SOTOJI: Soto Jamur Sedap yang Bisa Bikin ‘NYESEL’!

Tanggal 21 Februari 2012 saya menerima balasan pesan singkat (sms) dari seorang sahabat yang telah berhasil menyantap sebungkus Sotoji alias soto jamur instan yang pertama kali ada di Indonesia dan bahkan di dunia. Berikut bunyi pesan sesuai dengan yang ia tuliskan pada sms tersebut, di mana sebagian kalimat diungkapkan dalam bahasa Jawa.

Sori om br bls. Enak banget om. Dr segi rasa, enak bgt, bumbu sotonya krasa sotn bgt & gurih. Dr segi porsi, pas dimasak ketok setitik, tp pas mateng, ternyata akeh bgt, nganti kewaregen. Porsine pas. Dr segi bungkus plastiknya, wis lumayan menarik, tp syg, kemasan bumbune/jamur tirame gak ono keterangane, ak sampe bingung endi kemasan jamur tirame. So far, gak nyesel dech wis nyoba sotoji. Lek tuku regane piro om? Di supermarket ono gak?? Suwun om wis dike’i, enak enak πŸ˜€

Pesan tersebut dalam bahasa Indonesia kira-kira secara bebas bisa diterjemahkan sebagai berikut.

Maaf neh Om baru sempat balas. Sotoji yang dikasih ternyata lezat banget. Rasanya sangat nikmat. Sotonya begitu kuat sehingga terasa gurih di lidah. Soal porsi, pas deh buat satu orang. Walaupun pas dimasak terlihat cuma sedikit, tapi ketika dah mateng ternyata berubah jadi lumayan banyak. Pantas saja aku sampe kekenyangan sehabis menyantap semangkuk soto jamur ini. Dari segi kemasan produk, Sotoji udah cukup menggoda dan berani bersaing dengan tampilan mi instan yang sudah ada. Tapi sayang, bungkus berisi jamur tiram tidak dikasih label secara khusus sehingga memudahkan pembeli mengidentifikasi jamurnya saat akan memasak. Sempat bingung aku dibuatnya. Sejauh ini sih aku nggak nyesel udah nyobain Sotoji. Ngomong-ngomong, kalau misalnya pengen beli berapa ya harganya? Pastinya ada dong di supermarket sekarang? Makasih banget ya udah rela menyisihkan satu bungkus soto jamur untuk anak kos seperti aku. Pokoknya Sotoji mantab dah. uenaak polll πŸ˜€

Pesan singkat tersebut sekurang-kurangnya merinci dua hal utama, yaitu: komentar dan pertanyaan. Komentarnya terdiri dari pujian dan kritik, sedangkan pertanyaannya berupa keingintahuan tentang di mana produk mi lezat itu bisa didapatkan dan dengan harga berapa ia bisa memperolehnya.

Membaca isi pesan pada layar ponsel saya, saya terus terang jadi gemes. Saya lihat di atas meja ruang tengah masih teronggok satu bungkus Sotoji tepat berada di sebelah roti tawar. Saya memang mendapatkan tiga bungkus sampel yang dikirimkan secara cuma-cuma oleh produsen Sotoji. Satu bungkus telah tandas oleh istri saya satu hari setelah sampel itu kami terima. Satu bungkus lagi saya hadiahkan kepada seorang teman dekat yang sering berkunjung ke rumah kami. Harapan saya, dengan beragam lidah yang mencicipi sajian jamur instan tersebut, maka akan beragam pula kesan yang boleh jadi akan unik orang per orang.

Dan benarlah dugaan saya, ternyata sms berupa kesan dari sahabat itu begitu menggoda saya untuk mencicipi sendiri. Maka satu bungkus Sotoji yang masih tersisa segera saya sambar. Saya langsung meluncur ke dapur untuk menyalakan kompor gas. Tanpa kesulitan apa pun saya bisa mengolah sebungkus sotoji ini menjadi semangkuk soto jamur yang lezat dan gurih. Sesuai dengan labelnya, produk ini memang instan sehingga cepat dimasak–terutama suunnya yang mudah mengembang menampakkan rona-rona kenikmatan. Saya sempat mengabadikan prosesi singkat dengan kamera ponsel istri sebagaimana tampak berikut.

