Pergi untuk Kemba

Belum pernah hati Hans sekalut ini. Entah sudah berapa kali kakinya mondar-mandir di dalam kamar yang tak seberapa luas itu. Matanya mengerjap seperti mendapatkan ide ketika petir menggelegar di luar rumah. Hujan belum berhenti sejak sore tadi. Dari layar televisi sejumlah kawasan dilaporkan dilanda banjir di luar dugaan. Air menggenang di mana-mana, tak jauh berbeda … More Pergi untuk Kemba

Pantun Kemerdekaan Republik Indonesa

Pantun kemerdekaan Republik Indonesia layak ditulis dan dibagikan demi menjaga nyala semangat berkontribusi dan spirit kebersamaan untuk membangun negeri. Petik gitar mari bernyanyi Kaki hentakkan dendangkan lagu Terus belajar dan kolaborasi Itulah jawaban Indonesia maju Ikan bawal gurih dagingnya Tabur kelapa enak sekali Bukan soal siapa paling berjasa Tapi siapa yang ikhlas mengabdi ~ Ambil … More Pantun Kemerdekaan Republik Indonesa

Kenangan Bersama Sapardi

MENGENANG SAPARDI adalah mengenang puisi. Itulah makna sosok Sapardi Djoko Damono yang namanya mendadak viral begitu beliau meninggal dunia tanggal 19 Juli lalu. Entah kapan tepatnya saya mengenal nama Sapardi. Mungkin saat duduk di bangku SMA ketika majalah sastra Horison jadi santapan wajib kami anak-anak kelas 3 jurusan Bahasa. Sejak kelas dua saya dan beberapa … More Kenangan Bersama Sapardi

Sebuah Alamat

Sebuah alamat tertulis jelas tetapi tak terbaca atau sengaja tak kubaca. Sebuah alamat menjadi sumber segala kalimat Hujan menyayangi burung-burung lewat sejuk yang membesarkan daun-daun Pohon-pohon ratusan tahun tak lagi mengenal musim tak lagi mengenal manusia Sebuah alamat abadi dalam sebuah buku sebuah alamat dari sanalah lahir segala rindu surat yang tak pernah diantar ibarat … More Sebuah Alamat

Senandung Bisu: Ambivalensi Kebanggaan yang Memakan Korban

Judul: Senandung Bisu Penulis: Aguk Irawan M.N. Penerbit: Republika Penerbit Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Februari 2018 Harga: Rp85.000 Tebal: viii + 388 halaman ISBN: 978-602-082-299-0 Rahim, atau Muhammad Rahim, adalah bungsu dari lima bersaudara yang terkucil dari keluarganya sendiri, bahkan terasing dari dunia anak-anak yang mestinya ia nikmati dengan penuh kegembiraan. Saat teman-teman sebayanya berceloteh … More Senandung Bisu: Ambivalensi Kebanggaan yang Memakan Korban

Ketika Puisi Dimuat Lagi

Minggu 19 Agustus adalah pagi kedua kami ikut Subuhan di Masjid Namira Lamongan. Setelah mendapat pengalaman positif pada kunjungan subuh pekan sebelumnya, anak-anak ingin kembali ke sana, kali ini dengan mengajak Bunda turut serta. Kurang lengkap tanpa kehadiran Bunda, ujar mereka berkali-kali. Tak dapat dibantah, pesona ekstra selain megah dan nyamannya shalat di sana, sarapan … More Ketika Puisi Dimuat Lagi

Pertemuan Selepas Jumatan: Pak Guru Sedang Terburu

“Pokoknya aku mau pindah. Sabtu nanti sudah di sekolah baru.” Sambil sesenggukan Rumi mengutarakan keinginannya pindah sekolah lantaran mengaku terkena perundungan. Cukup sulit kami memahami kronologi ceritanya, sesulit memvalidasi soal dugaan perundungan tersebut. Kamis malam itu ia terus meminta pindah, sedangkan esok Jumat adalah tanggal merah, dan Sabtu ingin pindah ke sekolah lain tak jauh … More Pertemuan Selepas Jumatan: Pak Guru Sedang Terburu

Sajak Tentang Belalang

Beberapa hari lalu seekor belalang kecil, berwarna hijau, singgah di teras rumah kami. Dia diam walau di sekeliling ada gerakan. Ada apakah gerangan? Dia sedang baper atau bertapa? Sudah lama tidak menulis puisi, jadilah sepenggal sajak berikut. Selamat berakhir pekan, BBc Mania! Seekor belalang Hijau seperti rumput Tetapi ia sendiri Di teras yang sunyi Entah … More Sajak Tentang Belalang

