Dari Kamera Turun ke Hati: Memotret untuk Wujudkan Target

Asus Zenfone Laser giveaway

A good picture is equivalent to a good deed.

~Vincent Van Gogh~

Salah satu inovasi paling brilian yang menempel pada ponsel pintar adalah kamera. Lebih dari satu dekade lalu, saya sudah cukup takjub saat mendapati ponsel yang dibenamkan kamera di dalamnya. Padahal kualitasnya sebatas VGA yang saat ini tentu sudah sangat ketinggalan zaman, baik dari segi teknologi maupun kualitas. Yang membuat kagum barangkali bukanlah soal mutu bidikan, melainkan kecepatan memproses data berupa objek yang baru saja dijepret. Yaitu hasilnya bisa langsung dilihat. Bisa dihapus bila kurang bagus, lalu diulang.

Bayangkan, dahulu hanya pemilik kamera bagus saja (macam tukang foto keliling atau fotografer profesional) yang bisa mengabadikan objek menjadi sebuah foto. Atau ada kamera dengan isi rol film yang hasilnya tidak bisa instan dilihat sebab harus melalui cuci film dan dicetak. Risikonya, jika ada foto yang jelek atau terbakar, maka momen sudah terlewat sehingga tak bisa diulang.

Kamera digital hadir kemudian dengan kecepatan menampilkan hasil bidikan saat itu juga. Setelah beberapa waktu, lompatan inovasi terlahir begitu ponsel bisa menyandang kamera sekaligus. Hebatnya lagi, saat ini hasil bidikan bisa langsung diedit, diperbaiki, ditambah aksesori, hingga dikirim ke perangkat mobile lainnya, baik ponsel maupun tablet. Dan sekali menghasilkan foto, sang pembidik biasanya terdorong untuk membaginya di blog atau media sosial, baik untuk berbagi keindahannya/hiburan ataupun memancing komentar belaka.

Tiga Fungsi Kamera Ponsel

Sebagai narablog yang juga wara-wiri di beberapa media sosial (Facebook, Twitter, dan Instagram), saya pun turut menangguk manfaat dari kemajuan teknologi kamera yang disematkan dalam ponsel pintar. Saya membagi fungsi kamera ke dalam tiga kelompok. Seperti tersaji dalam gambar berikut.

kamera

Saya membaginya menjadi tiga kompartemen ibarat jenis-jenis kebutuhan karena kehadiran kamera ponsel memang sudah menjadi kebutuhan bagi manusia modern, tak terkecuali saya. Boleh dibilang, kamera bisa menjadi hiburan paling instan saat kita dilanda kebosanan. Berbeda dengan menulis, kamera bisa difungsikan dengan cepat tanpa perlu banyak berpikir. Memang angle masih perlu direncanakan dengan hati-hati, namun itu bisa dipelajari atau diasah sambil lalu. Yang penting teruslah membidik dan seiring waktu berjalan kemampuan akan berkembang.

Intinya, foto bisa sangat menghibur kita. Seperti kata pepatah, “a picture is worth a thousand words,” sebuah gambar kadang berbicara lebih banyak ketimbang deretan kata-kata. Sebuah ide yang kompleks atau konsep yang rumit kadang bisa disampaikan lewat sebuah gambar atau foto. Esensi dan makna sesuatu kadang malah bisa terkirim secara lebih efektif lewat foto dibanding melalui sebuah deskripsi kata-kata. Itulah sebabnya kamera di ponsel kini kian digandrungi.

Fungsi primer: mengabadikan momen anak dan stok bahan tulisan

1 - primer

Saat ke luar rumah, saya selalu memastikan membawa ponsel pintar. Selain untuk bisa terus berkomunikasi dengan istri, fungsi lain yang juga penting adalah kamera dalam ponsel itu. Memang ada kamera prosumer, namun kualitasnya dan kepraktisannya tidak bisa diandalkan. Maka kamera ponsel pilihannya.

