Tak Ada Kereta ke Banyuwangi

Sudah tengah malam, tapi mata enggan terpejam. Suasana sunyi, hanya ponsel yang menemani. Saya mengetik saat jam dinding terus berdetik. Bukan menggunakan laptop tapi di atas tombol ponsel yang kemampuannya semakin top. Kesedihan menyergap ketika yang dicari tak sesuai yang diharap. Tak ada tiket yang terjaring melalui sekian agen penjualan daring. Pupuslah harapan untuk singgah di Bumi Blambangan.

Kabar menggembirakan itu datang dari Banyuwangi. Kota pesisir yang tersohor dengan kawah Ijen dan ombak susun tujuh itu hampir saja aku kunjungi seandainya ada jalur kereta yang meluncur ke sana. Bukan berarti tak ada, tapi moda favoritku ini bertolak dari Surabaya alih-alih langsung dari Lamongan. Menumpang bus ke Surabaya baru kemudian naik kereta sungguh bukan opsi terbaik bagiku.

Selain durasi perjalanan yang relatif jauh (bagiku), kereta ke Banyuwangi rata-rata berangkat dini hari yang berarti masalah lain sebab aku harus naik bus tengah malam menuju stasiun di Surabaya. Sudah terbayang repotnya berganti moda dan ribetnya ke toilet untuk BAK. Pass!

Akhirnya kulirik moda lain yakni bus. Pahala Kencana adalah satu-satunya bus yang meluncur ke Banyuwangi menurut salah satu agen penjualan tiket daring yang kuakses. Sayang seribu sayang, sungguh di luar dugaan tak ada bus dari Lamongan ke Banyuwangi. Bus bertolak dari Tuban sehingga saya harus meluncur ke Tuban dulu tepat setelah Jembatan Widang runtuh. Tak ideal.

Kabar menyenangkan itu kuterima suatu malam melalui email. Panitia Festival Sastra Banyuwangi (FSB) 2018 mengirimkan undangan bagi peserta yang puisinya lolos seleksi untuk diterbitkan bersama dalam buku berjudul Senyuman Lembah Ijen. Sudah lama aku tak menulis puisi ketika seorang guru cum sahabat mengirimkan informasi tentang dibukanya kesempatan mengirimkan satu puisi pada gelaran FSB 2018.

ijen banyuwangi

Duduk di deretan dewan seleksi antara lain penyair kondang asal Madura D. Zawai Imron alias Si Celurit Emas dan Ahmadun Y. Herfanda redaktur sastra Republika yang sudah malang melintang di jagat kesusastraan Indonesia. Aku pernah mengantar Zawawi ke tukang potong rambut saat ia berkunjung ke SMA kami sebagai narasumber dialog sastra hampir dua dekade lalu. Sungguh kenangan mengesankan.

Adapun Ahmadun kukenal lewat sajak tersohornya berjudul Sembayang Rerumputan. Penyair asal Kendal ini pernah menggawangi rubrik cerpen di majalah Annida yang sekarang hanya terbit versi daring. Dia juga terlibat dalam proyek penerbitan buku berjudul 33 Tokoh Sastra Berpengaruh yang menuai polemik berskala nasional. Ahmadun akhirnya meminta maaf pada publik sastra atas keterlibatannya dalam buku tersebut dan mengembalikan honor senilai 10 juta kepada Denny JA yang menggagas buku manipulatif tersebut.

“Andai bisa digantikan,” ujar Mas Eko yang mengampu bungeko.com saat mendengar kegalauanku via WhatsApp. “Banyuwangi daerah leluhurku. … aku waktu kecil diceritain tentang Banyuwangi terus (oleh—pen) ibuku.” Dia berkata lagi yang membuatku makin perih sebab terancam tak bisa mencicipi Kopai Osing di tanah aslinya.

Agenda utama selain menjemput buku antologi puisi memang menikmati kekhasan kopi Banyuwangi yang dikenal dengan kopai osing itu. Pupus sudah bayangan mengunjungi Desa Adat Kemiren, Sanggar Genjah, dan Osing Deles—yang terakhir ini adalah gerai yang menjual produk-produk unik Banyuwangi sebab sengaja tak dijual secara daring.

