#Postcard Fiction: (Bukan) Gerimis Terakhir

Deana,
Ketika rumput basah dan pohon-pohon menggigil, kau berujar lirih, “Inilah gerimis terakhir yang akan menghapus sisa jejak kita.” Jujur saja aku tak terlalu paham maksudmu. Namun aku ingat kala itu kupeluk Sinta erat-erat karena ku tak mau terpisah darinya. Entahlah apakah dia mengerti apa yang kita perbincangkan di taman itu. Mata eloknya tetap berbinar mengalahkan pendar lampu taman. Aku yakin sekarang dia tumbuh menjadi gadis yang jelita.

Aku sangat merindukannya, Deana. Berapa kali ku kirimkan pesan pendek ke nomor telepon genggammu, tapi tak satu pun kau balas. Entah berapa puluh surat sudah kulayangkan, tapi tak sepucuk pun kau jawab. Aku merindukannya, dan tentu sangat menyayanginya. Bagaimana kabarnya?

Kutulis pesan ini di atas selembar kartu pos agar kau tak bosan membacanya. Bayangan akan masa kecil Sinta dan kepintarannya membuatku tak sanggup menahan beban rindu. Masih ingatkah kau kalimat terakhir yang ku ucapkan saat kau melangkah pergi? “Ini memang kesalahanku. Namun ku harap embun akan terus tumbuh untuk menyejukkan langkahmu.”

Aku sudah mengaku, dan aku sudah berubah. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan agar kau memaafkanku. Namun percayalah: gerimis akan selalu menyinggahi bumi selama hati kita saling berjabatan dalam untaian kasih. Butiran jernih dari langit akan senantiasa meluncur untuk membasuh kerontang jiwa. Seperti matahari yang selalu menebar sinarnya selama bumi masih berdenyut.

Kini aku paham maksud perkataanmu. Ku harap itu bukanlah gerimis terakhir. Sebab gerimis adalah perayaan cinta Tuhan bagi hamba-Nya melalui kesejukan yang dikirim dalam wujud butir-butir bening. Semoga jejak kita tetap menyala dalam derap waktu dan usia. Hingga nanti saat Sinta menikah yang akan menjadi perayaan paling lengkap dalam sejarah cinta kita. Jadi tolong, tolong bicaralah ketika aku meneleponmu.

Terima kasihku,

Jay

Advertisements

14 thoughts on “#Postcard Fiction: (Bukan) Gerimis Terakhir

  1. Deana udah ganti nomor hape dan pindah rumah mas… Makanya ga ada yang sampai…hehehe…

    Ketiga postcardfictionnya oke2 deh.
    Saya sjk sabtu cm bs ol pakai hape. Jadi cuma daftar 2 deh…

    Semoga sukses mas….

    Like

    1. Bukan ganti nomor lagi, Bun. Mungkin ponselnya sudah dijual demi memenuhi kebutuhan Sinta. Jika begitu, rasa bersalah Jay akan semakin menjadi-jadi 😦

      Alamatnya pindah ke Sawangan kali ya hehe…

      Terima kasih, Mbak Niken. Padahal saya nunggu fiksi mini Mbak yang ketiga. Ternyata malah jalan-jalan ke Depok dan pesta rendang 😀

      Like

    1. Luka menganga yang sulit disembuhkan, Dhe. Semoga waktu benar-benar bisa membantu Jay agar luka Deana pulih. Met berkontes juga Dhe, salam balik dari Kota Hujan.. Brrrr! 🙂

      Like

    1. Penyesalan selalu datang belakangan. Yang datang di awal adalah perkenalan 🙂 Begitu kata seorang sahabat di akun facebook-nya. Semoga mereka bersatu ya…

      Like

    1. Mama Cal-Vin, terima kasih. Insya Allah sekalian pakai (Honda) Jazz biar ga kedinginan karena hujan hehe. Met tahun baru ya Mbak, semoga bahagia dan berkah untuk Anda sekeluarga di tahun 2013! 🙂

      Like

    1. Sebagus niat Jay untuk membangun mimpi dari mozaik-mozaik yang terhempas entah sengaja atau tak sengaja. Semoga Deana bersedia menawarkan kesempatan demi merayakan cinta mereka demi masa depan Sinta 🙂

      Terima kasih atas kunjungan sobat.

      Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s