Fungsi paling utama adalah mengabadikan momen-momen penting Rumi dan Bumi, dua jagoan kami. Tentu saat mereka ikut bersama saya. Tak perlu dijelaskan, tingkah polah anak-anak selalu mengesankan, menawarkan perspektif yang unik sekaligus menghibur. Selain sebagai hiburan, koleksi foto-foto mereka akan kami himpun menjadi kolase atau album dalam komputer untuk bahan refleksi saat mereka tumbuh dewasa kelak. Misalnya saat mereka ikut lomba, ikut iktikaf di masjid, ikut kegiatan sosial, dan sebagainya. Itu bakal jadi momen yang monumental. Beberapa contohnya bisa dilihat di bawah ini.

This slideshow requires JavaScript.

Nah, momen anak tidak selalu bisa direncanakan. Alih-alih kamera menganggur, saat itulah kamera saya fungsikan untuk menggali bahan tulisan. Sebagai pencinta bahasa, minat terhadap bahasa tentu membantu memilih bahan tulisan. Kata-kata adalah sahabat saya. Maka di mana pun, misalnya saat mengantre service motor, menunggu giliran di jasa ekspedisi, antre di bank, saya selalu berusaha mencari bahan tulisan. Bisa lewat majalah, koran, atau tabloid yang tersedia di sana. Atau bisa membidik objek bergerak seperti orang yang hadir di sana.

Cara paling cepat juga praktis adalah memotretnya. Kelak foto-foto itu bisa saya pergunakan untuk sumber tulisan yang bisa memancing berbagai ide untuk ditulis di blog, atau malah jadi buku. Misalnya lima foto sebagai berikut.

Foto 1, sebagaimana bisa dibaca, menunjukkan beberapa alasan mengapa pengangguran kian bertambah. Ini saya capture dari sebuah berita di koran. “Kabar bagus nih,” pikir saya. Bila diolah dan tersaji menjadi tulisan, barangkali bisa menyemangati para pembaca muda yang berencana bekerja atau selepas lulus kuliah. Namun saya tidak pernah mengeksekusi bahan ini menjadi tulisan, tetapi sekadar mengunggahnya di Facebook. Mbak Ade Anita justru tertarik pada gambar itu lalu menyusunnya menjadi tulisan yang menarik didukung dengan kisah nyata yang menyentuh.

Foto 2 menunjukkan keteledoran jurnalis saat menulis atau editor yang menyunting berita itu.Pada kalimat, “…Forbes menasbihkan dia sebagai orang…” terjadi kekeliruan penggunaan diksi. Menurut KBBI, ‘tasbih’ berarti pembacaan puji-pujian kpd Allah dengan mengucap subhanallah. Dengan demikian, tasbih adalah pilihan kata istimewa hanya untuk Tuhan saja. Kata yang lebih tepat harusnya ‘menahbiskan’ yang bisa diartikan dengan dinobatkan atau diresmikan. Menurut KBBI, tahbis sendiri berarti penyucian atau pemberkatan untuk keperluan keagamaan, namun bisa dipakai dalam konteks berita di atas.

Foto 3 sudah jelas. Prodak harusnya tertulis produk karena penulis menggunakan bahasa Indonesia, bukan pelafalan bahasa asing, dalam hal ini bahasa Inggris. Ini bukti bahwa penggunaan bahasa dalam materi iklan, formal atau nonformal, kerap diabaikan. Foto 4 tidak kalah gamblang. Iklan tentang percetakan dari sebuah majalah ini hendak berbicara tentang Kualitas yang mereka jamin, tetapi malah menulis serapan yang tidak tepat yakni Qualitas.

Foto 5 memuat kesalahan pada penggunaan awalan di- pada bagian judul. Judul yang benar seharusnya: Siswa SMA Digembleng Perlindungan Konsumen. Di- di sini bukanlah kata depan yang harus dipisah, melain sebuah imbuhan di depan atau prefiks yang harus ditulis menyatu dengan kata yang disambungnya. Bagi saya, foto-foto ini menjadi bahan tulisan yang menarik untuk diunggah di blog. Selain jumlah post bertambah, saya pun menyajikan informasi berharga untuk tambahan pengetahuan tentang berbahasa bagi pembaca.

