikan Nique menggunakan judul Aku Benci Kamu tanpa frasa Hari Ini, niscaya cerita ini akan menjadi kering. Kehadiran frasa Hari Ini sangat membantu menghidupkan cerita, yaitu bahwa si tokoh utama—dalam hal ini si istri—tidak membenci suaminya secara total, melainkan kebencian yang sengaja dibatasi pada dimensi waktu, yakni pada Hari Ini saja. Itu artinya, esok cinta mereka akan terus bersemi dan kebencian tidak pernah mengendalikan asmara mereka berdua secara ekstrem. Saya yakin suami-istri pun tidak selalu cinta. Pasti ada kalanya ketika kebencian menghampiri hati masing-masing. Jika demikian adanya, waspadalah agar jangan sampai kebencian itu berlarut-larut dan berujung petaka. Batasilah kebencian pada waktu yang singkat, jangan biarkan ia menggejala pada seluruh dimensi kehidupan kita. Itulah kira-kira makna yang bisa saya petik.

Hujan hanya bertutur tentang roman picisan sepasang anak sekolah menengah yang mungkin akan terjalin menjadi cinta monyet. Dua paragraf awal cukup berhasil membangun suasana, walaupun kurang detail. Namun keberhasilan narasi itu ternyata rusak akibat dialog yang kurang taktis dan kedodoran. Saya bilang kedodoran karena alur dialognya mudah ditebak dan tidak menggugah untuk mengikuti kisah berikutnya. Yang jelas mereka akhirnya pergi berdua saat hujan mulai reda. Dan tokoh utama merasa beruntung karena hujan telah memungkinkan dirinya berdua bersama orang yang ia sukai/taksir. Saat membaca judulnya saya berharap banyak karena ‘hujan’ sangat akrab dengan banyak orang dan berpotensi membangkitkan memori indah. Namun ternyata yang hadir hanyalah sekeping cerita cinta anak sekolah. Hujan sendiri tidak banyak dieksploitasi untuk tampil dalam cerita—sekadar menjadi latar atau pemanis semata.

FF berjudul Ini Bukan Judul Terakhir berkisah tentang seorang penulis yang tidak patah arang walau mendapat banyak penolakan dari sekian penerbit. Perjuangannya akhirnya membuahkan hasil dengan diterbitkannya satu buku hasil karyanya oleh penerbit yang ia mimpikan. Namun buku pertama itu menandai masa sulit tatkala dokter menyatakan bahwa kankernya sudah tak tertolong lagi. Maka si pencerita berharap bahwa buku pertama itu hendaknya bukan buku terakhir, hanya karena vonis kanker yang menggerogotinya. Ini adalah sikap positif yang membangkitkan semangat orang lain. Pesan yang cukup bagus.

Namun alangkah lebih mengena bila kisah ini disajikan dalam bentuk dialog yang pendek-pendek tapi tetap mengusung pesan yang sama. Hadirnya dialog akan mampu membangun emosi pembaca. Narasi sendirian hanya akan berjalan lesu bila penulis tidak mempunyai keahlian memilih kata dan mengolah kalimat yang jitu. Munculnya kata ‘Salut!’ justru menganggu alur pembacaan. Lain halnya jika apresiasinya disampaikan dengan satu kalimat lengkap yang lebih panjang. Misalnya bisa diganti dengan,

“sikapmu mengundang kekagumanku.”

Atau kalimat lain yang bermakna memberi penghargaan.

Dan akhirnya dalam Es Krim saya melihat bakat Nique yang bisa dikembangkan. Narasi dalam FF yang satu ini terasa berbeda. Irama lebih terjaga dan setiap kalimat hadir sesuai kebutuhan cerita. Tidak ada yang sia-sia. Gaya bercerita mengalir lancar untuk menyampaikan pesan. Walaupun memang terkesan berlebihan dalam menggambarkan seseorang yang ingin menikmati es krim, namun menurut saya ia berhasil menyajikan cerita yang padu. Saya tidak peduli dengan alasan tokoh utama menangis. Yang penting ia berhasil mendapat sebatang es krim dan benar-benar menikmatinya.

Akan tetapi akan lebih bagus bila tokoh yang menjadi lawan bicara tokoh utama diperjelas identitasnya untuk memberi pemahaman yang utuh pada pembaca—meskipun alasan menangisnya tetap dirahasiakan.

Kemudian aku berpikir, pada siapa aku harus berterima kasih, es krim atau dia? Entahlah, sudah tak penting itu, asal aku bisa menyesap es krim ini sampai habis.

Begitulah bunyi akhir cerita berjudul es krim ini. Judulnya memang tak cukup memikat, tapi endingnya kena, dan biarlah saya menutup krisan ini dengan tiga saran pokok secara keseluruhan.

1. Perbaikilah kemampuan berbahasa, yang meliputi pemilihan kata, pemisahan klausa dan pemenggalan kalimat demi menjaga irama dan emosi pembaca. Perbaiki pula tentang penggunaan tanda baca yang tepat agarmemperlancar alur pembacaan dan tersampaikannya pesan.

2. Bacalah lebih banyak karya fiksi karangan penulis terkenal baik dari dalam maupun luar negeri untuk memperkaya khazanah bercerita dan tentang bagaimana menggarap setiap karakter. Tentunya kau ingin menulis karya yang lebih panjang semacam cerpen atau bahkan novel—tidak hanya sebatas FF.

3. Mintalah orang-orang dekat untuk membaca dan memberi komentar atau pendapat untuk membangun cerita yang lebih padu, natural, inspiratif dan tetap kaya dalam pesan.

Itu saja tiga gigitan belalang cerewet yang semoga membuatmu terus menulis dan menulis. Jadilah seperti Bapak kosku si Bocah Tua Nakal 🙂 yang terus aktif walau sudah sangat berumur. Semoga 19 FF ini bukan FF-mu yang terakhir. Mudah-mudahan hadir karya yang lebih bagus dan memberi pengaruh positif bagi orang lain.

Advertisements

9 thoughts on “Bocah Tua Nakal dan 3 Gigitan Belalang Cerewet

  1. *lap keringet*

    panjang ajah hehehe …
    saya bawa pulang ya krisannya 😀

    btw, mungkin saya kurang teliti membacanya, FF yang paling yang paling difavoritkan?

    Like

    • Iya betul sekali apikecil. Memang frasa Bocah Tua Nakal itu kami ambil dari serial televisi Pendekar Rajawali yang diperankan oleh Andy Lau. Sahabat Yoko kan seorang tua gendut yang juga pandai kungfu yang kerap disebut Bocah Tua Nakal. Kira-kira seperti itulah representasi Bapak kosku dulu. Udah tua tapi selalu gesit; jarang sakit dan energik. Bedanya ia tak bisa kungfu, hehe 😀 Ga menang gapapa kok, cuma iseng sebagai penggembira aja biar hajatan Nique tambah rame..hahaha

      Like

    • @Dadan: mask sih…namanya juga mengarang indah, hehe..bisa-bisa panjang doang tapi ga ada isinya, xixi. btw, makasih ya udh mampir dan komentar..

      Like

  2. I truly enjoy reading on this web site , it has got excellent content . “The longing to produce great inspirations didn’t produce anything but more longing.” by Sophie Kerr.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s