Giveaway Senangnya Hatiku: Berkah Anak-Anak Langit

Biar telat mengunggah, tapi terlihat maknyus kan?

Biar telat mengunggah, tapi terlihat maknyus kan?

Menyantap sate kambing atau sapi di hari Idul Qurban adalah hal istimewa. Begitu juga bagi kami sekeluarga. Membeli sate daging di hari lain tentu menyenangkan, namun mengonsumsi daging yang ditusuk dan dipanggang di mal sungguh hal paling indah yang pernah kami rasakan. Makan sate di mal? Apa istimewanya?

Minggu siang, 28 Oktober 2012, kami meluncur ke Bogor Trade Mall (BTM). Mal yang terletak tak jauh dari Kebun Raya Bogor itu tidak hanya dipenuhi oleh pengunjung yang hendak berbelanja. Di Lantai 3, tepatnya di Ruang Serbaguna, puluhan anak terlihat berhimpun rapi dengan wajah penuh keceriaan. Mereka semua duduk khidmat sementara beberapa orang tampak sibuk menyiapkan sesuatu. Siang itu kami menghadiri undangan sebuah acara yang bertajuk “Sensasi Makan Sate Bareng Anak Yatim di Mall”.

Hajatan unik yang digelar oleh Yayasan Yatim Mandiri ini menghadirkan pengalaman dan kesan sangat mendalam bagi kami sekeluarga. Selama acara berlangsung, anak-anak yatim dari berbagai panti asuhan terlihat serius dan antusias. Tepat pukul 15.13 acara akhirnya ditutup dengan doa bersama. Sambil menunggu hidangan siap, tim Yatim Mandiri lantas mengadakan mini quiz dan permainan seru yang dijamin menguji kemampuan anak-anak yang hadir. Mulai dari pengetahuan agama hingga seputar penyelenggaraan acara hari itu. Acara menjadi semakin mengasyikkan karena setiap anak yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar berhak memperoleh uang saku secara tunai. Puluhan anak berebut menjawab dan terlibat aktif dalam sesi icebreaker. Menyaksikan rona wajah mereka yang diliputi senyum lepas adalah terapi batin yang tiada banding.

Apalagi saat kami melihat mereka asyik menyantap hidangan berupa sate, gule dan sop yang semuanya diolah dari daging kambing yang lembut. Merekam keceriaan mereka saat menggigit potongan demi potongan daging kurban sungguh tidak ternilai harganya. Sesekali terdengar celotehan lugu dan tawa renyah mereka ketika menikmati hidangan yang ada. Sensasi inilah yang tidak akan didapat ketika menyantap sate di tempat lain. Biasanya kita memanggang sate dan menikmatinya secara langsung di rumah bersama anggota keluarga atau tetangga. Namun kali ini kami tersentuh oleh pemandangan yang sangat langka. Kami bersyukur dan tak henti beristighfar kalau-kalau kami telah melupakan nikmat Tuhan.

Pulang siapa yang gendong neh :D

Pulang siapa yang gendong neh 😀


“Satenya enak,” begitu jawab Rifa, siswa kelas 4 SD yang berasal dari Panti Asuhan Pancasan. Melihat piringnya kosong, beberapa teman yang ada di sampingnya mencandai agar ia tak sungkan untuk nambah. Rifa hanya tersenyum tipis sambil melirik temannya. Teman di sampingnya terlihat kekenyangan dan sibuk memegangi perutnya. Ah, sungguh mengharukan mendapat kesempatan emas ini. Sama seperti Rifa, Akbar yang diwawancarai oleh wartawan MGS TV juga menyampaikan kesannya mengikuti acara hari itu. “Seneng banget,” jawabnya singkat sambil menggigit satenya dengan lahap.

Acara ini memang unik dan mungkin belum pernah ada di Indonesia (setahu saya, lol). Sejumlah media turut hadir untuk meliput kemeriahan acara. Ada rekan jurnalis dari Harian Radar Bogor (Jawa Pos Group), MGS TV (Megaswara TV) dan Harian Suluh Indonesia. Sebelum meninggalkan BTM untuk kembali ke panti masing-masing, anak-anak berdiri antre dan bergiliran untuk menerima amplop berisi uang santunan dari Yayasan Yatim Mandiri. Wajah mereka tampak bahagia dan puas.

Begitu pula wajah Rumi anak saya yang sejak acara berlangsung dipenuhi pendar ketakjuban. Selama sesi makan bersama, ia dan Nadline anak sahabat saya berlarian di ruangan yang cukup lapang sambil mengamati kakak-kakak yang terbuai dalam kelezatan sate kambing. Janganlah sahabat bertanya bagaimana perasaan saya kala itu. Anda tentu paham sensasi yang meruap di angkasa batin saya (jiaaah, lebay—ciyuss neh).