Fungsi sekunder: abadikan fenomena alam & anomali

2 - sekunder

Fungsi berikutnya adalah menggunakan kamera ponsel untuk menjepret apa saja yang saya jumpai di sekitar. Harap dipahami bahwa kata ‘alam’ di sini tidak melulu berupa lingkungan, tetapi apa saja yang ada di alam semesta. Termasuk di dalamnya adalah pemandangan laut, langit, hingga benda-benda menarik di supermarket. Foto-foto bangunan seperti masjid juga masuk dalam kategori ini. Saya sangat menikmati foto-foto seperti ini sebab setelah disimpan bisa menghibur dan menenangkan.

Mari simak beberapa foto jenis alam.

Selain itu, ada jepretan kamera ponsel yang merekam benda-benda alam tetapi sudah masuk ke meja display supermarket. Warna-warnanya menggoda saya sehingga tak kuasa saya abadikan.

This slideshow requires JavaScript.

Yang juga masuk dalam objek alam adalah makanan yang sudah siap santap di meja rumah. Makanan ini tentu sebelumnya berasal dari bahan mentah yang diolah sedemikian rupa dengan tambahan bumbu/rempah dan aneka pelengkap sehingga terhidang menjadi sajian menggugah selera. Kita lihat foto-fotonya.

makanan 1

Plus nasi hangat, aduhai…..

makanan 2

Truffle cokelat (bikinan teman) ini tiada duanya – tekstur dan rasanya nendang!

Objek di sekitar yang masuk dalam kategori ini adalah bangunan. Dalam hal ini saya gemar memotret bangunan masjid walaupun hasilnya tak selalu maksimal lantaran kamera ponsel yang tidak mumpuni.

Adapun foto jenis anomali adalah benda-benda yang masih ada di tengah kepungan benda lain yang semakin maju. Misalnya sebuah unit telepon umum di pintu masuk mal Plaza Bogor Suryakencana.

telepon tua

Benda penuh memori yang kini tiada berfungsi

Selain itu, anomali di sini juga saya artikan pelanggaran dari hal yang seharusnya. Beberapa foto yang saya ambil mencerminkan pelanggaran lalu lintas, baik oleh pengendara kendaraan roda dua ataupun empat. Mereka tak sadar bahwa pelanggaran seperti itu bisa berujung pada celaka yang mengancam mereka mauppun orang lain. Foto anomali jenis ini juga bisa menyumbang sebagai bahan tulisan.

Fungsi tersier: wefie & merekam pesan

3 - tersier

Mengapa wefie saya tempatkan sebagai kebutuhan mewah? Ya, ini karena kami memang jarang melakukan wefie, apalagi selfie. Entahlah, mungkin kurang pede, haha. Setelah saya telusuri koleksi foto, jenis potret wefie tidak terlalu banyak. Paling pas kumpul keluarga atau teman-teman. Namun bila merujuk pengertiannya, mungkin itu kurang tepat disebut wefie karena dijepret oleh orang selain yang ada di frame. Sedangkan selfie maupun wefie harus diambil oleh orang yang juga tengah difoto.

Bagaimana dengan merekam pesan? Fungsi ini, walaupun jarang digunakan, sangatlah berguna dan cukup efektif. Biasanya saya menjumpai informasi dalam bentuk pamflet yang ditempel di dinding atau informasi tertentu di buku atau majalah yang tidak bisa dipinjam. Maka solusinya adalah dengan memotretnya sebab menyalin dalam bentuk tulisan akan memakan waktu. Contohnya sebagai berikut.

Pilih Kamera Super! 

Setelah menelusuri tiga fungsi kamera ponsel bagi saya dan melihat beberapa hasil bidikan saya melalui pemaparan di atas, pertanyaan yang layak diajukan adalah: kamera seperti apa yang kudu dimiliki? Inilah jawabannya: Zenfone 2 Laser ZE550KL! Seperti Sobat pembaca sudah lihat, beberapa foto ada yang buram dan tidak fokus serta banyak noise. Tidak semua cerah  alias untung-untungan. Tergantung juga pada pasokan cahaya saat objek dibidik.

Nah, saatnya kita membayangkan punya ponsel yang kameranya super seperti tayangan video berikut ini. Mengapa ponsel ini layak dijuluki sebagai smartphone yang super? Yuk ikuti 5 alasan kenapa ponsel ini jadi pilihan terbaik.

