Bloger di Masa Depan dan Bloger Masa Lalu: Catatan di Hari Bloger Nasional

Sejak pindah ke kota kelahiran, saya memutuskan menjadi bloger purna waktu alias fulltime blogger. Memang tidak ada pernyataan de jure, namun secara de facto kesibukan sehari-hari tak bisa terlepas dari aktivitas menulis. Selain ngeblog, sesekali masih menerima tugas menyunting naskah—pekerjaan yang lebih dahulu saya tekuni—yang lagi-lagi juga berhubungan dengan kata-kata. Singkat kata, dunia yang saya geluti berkutat pada bahasa dan teks tertulis. Bolehlah saya disebut sebagai pekerja teks komersial karena pekerjaan tersebut memang mendapat bayaran.

Jika dunia perbukuan tengah lesu, yang ditandai dengan menurunnya tiras cetak di kebanyakan penerbit, maka dunia blogging justru sangat bergairah. Para pelaku bisnis berlomba-lomba memasarkan produk atau jasa mereka secara daring dengan memanfaatkan peran bloger yang terbilang efektif namun harga layannannya terjangkau. Para pemilik brand pun menunjuk agency atau komunitas untuk menghelat lomba dan campaign demi mendongkrak pamor merek yang mereka bangun.

bloger ms depan

Bukan hanya hadiah lomba yang semakin menggiurkan, tapi potensi ekonomi dari aktivitas buzzing dan menulis sponsored post pun kian meningkat. Dahulu bloger mungkin sudah hepi mendapat hadiah buku atau friendship award dalam sebuah giveaway, kini kebahagiaan mereka memasuki level baru dengan iming-iming hadiah lomba mulai dari uang puluhan juta hingga kendaraan roda empat. Seorang bloger senior bahkan bisa meraup honor belasan juta rupiah dari satu kali blog post. Dengan kata lain, profesi bloger kini sangat menjanjikan dan bisa diandalkan untuk memetik penghasilan tetap jika digeluti dengan serius.

Pertanyaan yang sering mengusik saya adalah: sampai kapan posisi mereka dipertimbangkan oleh pemegang merek sebagai corong pemasaran yang murah meriah? Murah karena jauh lebih terjangkau dibandingkan iklan di media konvensional seperti koran dan televisi. Meriah karena tulisan bloger tentang sebuah produk bisa menjangkau wilayah global asalkan diliputi akses Internet. Akankah privilese bloger yang dirasakan selama 10 tahun terakhir ini bertahan hingga satu dekade ke depan ataukah sebaliknya malah pupus ditelan zaman? Saya tergoda untuk melihat peluang dan tantangan bagi bloger di masa depan.

Peluang dan tantangan

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang kian pesat, saya optimistis bloger masih akan diperhitungkan setidaknya hingga sepuluh tahun ke depan. Dengan gerakan IoT yang menyebabkan semua lini kehidupan menjadi serbadigital, peran bloger untuk menyampaikan pesan kepada khalayak masih cukup kuat. Entah pesan pribadi, sosial, politik, ataupun komersial. Suara mereka bisa menjadi alternatif dibanding media mainstream yang kerap disinyalir tidak independen.

Bukan itu saja, jika bloger bisa mengembangkan diri menjadi vlogger, maka peluang terbuka semakin lebar. Potensi ekonomi yang sangat besar terbentang di jagat Youtube. Video-video terus diunggah, mencakup berbagai tema—mulai dari hiburan hingga soal keyakinan. Jika bloger bisa memanfaatkan media ini, maka suaranya akan semakin powerful karena pengaruh (influence) mereka mendapatkan amplifikasi lewat tayangan visual bergerak dengan dukungan fans yang fanatik. Saya pernah dengar Youtuber tekno bisa meraup 100 juta berkat konversi penjualan dari pelanggannya. Juga ada Sutrisno, Youtuber kampung yang memanen 1.000 dolar setiap bulan.

