Meneropong Penderitaan Orang Lain

Beberapa waktu yang lalu seseorang membagikan status di Facebook tentang beberapa fragmen kehidupan. Beberapa penggalan kisah itu secara umum tampak menyiratkan kepedihan.

Ada seorang pemulung berjalan tergesa selepas membeli 10 tusuk sate di sebuah kedai kaki lima. Lalu seseorang yang lain diam-diam mengikutinya. Hingga tiba di sebuah sudut kota tampaklah keluarga si pemulung dengan mata berbinar menyambut kedatangan sang pahlawan keluarga dengan sebungkus daging panggang yang ditusuk itu.

Masing-masing anak mendapat jatah maksimal dua tusuk namun luapan kegembiraan mereka sungguh tak bisa dilukiskan. Orang yang mengintip menganggapnya sebagai keprihatinan hidup. Namun bagi mereka malam itu mereka seolah berada di surga–dengan selimut malam yang luas dan payung rembulan yang benderang.

Dalam cerita lain, ada satu keluarga berkendara motor dengan empat penumpang. Kita mungkin akan melihatnya dengan penuh kesedihan karena panas dan hujan yang mereka rasakan sepanjang jalan. Padahal dalam benak mereka kebahagiaan membuncah tak terkira. Setelah puluhan tahun hanya punya sepeda, kini motor akan mengantar mereka ke mana-mana, dengan cepat.

Kasus terbaru, seorang teman yang kebetulan single mom baru saja mendapat komentar yang tak enak dari temannya. Putri sahabat ini diuji dengan kelainan kesehatan bernama autoimmunity. Lalu ibunya yang sehari-hari bekerja kantoran memilih homeschooling untuk putri tercintanya. Nah, seorang teman menanggapi pilihannya dengan nada tak mengenakkan hati. “Mengapa harus homeschooling? HS kan mahal!” Ada lagi yang berseloroh, “Kasihan anakmu pake belajar juga. Dia kan sakit!”

Tengoklah betapa kepo-nya orang dalam merespons kondisi hidup orang lain. Seolah pilihan orang lain penuh dengan penderitaan dan harus dikasihani. Padahal mereka yang menjalani sama sekali tidak terbebani dan bahkan menempuhnya dengan sukacita. Toh bila ada kekurangan apa pun (terutama biaya), komentator sotoy itu tidak akan direpotkan!

Gejala kekepoan ini cocok dengan tema daily prompts WP kemarin yakni Surface. Kita kerap sok tahu terhadap urusan orang lain yang bukan domain kita. Tak jarang kita mencoba meneropong masalah kita lalu begitu saja menyimpulkan bahwa mereka menderita lantaran kita melihat dari kacamata kita.

Alih-alih berempati, komentar kita justru menyakiti. Kita orang luar tidak akan pernah benar-benar tahu apalagi memahami masalah orang lain. Ibarat melihat dengan bantuan teropong, jarak pandang sebenarnya jauh namun terlihat lebih jelas padahal tidak selalu akurat menggambarkan objek. Hanya permukaan (surface) yang bisa kita tangkap. Secara prinsip, kita tak bisa melongok apalagi menyelami perasaan mereka, kecuali bila mereka bercerita sendiri.

Pelajaran pentingnya, hindari bersikap sok tahu atau kepo terhadap urusan orang. Jangan mencoba mengintervensi urusan orang kecuali bila hal itu sudah berpotensi merusak tatanan norma atau melanggar hukum. Biarlah mereka menjalani hidup masing-masing dengan kegembiraan yang khas milik mereka.

Advertisements

8 thoughts on “Meneropong Penderitaan Orang Lain

  1. Begitulah mas…org selalu memandang dr tampak sampulnya sj, tak pernah mencoba melihat dl bgm dalamnya, atau paling tdk menahan diri utk tdk berkomentar…jaman sekarang sptnya kalo ga bs berbicara sesuatu hal rasanya kurang ‘kekinian’ pdhl yg bicara blm tentu paham apa yg dibicarakan yah sok lah…menghakimi org rasanya hal yg dirasa’ lumrah…

    Liked by 1 person

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s