4 Alasan Meminang Zenfone 2 Laser

Mau tahu kenapa harus pilih Zenfone 2 Laser ZE550KL? Enggak perlu ragu-ragu karena produk besutan Taiwan ini berbeda dari produk negara lain yang serumpun. Selain memiliki portofolio teknologi yang mumpuni, Asus juga sudah terkenal menghasilkan beragam peranti digital untuk kebutuhan sehari-hari. Siapa tak kenal ketangguhan laptop besutan Asus, apalagi seri ROG-nya? Belum lagi desktop, tablet, motherboard, kartu grafis, networking, monitor yang jadi andalan para computer geeks.

Describe.png

1. Super Camera

Ini yang paling penting, Sob. Kamera yang disematkan di ponsel Zenfone 2 Laser ZE550KL termasuk kamera yang unggul. Apa sebab?  Kamera PixelMaster bersensor 8MP sebagai kamera utama punya aperture lensa f/2.0 sehingga bisa mengabadikan gambar-gambar indah dengan resolusi tinggi tanpa shutter-lag.

Bukan hanya itu. Kameranya sudah dilengkapi autofocus laser yang berfungsi mengurangi gambar buram serta memperbaiki stabilisasi gambar. Ini cocok banget buat saya.Dalam banyak bidikan, entah mengapa sulit sekali mempertahankan posisi tangan sehingga berujung pada kamera yang bergetar saat tangan bergoyang walau hanya sekian derajat.

laser.png

Nilai plus lainnya, meskipun harganya terjangkau, namun kamera Zenfone 2 Laser ZE550KL telah dilengkapi Mode Low Light terbaik di industri yang menggunakan teknologi penggabungan piksel untuk mengambil foto yang 400% lebih terang saat malam hari atau tempat kurang cahaya, tanpa bantuan flash. Teknologi seperti ini konon hanya dibenamkan pada ponsel-ponsel kelas premium dengan harga selangit untuk merek lain. Selain itu, ada Mode Backlight (Super HDR) yang membantu kita agar bisa melihat dengan jelas walau saat terik. Finally, ada mode Super Resolution khusus buat mendukung agar gambar yang kita bidik mencapai detail yang tinggi pada resolusi hingga 32MP!

pixelmaster-lowlight.png

Cantik, cantik, cantik!

Lasernya juga mampu nerjemahin fokus hanya dalam waktu 0.2 detik, terutama dalam kondisi minim cahaya. Fungsi lain autofocus laser adalah untuk mempercepat proses foto close-up, lebih-lebih saat kita memotret objek yang lebih jauh. Kurang keren apa coba?!

Saya jadi bayangin, andai saat ngider berbagi nasi malam itu pakai dokumentasi Zenfone 2 Laser ZE550KL tentunya gambar sangat bening dan enggak buram sehingga wajah semringah bapak penerima nasi ini bisa lebih menguarkan aura positif kepada pembaca semua.

kegiatan sosial 2.jpg

Buram karena kamera ponsel yang tidak mendukung

2. Super Design

Kesan pertama saat melihat Zenfone 2 Laser ZE550KL adalah desainnya yang khas dan unik. Lengkung ergonomisnya mendukung kenyamanan saat dipegang sehingga tidak licin terutama karena ada tambahan tekstur di bodi belakang. Tombol-tombol diletakkan di belakang dengan desain sedemikian rupa agar kita tetap nyaman saat memotret mode selfie atau mengatur volume suara. Pokoknya lihat tampilan fisik Zenfone 2 Laser mah langsung kepincut deh! Hihi… 😀

g.png

Nyaman digenggam

pattern.jpg

Unique design

 

3. Super Power

Kamera bagus dan desain keren rasanya memang oke, tapi kalau ponselnya lemot ya buat apa? Mau unggah foto ke media sosial, lelet, mau edit foto atau jalanin beberapa aplikasi secara multitasking, malah nge-hang. Nah itu penyakit ponsel yang otaknya telmi alias lambat.

min.png

Mau main game atau kerja, sikaaat!

Beda dong sama Zenfone 2 LASER ZE550KL ini karena otaknya digerakkan oleh prosesor Qualcomm® Snapdragon™ 410. Prosesor powerful ini bakal menjamin tersedianya tenaga mumpuni untuk mendukung setiap aktivitas kita sehari-hari apalagi saat deadline mengejar dan harus bekerja multitasking. Dengan dukungan RAM 2 GB, kerja bakalan wus wus wus karena space lega.

