Sebuah Doa yang Tak Boleh Lupa Dipanjatkan

Di luar dugaan, doa mengawali pagi itu ternyata mengantarkan sebuah smartphone ke rumah di akhir tahun 2015. Mbak Winda alias Emak Gaoel memilih tulisan saya sebagai salah satu pemenang dalam giveaway yang ia helat bertema aspirasi atau cita-cita yang ingin diwujudkan. Senang tak terkira sebab tahun itu pula total tiga ponsel pintar saya terima dari lomba: Asus Zenfone dari Mak Uniek, Smartfren Andromax dari Emak Gaoel, dan Acer Liquid dari sebuah lomba resensi buku.

Namun bukan ponsel pintar yang ingin saya tulis, melainkan sepenggal doa sesuai judul yang BBC Mania baca di atas. Doa ini sebenarnya doa biasa, sebagaimana doa-doa lain yang diajarkan oleh Rasulullah untuk pengikutnya. Boleh dibilang saya terlambat mengenal doa ini, dari seorang ustaz beberapa tahun lalu. Sejak saat itu, doa yang dicontohkan agar dibaca selepas shalat wajib ini selalu saya usahakan meluncur dengan penuh penghayatan.

Berawal dari ucapan selamat

Saya tergerak menulis postingan ini setelah bercakap dengan Mas Eko, seorang bloger dan vlogger asal Pemalang belum lama ini. Malam itu Mas Eko mengucapkan selamat atas kemenangan saya pada sebuah kompetisi blog yang disponsori oleh penyedia layanan pembayaran digital berbasis aplikasi. Saya pribadi tak menduga bahwa hadiah sebesar itu akan saya peroleh sebab jujur saja saya mengincar bonus saldo Rp100.000 dengan menulis secepatnya agar masuk ke dalam deretan 50 pendaftar pertama. Ternyata dapat dua-duanya.

Menanggapi pendapat Mas Eko bahwa tahun ini adalah tahun panen bagi Belalang Cerewet, saya pun menciut. Sejumlah kemenangan untuk BBC tentu saya syukuri, namun saya anggap itu lecutan agar saya berintrospeksi—tepat seperti yang saya katakan kepada Mas Eko. Hadiah bertubi-tubi itu khawatir melenakan diri saya dari rasa syukur dan menepuk dada sebagai keunggulan pribadi sembari mengecilkan para peserta lain. Dalam sujud singkat sore itu saya meminta apa saja yang terkandung dalam doa yang saya maksud.

Tiga kunci

Allaahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik, beginilah redaksi doa yang diajarkan Nabi pascashalat lima waktu. Secara harfiah berarti: “Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.” Menurut saya, doa ini mencerminkan permohonan yang sangat luar biasa. Dahulu ketika ikut lomba saya selalu memanjatkan doa agar memenangi lomba tertentu. Namun kini doa sehabis shalat itulah yang saya perbanyak sebab ia benar-benar mencakup kesuksesan dunia akhirat—bukan sekadar lomba yang fragmentaris.

Bukan berarti berdoa secara spesifik tak boleh, namun saya mengutamakan agar setiap kegagalan dan kemenangan dalam hidup harus mengingatkan terus pada kekuasaan Allah dan kelemahan diri. Dalam lomba blog, misalnya, saya tentu merasa sudah mengerahkan segala upaya agar memproduksi tulisan terbaik. Kata dan kalimat saya atur dengan cermat, gambar dan data harus solid, dan keseluruhan ide saya pastikan tertutur dengan luwes. Namun Tuhanlah yang menentukan menang atau tidak sebab tak jarang tulisan peserta lain pun sebenarnya bagus namun tak keluar sebagai juara. Berdzikir berarti mengingat keterbatasan diri sendiri dan terus mengandalkan pertolongan Allah.

Meminta kesanggupan bersyukur adalah sebuah upaya merealisasikan ketergantungan kita kepada Tuhan. Bersyukur bukan hanya ucapan terima kasih, tetapi juga langkah konkret untuk menegaskan bahwa kita ini lemah dan serbakekurangan seandainya tidak mendapat dukungan dari orang lain dan terutama izin dari Tuhan dalam memetik kemenangan atau kesuksesan dalam hal apa pun. Dalam syukur terkandung aksi untuk berbagi dengan sesama, juga komitmen untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan ketaatan sebagaimana pernah kita ikrarkan.

Memperbagus kualitas ibadah bukan cuma membenahi syarat dan rukun agar ibadah ritual lebih sempurna. Permohonan membaguskan ibadah adalah kesadaran untuk senantiasa merasa kurang atau tak pernah merasa cukup atas segala perbuatan baik dalam lini apa pun. Meningkatkan mutu ibadah berarti penghambaan diri sepenuhnya kepada Allah melalui aneka karya sesuai kemampuan. Mengunggah tulisan bermanfaat di blog, berusaha menjadi sosok yang lebih bertanggung jawab, hingga berkontribusi sekecil apa pun di ranah sosial yang kita pilih adalah opsi-opsi yang berpotensi menyulap setiap tindakan menjadi amalan yang bernilai ibadah.

Dengan perspektif seperti itu, kalah atau menang harus disyukuri. Kalah tak perlu terhina, menang tak perlu jemawa. Semua orang berproses dan menjalani hidup sesuai peran yang diambil. Tak hentinya saya berdoa agar tidak terlupa untuk memanjatkan doa berisi tiga butir selepas shalat ini. Semoga bermanfaat ya BBC Mania!

10 thoughts on “Sebuah Doa yang Tak Boleh Lupa Dipanjatkan

  1. Keren, Mas!
    Mantapppp…
    Tabarokallah atas semua kebaikan yang Njenengan dapat dan bagikan

    Postingan Nasihat (dan kontemplasi) kayak gini nih, berguna banget supaya kita tdk terjerat Hubbud Dunya

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s