Dua Bahasa Wajib Seorang Blogger

Hari Blogger Nasional jatuh pada tanggal 27 Oktober, atau tiga hari yang lalu. Sehari kemudian kita merayakan Hari Sumpah Pemuda. Dua momen ini tentu istimewa bagi siapa pun yang mengaku sebagai blogger atau narablog. Hari Blogger Nasional mengingatkan kembali tentang tugas dan peran penting kita sebagai narablog dengan beragam tantangan dan peluang. Sedangkan Hari Sumpah Pemuda perlu kita maknai sebagai penegasan bahwa semangat kita harus selalu muda, senantiasa diperbarui, dan dikelola menuju kemajuan yang positif. Tak peduli usia kita, menulis di blog adalah aktivitas brilian untuk merekam jejak pemikiran atau pengalaman kita.

Dengan memanfaatkan bahasa sebagai medium, kita dapat mengekspresikan ide, mengelaborasi gagasan, dan merumuskan pemikiran dengan runtut dan mudah dipahami. Seburuk apa pun sebuah tulisan dituturkan, kita tetap mampu memahaminya selama ia disampaikan dalam bahasa konvensional manusia, atau bahkan dalam simbol-simbol.

Bahasa memungkinkan kita mengabadikan pengalaman dalam sudut pandang yang bebas kita pilih. Walaupun tidak selalu mampu mewakili kelembutan atau ledakan perasaan manusia, namun bahasa adalah salah satu keajabian pada manusia sebagai makhluk yang beradab. Pengetahuan berkembang pesat sebab elemen ilmu bisa diturunkan melalui perantara bahasa. Kebijaksanaan atau inti peradaban bisa ditransfer ke generasi berikutnya juga melalui bahasa.

Dua bahasa wajib
Tulisan ini sampai kepada pembaca juga berkat bahasa. Dengan demikian, bahasa adalah komponen primer bagi seorang blogger. Tanpa penguasaan bahasa yang baik, seorang blogger akan ‘lumpuh’, dalam pengertian seluas-luasnya. Namun izinkan saya membocorkan dua bahasa yang wajib kita kuasai sebagai narablog baik di jagat maya ataupun di dunia nyata.

Merujuk pada salah satu poin dalam Sumpah Pemuda, bahasa utama yang harus kita miliki adalah bahasa persatuan. Dalam konteks ini, bahasa Indonesia. Selain agar pesan mudah tersampaikan kepada pembaca di tanah air, menulis dalam bahasa Indonesia juga merupakan salah satu upaya untuk merawat kelestarian bahasa Indonesia. Selama beberapa tahun belajar di sekolah dasar hingga menengah, tentulah bahasa ini cukup kita kuasai. Bila mungkin, tambahkan dengan menggali sisi tata bahasa dan ejaan agar tulisan kita semakin sempurna.

Bahasa persatuan ini menyiratkan bahasa nasional. Jadi bila seorang blogger berkebangsaan asing, seyogianya ia menggunakan bahasa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Blogger dari Kanada menulis dalam Inggris, dan narablog Jepang hendaknya menulis dalam huruf-huruf romaji. Apakah blogger tidak boleh menulis dalam bahasa Inggris? Tentu boleh, hanya saja diusahakan agar bahasa nasional tidak terlupakan hanya semata-mata demi menjunjung bahasa internasional. Apalagi menulis dalam bahasa Inggris konon menjanjikan traffic yang lumayan dan penghasilan yang menggiurkan.

Bahasa kedua
Bila telah mantap menggunakan bahasa utama dalam blog, jangan lupa untuk melengkapi tulisan kita dengan bahasa lain, yakni bahasa kasih sayang. Tanpa bahasa ini, seorang blogger hanyalah penulis di dunia maya yang tidak istimewa. Tanpa bahasa kasih sayang, tulisan kita hanya akan menjadi gumpalan ide seperti awan yang terombang-ambing. Tulisan yang disuntik dengan bahasa kasih sayang akan memancarkan energi. Postingan yang diramu dengan bumbu kemanusiaan akan menyebarkan semangat dan imbalan. Apa pun bentuk tulisan kita, pastikan kita tulis dengan jujur, santun, penuh penghormatan, dan tidak memancing orang berbuat makar atau kerusakan.