4. Super Price

Nah, sekarang masalah yang sering sensitif nih, hehe, alias soal harga. Biasanya ponsel dengan kaliber kualitas dan fitur di atas ditawarkan dengan harga 4-5 jutaan, namun Zenfone 2 Laser ZE550KL bisa diboyong dengan merogoh 1,7 jutaan saja. Bukankah itu memang harga yang super?

cheap-soccer-balls-size-5

Gambar dari premiumballs.net

Nah, menutup postingan ini, saya pingin menjawab mengapa di judul saya bilang bahwa memotret bisa mewujudkan target. Betul. Pertama bagi saya, foto-foto itu berguna untuk memudahkan tersuplainya bahan tulisan. Itu target jangka pendek. Lalu target jangka panjang, dengan mengoleksi foto-foto yang bermutu (menurut saya), saya diingatkan untuk terus berkaca pada masa yang sudah lewat agar lebih bijak menyikapi hidup.

Lewat foto kita bisa menimba semangat atau menggali rasa sakit. Semua terserah kita, foto seperti apa yang kita hasilkan. Saya sebutkan dalam judul bahwa ‘dari kamera turun ke hati’ seperti pepatah ‘dari mata turun ke hati’. Itu berarti kita harus waspada dan berhati-hati dalam memilih objek atau peristiwa untuk diabadikan. Setiap momen harus ditimbang, terutama bila foto itu akan dinikmati banyak orang.

Dari kamera turun ke hati

Kamera ini mirip mata kita. Mata memotret lalu menyimpan dalam otak. Kamera merekam peristiwa dan berpotensi bisa menyenangkan atau menyakitkan hati. Untuk itu harus memilih dan memilah mana yang layak dipotret dan mana yang layak dipublikasikan. Jangan sampai foto kita menjadi kontributor dosa.

Percayalah, objek yang ditangkap lewat kamera bakal turun meresap ke dalam hati! Seperti ujaran Om Vincent Van Gogh di awal tulisan bahwa gambar/foto yang bagus bisa bernilai perbuatan yang baik. Artinya, membidik foto yang bagus lalu membaginya, itu berpotensi meraup pahala. Sebaliknya, gambar yang kita sebarkan bernada kebencian pun akan mengantarkan kita pada kesulitan. Setuju?

refleksi

 

‘Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by uniekkaswarganti.com

Advertisements

27 thoughts on “Dari Kamera Turun ke Hati: Memotret untuk Wujudkan Target

  1. Koleksi fotonya banyak ya mba, bagus pula. Kamera hape memang praktis. Terlebih sekarang kualitasnya 11-12 sama kamera profesional
    Nggak nyangka aja diselipin materi marketing wkwk

    Like

    1. Memang saya suka menjepret berkali-kali saat ada yang dirasa menarik, Mas. Betul, kepraktiksannya membuat kamera ponsel semakin digemari. Malah sekarang ada food photography yang pakai kamera ponsel karena kecanggihan kamera ponsel semakin memadai dan bisa diandalkan karena aksesnya cepat. Hayuk beli, Mas 🙂

      Like

    1. Benar banget itu Mas. Kamera ponsel sekarang sudah sangat canggih, pesat sekali kemajuannya. Bukan lagi tempelan yang dipaksa ada, tapi memang udah dirancang sedemikian rupa untuk menghasilkan foto-foto yang cemerlang. Malah ada orang beli ponsel gara-gara kepincut sama kameranya saja yang bagus. Itulah asyiknya dunia modern, banyak opsi sesuai kebutuhan dan kemampuan bayar hehe

      Like

    1. Betul, banget, Mbak. Kecanggihan kamera ponsel semakin memukau. Memudahkan kebutuhan kita.
      Memang kalau ponsel dengan kamera kurang bagus agak menyulitkan pas membidik gambar di malam haru atau suasana minim cahaya. Makanya pengin punya ZenFone hehe

      Liked by 1 person

  2. aw, aw, aw mas Rudi, boleh aku diajari nulis sama infografis yg keren2 gitu? hehe, selamat yah, makin penasaran sama belalang cerewet nih 🙂

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s