Namun itu bukan berarti tanpa tantangan yang mesti dihadapi. Tantangan berarti objek-objek yang menjadi kendala baik yang sudah ada ataupun potensial terjadi. Pertama, godaan ekonomi sangat mungkin akan menghambat bloger atau mengurangi waktu mereka untuk menghasilkan konten-konten organik. Desakan mengunggah tulisan berbayar karena honor yang menggiurkan tak pelak dapat menyilaukan mereka dari prinsip dasar bloger yakni berbagi dari hati. Bukan berarti tak boleh berpartisipasi dalam meramaikan industri informasi—baik e-commerce maupun ranah sosial politik—tetapi harus mampu menjaga keseimbangan antara post organik dan nonorganik.

Sebagai akibat dari peran sebagai media promosi bagi pemesan tertentu, tantangan kedua adalah kemampuan bersikap independen dan objektif. Entah meng-endorse produk ataupun suatu gerakan dalam masyarakat, bloger harus mampu bersikap kritis dan menjaga dirinya berdasarkan prinsip-prinsip yang selama ini diyakini. Jangan sampai demi bayaran tinggi, bloger justru menjadi pemecah belah kesatuan bangsa dan menyulut tindakan provokatif yang berbahaya. Dalam bahasa lain, demi kepentingan pribadi ia rela menghancurkan kepentingan umum yang lebih besar.

Tantangan ketiga adalah sihir comfort zone yang memikat. Buaian bayaran tinggi dan pendukung yang fanatik sejati bisa menjadi bumerang bagi pribadi bloger. Bloger di masa depan tak boleh malas menambah kecakapan atau memperbaiki kemampuan agar lebih mumpuni sehingga mampu bersaing di era industri 4.0 yang semakin sengit. Persaingannya bukan lagi mengandalkan pesona fisik atau daya tarik nama besar, melainkan kreativitas dan solusi-solusi cerdas.

Tips bersaing secara kreatif

Bloger masa depan harus punya strategi untuk menjual dirinya. Pertama, harus rajin mengunggah konten yang bermutu. Bukan hanya giat, tapi juga bermanfaat. Setiap konten yang diproduksi mesti diarahkan untuk menciptakan manfaat bagi pembaca—bahkan dalam bentuk tulisan pesanan sekalipun. Sebisa mungkin bloger mengkreasikan tulisan secara soft-selling dengan tetap memperhatikan kebutuhan pembaca, bukan diri bloger semata-mata.

Kedua, agar tidak tertinggal dalam persaingan kreatif, kita harus menggali style atau gaya tutur yang unik dan akhirnya menjadi branding yang kuat. Travel blogger, misalnya, kini jumlahnya semakin banyak. Hanya segelintir travel blogger yang bisa mencuat dan saya kenali bakal bisa bertahan di era persaingan yang sangat kompetitif. Bloger ala ala jangan berharap mendapat tempat khusus demi kemajuan.

Style juga mencakup penggunaan bahasa yang rapi. Tak masalah bloger menggunakan bahasa percakapan yang santai namun tetap mengindahkan penggunaan pronomina benda –nya yang menempel pada kata benda yang dijelaskannya, misalnya. Sudah bukan zamannya bloger tak bisa membedakan mana kata depan dan mana awalan. Bloger di masa depan adalah bloger yang sadar akan ketepatan berbahasa dan mau belajar demi cinta pada bahasa Indonesia.

Bulan ini adalah bulan Sumpah Pemuda, saat penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan disepakati. Boleh banget menggunakan bahasa asing namun tetap ditulis dalam huruf miring kecuali bila menulis dalam bahasa asing seluruhnya. Selain itu, bloger perlu belajar menuangkan gagasan secara runtut agar lebih nikmat dibaca. Jika terbiasa mengungkapkan ide secara teratur, lambat laun tulisan akan solid dan punya ruh.

Harapan di Hari Bloger Nasional

Setelah 27 Oktober saya berharap dunia blogging akan semakin ramai dan bergairah sedangkan para bloger kian profesional dan memahami etika meskipun bloger belum dinaungi payung profesi khusus. Ada hal-hal nonteknis yang mesti diserap dan dipahami agar tidak sampai menyakiti pihak lain, terutama sesama bloger. Selain keterampilan menulis dan mempromosikan tulisan, yang tak kalah penting adalah penguasaan dua bahasa yang pernah saya bahas di blog ini.