Hanya itukah kesenangan yang saya dapat? Eits, tunggu dulu! Beberapa hari setelah acara, seorang teman menawari pekerjaan penyuntingan kamus digital. Pekerjaannya tidak terlalu rumit, hanya butuh ketelitian dan kejelian. Namun honornya bisa cukup untuk menutup kebutuhan sebulan. Alhamdulillah. Padahal pekerjaan itu bisa saya selesaikan hanya dalam beberapa hari saja.

Dan masih ada bonus lagi: untuk mempermudah pengerjaan tugas itu, penerbit setuju akan mengirim sebuah kamus Indonesia-Inggris sebagai bahan rujukan. Saya pun memberikan alamat rumah. Saat paket saya terima, olala, ternyata mereka salah kirim. Yang dikirimkan justru kamus Inggris-Indonesia, tidak sesuai dengan pekerjaan yang saya geluti. Akhirnya saya gunakan kamus milik saya sendiri. Dan tahukah Anda, Sahabat, kamus Inggris-Indonesia saya sudah menyedihkan kondisinya—saya dapatkan kamus itu secara cuma-cuma dari kontes saat kuliah dulu 🙂 Dan kini, saat saya butuh yang baru, penerbit mengirimkannya kepada saya. Gara-gara salah kirim. Namun saya yakin Allah yang mengaturnya. Saat saya berusaha mengembalikan kamus yang salah kirim itu, ternyata penerbit merelakannya untuk saya simpan. Jadi, saya dapat kamus baru ini secara gratis.

Kamus adalah senjata utama bagi pekerjaan saya. Maka tentulah saya senang. Saya gembira. Saya melambung. Saya beruntung. Semua itu (mungkin) karena berkah anak-anak langit. Anak-anak yatim yang senantiasa mengalirkan angin surga dan mengucurkan aliran rezeki.

Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Senangnya Hatiku

ga amazzet

Advertisements

20 thoughts on “Giveaway Senangnya Hatiku: Berkah Anak-Anak Langit

  1. Baru tau kalau batin mas Belalang itu kayak diluar angkasa. wkwkwk…
    Waahh… dapat honor oke nih… kerjaan beberapa hari bisa cukup buat 1 bulan. Kereeen….
    Kamusnya yg ngga kepakai buat anakku ajaah…

    Memang bahagia ya mas melihat tawa-tawa riang anak-anak. Segala letih lelah rasanya terbayar dengan itu.

    Semoga sukses dengan GAnya…
    Tunggu tulisanku… #melirik dengan bengis…

    Like

    1. Kamus saya yang lama udah mengenaskan kondisinya, Mbak. Jadi sebagai ganti gitu. Mosok mau dikasih yang jelek 😀

      Iya bener, Mbak, Selalu ada imbalannya.

      Ayo ayo, mana entri Bunda? #menyeringai ngiler jengki* 😀

      Like

  2. Berdesiran hati saya membacanya, Mas. Teringat makan bersama para sahabat yang yatim itu di sebuah hotel berbintang di Jogja. Sate, gule, sop, sungguh makanan “mahal” bagi mereka, apalagi makan di mal atau di hotel // Alhamdulillah…, salah kirim yang bermanfaat ya, Mas // Maka, secara resmi artikel ini saya nyatakan TERDAFTAR dalam GA. Makasih banyak ya, Mas.

    Like

    1. Demikianlah, Mas. Semoga kita bisa terus berbagi dengan mereka atau siapa saja. Terima kasih. Semoga GA Anda lancar dan blog baru dapat memberi manfaat buat pembaca. Salam dari Kota Hujan 😀

      Like

    1. Lebih tepatnya jadi punya 2 kamus, Mel. Satu kiriman dari penerbit itu, satu lagi punya sendiri yang udah agak menyedihkan keadaannya :). Senang sekali Mel, sangat senang…

      Like

  3. Kalau menghitung balasan yg kita dapat dari berbagi dengan anak yatim, kadang saya berpikir justru merekalah sumber rejeki buat kita. Karena apa yg kita dapat jauh lebih banyak dari apa yg kita keluarkan. :).

    Like

    1. Mereka ibarat mata air yang membuka belukar kesulitan rezeki kita, Mbak Tarry. Memang yang kita belanjakan tidak sepadan dengan apa yang kita dapatkan–yakni imbalannya selalu jauh lebih bermakna. Terima kasih atas kunjungan Anda 😀

      Like

    1. Bukan makan-makannya (saja) yang menyenangkan Mas, melainkan bersama siapa makannya dan bagaimana cara makannya. Terima kasih atas kunjungan Anda 🙂

      Like

  4. sungguh tak ada sesuatu amal yg sia-sia … begitu cepat Allah membalasnya, dengan cara yang tak kita sangka ya… Oya, semoga sukses di GA nya Bung Azzet ya…

    Like

    1. Betul sekali, Mechta. Tapi tentu saja kita jangan lantas sedih lantara tidak segera menerima imbalan yang berlimpah. Salam dari Kota Hujan. Selamat berjaya juga di kontes Mas Azzet 🙂

      Like

    1. Sensasinya akan jauh lebih dashyat kalau anak-anak diundang ikutan outbound gratis di Tanakita ya Bun 🙂 hehe

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s