Pokok-pokok Pohon, Pucuk-pucuk Harapan

Tema daily post dua hari lalu adalah tree, pohon. Setiap kali mendengar atau membaca kata pohon, ada dua hal yang teringat. Tentang suatu kota dan metafora yang membersihkan diri.

Bogor, itulah kota yang erat ikatannya dengan pohon. Tempat di mana saya berdomisili selama lebih dari sepuluh tahun ini memang ditumbuhi pohon-pohon beraneka rupa meskipun tak saya kuasai nama-namanya. Sebagai Kota Hujan memang bukan hal mengherankan bila Bogor mewadahi hutan-hutan dengan beragam jenis pohon.

Lega di Kebun Raya
Di Kebun Raya Bogor (KBR) yang legendaris, misalnya, terdapat pelbagai pohon dengan rentang usia yang panjang. Tak mengejutkan bila kita akan menjumpai pohon-pohon menjulang sangat tinggi dengan diameter raksasa. Sejuk dan asri memang, tapi bukan tanpa risiko.

Beberapa kali terjadi insiden pohon besar yang tumbang saat hujan turun sangat lebat. Selama hujan, sebaiknya kita menjauh dari pohon-pohon besar dan berteduh di masjid atau kantin dan tempat-tempat lainnya. Sambil menanti hujan reda, kita bisa menyaksikan titik-titik air bersih menghempas ke bumi, memandikan daun-daun yang rindu kesegaran.

image

Oksigen berlimpah
Selain KBR, area lain di Bogor yang menjadi jalur favorit adalah Jl. Pemuda dan Jl. Ahmad Yani. Dua jalan ini muncul dari Jl. Sudirman yang dipecah oleh sebuah airmancur di pertigaan Sudirman. Keduanya adalah jalur searah sehingga relatif lancar lalu lintasnya. Saat Jl. Martadinata dipenuhi deretan mobil yang mengular, Jl. Ahmad Yani bisa jadi alternatif yang tembus ke Kebonpedes dan Warung Jambu.

Di sisi Jl. Pemuda maupun Jl. Ahmad Yani tumbuh pohon-pohon besar yang rindang sehingga melindungi kita dari sengatan panas matahari. Deretan pepohonan rimbun itu tentu saja membuat pernapasan menjadi lega da refreshed berkat pasokan oksigen yang berlimpah. Ahh… Segaar!!!

Pohon kebaikan
Selain pohon dengan makna aslinya, ada sebuah metafora menarik yang diwakili oleh pohon. Sobat pembaca mungkin tidak asing dengan deskripsi berikut ini. Yakni pohon sebagai ibarat bagi pelaku zakat. Bukan hanya zakat, tetapi juga sedekah dan segala sesuatu yang berkaitan dengan tindakan memberi atau melepaskan materi kepada orang lain.

Orang-orang yang gemar memberi ibarat pohon yang cabang-cabangnya dipangkas secara rutin sehingga pohon lebih ramping dan mengurangi kuota produksi. Lambat laun muncullah tunas-tunas baru yang membuat si pohon semakin segar dan kokoh. Membesar dan menguat.

Orang-orang yang giat menolong dengan memindahkan hartanya kepada orang lain secara organik akan menerima imbalan dari Tuhan melalui cara-cara yang tidak terbayangkan. Tunas-tunas rezeki akan selalu kuncup memenuhi usahanya dalam mencari cahaya matahari (rahmat dan berkah). Karena daun-daunnya senantiasa diremajakan, maka orang lain akan tertarik untuk mendekatinya, mengelilinginya untuk menyerap energi positif yang semakin memperkuat perannya sebagai pemurah hati.

Sebaliknya, orang-orang yang enggan berbagi mirip dengan sebatang pohon yang besar dan tinggi. Daun-daunnya begitu lebat tetapi terkesan angker. Rimbun tapi menakutkan. Orang lain malas merapat kepadanya sebab merasa tiada manfaat. Orang lain gentar mendekatinya sebab sifat kikirnya begitu menyakitkan dan mungkin menular.

Wajahnya sangar, tatapannya nanar, ucapannya membuat orang gemetar. Sebab tidak simpatik, apalagi empatik. Hartanya menumpuk, terus menggunung, tetapi tidak menciptakan manfaat bagi sesama. Lama-lama batangnya digerogoti penyakit dan daun-daunnya diserang ulat. Cahaya matahari (petunjuk) sulit menembus lantaran terlalu rimbun oleh sifat serakah.

Alangkah ingin saya menjadi pohon kebaikan. Pokok-pokoknya kuat, tegap menatap langit–menanti hujan dengan penuh semangat. Pucuk-pucuk daunnya segar dan terus melakukan regenerasi demi memutikkan harapan demi harapan bagi makhluk hidup lainnya. Semoga.

Advertisements

8 thoughts on “Pokok-pokok Pohon, Pucuk-pucuk Harapan

  1. Filosofi pohonnya dalam banget Pak. Saya kemarin ke Kebun Raya Bogor untuk pertama kalinya dan langsung merasa suka. Pohon yang besar saya lihatnya memang sedikit ngeri. Terutama ketika musim hujan memang Pak…

    Like

Tinggalkan jejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s