Bahasa kasih sayang tidak cukup berhenti dalam tulisan, tetapi juga dalam tindakan. Contoh kasus baru-baru ini sangat mengharukan, setidak-tidaknya bagi saya pribadi. Seorang sahabat memasukkan saya ke dalam sebuah grup rahasia di Facebook. Karena tak memahami nama grup dan mengapa grup itu dibentuk, maka saya pun mengontaknya melalui pesan pendek. Dia lalu menyarankan saya membuka grup tersebut dan membeberkan sebuah rahasia. Grup ini dibentuk dengan spontan dalam rangka mengumpulkan donasi bagi seorang kawan yang mendapat ujian berupa sakit. Seorang single parent yang harus berjuang membesarkan anak-anaknya.

Dalam beberapa hari saja, jumlah anggota terus merangkak. Mereka tak keberatan (di)masuk(kan) ke dalam grup rahasia tersebut. Saat nomor rekening donasi ditampilkan. para anggota menyanggupi untuk turut menyumbang. Saya geleng-geleng kepala. Kami tidak saling mengenal dengan sangat dekat, mungkin juga tak semuanya pernah bersua secara langsung, namun aksi sosial bergerak begitu cepat dan masif. Kami seperti melihat saudara sendiri sehingga tak akan kami biarkan mereka menderita saat kita berkecukupan. Kami memang keluarga besar, yaitu keluarga besar blogger. Kami semua diikat oleh bahasa yang universal bernama bahasa kasih sayang.

Dalam dunia nyata, aksi sosial memang lazim, namun bagi saya solidaritas antarblogger sungguh mengagumkan. Kami bahkan tak pernah bertatap muka, namun membantu seolah sudah menjadi moto hidup kami. Maka tak heran bila saya sebut blogger sebagai enigma, yang pernah saya tulis di sini. Masih banyak bahasa kasih sayang blogger yang lain, seperti saling berkirim barang, makanan, buku, menumpang nginap, dan sebagainya dan itu semua gratis alias cuma-cuma.

Bila Sobat pembaca berniat membantu meringankan beban teman kita yang terkena musibah, silakan japri saya di Facebook ya. Alhamdulillah donasi terus bertambah. Semoga para donatur mendapat limpahan rahmat dan rezeki sebagai imbalan atas kepedulian ini.

I love you, all, fellow bloggers! ^-^

 

 

Advertisements

47 thoughts on “Dua Bahasa Wajib Seorang Blogger

  1. maafin aku ya om, hehehehe..
    semoga bahasa kasih sayang terus menjadi bahasa yang penuh kasih sayang.. 😀
    salam hangat dari Kesesi, semoga segala sesuatu yang diberikan dengan tulus , sekecil apapun itu, bisa bermanfaat di dunia dan akhirat. amin…

    aku juga mau lhoo dikirimin jolla jolli yang gratis.. wekekekek

    Like

  2. Subhaanallah, itu juga yang selalu terpateri di hati Bunda. Kasih sayang, ketulusan dan kebersamaan, apalagi Bunda sudah mengenal dekat blogger yang sedang kena musibah ini. Bunda sedih ketika membaca beritanya, teringat anak Bunda yang sudah tiada dengan penyakit yang sama. Semoga blogger sumringah ini kembali puluh seperti sediakala dan bisa lagi, and lagi mengunjungi Bunda. Aamiin, ya Rabb.

    Like

    • Saya jadi ingat kopdar kedua ma Bunda Yati di Ciputat dan ditraktir makan siomay yang sedaaap, hehe. Iya, Bunda. Semoga sahabat kita ini diberi kemudahan dan kesembuhan ya agar bisa bersama anak-anaknya lagi. Bisa ngeblog lagi dan ceria kembali. Aaamiiiin. Terima kasih, Bunda 😀

      Like

  3. numpang nginap, numpang kendaraan saya pernah pak hehehe. itu bukti bahasa kasih sayang ya. ada satu rahasia lagi loh pak eh udah gak rahasia sih saya menemukan jodoh juga dari dunia maya 🙂

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s