Dua hari menjelang hari-H, sakit itu pun kambuh dengan gejala mirip saat akan kencing darah sewaktu di Bogor dulu. Untung tiket tak jadi dibeli. Akhirnya lebih banyak berbaring dengan posisi kaki sedikit diangkat untuk menekan gejala BAK yang beruntun. Si sulung juga pas diserang gondongan yang sedang sakit-sakitnya setelah pulih dari gigitan tomcat seminggu sebelumnya. Kamis malam 26 April Mas Nuz teman bloger dari Mojokerto singgah ke rumah bersama putrinya. Percakapan singkat lumayan menghibur.

senyuman lembah ijen

Hari Sabtu matahari seperti biasa terbit semarak di ufuk Bumi Blambangan, tempat dihelat FSB 2018. Gondongan si sulung agak membaik. Tapi entah luka dalam diriku yang gagal melancong ke kawah Ijen atau Baluran dan mendengar Garin Nugroho berbicara. Walau panitia bersedia mengirimkan buku bagi peserta yang berhalangan hadir, tentu saja—meminjam sepenggal lirik Padi—semua tak sama. Sebagaimana sebuah sajak sederhana yang semula diketik sebagai file di laptop dan kini terhimpun dalam sebuah buku untuk merayakan pesona The Sunrise of Java.

Tak ada kereta ke Banyuwangi, hanya lewat puisi ia kusinggahi. Kubaca perlahan tanpa bunyi. Hari sudah pagi, Ramadan baru membuka diri. Hati tenteram semoga kuraih, ayat-ayat keberkahan semoga kugapai.

Ayat-ayat Bening 

/I/

Biru api tidak perlu kita tafsirkan

Biarkan ia mengalir lewat batu-batu; kawah zaman yang berdebu

Biar bersih raut sejarah dan napas musim

Biar perih luka menjadi abjad penuh isyarat

Barulah kita bersiap menyucikan udara, yang pernah membakar

Berbagai rindu dan kesumat masa lalu.

 

/II/

Tujuh ombak menyusun namamu—seolah sihir tanpa mantra

Tajam bergulung-gulung mengawetkan pesonamu di pelupuk dunia

Tinggi menjulang mengecup langit. Jauh menghempas mencipta jarak

Tepi yang mana, oh, pantai yang terjaga

Terimalah gelombang demi gelombang dari laut yang selalu membuka diri

Terhadap orang-orang yang terus bergerak tapi enggan beranjak.

 

/III/

Wangi rumput menyusup pada semak-semak dan pepohon

Warna daun-daun seolah mengunci masa depan. Baluran, itulah

Wajah semesta yang dibentang dari pulau ke pulau. Ketika jejak menajam

Wilayah kesunyian menuliskan diri; matahari dan hujan bukanlah waktu

Walau kerinduan punya ruang yang tak sanggup kita mengerti

Wahai kota yang memanggil-manggil saat kesendirian begitu menggigil!

 

/IV/

Perbatasan mana hendak kutuju

Pamit kepada penyu-penyu hijau—air dan pasir mendadak kehilangan

Pesan. Di Sukamade bukan cinta yang kita kerahkan

Pantai telah tumbuh menjadi musuh bagi siapa saja yang merasa bermakna

Perjalanan harus seperti apa; penyu-penyu istirah menanti siapa

 

/V/

Hutan memeluk anjing-anjing gesit—sekawanan ajag yang abadi dalam sajak

Hari-hari berlalu dalam gua. Cahaya bertahan di ujung liang

Hanya kita yang merasa diburu, padahal mangsa-mangsa telah lama

Hidup menggelepar sambil menunggu kehancuran imajinasi

Hutan-hutan menjadi selimut ketika kata-kata tak lagi tersentuh gigil maut

 

/VI/

“Akar-akar keharuman bersemayam di sini; menetes dari setitik kabut

Ayat-ayat bening paling purba,” ujar seekor kucing yang dibesarkan kawanan bakau.

Segala bunyi akhirnya menyala di bibir sunyi ketika ranum hutan begitu memukau

Advertisements

5 thoughts on “Tak Ada Kereta ke Banyuwangi

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s