Seperti pendapat teman yang saya kutip di awal tulisan, saya pun berpandangan serupa. Sambil menunggu suun dan jamur tiram matang, saya mengamati kemasan dengan saksama. Ada satu hal yang langsung mencolok, yaitu bahwa tulisan “Soto jamur lezat//tinggi kandungan serat dan protein nabati” kurang jelas terlihat. Paling tidak menurut pandangan saya. Barangkali ini disebabkan pilihan warna tulisan yang tampil dalam guratan warna putih dengan warna latar hijau muda. Saya bayangkan tulisan ini berwarna merah atau oranye, tentu akan lebih menarik perhatian calon pembeli mengingat ini adalah keterangan yang menjadi diferensiasi soto mi ini.

Ketika masih dalam bentuk desain, memang tulisan tersebut masih tampak sangat jelas. Namun pada hemat saya, akurasi kontras antara putih dan hijau muda menjadi berkurang saat telah dicetak dalam bentuk kemasan plastik yang membungkus soto jamur ini. Lebih jelasnya bisa dilihat pada dua gambar berikut.

Saat membuka kemasan plastik, aroma bumbu yang segar langsung menusuk hidung. Sungguh soto yang menggiurkan, gumam saya. saya semakin tak sabar menyantapnya. Namun sama seperti teman saya di atas, saya juga sempat bingung karena gagal menemukan mana kemasan yang berisi jamur tiram seperti yang dijanjikan dalam bungkus luar. Karena ada dua kemasan aluminium foil dan dua kemasan lagi dalam bentuk cair/tidak padat.

Ternyata kemasan yang lebih besar itu yang berisi jamur tiram, sedangkan kemasan yang lebih kecil adalah bumbu soto. Dan cairan coklat kemerahan itu adalah cabe yang dijamin membuat kita ngos-ngosan saat makan. Satu kemasan lagi adalah minyak soto yang tak ikut terfoto.

Well, akhirnya saya rangkum saja kesan setelah menikmati sendok demi sendok soto yang menyehatkan ini.

Kemasan produk:
Sudah cukup bagus dan memikat, hanya saja perlu dipertimbangkan pemilihan warna tulisan yang sudah saya singgung sebelumnya.

Isi kemasan:
Tidak ada masalah, cuma perlu dibubuhkan nama pada kemasan yang berisi jamur tiram sebagai penegas pada kemasan plastik luar.

Porsi:
Cukup. Namun saya sarankan bagi Anda untuk memasangkannya dengan sepiring nasi agar kelezatannya makin terasa. Dan pesan saya: jangan sekali-kali berbagi dengan orang lain karena bisa dipastikan Anda akan didera kekurangan dan gigit jari seperti saya akibat kenikmatan yang terputus :p

Rasa:
Cukup nikmat dan saya kira akan cocok dengan lidah semua orang. Salut acungi jempol pada tim dapur Sotoji yang berhasil meracik hidangan yang bisa menggoyang lidah siapa saja.

Menurut saya, langkah yang ditempuh oleh tim promosi Sotoji ini patut diacungi jempol karena menjajal selera calon pembeli sebelum merambah pasar yang lebih besar.

Soal rasa, saya pikir terlalu pedas untuk lidah umum. Jadi mungkin bisa dikaji ulang mengenai tingkat kepedasan. Memang ini sesuatu yang relatif. Maka bagi Anda yang tak terlalu doyan soto pedas, saya sarankan untuk menyendoknya dengan didampingi nasi putih. Nasi uduk pun boleh πŸ˜€

Varian:
Mungkin saja tidak semua orang menyukai jamur tiram. Atau kalaupun mereka suka, barangkali mereka lebih menyukai jamur merang, misalnya. Maka mungkin bisa dipikirkan untuk menggali referensi jenis atau varian produk untuk memperkaya rasa dan sekaligus memperluas jangkauan segmen penikmat/pembeli.

Ketersediaan:
Sampai detik ini saya belum menemukan produk soto jamur ini di toko-toko terdekat atau di supermarket yang biasa kami kunjungi. Ya, boleh jadi karena Sotoji memang baru soft launching, belum grand launching sehingga saat ini pembeli yang ingin menikmati kelezatan soto jamur tiram ini baru bisa memesan lewat web resmi Sotoji di http://sotoji.com.

Akan tetapi, ketika saya beberapa kali mengunjungi situs tersebut ternyata produk tersebut belum dilaberi harga. Saya belum berhasil menemukan harga per satuan atau per boks Sotoji. Makanya saya bingung ketika beberapa teman saya bertanya soal harga dan cara mendapatkannya. Saat saya usulkan untuk memesannya lewat situs resmi Sotoji, mereka keberatan karena mungkin harus memesan minimal satu boks dan pasti kebingungan bagaimana cara menghabiskannya. Padahal mereka mungkin baru ingin mencobanya, jadi belum dalam jumlah sangat besar.