Puisi Tanpa Judul

orang-orang berjalan tak tahu apa yang sudah mereka hilangkan menit ke menit. mil demi mil orang-orang bertambah menyerap air yang setiap hari dilahirkan lalu mati di hutan-hutan puisiku bukan puisi lagi seperti senjata lanjut usia—tak lagi menyimpan tenaga puisiku bukan lagi puisi kata-katanya renta. terseok terusir dari dunia fiksi puisi yang menyusun sendiri di jalan … More Puisi Tanpa Judul

Zing! Bernas Bogor 16 September

SUDAH SEBULAN sejak kami ngider nasi tanggal 17 Agustus silam, tepat di hari orang-orang akan merayakan Proklamasi dalam upacara bendera. Berkali-kali menyepakati hari untuk kembali menyisir Bogor dan berbagi nasi, sayang sekali jadwal dan kesibukan masing-masing belum ketemu di satu titik kompromi. Jumat 16 September 2016 menandai kembalinya Bogor Sawargi, entah sudah yang kali keberapa. … More Zing! Bernas Bogor 16 September

Eclipse

berkaca pada lesatan cahaya sepi beribu pengalaman coba memapah langkah rembulan menjebak rindu jauh ke pondok hujan tapi ada sinar tiba-tiba mengiris pipi malam bayangan siapa, hoi, telah kutanam dengan dendam di setiap kota yang senantiasa cacat! betapa pantai suatu saat kembali mengering lalu menetes dari mata setiap orang doa-doa yang terus dipulangkan meski bumi … More Eclipse

Selamat Ultah, Indonesia!

Selamat ulang tahun, Indonesia Lautmu membesarkan kami Tanahmu menumbuhkan kesabaran Udaramu mendewasakan kami Mengisi relung hati dengan motivasi dan rasa peduli Langitmu menaungi kami dari kekerdilan dan ketamakan Selamat ulang tahun ya Indonesia. Kucinta kau dengan plus-minusmu, tentu saja minus politisi busuk dan pejabat yang korup.

Sajak untuk Bumi

Tak ada kue ultah Atau tiup lilin Hanya sebaris doa Yang terjalin Agar kau sehat dan kuat Hidup selamat dalam rencana-Nya Agar kau ingat setiap nikmat Berbagi manfaat dengan sesama Tak ada nyanyian Atau perayaan Hanya rasa syukur yang mengangkasa Mengetuk langit penuh rahasia Tak ada pesta Tak ada hadiah Sebab yang layak dipinta Adalah … More Sajak untuk Bumi

Pesona Metamorfosa Mas Gagah

/1/ Karya fiksi dan film, bagi saya pribadi, adalah dua anugerah besar dalam peradaban manusia. Baik cerpen maupun novel mampu menciptakan kembali dunia dalam media lain untuk dikunjungi pembaca di mana mereka bisa memutuskan untuk menjadi bagian di dalamnya, bersatu dengan tokoh-tokoh yang ada, atau sebaliknya memilih mengambil jarak dari setiap peran dan peristiwa yang dibentangkan dalam cerita. Prosa yang ditulis … More Pesona Metamorfosa Mas Gagah

Sajak Kebotakan

Rambut-rambut telah melepaskan diri kembali ke haribaan Bumi dalam sujud yang kekal Kulit kepala mengelupas ketika akar waktu telah membusuk dan mati dalam setiap rekayasa akal Karut-marut dunia telah resmi lapis demi lapis manusia mengelupaskan diri dalam semesta dosa, di dalam jagat nirdoa Rambut-rambut tiada lagi punya arti selain kepunahan yang pasti maka surutlah surut … More Sajak Kebotakan

Tak Ada yang Sia-sia (5): Berkat Puisi Menjadi Penerjemah Lagu

Suatu malam saat membuka email, di awal tahun 2012, ada sebuah pesan masuk dari editor sebuah penerbit. Ia meminta izin untuk mengirimkan CV saya ke sebuah penerbit di negeri jiran yang sedang membutuhkan penerjemah Inggris ke Indonesia. Saya meloloskan usulannya. Konon penerbit itu akan menerbitkan kumpulan lagu atau semacamnya. Saya pribadi belum punya gambaran yang … More Tak Ada yang Sia-sia (5): Berkat Puisi Menjadi Penerjemah Lagu