Kegelisahan Seorang Insinyur

Siapakah yang tak ingin hidup makmur? Kemakmuran berarti kehidupan yang serbamudah dan menyenangkan. Saat menyebut kata makmur, maka kita bicara soal kecukupan dan tidak kekurangan. Paling tidak demikian menurut definisi dalam kamus.

Rumah milik sendiri yang nyaman, kendaraan roda dua dan empat yang siap mengantar ke mana saja, penghasilan tetap yang cukup besar, keluarga lengkap dengan anak, jabatan yang mapan, serta cinta yang kuat antarpasangan sungguh merupakan dambaan setiap manusia pada umumnya. Saya bubuhkan keterangan β€œpada umumnya” sebab ada pula sebagian orang yang tidak mainstream, yakni mereka yang mengambil posisi sebaliknya.

Jaka telah memilih
Dan Jaka, sebut saja begitu, adalah satu dari segelintir orang yang memilih arus kedua. Di saat setiap orang berjuang untuk memiliki rumah, kendaraan, pekerjaan dan gaji yang tinggi, Jaka justru memutuskan hidup pada titik yang berseberangan. Pekerjaannya sebagai insinyur sipil di sebuah perusahaan konstruksi tak pelak mengganjarnya dengan kucuran rupiah yang deras, apalagi bila menyangkut proyek bersama pemerintah.

Kalau boleh bilang, Jaka menjalani hidup yang bahagia. Anak, istri, rumah, kendaraan, dan gaji tinggi sudah dalam genggamannya. Namun ia didera kegelisahan. Ia dirundung pilu justru karena kemakmuran yang tengah ia nikmati. Jaka merasa ada sesuatu yang tak beres dengan penghasilan dari pekerjaannya. Ia tak nyaman menjalani profesi tersebut selama beberapa waktu. Ada kegalauan dalam gemerincing rupiah yang ia dapatkan. Ia meragukan apakah harta yang ia peroleh sudah sesuai dengan ajaran agama yang ia anut. Jaka dihimpit kehampaan; ia seolah tersesat dalam sebuah labirin gelap yang tak berujung.

Keputusan ektsrem pun ia ambil. Ia mengundurkan diri dan memulai semuanya dari nol. Kenyamanan yang dulu pernah ia cecap kini harus disusun kembali sejak awal. Namun kali ini Jaka mengais rezeki dengan perspektif yang lebih segar, mungkin agak anomali. Ia bertekad merajut baju kemakmuran dengan benang-benang keberkahan. Nah, itulah yang ia cari: berkah, atau barokah. Jaka memperhatikan betul dari mana ia menggali rezeki, ke mana dan bagaimana ia membelanjakannya untuk keluarganya.

Tak kelaparan
Ikhtiarnya? Ia menciptakan aneka mainan anak yang ia jual dengan tekad sekuat baja. Bagaimana dengan istrinya? Tentu saja Jaka dihujani protes tentang keadaan hidup mereka pascamengundurkan diri dari pekerjaannya yang sangat mapan. Tunggangan mereka bukan lagi mobil, melainkan motor. Namun Jaka menerima komplain istrinya sebagai lecutan untuk sukses.

Kini, menurut kabar yang saya dengar terakhir, Jaka sudah bangkit dengan kondisi ekonomi yang semakin mantap. Sesekali ia menerima permintaan tolong orang untuk menghitung konstruksi rumah baru, sambil mengerjakan banyak hal terutama jualan mainan anak. Ia terbukti tak kelaparan akibat memperjuangkan idealisme atau nuraninya. Jaka mengaku lebih happy dan tenang dengan kesibukannya kini. Begitu juga dengan istri dan keluarganya. Selamat, Jaka! Kegelisahan Anda terbayar sudah.

NB. Kisah insinyur dan pekerjaannya ini tentu kasuistis, spesifik pada cerita yang saya tuturkan di sini, tidak memberi gambaran pada profesi ini secara umum.

Advertisements

33 thoughts on “Kegelisahan Seorang Insinyur

  1. Salut dengan Jaka, justru ketenangan hati itulah yang paling mahal, bahkan tak bisa dibeli dengan uang πŸ™‚
    Semoga semakin banyak yang seperti Jaka

    Like

  2. Seperti lagi berkaca dan mendengarkan cerita sendiri nih… beda2 tipiiiss bgt ama si jaka ini… semoga pelan2 jaka n abangku bisa bangkit lagi πŸ™‚
    Yg penting ga ada lagi agenda sogok menyogok dan bikin laporan palsu… (ayem)

    Like

    1. Nah, itu dia, Mak. Jaka muak dan tak elok ikut hal-hal abu-abu bahkan hitam seperti itu. Tenang, selagi ada usaha, dengan niat yang baik, pasti ada jalan!

      Salah satunya kerja sama ma jolla-jolly. Yuk! hehe ….

      Like

    1. Selagi kita masih berada dalam koridor kebaikan dan tidak melanggar syariat, maka tak perlu ada yang kita khawatirkan, termasuk cibiran atau komentar orang lain. Begitu kata Jaka, Teh Orin πŸ™‚

      Like

  3. Tekad yg bulat dan memang mencari ketenangan-kebarokahan. Di tengah semakin bnyk yg “asal kenyang”. Semoga bisa meniru Jaka dengan prinsip dan idealisme-nya. thx mas, inspiratif dan menggetarkan.

    Like

    1. Iya, Mas. Jangan malu dan tertekan oleh pendapat orang asalkan yang kita lakukan itu kita yakini baik. Kisah Jaka juga mengingatkan kita biar ga terbuai oleh limpahan rezeki. Hati nurani harus selalu ‘on’ untuk mengecek apakah kita masih berada di jalur yang benar. Saya doakan Mas Krida mendapat pekerjaan dan profesi yang diberkahi. Aaamiiin.

      Like

  4. Nahh, Jaka ini keren. Mengambil keputusan yang menurut pandangan umum sangat aneh. Keberanian semacam ini patut diteladani. Selamat, Jaka!

    Like

  5. kadang-kadang pasti juga terpikirkan Om. Apa iya rizki yang udah kita dapatkan itu berkah. Apalagi kalau jelas-jelas ada yang tidak beres. Tapi mengambil keputusan untuk mundur dari kenyamanan ituuu nggak mudah. >.<
    Salut buat Om Jaka. ^^

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s