So, Sotoji, harap lengkapi dengan price list ya, dan nanti kalau sudah grand launching, jangan lupa untuk menyebarkan ke seluruh toko yang ada di Indonesia. Dan tambahkan pada situs resmi dengan kolom komentar pembeli yang sudah mencicipi Sotoji. Satu lagi, cantumkan pula ongkos kirim secara riil time bagi calon pembeli sesuai dengan daerah/alamat yang akan dituju sehingga mereka bisa nyaman tanpa menunggu pemberitahuan dari admin. Beberapa toko online telah menggunakan strategi seperti itu.

So maju terus, Sotoji! Dan bagi calon pembeli, setelah makan soto jamur ini Anda akan NYESEL pokoknya. Eh, nyesel bukan sembarang nyesel. NYESEL di sini adalah akronim dari:
N untuk Nendang! (karena soto jamur bikin kenyang);
Y untuk Yummy (memang lezat kok rasanya dan bikin lidah bergoyang),
E untuk Energik (kalo dah makan semangkuk Sotoji dijamin deh mata melek dan siap beraktivitas. Yang butuh begadang buat kerja lembur, ngerjain tugas kuliah, atau sekadar ngeblog, sangat cucok mengonsumsi sotoji ini–coz pasti deh Anda jadi bersemangat dan penuh energi positif. Secara energi total yang dikandung soto jamur ini sebesar 296 kkal. Nggak percaya? Buktikan sendiri!)
S untuk Sendawa (Setiap selesai satu mangkuk, bersiaplah sendawa sebagai tanda kenikmatan dan kepuasan. Walaupun satu bungkus sudah cukup banyak, tapi nambah sebungkus lagi pun tiada masalah kok bagi perut:) )
E untuk Enggak ada duanya (sejauh ini sih belum ada tandingannya soto jamur dengan rasa yang memanjakan lidah seperti ini. Seriuss!! πŸ™‚
L untuk Luar biasa! (Pokoknya janji deh bahwa kandungan serat dan protein nabati dari jamur tiram akan menyehatkan tubuh kita dengan berbagai manfaat yang luar biasa.

So, tunggu apa lagi. Udah enak dan menyehatkan, halal lagi–coz udah mendapatkan sertifikasi dari MUI. Maka meminjam ungkapan khas Pak Bondan Winarno, Sotoji memang Maknyusss…

Advertisements

11 thoughts on “SOTOJI: Soto Jamur Sedap yang Bisa Bikin ‘NYESEL’!

    • Kang sofyan, memang sangat lezat lo soto jamur tiram ini. makanya kata ‘nyesel’ saya kasih tanda petik karena nyesel deh kalo belum makan soro jamur instan ini. Nyesel deh kalo makan ini cuma sebungkus trus digangguin sama suami atau istri yang minta. Porsinya lumayan banyak, tapi tetep kurang kalo saya mah. Dasar saya rakus kali ya, tukang makan. Kang sofyan musti cobain deh. πŸ™‚ Oh iya, postingan ini belum selesai lo Kang, masih ada lanjutannya. Saya segera sambung sebelum kontes review-nya berakhir tanggal 20 Maret Selasa depan…cemungudz πŸ˜€

      Like

    • @Niar: seperti yang udah kubilang sama Kang Sofyan kalo ulasan ini belom rampung alias belum selesai. Masih ada waktu 2 hari buat ngerampungin coz gangguan anakku kalo lg pake notebook, pasti ikutan deh….Btw, trims dah ninggalin komentar. Udah nyobain Sotoji? πŸ™‚

      Like

  1. dari ceritanya siy kyk enak. tp susah jg ni kalo gada testernya gini.. :p

    btw gmn critanya kq sampe bisa nyobain sotoji?

    Like

    • @Rasti: Memang sangat enak kok seperti komentar ekong di sms itu. Ga rugi kalo beli. Beli aja satu dus, tar aku bantu makan deh, hehehehe.

      Ceritanya kan ini produk baru yang lagi dipromosiin, dan temen2 blogger pada kasih tahu. Trus kita bisa minta dikirimin sampel. Eh dikirimin beneran deh 3 bungkus. Aku kasih ekong satu pas maen ke rumah, Sebagai komentator pembanding. Dan woila, jadilah tulisan ini. Gimana cukup menggiurkan ga? hehe πŸ˜€

      Like

    • @Enny: Memang lezat kok soto jamur ini, Apalagi jamur tiramnya, wow, kalau makannya sambil merem, ga beda deh ama daging sapi, hehe. Pokoknya suedap dan layak dicoba. So beli aja ya, tar bagi2 kalo ga habis hehe

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s