Adapun untuk Warung Blogger (WB), saya tentu punya harapan lebih besar. WB adalah komunitas bloger yang pertama saya ikuti dan masih setia saya ikuti sampai kini. Sesuai namanya, interaksi antaranggota memang cair dan santai. Namun seiring waktu berjalan, komunitasnya jadi terasa stagnan dan kurang agresif. Dengan anggota nyaris 7.000 bloger, WB harusnya mampu berbicara sebagai sebagai komunitas yang aspiratif—dalam arti punya kegiatan dan rencana yang membantu kemajuan para anggotanya.

Kopdar WB

Selama ini grup WB sebatas menjadi warung yang sepi interaksi. Para pengunjung hanya menitipkan dagangan namun jarang berbasa-basi lalu membeli produk tersebut. Hanya menjadi media sharing tulisan terbaru para anggotanya. Membagikan post terbaru dari blog tentu saja bagus, namun akan lebih bagus lagi jika ada kegiatan variatif selain itu. Misalnya sesekali diadakan kuis sederhana, jajak pendapat tentang isu tertentu, webinar atau sharing session secara online, diskusi lewat WA, dan yang paling saya impikan adalah kopdar sesama anggota yang diorganisasi oleh WB.

Kopdar ini tak harus mewah dan mahal. Bisa diadakan di kota tertentu dengan biaya anggota masing-masing dan dikelola oleh para admin WB pusat. Syukur-syukur bisa di-cover oleh sponsor. Bisa pula diadakan di beberapa kota dengan dikoordinasi oleh pengurus WB. Bentuk kegiatannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Pun pengisinya tak harus figur publik yang tersohor, bisa dari kalangan WB sendiri yang dirasa mampu. BBC Mania yang berpengalaman menghelat acara serupa tentu lebih memahami teknisnya.

Selain itu, blog WB masih terbilang sepi postingan. Kalau lebih ramai lagi dengan minimal satu tulisan per minggu lalu di-share di fanpage, rasanya komunitas akan lebih hidup. Namun itu tentu bukan perkara mudah sebab masing-masing admin punya kehidupan sendiri yang harus dijalani. Namun sebagai unek-unek, tak ada salahnya saya sampaikan di Hari Bloger Nasional tahun ini.

Selamat Hari Bloger Nasional untuk semua sobat narablog di seluruh Nusantara. Tetaplah menulis sesuai renjana dan mari tingkatkan kemampuan apa saja yang bisa menunjang blogging kita menuju level yang lebih tinggi. Sudah saatnya kita menyiapkan diri menjadi bloger di masa depan, yaitu bloger yang peduli masa lalu. Bloger yang terikat pada nilai-nilai kejadulan sebagai titik kita memulai. Bloger yang selalu peduli pada sesama, berbagi sesuai yang kita bisa.

Bloger di masa depan bukan hanya menulis untuk diri sendiri, tapi demi kemajuan negeri tercinta. Demi kecintaan kita pada tulis menulis dan sihir literasi yang selalu kita andalkan untuk menyampaikan berbagai pesan damai dan positif.  

Advertisements

18 thoughts on “Bloger di Masa Depan dan Bloger Masa Lalu: Catatan di Hari Bloger Nasional

  1. Wuih.. semrangatss… menurutku kemarin blog sempat tergeser sama ig & youtube, tapi 2 hal itu sudah membosankan dan lebih ribet kalau harus mencari informasi, kembali blog deh.. dari dulu, blog memang media yang paling sustainable

    Like

        1. Untuk sisi minat baca, memang ada pergeseran. Kecenderungan orang lebih prefer yang cepat dinikmati seperti video tanpa harus mikir dulu kayak teks. Makanya pemasaran produk dan jasa sekarang banyak banget yang beralih ke video karena cepat viral.

          Like

  2. Saya sepakat dengan kalimat ini: “Desakan mengunggah tulisan berbayar karena honor yang menggiurkan tak pelak dapat menyilaukan mereka dari prinsip dasar bloger yakni berbagi dari hati.”

    Tahun lalu, saya sempat menulis serupa. Bukan untuk bloger di masa depan, tapi bloger saat ini.

    Untuk WB, terima kasih masukannya, Mas. Akan kami pertimbangkan dengan sangat poin-poinnya.

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s